Membedah Kurikulum Berbasis Kompetensi

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan.

Read More

DISAIN PEMBELAJARAN

DISAIN PEMBELAJARAN MODEL GENTRY
(Instructional Project Development and Management)

I. PENDAHULUAN
Disain pembelajaran model Gentry dikenal dengan singkatan IPDM (Instructional Project Development and Management) mulai diperkenalkan pada tahun 1994 oleh Castelle G. Gentry.
Munculnya model ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain banyak buku-buku teks tentang disain pembelajaran yang cenderung mengabaikan kekurangan hubungan antara proses-proses disain pembelajaran dengan proses-proses pendukungnya (supporting processes).
Banyak para ahli disain pembelajaran mendiskusikan proses-proses disain pembelajaran seperti contoh kebutuhan penilaian, disain, produksi dan implementasi secara detail, tetapi hanya sebagian kecil mendiskusikan proses-proses pendukung dan diskusi biasanya terbatas pada suatu hal yaitu manajemen. Sebagai seorang instruktur, project manager, dan konsultan Castelle G. Gentry berulang-ulang mencoba menkaitkan keterhubungan dan saling ketergantungan dua komponen dari proses itu yaitu manajemen, penanganan informasi, komunikasi, perolehan dan alokasi sumber daya, berbagai hal tentang personil, dan penggunaan dari fasilitas-fasilitas proyek.
Menurut Gentry seharusnya buku-buku teks tentang disain pembelajaran mengajarkan para siswa apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Hal ini didasari pada banyaknya buku tentang disain pembelajaran yang hanya memfokuskan pada what needs to be done dan hanya sebagian kecil yang memfokuskan pada how something is done.
Banyak ditemukan guru/instruktur menggunakan metode pengajaran tradisional dimana dalam waktu yang relatif sedikit, mereka secara efektif mengajarkan semua teknik penting untuk penentuan proses suatu model disain pembelajaran. Disisi lain tersedia banyak waktu untuk memperkenalakan disain pembelajaran untuk mengajarkan proses-proses esensial dan teknik-teknik mereka.
Faktor lain yang mendasari munculnya model Gentri yaitu adanya jumlah yang signifikan dari para siswa yang mengambil kursus pengenalan disain pembelajaran yang lengkap tidak akan perlu lagi mengambil kursus-kursus disain pembelajaran tambahan.
Selain hal-hal di atas Gentry juga menyampaikan bahwa hanya usaha minimal yang diperlukan dari para instruktur dan pengembang pembelajaran untuk menghubungkan proses-proses disain pembelajaran umum, proses-proses pendukung, dan teknik-teknik untuk model disain pembelajaran yang lainyang mereka muingkin sukai.

Read More

LESSON STUDY

PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DALAM KEGIATAN LESSON STUDY
Oleh:
Suhadi, S.Pd., M.Pd.

A. Pendahuluan

Penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) menuntut guru untuk menguasai isi atau materi bidang studi yang akan diajarkan serta wawasan yang berhubungan dengan materi tersebut. Selain itu guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik, sehingga guru dapat memainkan perannya sebagai fasilitator bagi pembelajaran siswanya. Sebagai penyelenggara PBM guru juga harus dapat mengembangkan sikap positif siswa dan dapat merespon ide-ide mereka. Guru harus dapat menerapkan inovasi-inovasi baru dalam pendidikan khususnya inovasi pembelajaran di kelas sebagaimana yang telah direkomendasikan para pakar pendidikan agar dapat memenuhi tuntutan kurikulum.

Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran—yang diteliti (research lesson) dan juga dapat mengadopsi pembelajaran sejenis setelah mengamati respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan pada kegiatan lesson study ini. Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun melalui laporan tertulis, video, ataupun forum diskusi untuk berbagi pengalaman dengan kolega. Sehingga dengan adanya Lesson study, guru dapat memperbaiki mutu pengajarannya di kelas serta meningkatkan keprofesionalannya.

