Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”

Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab. Bukan karena saya tidak tahu, tetapi karena pengalaman mengajarkan bahwa di balik ramainya sebuah tulisan, selalu ada proses panjang yang jarang terlihat. Menulis di ruang digital bukan sekadar menyusun kata, melainkan perjumpaan antara pikiran manusia dan algoritma mesin.

Blog ini, wijayalabs.com, saya jadikan ruang personal untuk merekam perjalanan tersebut—sebuah laboratorium gagasan, tempat refleksi seorang guru yang terus belajar memahami dunia digital.

Menulis Sebagai Proses, Bukan Sekadar Produk

Sebagai guru, saya terbiasa menekankan proses kepada siswa. Prinsip yang sama saya terapkan dalam menulis. Setiap tulisan adalah hasil perenungan, dialog batin, dan keberanian menyampaikan pendapat.

Tulisan yang ramai dibaca sering kali bukan yang paling rapi, tetapi yang paling jujur. Ia lahir dari kegelisahan, keprihatinan, atau harapan yang sama-sama dirasakan banyak orang. Dalam konteks ini, algoritma hanya berperan sebagai “pengantar”, bukan penentu makna.

Algoritma Bekerja, Manusia Merasa

Di balik layar media sosial dan platform blog, algoritma bekerja tanpa lelah. Ia menghitung klik, waktu baca, komentar, dan sebaran. Namun algoritma tidak memiliki empati. Ia hanya membaca angka.

Empati justru lahir dari manusia. Ketika pembaca merasa tersentuh, mereka berhenti sejenak, membaca lebih dalam, lalu membagikan tulisan tersebut. Pada titik itulah algoritma “mengira” tulisan itu penting.

Sebagai pendidik, saya melihat ini sebagai pelajaran berharga: teknologi akan selalu mengikuti perilaku manusia. Bukan sebaliknya.

Menulis dan Tanggung Jawab Moral

Menulis di ruang digital bukan aktivitas netral. Setiap kata memiliki potensi dampak. Sebuah kalimat bisa menyemangati, tetapi juga bisa melukai. Sebuah judul bisa membuka diskusi, tetapi juga bisa memicu salah paham.

Karena itu, saya selalu bertanya pada diri sendiri sebelum menekan tombol “publikasikan”:
Apakah tulisan ini memberi manfaat?
Apakah ia mengajak berpikir, bukan menghasut?
Apakah saya siap bertanggung jawab atas dampaknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kompas moral dalam menulis.

Blog sebagai Ruang Merdeka Berpikir

Berbeda dengan media sosial yang serba cepat, blog memberi ruang bernapas. Di sinilah saya bisa menulis lebih panjang, lebih jujur, dan lebih reflektif. Wijayalabs.com bukan sekadar etalase tulisan, melainkan ruang belajar terbuka.

Di blog, saya bebas bereksperimen: menulis tentang pendidikan, teknologi, literasi, hingga kegelisahan sebagai guru. Tidak semua tulisan ramai dibaca, tetapi semuanya merekam proses berpikir.

Dan justru dari tulisan-tulisan itulah, saya belajar memahami diri sendiri.

Guru dan Literasi Digital

Sebagai guru, saya percaya bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi kemampuan memahami dampak teknologi terhadap manusia. Menulis menjadi salah satu cara terbaik melatih literasi tersebut.

Ketika guru menulis, ia sedang memberi teladan: bahwa berpikir kritis, reflektif, dan bertanggung jawab adalah bagian dari kehidupan digital. Siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi cara memaknainya.

Viral Boleh, Bernilai Wajib

Tidak ada yang salah dengan tulisan yang viral. Ia bisa menjadi sarana menyebarkan gagasan baik. Namun viral tanpa nilai hanya akan menjadi gema sesaat.

Saya lebih memilih tulisan yang mungkin tidak viral hari ini, tetapi masih relevan untuk dibaca tahun depan. Tulisan yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran.

