belajar tik di smp labschool jakarta

App Inventor 2: Alat Canggih Membuat Aplikasi dengan Mudah Melalui Tarik dan Lepas

App Inventor 2: Alat Canggih Membuat Aplikasi dengan Mudah Melalui Tarik dan Lepas

Di era digital saat ini, kemampuan membuat aplikasi bukan lagi keahlian eksklusif para programmer profesional. Siapa pun—termasuk guru dan siswa—dapat belajar membuat aplikasi sendiri dengan cara yang mudah dan menyenangkan. Salah satu alat yang sangat membantu proses tersebut adalah MIT App Inventor 2. Aplikasi berbasis web ini memungkinkan pengguna membuat aplikasi Android hanya dengan tarik dan lepas (drag and drop) komponen, tanpa harus menulis kode pemrograman yang rumit.

App Inventor 2 menjadi jembatan penting bagi dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran Informatika, coding, dan kecerdasan artifisial. Dengan pendekatan visual dan intuitif, alat ini membantu pengguna memahami logika pemrograman secara bertahap.

Apa Itu App Inventor 2?

Read More

Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Jalan Pendidikan Indonesia yang Berpusat pada Murid

 

Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Jalan Pendidikan Indonesia yang Berpusat pada Murid

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Akses informasi yang semakin mudah, cepat, dan luas seolah menjanjikan kemajuan pembelajaran. Namun, di balik kemudahan itu, muncul persoalan serius: banyak murid yang cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu mampu memahami, mengolah, dan memaknai pengetahuan secara mendalam. Pendidikan kita menghadapi tantangan besar untuk tidak sekadar mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi memastikan proses belajar benar-benar bermakna. Di sinilah pembelajaran mendalam (deep learning) menemukan urgensinya.

Pembelajaran mendalam bukan sekadar istilah baru atau jargon kebijakan. Ia adalah pendekatan yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran, mengajak mereka berpikir kritis, reflektif, dan mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Di era digital, pembelajaran mendalam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi semua sekolah di Indonesia.

Tantangan Pendidikan di Era Digital

Digitalisasi telah mengubah cara murid belajar. Gawai, media sosial, kecerdasan buatan, dan platform digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Murid dapat menemukan jawaban dalam hitungan detik. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diiringi kedalaman berpikir. Budaya menyalin, menempel, dan menghafal masih mendominasi praktik pembelajaran.

Jika sekolah tidak berbenah, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas belajar. Murid menjadi kaya informasi, tetapi miskin pemahaman dan empati. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses memanusiakan manusia.

Dalam konteks inilah pembelajaran mendalam hadir sebagai jawaban. Pembelajaran mendalam mendorong murid untuk tidak hanya menjawab apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana. Murid diajak memahami proses, bukan sekadar hasil.

Arah Kebijakan Pendidikan Nasional

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya transformasi pembelajaran yang berpusat pada murid. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa pendidikan dasar harus membangun fondasi karakter, nalar kritis, dan kemandirian belajar sejak dini. Pembelajaran tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif, tetapi harus menyentuh esensi proses belajar murid.

Arah kebijakan ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam. Pendidikan dasar dan menengah diharapkan menjadi ruang aman bagi murid untuk bertanya, mencoba, salah, dan belajar dari proses. Sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan nilai akademik, tetapi juga membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, berdaya pikir, dan berakhlak.

Dengan kata lain, pembelajaran mendalam bukan konsep yang berdiri di luar kebijakan, melainkan ruh yang seharusnya menghidupi seluruh praktik pembelajaran di kelas.

Hakikat Pembelajaran Mendalam

Menurut Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, Pakar Pembelajaran Mendalam dan Ketua KOGTIK PGRI, pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang memanusiakan murid. Ia menegaskan:

“Pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang membuat murid tidak hanya tahu, tetapi paham; tidak hanya mendengar, tetapi mengalami; dan tidak hanya menjawab soal, tetapi mampu memaknai apa yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata.”