Read More

CREATIVE LEARNING ENVIRONMENTS

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal, banyak hal yang diingat akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya, karena untuk mengingat apa yang telah diajarkan siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Seorang guru tidak dapat dengan serta merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya karena mereka sendirilah yang harus menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan yang bermakna tanpa peluang untuk mendiskusikan, mengajukan pertanyaan, mempraktikan bahkan hinggga mengajarkannya kepada siswa lain. Proses belajar berlangsung secara bergelombang karena belajar memerlukan kedekatan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum memahaminya.

Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai hal, bukan sekedar pengulangan tetapi langsung diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan dan dengan mempraktikan kegiatan sehari-hari dalam menyajikan konsep yang akan menentukan pemahaman siswa. Dan untuk menarik keterlibatan siswa, guru harus membangun hubungan yaitu dengan menjalin rasa simpati, saling pengertian, hubungan akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia mereka, mengatahui minat kuat, berbagi kesuksesan puncak, dan berbicara dengan hati mereka. Membina hubungan bisa memudahkan guru melibatkan siswa memudahkan dalam pengelolaan kelas, memperpanjang focus, dan meningkatkan kegembiraan dalam belajar.
Lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi, sedangkan alat Bantu/media belajar dapat membantu dalam memahami pelajaran dikelas. Lingkungan belajar yang baik harus diciptakan dan dijaga sepanjang tahun. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan mencoba prefentif terhadap masalah-masalah yang mungkin akan muncul. Namun ketika masalah-masalah muncul-sebagaimana biasanya-respon yang tepat merupakan hal yang penting.
Kecenderungan sekarang ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa ynag dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi `mengingat` jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang, dan itulah yang terjadi dikelas-kelas sekolah kita.
Suatu konsep belajar atau suatu metode belajar yang membantu guru mengatikan antara materi yang diajarkan nya dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yan dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebaagi anggota keluarga dan masyarakat, diharapkan melalui konsep atau strategi pembelajaran menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ilmiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru dan siswa karena strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, daalm status apa mereka dan bagaimana mencapainya, siswa sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidup siswa nanti dengan begitu dapat memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya dan mempelajari apa yang bermanfaat bagi diri siswa itu sendiri. Dalam upaya itu siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Tugas guru sekarang adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi, dengan mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekarja sama untuk menemukan sesutau yang baru bagi anggota kelas/ siswa. Sesuatau yang baru (baca pengetahuan dan keterampilan) data dari `menemukan sendiri` bukan dari apa kata guru, begeitulah peran guru dikelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.
Kontekstual hanyalah salah satu strategi pembelajaran, seperti halnya strategi pembelajaran yang lain (CBSA, Pendekatan Quantum Learning, Student active Learning, meaningful Learning, Problem Based Learning, Cooperative learning, Work–Based Learning dan lain-lain), kontekstual dikembangkan dengan temuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna, dengan menghidupkan kelas yang memberdayakan siswa atau berfokus pada siswa yaitu kelas yang produktif dan menyenangkan dan dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Permasalahannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan sosial dan fisikal untuk pembelajaran sehingga siswa menjadi kreatif belajar aktif dan menyenangkan?

Read More

Action Research (AR)

Paradigma dan Karakteristik Action Research (AR)

Oleh: Conny Semiawan

I. Pengantar

AR adalah salah satu jenis riset sosial terapan yang pada hakekatnya merupakan suatu eksperimen sosial dengan mengintrodusir policy baru dengan memonitor efek-efeknya. AR berusaha mengidentifikasi masalah sosial yang dirancang untuk mewujudkan suatu test emperis sebagai vehicle (Greenwood, et. al., 2003) terhadap pengujian tingkat efektivitas atau aplikabilitas suatu teori tertentu pada pemecahan masalah-masalah sosial yang relevan. Selain itu, AR juga merupakan suatu inovasi untuk menghasilkan perubahan dalam prosedur kebijakan dengan dimonitor melalui metoda riset sosial (Payne & Payne, 2004).

Buku Mengenal PTK

Buku Mengenal PTK

Read More