Aplikasi WhatsApp Digunakan Untuk Belajar Menulis di KBMN PGRI

Mengapa KBMN PGRI Belajar Menulis Lewat Aplikasi WhatsApp? Aplikasi WhatsApp Digunakan Untuk Belajar Menulis di KBMN PGRI.

Di tengah era digital yang serba cepat dan canggih ini, banyak orang mengira bahwa belajar menulis hanya bisa dilakukan melalui kelas formal, platform daring seperti Zoom, atau kursus eksklusif yang membutuhkan biaya besar. Namun, Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) yang digagas oleh PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) justru memilih pendekatan sederhana namun sangat efektif: menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media utama untuk belajar menulis.

Pertanyaannya: mengapa KBMN PGRI memilih WhatsApp? Apa yang membuat aplikasi percakapan ini begitu ampuh dalam menggerakkan ribuan guru untuk menulis dan menerbitkan buku?

Aksesibilitas yang Luas dan Merata

Salah satu alasan utama adalah aksesibilitas. WhatsApp adalah aplikasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, terutama para guru di daerah. Tidak semua guru memiliki akses internet stabil untuk mengikuti kelas Zoom atau Google Meet. Namun, hampir semua memiliki ponsel yang bisa digunakan untuk mengakses WhatsApp.

Dengan memilih platform ini, KBMN PGRI memastikan bahwa tidak ada satu pun guru yang tertinggal hanya karena kendala teknis atau geografis. Belajar menulis menjadi lebih inklusif, menjangkau dari Sabang hingga Merauke.

Belajar Kapan Saja, Di Mana Saja

Kelebihan WhatsApp adalah sifatnya yang asinkron. Peserta bisa membaca materi dan menulis tugas kapan pun mereka sempat. Bagi para guru yang memiliki jadwal padat dari pagi hingga sore, fleksibilitas ini menjadi penyelamat. Mereka bisa belajar menulis sambil istirahat di ruang guru, menunggu anak, bahkan sebelum tidur malam.

Hal ini sejalan dengan filosofi KBMN: menulis itu bukan perkara waktu luang, tapi soal kemauan dan kebiasaan.

Interaksi yang Aktif dan Personal

KBMN PGRI bukan hanya soal belajar menulis, tapi juga tentang membangun komunitas yang saling mendukung. Di dalam grup WhatsApp, peserta bebas berdiskusi, bertanya, menyemangati, dan saling memberi umpan balik atas tulisan teman-teman mereka.

Interaksi ini menciptakan atmosfer hangat dan akrab. Tidak ada sekat antara peserta dan fasilitator. Semangat gotong-royong khas Indonesia sangat terasa di setiap grup KBMN.

Biaya Gratis, Manfaat Luar Biasa

Mengikuti KBMN PGRI tidak dipungut biaya, namun manfaat yang dirasakan oleh peserta sangat luar biasa. Mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga berhasil menerbitkan buku, baik secara pribadi maupun antologi. Bahkan, banyak guru yang mengaku baru pertama kali dalam hidupnya bisa melihat namanya terpampang sebagai penulis buku.

PGRI melalui KBMN membuka ruang yang luas bagi para guru untuk mengabadikan gagasan, pengalaman, dan inspirasi dalam bentuk karya tulis. Bagi banyak guru, ini adalah wujud nyata dari transformasi profesionalisme guru di era digital.

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Tugas

Pendekatan KBMN sangat khas: peserta tidak dipaksa menulis, tetapi didorong untuk menulis dari hati. Fasilitatornya pun merupakan guru-guru senior yang telah menerbitkan puluhan buku. Salah satunya adalah Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang lebih dikenal dengan nama Omjay.

Dalam banyak kesempatan, Omjay selalu berpesan, “Menulislah setiap hari, dan rasakan keajaibannya.” Ia percaya bahwa setiap guru punya kisah yang layak dituliskan dan dibagikan. WhatsApp menjadi media yang pas karena mengakomodasi proses ini dengan sederhana namun mendalam.