Pandangan ini menegaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak berhenti pada penguasaan materi. Proses belajar harus menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sosial murid. Murid diberi ruang untuk berpikir, berdialog, berkolaborasi, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendekatan ini sangat krusial. Masa sekolah adalah fase pembentukan cara berpikir dan karakter. Jika sejak dini murid dibiasakan belajar secara dangkal, maka kebiasaan itu akan terbawa hingga dewasa.

Perubahan Peran Guru

Pembelajaran mendalam menuntut perubahan paradigma peran guru. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi desainer pengalaman belajar. Guru merancang pembelajaran yang kontekstual, relevan, dan menantang nalar murid.

Dr. Wijaya Kusumah menegaskan:

“Guru pembelajar adalah kunci pembelajaran mendalam. Jika guru terus belajar dan berani berubah, murid akan tumbuh menjadi pembelajar sejati.”

Guru dituntut untuk memahami karakter murid, memfasilitasi diskusi, serta memberikan umpan balik yang membangun. Ini bukan tugas mudah, apalagi di tengah beban administrasi yang masih berat. Karena itu, dukungan kebijakan dan kepemimpinan sekolah menjadi sangat penting.

Kepemimpinan Sekolah dan Budaya Belajar

Pembelajaran mendalam tidak akan tumbuh di lingkungan sekolah yang kaku dan penuh ketakutan. Kepala sekolah memegang peran strategis dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Sekolah harus menjadi komunitas belajar, bukan sekadar institusi administratif.

Dr. Wijaya Kusumah mengingatkan:

“Pembelajaran mendalam hanya akan tumbuh subur jika kepala sekolah memberi ruang aman bagi guru untuk mencoba, salah, belajar, dan terus memperbaiki praktik pembelajarannya.”

Budaya saling belajar, refleksi, dan kolaborasi perlu ditumbuhkan. Guru tidak boleh takut gagal, karena dari kegagalan itulah pembelajaran bermakna lahir.

Teknologi sebagai Alat, Bukan Tujuan

Dalam pembelajaran mendalam, teknologi diposisikan sebagai alat untuk memperkaya proses belajar, bukan tujuan akhir. Platform digital, video pembelajaran, dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi.

Namun, tanpa pendekatan yang tepat, teknologi justru bisa menjauhkan murid dari makna belajar. Dr. Wijaya Kusumah menegaskan:

“Teknologi bukan musuh pendidikan, tetapi tanpa pembelajaran mendalam, teknologi bisa membuat murid dangkal berpikir dan miskin empati.”

Oleh karena itu, literasi digital harus disertai literasi berpikir dan literasi karakter.

Penilaian yang Memanusiakan

Salah satu ciri pembelajaran mendalam adalah perubahan paradigma penilaian. Penilaian tidak lagi berorientasi semata pada angka, tetapi pada proses belajar murid. Proyek, portofolio, refleksi diri, dan presentasi menjadi bagian penting dari penilaian autentik.

Dr. Wijaya Kusumah menyatakan:

“Penilaian dalam pembelajaran mendalam harus memanusiakan murid, bukan menakut-nakuti mereka dengan angka.”

Penilaian yang adil dan bermakna akan menumbuhkan motivasi intrinsik murid untuk belajar, bukan sekadar mengejar nilai.

Penutup: Jalan Panjang yang Harus Ditempuh

Pembelajaran mendalam di era digital adalah jalan panjang yang harus ditempuh bersama oleh pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat. Kebijakan yang berpihak pada murid, kepemimpinan sekolah yang visioner, serta guru yang reflektif menjadi fondasi utama perubahan.

Sebagaimana arah kebijakan Kemendikdasmen yang menekankan pembelajaran bermakna dan berpusat pada murid, pembelajaran mendalam seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar program. Di tengah derasnya arus teknologi, sekolah harus menjadi ruang yang menjaga kedalaman berpikir dan kemanusiaan.

