Ada 4 kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam kemampuan berbahasa, yaitu Mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal itulah yang saya dapatkan dari pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII SMP yang bukunya saya baca ketika menjadi pengawas Ujian Tengah Semester (UTS).
Ibuku, Guru Pertamaku Membaca dan Menulis
Sedang asyik menonton acara televisi tentang “istri simpanan bang Maman” yang masuk dalam pelajaran atau Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas 2 SD, saya melihat istriku sangat sibuk menjawab pertanyaan anak-anaknya. Intan anak pertamaku (13thn) bertanya, ” apakah mama istri simpanan ayah?” Istrikupun kaget mendengarkan pertanyaan yang tiba-tiba itu, dan segera menjelaskan dengan bijak apa itu istri simpanan, sedangkan anak keduaku Berlian (8thn) sedang pusing mengalikan angka-angka. Katanya sulit sekali menghafal perkalian. Istrikupun membimbingnya dengan penuh kesabaran.

Pentingnya Membaca Bagi Kita
Banyak orang beranggapan membaca itu tidak penting. Wajar saja bila budaya baca belum menjadi budaya masyarakat kita. Pentingnya membaca belum menjadi tradisi yang harus dijalani setiap hari agar hidup berprestasi dan mau berbagi.
Ketika kecil, ibu dan ayah selalu memberi contoh kami anak-anaknya untuk rajin membaca. Majalah, koran, buku menjadi santapan kami setiap harinya di saat senggang. Waktu membaca biasanya lebih enak pagi hari. Pikiran masih segar dan belum bercampur dengan aktivitas lainnya.sebelum tidur juga bagus, asalkan kita mampu memanage waktu dengan baik. Kapanpun, dimanapun kegiatan membaca akan mengasyikkan bila kita telah menjadikan membaca sebuah kebutuhan. Masuk ke dalam alam bawah sadar kita bahwa membaca itu penting sehingga tak akan pernah kita meninggalkan membaca setiap harinya.
Bagi anda yang sibuk atau super sibuk, ikuti kursus baca kilat. Dengan begitu anda bisa membaca dengan cepat dan tetap memahami apa yg dibaca.
Menulis Tak Semudah Membaca
Banyak teman guru yang menanyakan kepada saya betapa sulitnya menulis. Padahal menulis itu adalah sesuatu yang mudah, bila kita terbiasa melakukannya. Namun demikian, lebih mudah membaca daripada menulis. Hal itulah yang saya rasakan sendiri.

Bila anda membaca, maka anda cukup melakukan satu aktivitas saja. Tetapi bila anda menulis, maka ada dua aktivitas yang akan anda lakukan, yaitu menulis dan juga membaca.
Lahap Membaca Membuat Saya Gemuk Menulis

Seorang kawan bertanya kepada saya, “kok bisa ya omjay menulis setiap hari?”. Bagi saya itu sebuah pertanyaan singkat tapi dalam maknanya. Sebab saya bisa seperti itu karena lahab membaca membuat saya gemuk menulis. Saya senang membaca, dan pada akhirnya saya menjadi suka menulis. Sesuatu yang dimulai dari rasa suka, maka akan menjadi hobi tersendiri.