Komentar Omjay, Guru Blogger Indonesia

Omjay yang menjadi tokoh sentral dalam KBMN PGRI mengatakan:

> “WhatsApp itu sederhana tapi luar biasa. Lewat WhatsApp, kita bisa menjangkau ribuan guru dalam satu waktu, memberikan materi, mendampingi, dan menyemangati mereka untuk menulis. Bukan alatnya yang penting, tapi niat dan konsistensinya. Bagi kami, WhatsApp adalah jembatan menuju budaya literasi.”

Ia juga menambahkan bahwa banyak guru yang awalnya hanya pembaca pasif di grup WhatsApp, akhirnya berani menulis dan menerbitkan buku setelah mengikuti KBMN. Ini menunjukkan bahwa kekuatan komunitas dan motivasi bersama bisa mengubah seseorang dari “tidak bisa” menjadi “luar biasa”.

Hasil yang Terlihat Nyata

Sejak KBMN pertama kali diluncurkan, sudah ribuan guru dari seluruh Indonesia bergabung dan menghasilkan ratusan buku. Ada buku antologi, buku motivasi, bahkan buku pelajaran yang ditulis oleh para peserta KBMN.

Beberapa di antara mereka juga menjadi narasumber dalam pelatihan literasi, bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah daerah karena telah menginspirasi rekan-rekan sejawat untuk menulis.

WhatsApp: Teknologi Sederhana, Dampak Luar Biasa

Di tengah maraknya aplikasi pembelajaran daring, KBMN PGRI justru membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu ditentukan oleh teknologi yang canggih, melainkan oleh kebersamaan, semangat, dan kemauan untuk berbagi ilmu. WhatsApp, yang awalnya hanya digunakan untuk komunikasi biasa, disulap menjadi ruang belajar yang penuh makna.

Di sinilah letak keistimewaan KBMN: bukan platform yang menentukan kualitas pembelajaran, tetapi kualitas komunitas dan niat baik penggeraknya.

Penutup

Belajar menulis lewat WhatsApp mungkin terdengar sederhana. Tapi di tangan para guru pejuang literasi, aplikasi ini menjadi senjata perubahan. KBMN PGRI bukan hanya sekadar program menulis, melainkan gerakan moral dan kultural yang menghidupkan semangat literasi dari bawah. WhatsApp hanyalah alat. Namun dengan niat, semangat, dan pendampingan yang tulus, alat sederhana ini bisa melahirkan ribuan penulis hebat di negeri ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Pesan Pak Onno 9 Tahun Lalu Tentang Pentingnya TIK Untuk Kedaulatan Republik Indonesia

Hari ini facebook menampilkan kembali foto kami 9 tahun lalu. Pak Onno W Purbo mengatakan ICT atau TIK Penting dan harus menjadi mata pelajaran wajib di sekolah untuk menjadikan republik ini berdaulat. Kini mata pelajaran TIK berganti nama menjadi Informatika dalam kurikulum merdeka.

Kenangan 9 Tahun Lalu dan Pesan Penting dari Pak Onno W. Purbo: TIK Harus Jadi Mata Pelajaran Wajib

Hari ini, Facebook kembali menghadirkan kenangan 9 tahun yang lalu—sebuah foto penuh makna yang membangkitkan semangat kami untuk terus berkarya dan memperjuangkan masa depan pendidikan Indonesia. Dalam foto itu, kami berpose bersama Pak Onno W. Purbo, tokoh pejuang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia.

Dengan gaya khasnya yang sederhana namun penuh makna, Pak Onno menyampaikan pesan yang sampai hari ini masih relevan:

“TIK itu penting. Sangat penting. TIK harus menjadi mata pelajaran wajib di sekolah, agar republik ini bisa berdaulat di dunia digital!”

Kalimat itu tidak hanya menyentuh akal sehat, tapi juga menggugah hati nurani para pendidik yang peduli akan masa depan generasi muda.

Ketika Anies Baswedan Menyambut Gagasan Besar Ini

Pada waktu itu, Anies Baswedan, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan**, turut memberi perhatian pada semangat digitalisasi pendidikan yang kami gaungkan.