Sebagaimana ditegaskan Dr. Wijaya Kusumah:

“Sekolah yang hebat bukan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling dalam memanusiakan muridnya.”

Di sanalah pendidikan menemukan kembali hakikatnya: membimbing manusia muda untuk berpikir dalam, bertindak bijak, dan belajar sepanjang hayat.

Pelajar Indonesia akan Terpuruk Bila Tidak Belajar TIK

Pelajar Indonesia akan Terpuruk Bila Tidak Belajar TIK

Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”

Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab. Bukan karena saya tidak tahu, tetapi karena pengalaman mengajarkan bahwa di balik ramainya sebuah tulisan, selalu ada proses panjang yang jarang terlihat. Menulis di ruang digital bukan sekadar menyusun kata, melainkan perjumpaan antara pikiran manusia dan algoritma mesin.

Blog ini, wijayalabs.com, saya jadikan ruang personal untuk merekam perjalanan tersebut—sebuah laboratorium gagasan, tempat refleksi seorang guru yang terus belajar memahami dunia digital.

Menulis Sebagai Proses, Bukan Sekadar Produk

Sebagai guru, saya terbiasa menekankan proses kepada siswa. Prinsip yang sama saya terapkan dalam menulis. Setiap tulisan adalah hasil perenungan, dialog batin, dan keberanian menyampaikan pendapat.

Tulisan yang ramai dibaca sering kali bukan yang paling rapi, tetapi yang paling jujur. Ia lahir dari kegelisahan, keprihatinan, atau harapan yang sama-sama dirasakan banyak orang. Dalam konteks ini, algoritma hanya berperan sebagai “pengantar”, bukan penentu makna.

Algoritma Bekerja, Manusia Merasa

Di balik layar media sosial dan platform blog, algoritma bekerja tanpa lelah. Ia menghitung klik, waktu baca, komentar, dan sebaran. Namun algoritma tidak memiliki empati. Ia hanya membaca angka.

Empati justru lahir dari manusia. Ketika pembaca merasa tersentuh, mereka berhenti sejenak, membaca lebih dalam, lalu membagikan tulisan tersebut. Pada titik itulah algoritma “mengira” tulisan itu penting.

Sebagai pendidik, saya melihat ini sebagai pelajaran berharga: teknologi akan selalu mengikuti perilaku manusia. Bukan sebaliknya.

Menulis dan Tanggung Jawab Moral

Menulis di ruang digital bukan aktivitas netral. Setiap kata memiliki potensi dampak. Sebuah kalimat bisa menyemangati, tetapi juga bisa melukai. Sebuah judul bisa membuka diskusi, tetapi juga bisa memicu salah paham.

Karena itu, saya selalu bertanya pada diri sendiri sebelum menekan tombol “publikasikan”:
Apakah tulisan ini memberi manfaat?
Apakah ia mengajak berpikir, bukan menghasut?
Apakah saya siap bertanggung jawab atas dampaknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kompas moral dalam menulis.

Blog sebagai Ruang Merdeka Berpikir

Berbeda dengan media sosial yang serba cepat, blog memberi ruang bernapas. Di sinilah saya bisa menulis lebih panjang, lebih jujur, dan lebih reflektif. Wijayalabs.com bukan sekadar etalase tulisan, melainkan ruang belajar terbuka.

Di blog, saya bebas bereksperimen: menulis tentang pendidikan, teknologi, literasi, hingga kegelisahan sebagai guru. Tidak semua tulisan ramai dibaca, tetapi semuanya merekam proses berpikir.

Dan justru dari tulisan-tulisan itulah, saya belajar memahami diri sendiri.

Guru dan Literasi Digital

Sebagai guru, saya percaya bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi kemampuan memahami dampak teknologi terhadap manusia. Menulis menjadi salah satu cara terbaik melatih literasi tersebut.

