Mau Pesan Buku Terbaru Omjay? Buruan Pesan Sebelum Kehabisan!

https://video.kompasiana.com/wijayalabs/6a23fc06c925c431d556ad82/kasta-tertinggi-seorang-guru

Resensi Buku Menulis Dengan Hati Karya Omjay oleh Wijaya Kusumah – Kompasiana.com

Inilah Daftar Isi Buku Kisah Omjay Terbaru yang Bikin Haru Biru Guru Halaman all – Kompasiana.com

Harga Buku cetak  Rp. 50.000 belum termasuk ongkos kirim JNE, dan buku digital Rp.25.000, bisa ditransfer ke BNI Wijaya Kusumah 0144707072

Hubungi Omjay di WA 08159155515 untuk pemesanan bukunya

https://video.kompasiana.com/wijayalabs/6a22ae5dc925c425115b5962/reaensi-buku-labschool-rumah-keduaku

Modul Praktik Pertemuan Pertama Kelas 9 SMP Labschool Jakarta

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Mata Pelajaran

Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)

Satuan Pendidikan : SMP Labschool Jakarta
Kelas/Fase : IX / Fase D
Semester : Ganjil
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Topik : Mengenal Koding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence)


A. Identitas Penyusun

Guru : Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)


B. Capaian Pembelajaran

Peserta didik memahami konsep dasar koding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari transformasi digital. Peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional melalui penyusunan algoritma sederhana serta mengenali pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, kreatif, dan etis.


C. Tujuan Pembelajaran

Pada akhir pembelajaran, peserta didik mampu:

  1. Menjelaskan pengertian koding.
  2. Menjelaskan konsep dasar Artificial Intelligence (AI).
  3. Mendeskripsikan hubungan antara koding dan AI.
  4. Mengidentifikasi penerapan AI dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Membuat program sederhana menggunakan Scratch.
  6. Menunjukkan sikap kolaboratif, kreatif, kritis, komunikatif, dan bertanggung jawab.

D. Profil Lulusan

Pembelajaran mendukung pengembangan karakter peserta didik yang:

  • Beriman dan berakhlak mulia.
  • Bernalar kritis.
  • Kreatif.
  • Mandiri.
  • Bergotong royong.
  • Berkebinekaan global.

E. Materi Pembelajaran

Materi Konseptual

  • Pengertian koding.
  • Pengertian Artificial Intelligence.
  • Hubungan koding dengan AI.
  • Contoh penerapan AI.
  • Pengenalan Scratch sebagai media belajar pemrograman.

Materi Faktual

Contoh AI:

  • ChatGPT
  • Google Gemini
  • Google Translate
  • Canva AI
  • Microsoft Copilot
  • YouTube Recommendation

F. Model Pembelajaran

  • Project Based Learning (PjBL)
  • Discovery Learning
  • Diskusi Kelompok
  • Demonstrasi
  • Praktik Langsung

G. Metode Pembelajaran

  • Ceramah interaktif
  • Tanya jawab
  • Demonstrasi
  • Praktik
  • Presentasi

H. Media dan Sumber Belajar

Media

  • Laptop/Chromebook
  • LCD Proyektor
  • Internet
  • Scratch Online
  • Modul Praktik KKA

Sumber Belajar

  • Scratch
  • Modul KKA SMP Labschool Jakarta
  • Buku Informatika SMP
  • Materi guru

I. Langkah-Langkah Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

Guru:

  • Mengucapkan salam.
  • Berdoa bersama.
  • Mengecek kehadiran.
  • Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  • Menampilkan berbagai aplikasi AI.
  • Mengajukan pertanyaan pemantik.

Pertanyaan Pemantik

  • Pernah menggunakan ChatGPT?
  • Bagaimana Google Translate bekerja?
  • Mengapa YouTube mengetahui video favorit kita?
  • Apakah AI dapat bekerja tanpa programmer?

2. Kegiatan Inti (60 Menit)

Tahap 1 — Orientasi

Guru menjelaskan:

  • Revolusi Industri 5.0
  • Transformasi Digital
  • Pentingnya belajar coding dan AI

Tahap 2 — Eksplorasi

Peserta didik mengamati:

  • Scratch
  • ChatGPT
  • Google Gemini

Kemudian mendiskusikan:

  • Apa itu coding?
  • Apa itu AI?
  • Mengapa AI membutuhkan data?

Tahap 3 — Praktik

Peserta didik membuka:

Scratch Online

Kemudian membuat program pertama.

Blok yang digunakan:

  • When Green Flag Clicked
  • Say “Halo Labschool”
  • Wait 2 Seconds
  • Move 100 Steps
  • Turn 90 Degrees

Program dijalankan secara mandiri.


Tahap 4 — Diskusi

Setiap kelompok mendiskusikan:

  • Mengapa programmer sangat dibutuhkan?
  • AI dapat membantu pekerjaan apa saja?
  • Apa risiko penyalahgunaan AI?