Dalam salah satu diskusi yang kami ikuti bersama para guru dan pemangku kepentingan pendidikan, Anies mengatakan:

“Teknologi bukan pengganti guru, tapi alat pemberdaya guru. Kita harus menyiapkan generasi yang bukan hanya melek teknologi, tapi juga bijak menggunakannya.”

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa literasi digital harus menjadi bagian dari kompetensi abad ke-21 yang diajarkan di sekolah, selaras dengan gerakan “Merdeka Belajar” yang saat itu mulai dirintis dalam benak dan gerakan kecil di banyak komunitas pendidikan.

Dukungan moral dari Anies menjadi penyemangat bahwa perjuangan literasi TIK bukan hanya suara pinggiran, melainkan arus perubahan yang perlu digerakkan dari ruang kelas ke ruang kebijakan.

Mengapa TIK Harus Menjadi Mata Pelajaran Wajib?

Dunia telah berubah. Anak-anak hari ini lahir di era digital. Tanpa penguasaan TIK, mereka akan kesulitan beradaptasi dalam dunia kerja dan kehidupan yang makin terdigitalisasi.

TIK bukan lagi keterampilan tambahan. Ia adalah kemampuan dasar, sejajar dengan membaca, menulis, dan berhitung. Mulai dari membuat dokumen, mengelola data, membuat konten digital, hingga menjaga keamanan privasi di internet—semua itu harus dikenalkan sejak dini.

Jika kita ingin anak-anak kita menjadi subjek aktif di era teknologi, maka sekolah tidak boleh abai terhadap pentingnya TIK.

Suara Omjay, Guru Blogger Indonesia

Sebagai seorang guru yang belajar dari internet, menulis di blog, dan tumbuh bersama komunitas digital, saya—Omjay—merasakan sendiri dampak besar TIK dalam dunia pendidikan.

“Dulu saya mengajar dari papan tulis, sekarang saya mengajar dari blog dan YouTube. Teknologi membuka ruang belajar tanpa batas.”

Saya sangat mendukung perjuangan Pak Onno dan pemikiran Pak Anies Baswedan. TIK harus menjadi mata pelajaran wajib di sekolah, bukan hanya muatan lokal atau tambahan. Kita harus menciptakan ekosistem pendidikan yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif dengan bantuan teknologi.

Mari kita dorong bersama. Mulailah dari sekolah, dari ruang kelas, dan dari para guru yang tak pernah lelah belajar hal baru.

Penutup: Dari Foto Lama, Lahir Semangat Baru

Foto kenangan 9 tahun lalu bukan hanya potret masa lalu, tapi juga api semangat yang tak pernah padam. Ia mengingatkan kami bahwa perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa harus terus berjalan, kini dengan senjata baru: literasi digital.

Terima kasih Pak Onno. Terima kasih Pak Anies. Terima kasih untuk semua guru yang tetap semangat mengajar dan belajar di era digital ini.

Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Kegiatan Workshop Elearning di Kota Padang Sumatera Barat

Hari ini facebook mengingatkan kembali kegiatan kami delapan tahun lalu. Liputan kegiatan KOGTIK dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Abad 21 melalui e-Learning Workshop Komunitas Guru TIK dan Informatika PGRI. Kegiatan dilaksanakan  di Kota Padang, delapan Tahun Lalu. Walapun sudah 8 tahun lalu, kenangannya masih terasa hingga saat ini.
Waktu itu Kami sangat serius dan konsisten Meningkatkan Kompetensi Guru Abad 21 melalui e-Learning Workshop Komunitas Guru TIK dan Informatika PGRI di Kota Padang, 29 Juli 2017. Kegiatan ini mendapatkan sponsor dari EPSON Indonesia. Ibu Sri Melni ditunjuk menjadi Ketua Panitia. Tak terasa sudah lebih dari 50 kota kami datangi bersama EPSON Indonesia.
Saat itu, kami berada di kota Padang – tanggal 29 Juli 2017. Dari Jakarta, Omjay berangkat bersama pak Youri, pak Tatang, dan Ibu Wiwin yang merupakan pengurus Komunitas guru TIK dan Informatika. Dulu namanya Komunitas Guru TIK dan KKPI. Kami ditugaskan untuk berbagi ilmu dan pengalaman kami mengelola e-learning moodle yang digagas oleh pembina dan pakar TIK bapak Onno Widodo Purbo.