Ketika guru menulis, ia sedang memberi teladan: bahwa berpikir kritis, reflektif, dan bertanggung jawab adalah bagian dari kehidupan digital. Siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi cara memaknainya.

Viral Boleh, Bernilai Wajib

Tidak ada yang salah dengan tulisan yang viral. Ia bisa menjadi sarana menyebarkan gagasan baik. Namun viral tanpa nilai hanya akan menjadi gema sesaat.

Saya lebih memilih tulisan yang mungkin tidak viral hari ini, tetapi masih relevan untuk dibaca tahun depan. Tulisan yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran.

Dalam dunia yang serba cepat, memperlambat diri justru menjadi bentuk perlawanan intelektual.

Menjaga Nurani di Tengah Kebisingan Digital

Media digital sering kali bising. Semua orang berbicara, sedikit yang mendengarkan. Menulis dengan hati adalah upaya menjaga kewarasan di tengah kebisingan itu.

Saya belajar bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua kritik harus dibalas. Kadang, diam dan terus menulis dengan konsisten jauh lebih bermakna.

Menulis untuk Masa Depan

Tulisan adalah warisan pemikiran. Ia bisa dibaca ulang, direnungkan kembali, dan mungkin menginspirasi orang yang bahkan belum kita kenal hari ini.

Melalui blog ini, saya berharap tulisan-tulisan sederhana ini kelak menjadi saksi bahwa seorang guru pernah berusaha menjaga akal sehat dan nurani di tengah derasnya arus digital.

Bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk tetap relevan sebagai manusia.

Ketika Tulisan Menemukan Jalannya

Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang akan ramai dibaca. Tetapi saya tahu satu hal: tulisan yang jujur akan selalu menemukan pembacanya.

Dan ketika itu terjadi, saya hanya bisa bersyukur—bukan karena angka, tetapi karena pesan yang ingin disampaikan akhirnya sampai.

Blog ini akan terus menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang berbagi. Sebab bagi saya, menulis bukan tentang menaklukkan algoritma, melainkan tentang menjaga makna di tengah dunia yang terus berubah.

Pada akhirnya, biarlah tulisan berjalan dengan kakinya sendiri, sebab kata-kata yang lahir dari kejujuran tidak pernah tersesat—ia akan selalu menemukan pembaca yang tepat, pada waktu yang paling bermakna.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Pembelajaran Mendalam Di Era Digital Dalam Menguatkan Pendidikan Berpusat Pada Murid di SMPN 152 Jakarta

Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Menguatkan Pendidikan Berpusat pada Murid di SMPN 152 Jakarta

Di tengah derasnya arus teknologi digital, sekolah tidak lagi cukup hanya mengajar murid untuk “tahu”, tetapi harus membimbing mereka agar “paham” dan mampu memaknai pembelajaran dalam kehidupan nyata.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sekolah tidak lagi cukup menjadi tempat mentransfer pengetahuan, tetapi harus mampu menjadi ruang belajar yang bermakna, relevan, dan memanusiakan murid.

Gawai ada di genggaman murid, informasi tersedia tanpa batas, namun pembelajaran bermakna justru menjadi tantangan terbesar sekolah di era digital saat ini.

Sekolah sejatinya bukan tempat murid menghafal pelajaran, melainkan ruang tumbuh untuk berpikir, bertanya, dan menemukan makna dari setiap proses belajar.

Ketika perubahan zaman tak bisa dihindari, sekolah dituntut untuk berani berubah—bukan sekadar mengikuti teknologi, tetapi menghadirkan pembelajaran yang memanusiakan murid.

Pembelajaran yang baik bukan tentang seberapa banyak materi disampaikan guru, melainkan seberapa dalam murid memahami, merasakan, dan menghidupi apa yang dipelajarinya

Di tengah arus perubahan tersebut, SMPN 152 Jakarta di bawah kepemimpinan Bapak Eko Nuryanto terus berupaya menghadirkan praktik pembelajaran yang adaptif dan berorientasi pada masa depan melalui penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) yang berpusat pada murid.

