Mengajar TIK di SMP

siswa Labschool belajar komputer

siswa Labschool belajar komputer

Kemarin saya melatih anak kelas VII SMP Labschool Jakarta dalam membuat tulisan menggunakan Word. Dari sekitar 40 orang siswa, hanya sedikit yang menulis dengan baik (sekitar 4-5 orang). Ternyata budaya menulis kita di sekolah masih sangat lemah. Perlu ada rangsangan dan daya tarik tersendiri agar menulis ini menjadi idola anak-anak. Bagaimanakah caranya?

Saya mencoba meminta anak untuk memberikan pendapat mereka tentang internet dan games. Sungguh di luar dugaan saya, ternyata anak kita lebih suka main games, daripada menulis. Dan yang lebih kaget lagi, ternyata internet masih digunakan sebagai alat hiburan ketimbang sebagai alat mencari informasi. Mau tahu jawabnya? Kita akan lihat tulisan mereka.

Ulang Tahun

Hari ini genap sudah usia saya menjadi 36 tahun. Usia yang sudah mulai harus lebih bijak dalam bertindak dan matang dalam berpikir. 28 Oktober 1972 itulah tanggal lahir saya.

wijayaSelalu diperingati oleh para pemuda Indonesia, karena kebetulan waktunya bersamaan dengan hari Sumpah Pemuda.

Mohon doa dari teman-teman pembaca semoga dengan bertambahnya umur, ketakwaan saya kepada Allah semakin meningkat. Amiin

Menjaga Sekolah Agar Tetap Unggul

menjaga-sekolah-agar-unggul

(Belajar dari Musibah Kebakaran di Labschool dan Film Laskar Pelangi)

A. Pendahuluan

Tulisan ini diilhami dari hasil perenungan yang mendalam. Juga mengambil hikmah dari terjadinya musibah kebakaran di Labschool Jakarta, Rabu 30 Juli 2008. Si jago merah itu telah melumat habis beberapa fasilitas Labschool yang bernilai sekitar 12 milyar lebih. Hanya dalam hitungan menit fasilitas yang megah itu hilang ditelan bumi. Padahal, baru sehari sebelumnya kami bangga karena akan terpilih menjadi sekolah sehat di DKI Jakarta. Melalui Lomba Sekolah Sehat (LSS) kami berharap mendapatkan juara pertama dan mengungguli sekolah favorit lainnya. Dengan keragaman fasilitas lengkap yang dimiliki, kami yakin akan menjadi sang juara.

Tulisan ini juga diilhami oleh film Laskar Pelangi yang begitu menyulut hati dan perasaan penulis bahwa sekolah dengan fasilitas apa adanya mampu bersaing dan melahirkan peserta didik yang sangat luar biasa. Suatu kisah nyata dari sebuah sekolah yang mampu memberikan pemahaman kepada siswa tentang keanekaragaman budaya Indonesia, dan juga dunia International. Menjaga sekolah agar tetap unggul di masyarakat walaupun ketiadaan fasilitas dan keterbatasan dana. Bahkan, saking larut dan terpesonanya dengan film ini penulis sampai 3 kali menonton film Laskar Pelangi di bioskop yang berbeda dengan sebuah perenungan mengambil hikmah dari pemutaran film itu dan menghubungkannya dengan musibah kebakaran di Labschool Jakarta.

Musibah kebakaran di sekolah membuat kami menjadi lebih bijaksana dan lebih bersemangat dalam mengajar walaupun dengan fasilitas apa adanya. Kalau dulu menggunakan media pembelajaran dengan teknologi canggih, sekarang kita menggunakan media pembelajaran dengan teknologi yang sangat sederhana.

Read More