Kegiatan Workshop Elearning KOGTIK di Kota Padang Sumatera Barat (Wijaya Kusumah)
Suasana penuh semangat dan antusiasme tampak di aula Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Sabtu pagi, 29 Juli 2017 kala itu. Lebih dari seratus guru dari berbagai jenjang pendidikan berkumpul dalam Workshop e-Learning.
Kegiatan workshop bertema “Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Pemanfaatan TIK untuk Pembelajaran Abad 21”, yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru TIK dan Informatika PGRI (KOGTIK) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan MGMP TIK Sumbar.
Epson Indonesia saat itu memberikan 3 buah doorprize berupa printer dan hadiah lainnya seperti kaos, topi, tas, dan lain-lain buat peserta kegiatan. Bapak dan ibu guru sangat senang mendapatkannya. Terutama buat mereka yang mendapatkan doorprize printer senilai Rp.3 juta.
Workshop ini menghadirkan narasumber nasional, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang akrab disapa Omjay, seorang guru blogger Indonesia yang telah menginspirasi ribuan pendidik lewat karya dan kiprahnya di dunia literasi digital.
Beliau adalah founder komunitas sejuta guru ngeblog KSGN dan juga Founder Komunitas Belajar Menulis Nusantara KBMN PGRI. Beliau juga menjabat sebagai sekjen Ikatan Guru Informatika PGRI hingga saat ini.

Sambutan Ibu Sri Melni Ketua Panitia Workshop Elekarning KOGTIK (Wijaya Kusumah)
TIK Sebagai Kebutuhan Pembelajaran Modern
Dalam pemaparannya, Omjay menekankan bahwa penguasaan TIK bukan lagi pilihan, tetapi keharusan bagi guru di abad 21. Ia menunjukkan bahwa transformasi digital telah mengubah cara belajar siswa, dan guru harus mampu beradaptasi dengan pendekatan baru yang interaktif dan berbasis teknologi.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi fasilitator. Teknologi adalah alat bantu yang bisa memperkaya proses belajar mengajar. Jika guru tak memanfaatkan TIK, maka ia akan tertinggal oleh zaman,” ujar Omjay penuh semangat.
Dengan gaya penyampaian yang ringan namun padat makna, Omjay membagikan berbagai pengalaman menggunakan blog, e-learning, Google Classroom, hingga media sosial edukatif sebagai sarana pembelajaran aktif dan kreatif. Beliau juga mengajarkan ilmu menulis agar semua guru mampu menulis dan menerbitkan buku ber-ISBN.

Foto Bareng Om Surya Narsum dari Jakarta (Wijaya Kusumah)
Pelatihan Praktis dan Interaktif
Sesi workshop dibagi menjadi dua bagian, yakni:
  1. Sesi Teori: Membahas konsep pembelajaran abad 21, kompetensi digital guru, dan pentingnya budaya literasi.
  2. Sesi Praktik: Para peserta dibimbing membuat blog pembelajaran, akun Google Classroom, serta merancang RPP digital berbasis e-learning.
Salah satu peserta, Ibu Yusmawati, guru SMP di Kota Bukittinggi, menyampaikan pengalamannya:
“Selama ini saya merasa kurang percaya diri menggunakan teknologi. Tapi lewat pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa ternyata banyak platform gratis dan mudah digunakan. Terima kasih KOGTIK dan Omjay.”
Peran KOGTIK dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
Ketua panitia workshop, Ibu Sri Melni, M.Kom, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan KOGTIK untuk mendukung pengembangan profesional guru di seluruh Indonesia.
 “Kami percaya bahwa guru yang terus belajar adalah guru yang akan membawa perubahan. KOGTIK hadir sebagai komunitas yang saling mendukung, berbagi, dan bertumbuh bersama,” ujarnya.
Kegiatan ini ditutup dengan pembagian sertifikat, dokumentasi karya peserta, dan penandatanganan nota kesepahaman antara KOGTIK dan MGMP TIK Sumbar untuk menyelenggarakan pelatihan lanjutan secara daring.