Pembelajaran mendalam bukan sekadar penggunaan teknologi di kelas, melainkan perubahan paradigma belajar. Murid ditempatkan sebagai subjek utama pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang merancang pengalaman belajar bermakna.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di era digital, ketika informasi tersedia melimpah, tetapi pemahaman dan kebijaksanaan dalam mengolah informasi justru menjadi tantangan utama.

Makna Pembelajaran Mendalam bagi Murid SMP

Pembelajaran mendalam menekankan pada proses memahami, bukan menghafal. Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, Pakar Pembelajaran Mendalam dan Ketua KOGTIK PGRI, menegaskan:

“Pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang membuat murid tidak hanya tahu, tetapi paham; tidak hanya mendengar, tetapi mengalami; dan tidak hanya menjawab soal, tetapi mampu memaknai apa yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata.”

Di jenjang SMP, termasuk di SMPN 152 Jakarta, pembelajaran mendalam sangat penting karena murid berada pada fase pembentukan karakter, nalar kritis, dan identitas diri.

Murid perlu diberi ruang untuk bertanya, bereksplorasi, berdiskusi, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya mencetak murid berprestasi secara akademik, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat.

Kepemimpinan Sekolah yang Mendukung Pembelajaran Bermakna

Peran kepala sekolah sangat menentukan keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam. Bapak Eko Nuryanto, selaku Kepala SMPN 152 Jakarta, mendorong guru-guru untuk berani berinovasi dan tidak terjebak pada pola pembelajaran lama yang berpusat pada guru.

Lingkungan sekolah dibangun sebagai komunitas belajar, tempat guru dan murid sama-sama tumbuh dan belajar.

Menurut Dr. Wijaya Kusumah:

“Pembelajaran mendalam hanya akan tumbuh subur jika kepala sekolah memberi ruang aman bagi guru untuk mencoba, salah, belajar, dan terus memperbaiki praktik pembelajarannya.”

Dukungan kepemimpinan inilah yang membuat pembelajaran berpusat pada murid dapat berjalan secara berkelanjutan.

Murid SMP di Era Digital: Antara Tantangan dan Peluang

Murid SMPN 152 Jakarta hidup di era digital yang serba cepat. Gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Tantangan utama bukan pada akses teknologi, melainkan pada kemampuan murid untuk menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan produktif.

Dr. Wijaya Kusumah kembali mengingatkan:

“Teknologi bukan musuh pendidikan, tetapi tanpa pembelajaran mendalam, teknologi justru bisa membuat murid dangkal berpikir dan miskin empati.”

Oleh karena itu, teknologi harus ditempatkan sebagai alat untuk memperkaya pengalaman belajar, bukan sekadar pemanis pembelajaran.

Guru sebagai Desainer Pengalaman Belajar

Dalam pembelajaran mendalam, guru berperan sebagai desainer pengalaman belajar. Guru merancang aktivitas yang menantang nalar murid, relevan dengan kehidupan nyata, dan mendorong kolaborasi. Guru tidak lagi menjadi pusat perhatian, melainkan pengarah dan pendamping proses belajar murid.

Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Informatika, guru dapat mengajak murid menganalisis dampak penggunaan media sosial di kalangan remaja.

Murid mengumpulkan data sederhana, berdiskusi dalam kelompok, dan menyusun rekomendasi penggunaan media sosial yang sehat. Proses ini melatih berpikir kritis, komunikasi, empati, dan literasi digital.

Menurut Dr. Wijaya Kusumah:

“Guru pembelajar adalah kunci pembelajaran mendalam. Jika gurunya terus belajar, murid akan tumbuh menjadi pembelajar sejati.”

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam menuntut perubahan cara menilai. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga proses belajar murid.