Tahap 5 — Presentasi

Setiap kelompok mempresentasikan hasil praktik selama 3–5 menit.

Guru memberikan umpan balik.


3. Kegiatan Penutup (10 Menit)

Guru:

  • Mengajak siswa melakukan refleksi.
  • Menyimpulkan materi.
  • Memberikan penguatan tentang etika penggunaan AI.
  • Menyampaikan tugas rumah.
  • Berdoa.

J. Asesmen

1. Asesmen Diagnostik

Pertanyaan awal:

  • Pernahkah membuat program?
  • Pernah menggunakan AI?
  • Pernah memakai Scratch?

2. Asesmen Formatif

Tes Tertulis

  1. Jelaskan pengertian coding.
  2. Apa yang dimaksud AI?
  3. Mengapa AI membutuhkan data?
  4. Sebutkan tiga contoh AI.
  5. Mengapa programmer penting?

3. Asesmen Keterampilan

Indikator Skor
Membuka Scratch 20
Menyusun blok program 20
Program berjalan 20
Kreativitas 20
Presentasi 20

Total = 100


4. Asesmen Sikap

Aspek yang diamati:

  • Disiplin
  • Tanggung jawab
  • Kerja sama
  • Kejujuran
  • Percaya diri
  • Kreativitas

K. Pengayaan

Peserta didik mencari satu contoh AI yang digunakan pada:

  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Pertanian
  • Transportasi
  • Industri

Kemudian menjelaskan manfaatnya dalam bentuk infografik sederhana.


L. Remedial

Peserta didik yang belum mencapai tujuan pembelajaran:

  • Mengulang praktik Scratch dengan bimbingan guru.
  • Menonton video tutorial Scratch.
  • Mengerjakan latihan tambahan membuat sprite bergerak dan menampilkan pesan.

M. Refleksi Guru

  1. Apakah seluruh tujuan pembelajaran tercapai?
  2. Apakah peserta didik aktif berdiskusi?
  3. Hambatan apa yang muncul saat praktik?
  4. Strategi apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?
  5. Bagaimana efektivitas penggunaan Scratch sebagai media belajar?

N. Refleksi Peserta Didik

Peserta didik menuliskan:

  • Pengetahuan baru yang diperoleh.
  • Keterampilan yang berhasil dikuasai.
  • Kesulitan yang dialami.
  • Rencana untuk meningkatkan kemampuan coding dan AI.

Lampiran

Tugas Rumah

  1. Sebutkan lima aplikasi AI yang pernah digunakan.
  2. Jelaskan manfaat masing-masing aplikasi.
  3. Buat satu paragraf berisi cita-citamu jika kelak menjadi programmer AI.

Kesimpulan

Pertemuan pertama Koding dan Kecerdasan Artifisial menjadi fondasi bagi peserta didik untuk memahami bahwa setiap teknologi digital lahir dari proses berpikir komputasional dan penyusunan kode yang sistematis. Melalui pengenalan Scratch dan contoh-contoh AI yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik mulai membangun keterampilan logis, kreatif, serta kesadaran akan pentingnya penggunaan AI secara etis dan bertanggung jawab sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

silahkan diunduh kelas 9 Modul Praktik Pertemuan 1

Kiat Guru Informatika Dalam Menerapkan Pembelajaran Mendalam dan Koding & Kecerdasan Arifisial (KKA) di Sekolah

Kiat Guru Informatika Menerapkan Pembelajaran Mendalam dan Koding & Kecerdasan Artifisial di Sekolah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara fundamental. Kehadiran kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), big data, Internet of Things (IoT), hingga komputasi awan menuntut sekolah untuk menyiapkan peserta didik yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami cara kerja teknologi tersebut. Di sinilah peran guru informatika menjadi semakin strategis.

Read More

Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi dan Menginspirasi negeri

Kisah Omjay kali ini tentang Omjay, Guru Blogger Indonesia: Menulis Setiap Hari dan Menginspirasi Negeri. Sebuah kisah nyata yang dituliskan sendiri oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) dan Guru Blogger Indonesia untuk kompasiana.

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Kalimat sederhana itu telah mengubah hidup saya. Dulu saya hanyalah seorang guru yang mengajar di kelas seperti guru-guru lainnya.

Setiap hari saya datang ke sekolah, mengajar siswa, memeriksa tugas, mengikuti rapat, lalu pulang ke rumah. Namun, sejak mengenal dunia blog dan mulai menulis secara konsisten, kehidupan saya berubah secara perlahan tetapi pasti.

Banyak orang bertanya kepada saya, “Omjay, bagaimana caranya bisa rajin menulis setiap hari?” Saya selalu menjawab bahwa menulis bukanlah bakat yang turun dari langit.