Pembagian Hadiah Doorprize untuk peserta yang beruntung (Wijaya Kusumah)
Penutup: Menjadi Guru Pembelajar Sepanjang Hayat
Workshop ini menjadi bukti nyata bahwa semangat guru Indonesia untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi tidak pernah padam. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan baru, para peserta kembali ke sekolah masing-masing dengan semangat baru untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa-siswi mereka.
Sebagaimana pesan penutup dari Omjay:
“Menulislah setiap hari, ajarkan TIK dan Informatika dengan hati, dan buktikan perubahan dalam kelas Anda. Itulah jalan kita menuju guru profesional abad 21.”

Sambutan Omjay saat foto bersama peserta Elearning KOGTIK di Padang Sumbar (Wijaya Kusumah)
Penulis liputan : Tim Liputan KOGTIK
Dokumentasi: Panitia Workshop KOGTIK Padang 2017
Editor: Omjay – Guru Blogger Indonesia
Ingin mengundang workshop serupa di kota Anda? Hubungi Komunitas dan Ikatan Guru TIK dan Informatika PGRI di: www.wijayalabs.com atau hub ungi Omjay di whatsApp 08159155515.
Kami akan mulai keliling kembali untuk 10 kota berikutnya bersama EPSON Indonesia, dan nantikan kedatangan kami di kota anda. Salam blogger Persahabatan.