Refleksi diri, jurnal belajar, proyek kelompok, dan presentasi menjadi bagian penting dari penilaian autentik.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Dr. Wijaya Kusumah yang menyatakan:

“Penilaian dalam pembelajaran mendalam harus memanusiakan murid, bukan menakut-nakuti mereka dengan angka.”

Dengan penilaian autentik, murid merasa dihargai atas usaha dan proses belajarnya.

Pembelajaran Mendalam dan Profil Pelajar Pancasila

Pembelajaran mendalam yang berpusat pada murid sangat selaras dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila. Nilai gotong royong, bernalar kritis, kreatif, mandiri, dan berakhlak mulia tumbuh melalui pengalaman belajar yang bermakna dan reflektif.

Melalui proyek kolaboratif dan diskusi bermakna, murid SMPN 152 Jakarta tidak hanya belajar tentang pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan.

Penutup: Menuju Sekolah Pembelajar di Era Digital

Pembelajaran mendalam di era digital bukan sekadar tuntutan kebijakan, melainkan kebutuhan nyata pendidikan masa kini. Dengan kepemimpinan Bapak Eko Nuryanto, komitmen guru-guru SMPN 152 Jakarta, serta inspirasi pemikiran Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, sekolah dapat menjadi ruang belajar yang berpusat pada murid dan sarat makna.

Sebagaimana ditegaskan Dr. Wijaya Kusumah:

“Sekolah yang hebat bukan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling dalam memanusiakan muridnya.”

Di sanalah pendidikan menemukan makna sejatinya: mendidik dengan hati, mengajar dengan makna, dan menyiapkan generasi yang berpikir dalam, berkarakter kuat, dan berdaya saing di era digital.

Pembelajaran mendalam di SMPN 152 Jakarta bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan, agar sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh murid untuk berpikir kritis, berkarakter kuat, dan siap menghadapi masa depan.

Sudah saatnya SMPN 152 Jakarta menghadirkan pembelajaran mendalam yang memanusiakan murid, memberi ruang bertanya, mencoba, dan belajar dari proses, bukan sekadar mengejar angka dan kelulusan.

Dengan kepemimpinan kepala sekolah, kolaborasi guru, dan semangat belajar bersama, pembelajaran mendalam di SMPN 152 Jakarta dapat tumbuh sebagai budaya sekolah yang berpusat pada murid.

Pembelajaran mendalam yang dijalankan secara konsisten di SMPN 152 Jakarta akan melahirkan murid-murid yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak, berempati, dan berakhlak.

Sebagaimana semangat pembelajaran mendalam, SMPN 152 Jakarta seharusnya menjadi sekolah yang tidak sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi menumbuhkan makna, karakter, dan kemanusiaan dalam setiap proses belajar.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Pembelajaran Mendalam di Era Digital

Mengapa Banyak Orang Hanya Mengucapkan Hari Guru Nasional, Tetapi Melupakan Hari Ulang Tahun PGRI?

Mengapa Banyak Orang Hanya Mengucapkan Hari Guru Nasional, Tetapi Melupakan Hari Ulang Tahun PGRI?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Tanggal 25 November selalu menjadi tanggal yang istimewa bagi dunia pendidikan Indonesia. Setiap tahun, foto-foto guru tersebar di media sosial, ucapan selamat mengalir deras dari pejabat, sekolah, orang tua, media, sampai perusahaan besar. Semua mengucapkan: Selamat Hari Guru Nasional (HGN).

Tetapi ada sesuatu yang terlupakan.
Ada sejarah besar yang seperti menghilang pelan-pelan.
Ada organisasi yang justru menjadi alasan mengapa tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional.

Organisasi itu adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Dan tanggal itu sejatinya adalah Hari Ulang Tahun PGRI.

Banyak orang hanya mengingat HGN.
Namun mengapa mereka melupakan HUT PGRI yang menjadi fondasi lahirnya HGN itu sendiri?