Menulis adalah kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Sama seperti seorang pelari yang berlatih setiap hari agar mampu menyelesaikan maraton, seorang penulis pun harus melatih dirinya menulis secara rutin agar pikirannya terbiasa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Perjalanan saya menulis dimulai dari keinginan sederhana untuk berbagi pengalaman mengajar. Saat itu saya berpikir bahwa pengalaman yang saya miliki mungkin bermanfaat bagi guru lain. Dari situlah saya mulai menulis di blog pribadi.

Tulisan demi tulisan saya unggah ke internet. Tidak banyak yang membaca pada awalnya. Bahkan ada tulisan yang hanya dibaca beberapa orang saja. Namun saya tidak berhenti.

Saya terus menulis setiap hari, karena saya percaya bahwa setiap tulisan adalah investasi ilmu yang suatu saat akan menemukan pembacanya. Bagi saya menulis bukan sekedar tulisan tapi warisan. Tulisan adalah konten mahal yang siap dijual.

Kini saya aktif menulis di berbagai platform seperti wijayalabs.blogspot.com, Kompasiana, dan wijayalabs.wordpress.com. Ketiga media tersebut menjadi rumah belajar sekaligus ruang berbagi yang mempertemukan saya dengan banyak sahabat literasi dari seluruh Indonesia.

Melalui tulisan, saya dapat menjangkau pembaca yang tidak pernah saya temui secara langsung. Melalui tulisan pula saya belajar bahwa ilmu akan semakin berkembang ketika dibagikan.

Di era digital seperti sekarang, menulis bukan lagi sekadar aktivitas mencatat. Menulis telah menjadi sarana membangun jejaring, memperluas wawasan, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Banyak guru yang memiliki pengalaman luar biasa di kelas, tetapi pengalaman tersebut sering kali hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan. Padahal, pengalaman itu bisa menjadi inspirasi bagi ribuan bahkan jutaan orang apabila dibagikan melalui tulisan.

Saya sering mengingatkan para guru dalam berbagai pelatihan menulis bahwa guru yang menulis akan hidup lebih lama melalui karya-karyanya. Ketika suatu hari nanti kita tidak lagi berada di ruang kelas, tulisan-tulisan kita akan tetap berbicara.

Buku, artikel, blog, dan berbagai karya tulis lainnya akan menjadi warisan intelektual yang terus memberikan manfaat kepada banyak orang. Bahkan ketika penulisnya sudah mati, dan menjadi amal jariah yang terus mengalir.

Menulis juga mengajarkan saya tentang kesabaran. Tidak semua tulisan langsung populer. Tidak semua artikel mendapatkan ribuan pembaca. Bahkan ada kalanya tulisan yang menurut kita sangat bagus ternyata tidak mendapatkan perhatian yang besar.

Namun justru di situlah letak pelajaran berharganya. Menulis bukan semata-mata tentang jumlah pembaca, melainkan tentang proses belajar yang tidak pernah berhenti.

Saya merasakan sendiri bagaimana kebiasaan menulis membantu saya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Setiap kali akan menulis, saya harus membaca. Setiap kali membaca, saya menemukan ide baru. Dari ide baru lahirlah tulisan baru.

Dari tulisan baru muncul diskusi dan masukan dari pembaca. Siklus inilah yang membuat wawasan saya terus berkembang hingga hari ini. Saya semakin bersemangat menulis setaip hari walaupun dibayar 2M, makasih dan makasih. Hehehe.

Menariknya, menulis juga membuka banyak pintu kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Saya mendapatkan banyak sahabat baru, diundang menjadi narasumber di berbagai kegiatan, menerbitkan puluhan buku, hingga berkesempatan berbagi pengalaman kepada guru-guru dari berbagai daerah di Indonesia. Semua itu berawal dari satu langkah kecil: menulis satu artikel setiap hari.

Kisah Omjay: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi dan Menginspirasi negeri oleh Wijaya Kusumah – Kompasiana.com

Soal Teori dan Praktik Kelas 8 Bab 4 Buku AI Pak Onno

1. SOAL ESSAY BAB 4 (50 SOAL)

A. Pemahaman Konsep

  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan model gambar pada Google Teachable Machine!
  2. Apa tujuan utama membuat model gambar sederhana?
  3. Jelaskan perbedaan antara data training dan data testing!
  4. Mengapa jumlah data training memengaruhi hasil model?
  5. Apa yang dimaksud dengan kelas (class) dalam model gambar?
  6. Mengapa setiap kelas harus memiliki data yang cukup?
  7. Jelaskan fungsi kamera dalam Teachable Machine!
  8. Apa yang terjadi saat tombol “Train Model” ditekan?
  9. Mengapa pencahayaan penting saat mengambil data gambar?
  10. Apa risiko jika data training tidak bervariasi?

B. Langkah-Langkah Praktik

Read More