Mengapa Sekolah Tidak Berkembang? Inilah 7 Penyebab Utamanya

Mengapa Sekolah Tidak Berkembang? Inilah 7 Penyebab Utamanya
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Saya sudah lebih dari 30 tahun menjadi guru. Sejak awal mengajar di SMK Muhammadiyah Jakarta hingga sekarang mengabdi di Labschool Jakarta, satu hal yang saya pelajari: sekolah bukan hanya tempat murid belajar, tapi tempat seluruh ekosistem pendidikan tumbuh dan berkembang bersama.
Saya pernah mengajar di sekolah dengan fasilitas terbatas, tapi atmosfer belajarnya luar biasa. Saya juga pernah mengunjungi sekolah dengan gedung megah, tetapi tidak tampak semangat untuk berubah. Dari pengalaman itulah saya menyadari, bahwa faktor terpenting dalam kemajuan sebuah sekolah bukan pada gedung atau kurikulum saja, melainkan pada manusianya.
Lalu, mengapa masih banyak sekolah yang tidak berkembang? Padahal kurikulum sudah diganti berkali-kali, pelatihan guru rutin dilakukan, dan anggaran pendidikan juga meningkat.
Tidak berkembangnya suatu sekolah bukan karena hanya kekurangan dana, namun karena kehilangan arah dan semangat untuk tumbuh.
Setidaknya, ada tujuh akar masalah utama yang perlu kita pahami dan refleksikan bersama.
1. Kepemimpinan yang Tidak Visioner
Kepala sekolah adalah ujung tombak perubahan. Jika kepemimpinannya lemah dan tanpa visi ke depan, sekolah akan terjebak pada rutinitas tanpa arah. Kepala sekolah bukan hanya bertugas menandatangani dokumen atau mengatur jadwal, tapi juga menjadi penggerak dan inspirator.
Sekolah yang hebat selalu dimulai dari pemimpin yang punya mimpi besar dan mampu mengajak seluruh elemen sekolah mewujudkannya bersama. Ia tidak hanya bicara, tapi memberi contoh nyata. Ia mendengar keluhan guru, memberi ruang inovasi, dan tidak takut menghadapi perubahan.
> “Sekolah tidak akan pernah melompat jauh tanpa pemimpin yang berani memulai langkah pertamanya.”
2. Guru yang Tidak Mau Belajar
Saya pernah mengatakan dalam sebuah seminar pendidikan, “Guru yang berhenti belajar, sama saja dengan menghambat masa depan muridnya.”
Zaman sudah berubah. Dunia digital menuntut keterampilan baru. Tapi masih ada guru yang enggan belajar teknologi, menolak kurikulum baru, dan nyaman dengan metode lama.
Saya sendiri terus belajar. Saya menulis setiap hari, mengikuti pelatihan daring, berdiskusi dengan guru dari berbagai daerah, bahkan aktif di komunitas blogger dan edukator. Saya percaya, semakin kita belajar, semakin kita menyadari betapa luasnya dunia yang belum kita kuasai.
> “Jangan berhenti belajar hanya karena kita sudah merasa pintar. Justru di situlah awal dari kejatuhan kita sebagai guru.”
3. Budaya Sekolah yang Toxic
Budaya adalah pondasi. Sekolah yang sehat akan melahirkan semangat kolaboratif dan saling mendukung. Namun jika budaya sekolah dipenuhi dengan persaingan tidak sehat, politik internal, senioritas yang berlebihan, dan saling menjatuhkan, maka mustahil kemajuan bisa diraih.
Saya pernah melihat sekolah yang memiliki banyak guru hebat, namun karena budaya saling sindir dan tidak percaya, potensi yang ada justru tenggelam. Tidak ada kerja tim. Yang ada hanya kerja ego.
Sekolah perlu membangun budaya positif: saling menghargai, mendukung kreativitas, memberi ruang berbeda pendapat, dan menghormati perbedaan.
> “Lingkungan yang baik bisa mengangkat orang biasa menjadi luar biasa. Lingkungan yang buruk justru bisa membuat orang hebat kehilangan semangat.”
4. Minimnya Keterlibatan Orang Tua
Sekolah bukan pulau terpisah. Pendidikan yang berhasil selalu melibatkan orang tua. Sayangnya, masih banyak sekolah yang membatasi komunikasi dengan wali murid hanya dalam urusan administrasi atau saat rapor dibagikan.
Sebagai guru, saya sering mengundang orang tua untuk hadir dalam kegiatan literasi, parenting, bahkan berdiskusi ringan tentang kebiasaan belajar anak. Dari situ saya tahu bahwa melibatkan orang tua berarti memperkuat jembatan pendidikan antara rumah dan sekolah.
> “Jika rumah dan sekolah sejalan, maka masa depan anak-anak kita akan lebih terang.”