Sebagai seorang guru yang telah lama berada di rumah besar PGRI, saya merasa perlu menulis kegelisahan ini—bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang agung.

1. Popularitas Hari Guru Nasional Menelan Akar Sejarahnya

Hari Guru Nasional kini menjadi brand yang sangat kuat. Setiap tahun, konten digital tentang HGN membanjiri internet. Anak-anak sekolah membuat video ucapan, perusahaan membuat kampanye bertema guru, dan bahkan selebritas ikut meramaikan momen ini.

Sementara itu, HUT PGRI tidak mendapat tempat yang sama di hati publik. Padahal:

HGN lahir dari HUT PGRI.

Tidak dapat dipisahkan.

Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 secara jelas menyebutkan bahwa Hari Guru Nasional diperingati pada tanggal 25 November, bertepatan dengan Hari Lahir PGRI.

Namun publik tidak melihat keterhubungan itu.
Yang mereka lihat hanyalah “Hari Guru”.
Sedangkan “PGRI” tidak ikut disebut.

Lama-kelamaan, masyarakat merasa seolah-olah HGN dan HUT PGRI adalah dua hal yang berbeda.
Padahal keduanya satu tubuh, satu napas, satu sejarah.

2. Masyarakat Lebih Menyukai Perayaan daripada Sejarah

Ada perbedaan besar antara perayaan dan penghormatan.

HGN adalah perayaan.
HUT PGRI adalah sejarah.

Di Hari Guru Nasional, kita disuguhi rangkaian acara:

lomba menulis,

upacara istimewa,

siswa memberikan bunga untuk guru,

video-video penghargaan,

pemerintah memberikan sambutan nasional.

Momentum ini indah dan membanggakan.

Namun HUT PGRI membawa kita kepada hal yang lebih sunyi—lebih dalam—lebih berat:
sejarah persatuan guru Indonesia sejak 1945.

Sementara perayaan hanya butuh waktu sehari,
sejarah membutuhkan renungan, pemahaman, dan penghargaan.

Mungkin karena itulah HUT PGRI lebih sering terlupakan.
Orang lebih suka merayakan sesuatu yang ramai dibanding mengenang sesuatu yang dalam.

3. PGRI: Rumah Besar yang Seperti Tidak Disadari Kehadirannya

Banyak yang lupa bahwa PGRI adalah organisasi yang:

memperjuangkan status guru sebagai profesi yang bermartabat,

mengawal kebijakan pendidikan nasional,

membela guru ketika dikriminalisasi,

menyediakan pendidikan dan pelatihan,

menaungi sekolah dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi,

menjaga agar suara guru tetap didengar oleh pemerintah.

Namun karena kerja-kerja PGRI tidak selalu tampil di permukaan,
banyak orang menganggap keberadaannya biasa saja.

Padahal, selama 80 tahun, organisasi ini telah:

melewati masa revolusi fisik,

menghadapi pergolakan politik negeri ini,

bertahan di tengah perubahan regulasi pendidikan,

dan tetap setia memperjuangkan martabat guru.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, sering mengingatkan:

“PGRI bukan hanya organisasi profesi, tetapi gerakan moral guru Indonesia.”

Sayangnya, tidak banyak yang mencatat kalimat penting ini dalam memori pendidikan bangsa.

HGN dirayakan,
tetapi PGRI tidak diingat sebagai ruh dari peringatan tersebut.

4. Melupakan PGRI Berarti Melupakan Perjuangan Guru Itu Sendiri

Kita merayakan guru,
tetapi melupakan rumah yang mempersatukan guru selama 80 tahun.

Ini ibarat:

memuji pohon, tapi melupakan akarnya,

memuja bunga, tapi mengabaikan tanah yang menyuburkannya.

