Posted on: April 12, 2012 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Ibuku, Guru Pertamaku Membaca dan Menulis

Sedang asyik menonton acara televisi tentang “istri simpanan bang Maman” yang masuk dalam pelajaran atau Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas 2 SD, saya melihat istriku sangat sibuk menjawab pertanyaan anak-anaknya. Intan anak pertamaku (13thn) bertanya, ” apakah mama istri simpanan ayah?” Istrikupun kaget mendengarkan pertanyaan yang tiba-tiba itu, dan segera menjelaskan dengan bijak apa itu istri simpanan, sedangkan anak keduaku Berlian (8thn) sedang pusing mengalikan angka-angka. Katanya sulit sekali menghafal perkalian. Istrikupun membimbingnya dengan penuh kesabaran.

13342733151221762650

Aku menjadi teringat kembali ketika aku kecil. Ibukulah yang pertama kali mengajarkan membaca dan menulis. Ibukulah yang mengenalkan angka dan huruf. Terkadang aku sangat sulit untuk menuliskan angka 5 dan huruf b yang seringkali terbalik menuliskannya. Ibukulah yang membimbingku dan memegang tanganku dengan kasih sayangnya. Dipegang erat jari tanganku, dan dengan penuh kelembutan ibu membantuku menuliskan angka dan huruf dengan benar.

Ibuku adalah orang yang biasa-biasa saja. Tetapi bagiku ibu adalah orang yang sangat luar biasa. Ibuku adalah kartiniku. Beliau setia menemaniku untuk mampu membaca dan menulis. Beliau inspirasiku terus menerus bermanfaat buat orang banyak. Dimataku, ibu adalah orang yang istimewa.

Ketika pelajaran membaca, ibu membimbingku di rumah dengan penuh kesabaran. Waktu itu aku sulit sekali bisa membaca dan mengenal huruf-huruf. Bahkan untuk bisa membaca “ini ibu budi” saja, aku perlu satu jam untuk membaca dengan benar. Aku sulit sekali mengeja huruf demi huruf pada saat itu.

Ibu tak pernah memarahiku ketika aku kesulitan dalam mengenal huruf dan angka. Ibu justru tersenyum dan memberikan senyum termanisnya. Aku menjadi semangat untuk belajar membaca dan menulis dengan baik dan benar. Pak Abdul Majid, guru SD-ku juga membimbingku dengan sabar dan kebapakan. Tapi bagiku, ibuku jauh lebih utama daripada guruku. Sebab ibu jauh lebih sabar dari guru manapun di dunia ini.

Sampai suatu ketika aku menangis karena soal essayku disalahkan oleh guruku. Waktu itu aku tuliskan ibuku pergi ke kantor, sedangkan guruku mengatakan ibuku pergi ke pasar.

Kata guruku jawaban yang benar dari soal essay itu adalah ibuku pergi ke pasar bukan ke kantor, sedangkan yang aku lihat sehari-hari ibuku pergi ke kantor. Jiwaku berontak dan hanya bisa menangis ketika aku sampaikan pada ibuku.

Ibuku memang makhluk Tuhan yang paling sabar. Ketika mendengar ceritaku dia langsung tersenyum dan mengatakan kalau jawabanku itu benar, dan pak guru juga tak bisa disalahkan karena kebanyakan ibu-ibu pergi ke pasar dan bukan ke kantor. Walaupun ibuku sebenarnya tahu ada yang salah dalam pelajaran atau kurikulum di sekolahku sehingga para guru kurikulum hanya berdasarkan teksbook saja dan tidak lagi berdasarkan realita yang ada.

Ketika ibu berhenti dari pekerjaannya di kantor aku senang sekali. Sebab ibu bisa setiap saat bersamaku. Aku bisa bertanya lebih banyak kepada ibuku. Bagiku ibu adalah perpustakaan utamaku. Otaknya persis seperti mesin pencari google di internet yang bisa segera menjawab berbagai pertanyaan dariku.

Waktu itu aku sempat bertanya pada ibu. Kenapa kita yang beragama Islam perlu sholat 5 waktu. Ibuku menjelaskannya dengan panjang lebar bahkan lebih hebat dari guru agamaku di sekolah. Ibuku mencontohkan nikmatnya sholat 5 waktu, dan membuatku akhirnya tak pernah meninggalkan sholat 5 waktu karena penjelasan ibuku yang begitu lengkap tentang manfaat sholat dalam kehidupan.

Ibuku memang guru pertamaku. Setiap ada waktu untuk belajar bersamanya, ibuku akan menjawab semua pertanyaanku dengan baik dan benar. Itulah yang kulihat dari istriku sekarang ini. Menemani anak-anaknya belajar dan menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan kelembutan hati.

Anak-anakku lebih senang belajar pada istriku, daripada aku sebagai ayahnya. Kalau istriku tak bisa menjawab, barulah mereka bertanya kepadaku. Terkadang aku sering “kelagapan” juga bila membaca dan mendengar dari anakku tentang materi pelajaran yang ditanyakan. Terkadang pertanyaan logika untuk orang dewasa dimasukkan juga untuk LKS siswa SD. Persis sama seperti kasus “istri simpanan bang Maman” yang ditanyakan anakku kepada istriku.

Tak salah bila temanku ibu Retno Listiyani mengatakan di televisi bahwa dari 20 teks buku pelajaran di SD, ada beberapa buku yang tak layak diajarkan ke anak-anak di bangku sekolah dasar. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari universitas paramadina di tahun 2008, begitu Bu Retno menambahkan. Akupun menyimak dengan cermat acara di televisi tentang pelajaran di SD yang salah kaprah. Ngeri sendiri aku dibuatnya.

Di sinilah peran ibu dibutuhkan. Bila banyak ibu memperhatikan dan ikut mendampingi putra-putrinya belajar, maka akan banyak didapatkan hal-hal yang membantu olah pikir anak-anaknya yang masih dalam masa pertumbuhan daya pikir dan nalarnya.

Aku masih ingat dengan buku bahasa indonesia SD karya ibi Siti Rohmani yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di era tahun 1980-an. Isi materinya sangat bagus, dan membuatku mampu membaca ini ibu Budi. Ibu budi pergi ke pasar. Ayah budi pergi ke kantor.

Buku bahasa indonesia itu sederhana tapi sangat bagus dipakai untuk siswa SD, dan membuatku masih teringat dengan buku itu. Isinya syarat dengan makna dan tidak jelimet seperti buku pelajaran sekarang. Bahkan aku sempat bertemu langsung dengan penulisnya yang kini berusia 92 tahun. Kisah pertemuanku dengannya aku tuliskan dalam sebuah buku yang berjudul menjadi guru tangguh berhati cahaya.

Kini ibuku telah tiada. Pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Sedih sekali bila kuingat ibu di hari-hari terakhir hidupnya. Akulah yang terakhir kali bersamanya di rumah sakit, dan membimbing ibu mengucapkan kalimat syahadat. “Laaila ha illallah, muhammadarrosululloh”.

Ibuku memang guru pertamaku. Beliau mengenalkan, dan mengajarkan angka dan huruf sehingga aku bisa membaca dan menuliskannya. Terima kasih ibu, jasamu tiada tara dalam hidupku. Akupun menangis ketika menuliskan ini dan tak terasa air mataku telah membasahi pipi.

sumber gambar di sini.

Salam blogger persahabatan
Omjay

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.