Dalam dunia yang serba cepat, memperlambat diri justru menjadi bentuk perlawanan intelektual.

Menjaga Nurani di Tengah Kebisingan Digital

Media digital sering kali bising. Semua orang berbicara, sedikit yang mendengarkan. Menulis dengan hati adalah upaya menjaga kewarasan di tengah kebisingan itu.

Saya belajar bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua kritik harus dibalas. Kadang, diam dan terus menulis dengan konsisten jauh lebih bermakna.

Menulis untuk Masa Depan

Tulisan adalah warisan pemikiran. Ia bisa dibaca ulang, direnungkan kembali, dan mungkin menginspirasi orang yang bahkan belum kita kenal hari ini.

Melalui blog ini, saya berharap tulisan-tulisan sederhana ini kelak menjadi saksi bahwa seorang guru pernah berusaha menjaga akal sehat dan nurani di tengah derasnya arus digital.

Bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk tetap relevan sebagai manusia.

Ketika Tulisan Menemukan Jalannya

Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang akan ramai dibaca. Tetapi saya tahu satu hal: tulisan yang jujur akan selalu menemukan pembacanya.

Dan ketika itu terjadi, saya hanya bisa bersyukur—bukan karena angka, tetapi karena pesan yang ingin disampaikan akhirnya sampai.

Blog ini akan terus menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang berbagi. Sebab bagi saya, menulis bukan tentang menaklukkan algoritma, melainkan tentang menjaga makna di tengah dunia yang terus berubah.

Pada akhirnya, biarlah tulisan berjalan dengan kakinya sendiri, sebab kata-kata yang lahir dari kejujuran tidak pernah tersesat—ia akan selalu menemukan pembaca yang tepat, pada waktu yang paling bermakna.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

by

Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di http://kompasiana.com/wijayalabs. Omjay bersedia membantu para guru dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) online, dan beberapa Karya Tulis Ilmiah Omjay selalu masuk final di tingkat Nasional, dan berbagai prestasi telah diraihnya. Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat dan dibaca di blog http://wijayalabs.wordpress.com Hubungi via SMS : 0815 915 5515/081285134145 atau kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com atau klik hubungi omjay yg disediakan dalam blog ini, bila anda membutuhkan omjay sebagai pembicara atau Narasumber.

4 thoughts on “Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

  1. Naia Luthfina

    Naia Luthfina A.N. 8E 27
    1. Apa bagian tersulit dalam membuat game?
    Bagian tersulit dalam membuat game adalah menyusun logika program agar semua fungsi bisa berjalan dengan benar. Mengatur blok kode supaya setiap tombol dan perintah saling terhubung tanpa error cukup menantang, apalagi saat terjadi kesalahan kecil yang membuat game tidak berjalan sesuai rencana.

    2. Apa yang paling menyenangkan?
    Hal yang paling menyenangkan adalah ketika game akhirnya bisa dijalankan dengan lancar. Melihat hasil yang sesuai dengan yang diharapkan setelah mencoba berkali-kali dan memperbaiki error terasa sangat memuaskan karena usaha yang dilakukan tidak sia-sia.

    3. Fitur apa yang ingin kamu tambahkan?
    Saya ingin menambahkan fitur skor atau tantangan level agar game lebih menarik. Selain itu, saya juga ingin menambahkan tampilan visual yang lebih keren, animasi, dan efek suara supaya game terlihat lebih hidup dan tidak membosankan.

  2. Audrey El Diza

    Tulisan ini terasa sangat relevan dengan realitas guru di era digital. Ketika tulisan harus berdamai dengan algoritma, makna berbagi ilmu sering kali diuji oleh tuntutan keterlihatan dan statistik. Catatan ini mengingatkan bahwa di balik data, klik, dan sistem, masih ada idealisme seorang guru yang menulis dengan hati. Sebuah refleksi yang jujur dan penting, terutama bagi para pendidik yang tetap ingin menjaga esensi pendidikan di ruang digital.

Leave a Reply to Naia Luthfina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.