Tanggal 25 November 1945, ratusan guru dari berbagai organisasi zaman kolonial berkumpul di Surakarta. Mereka menyadari bahwa perpecahan hanya melemahkan perjuangan. Maka mereka bersumpah untuk:

**bersatu dalam PGRI,

menjadi organisasi perjuangan,
organisasi profesi, dan
organisasi ketenagakerjaan.**

Ini adalah sumpah yang sakral.
Ini adalah titik balik.
Ini adalah sejarah.

Tanpa peristiwa itu, tidak ada yang namanya Hari Guru Nasional.

Tetapi hari ini, sejarah itu seperti menguap dari kesadaran publik.

5. Banyaknya Organisasi Guru Mengaburkan Makna Persatuan

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul puluhan organisasi guru baru.
Kementerian bahkan mencatat ada 77 organisasi profesi guru yang diundang dalam dialog resmi.

Keberagaman organisasi tentu sah secara demokrasi.
Namun terlalu banyak wadah justru membuat perhatian publik terpecah.

Guru seperti kehilangan satu payung yang kokoh.
Publik menjadi bingung, bahkan sebagian guru sendiri tidak memahami sejarah PGRI dengan baik.

Padahal, dahulu guru-guru zaman awal kemerdekaan bersatu karena mereka tahu:

Perjuangan guru akan lemah jika terpecah-belah.

Hari ini, kita malah kembali kepada masa sebelum 1945, ketika organisasi guru beragam dan tidak satu suara.

Di sinilah pentingnya kembali mengingat HUT PGRI.
Setidaknya, sebagai pengingat bahwa kita pernah bersatu.
Bahwa kita pernah memilih jalan bersama.
Bahwa kita pernah sepakat berada di rumah yang sama.

6. HGN Harusnya Tidak Dipisahkan dari HUT PGRI

Jika Anda guru, atau murid, atau orang tua, atau siapa pun yang peduli pada pendidikan, maka ketika tanggal 25 November tiba, seharusnya ucapannya lengkap:

🌿 Selamat Hari Guru Nasional
dan
🌿 Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI

Karena keduanya adalah satu kesatuan.

HGN memuliakan guru.
HUT PGRI memuliakan perjuangan guru.

Melupakan salah satunya berarti memutus mata rantai sejarah.

7. Mengapa Kita Harus Kembali Menghidupkan Memorinya?

Sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun menulis tentang dunia pendidikan, saya—Omjay—merasa bahwa melupakan PGRI berarti melupakan perjalanan panjang bangsa dalam membangun karakter.

PGRI adalah saksi:

betapa beratnya perjuangan guru bertahan hidup di era awal kemerdekaan,

bagaimana guru tetap mengajar meski gaji tak dibayar,

bagaimana guru menjadi teladan moral masyarakat,

bagaimana guru menjaga pendidikan agar tetap berjalan di masa-masa sulit.

Ketika masyarakat hanya mengenal HGN, mereka hanya mengenal “guru”.
Tetapi ketika mereka mengenang HUT PGRI, mereka mengenal martabat guru.

Dan itu dua hal yang berbeda.

8. Penutup: Mari Mengingat Sejarah, Bukan Hanya Perayaan

PGRI adalah rumah besar.
Rumah para guru.
Rumah yang telah berdiri delapan dekade dengan segala getir dan manisnya.

Tidak adil jika setiap tahun kita hanya merayakan HGN tetapi melupakan organisasi yang memperjuangkannya.

Karena:

tanpa PGRI, tidak ada tanggal 25 November,

tanpa persatuan guru, tidak ada sejarah profesi ini,

tanpa perjuangan panjang, tidak ada martabat guru seperti hari ini.

Hari ini, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasional”, tetapi juga:

“Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI.

Rumah kami, perjuangan kami, kebanggaan kami.”

Semoga tulisan sederhana ini mampu mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang mulai kabur.
Semoga guru-guru muda kembali memahami akar perjuangannya.
Semoga masyarakat kembali menghargai organisasi yang memperjuangkan pendidikan bangsa.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk merayakan hari besar,
tetapi bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah di baliknya.

Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com