5. Fokus Berlebihan pada Nilai Akademik
Saya tidak anti nilai. Tapi saya sangat menentang pendidikan yang hanya mengukur keberhasilan dari angka-angka di rapor. Pendidikan yang hanya menilai kemampuan kognitif mengabaikan sisi afektif dan psikomotorik siswa.
Saya bertemu banyak murid yang nilai matematikanya biasa saja, tapi sangat kreatif dalam menulis, menggambar, atau membuat konten digital. Sayangnya, mereka merasa “gagal” karena tidak masuk 10 besar.
Sekolah harus mulai mengubah paradigma ini. Bakat dan karakter jauh lebih penting daripada sekadar ranking.
> “Nilai bisa dilupakan, tapi karakter dan keterampilan akan membentuk masa depan seseorang.”
6. Ketidakmampuan Mengelola Perubahan
Kita sudah masuk era digital. Dunia kerja sudah berubah. Tapi banyak sekolah masih menggunakan metode konvensional. Guru masih menjadi satu-satunya sumber belajar. Padahal internet membuka akses ke ribuan sumber belajar interaktif.
Sekolah yang tidak bisa beradaptasi akan ditinggalkan. Kurikulum Merdeka sudah membuka banyak peluang untuk inovasi. Tapi peluang itu hanya bisa dimanfaatkan jika sekolah berani keluar dari zona nyaman.
Saya sendiri terus belajar AI, coding dasar, bahkan mengajak siswa membuat blog dan konten edukatif. Mereka antusias. Mereka merasa dihargai.
> “Perubahan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dikelola. Yang bertahan bukan yang terkuat, tapi yang paling adaptif.”
7. Tidak Ada Refleksi Kolektif
Refleksi adalah kegiatan penting tapi sering diabaikan. Guru sibuk mengejar administrasi. Kepala sekolah sibuk laporan ke dinas. Murid belajar hanya untuk ujian.
Jarang ada waktu duduk bersama untuk merenungkan: Apa yang berhasil? Apa yang gagal?
Apa yang bisa diperbaiki bersama?
Padahal refleksi kolektif sangat penting untuk pertumbuhan bersama. Saya sering mengajak guru menulis jurnal reflektif, berdiskusi lewat blog, atau sekadar ngobrol santai setelah rapat untuk saling berbagi perasaan dan ide.
> “Refleksi bukan kegiatan tambahan, tapi bagian dari pembelajaran sejati.”
✨ Motivasi untuk Mengelola Sekolah: Jadikan Sekolah Tempat Bertumbuh, Bukan Sekadar Tempat Belajar
Mengelola sekolah itu ibarat menanam pohon. Tidak cukup hanya dengan menyiram dan memberi pupuk. Kita harus memastikan tanahnya subur, akarnya kuat, dan lingkungannya mendukung.
Sekolah tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan kepala sekolah. Harus ada kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, komite sekolah, bahkan masyarakat sekitar. Semuanya perlu merasa memiliki.
Sebagai guru, saya percaya:
> “Setiap sekolah punya potensi besar. Tapi potensi itu hanya bisa tumbuh jika semua unsur di dalamnya bergerak, berani berubah, dan saling menguatkan.”
✍️ Penutup: Mari Kita Mulai dari Diri Sendiri
Sekolah yang berkembang bukan soal besar kecilnya anggaran, tapi soal besar kecilnya semangat orang-orang di dalamnya. Jika kita ingin sekolah berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari guru dan kepala sekolah yang terus belajar dan membuka hati.
Jangan menunggu sistem berubah. Jangan menunggu instruksi dari atas. Mulailah dari hal-hal kecil: menulis refleksi, belajar teknologi baru, memberi ruang kreativitas bagi siswa, mendengar suara orang tua, dan membangun budaya kerja yang sehat.
> “Jika ingin melihat perubahan besar di sekolah, maka ciptakan perubahan kecil setiap hari.”
Saya percaya, selama guru masih mau belajar dan kepala sekolah masih punya mimpi, maka harapan untuk sekolah yang lebih baik akan selalu hidup. Mari kita bergerak bersama. Karena sekolah bukan tempat menyampaikan materi, tapi tempat membentuk masa depan bangsa.
Tentang Penulis:
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, dikenal luas sebagai Omjay, adalah Guru Blogger Indonesia yang aktif menulis, berbagi inspirasi pendidikan, dan mendorong gerakan literasi digital di kalangan guru. Ia telah menulis puluhan buku, mengisi pelatihan nasional, dan menjadi inspirator bagi ribuan pendidik di seluruh Indonesia.
Salam blogger persahabatan
Guru blogger Indonesia

Guru Penggerak Seharusnya Mampu Menjadi Guru Pendobrak

Guru penggerak seharusnya mampu menjadi guru pendobrak. Bukan guru penurut yang mengikuti kebijakan penguasa yang kurang tepat. Guru harus mampu berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat yang benar.

Memang harus diakui. Tidak mudah menjadi guru pendobrak. Selalu saja ada rintangan, dan hambatan yang datang menghadang. Namun, keberanian dan kepekaan terhadap dinamika yang terjadi membuatnya terus bergerak, tergerak, dan akhirnya menggerakkan.

Hadirnya program pendidikan guru penggerak di era mendikbudristek Nadiem Makarim semestinya tidak membuat diskriminatif terhadap guru. Seolah guru terbagi menjadi dua yaitu guru penggerak dan bukan guru penggerak. Mereka yang tidak beruntung harus pasrah menerima kebijakan yang kurang tepat dari Kemdikbudristek.

Perlu kita sadari peran guru sangat penting. Oleh karena itu diperlukan guru-guru berkualitas. Namun yang bisa menikmati peningkatan kualitas pendidikan hanya guru-guru terpilih saja. Sedangkan guru lainnya hanya pasrah menerima keadaan dengan jenjang karier yang mentok sebagai seorang guru. Mereka dibungkam dengan kebijakan dan diminta menuruti kehendak penguasa.

Pengangkatan calon kepala sekolah dan pengawas sekolah di sekolah negeri seharusnya tak mutlak dari jalur guru penggerak. Sebab sejatinya semua guru memiliki kesempatan untuk peningkatan karier yang sama sesuai kompetensinya.

Pemerintah harus memberikan kesempatan kepada semua guru baik guru penggerak maupun non guru penggerak Kemdikbudristek untuk mengikuti seleksi calon kepala sekolah dan dan pengawas sekolah dengan penelusuran rekam jejak secara  komprehensif selama bertugas. Hal ini telah banyak dilakukan sekolah swasta sehingga mereka mampu melahirkan kepala sekolah inspiratif, dan membawa sekolahnya unggul di masyarakat.

Diskriminasi karier guru yang dituliskan oleh catur Nurochman Oktavian bendahara pengurus besar PGRI, wakil ketua dewan eksekutif APKS PGRI, dan kepala SMPN 3 Tenjo kabupaten Bogor di harian kompas edisi 27 Januari 2024 perlu menjadi catatan penting Kemdikbudristek.

Idealnya semua guru adalah guru penggerak tanpa dilabeli sebuah program pendidikan guru penggerak selama 6 bulan. Seharusnya semua guru mendapatkan kesempatan yang sama untuk peningkatan profesionalisme guru. Guru perlu seperti tentara yang jelas kenaikan pangkatnya dari kopral hingga jenderal.

Sampai saat ini belum kita dapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa lulusan program guru penggerak Kemdikbudristek lebih baik dari guru yang tidak mengikuti program pendidikan guru penggerak.

Jadi seharusnya semua guru diberikan kesempatan untuk peningkatan karier dirinya menjadi kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Bukan hanya guru yang mengikuti program pendidikan guru penggerak saja. Sejatinya semua guru adalah guru penggerak.

Omjay sendiri sudah mengikuti program pendidikan guru penggerak selama 6 bulan dan lulus di angkatan 7. Berdasarkan hasil pengamatan Omjay, tidak semua lulusan guru penggerak mampu menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Mungkin ini sifatnya masih subyektif dan perlu dilakukan penelitian tindak lanjut.

Kebanyakan lulusan guru penggerak menjadi guru penurut dan kurang mengkritisi kebijakan Kemdikbudristek yang kurang tepat. Bahkan cenderung menjadi corong yang mendukung kebijakan penguasa. Mereka juga sudah berubah dari seorang pendidik menjadi pemburu sertifikat demi kenaikan pangkat. Mereka bahkan bangga telah terjajah aplikasi PMM. Tirani aplikasi membuat guru asyik di depan komputer, dan justru menjauh dari siswanya.

Omjay bersyukur kepada Allah SWT telah diberikan kesempatan mengikuti program pendidikan guru penggerak. Masih banyak yang harus diperbaiki dari program pendidikan guru penggerak. Modul-modul di LMS Kemdikbudristek harus direvisi dan disempurnakan sehingga menghasilkan guru penggerak yang berani menjadi guru pendobrak. Guru mampu memimpin pembelajaran yang mengundang selera siswa untuk belajar secara mandiri dan kelompok.

Demikianlah kisah Omjay kali ini tentang guru penggerak yang seharusnya menjadi pendobrak dan berani mengkritisi kebijakan Kemdikbudristek yang kurang tepat. Guru harus berani menyampaikan secara lisan dan tulisan. Tentu saja dengan data dan fakta yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara akademik.

Salam blogger persahabatan

Omjay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

 

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Guru Penggerak Seharusnya Mampu Menjadi Guru Pendobrak”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/65fb41d3de948f4895240574/guru-penggerak-seharusnya-mampu-menjadi-guru-pendobrak

Kreator: Wijaya Kusumah

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com