MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Saatnya buktikan bahwa tulisanmu mampu membawa perubahan untuk Indonesia!
Wijaya Kusumah-Guru Blogger Indonesia
Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi
MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥
Saatnya buktikan bahwa tulisanmu mampu membawa perubahan untuk Indonesia!
WEBINAR NASIONAL LOMBA BLOG HARI KEMERDEKAAN RI KE-81 🇮🇩
Tema:
✍️ Menulis untuk Indonesia, Menginspirasi Negeri

Kiriman yang Menghubungkan Mimpi: Kisah Omjay Bersama JNE
Di era digital seperti sekarang ini, jarak bukan lagi penghalang bagi manusia untuk saling terhubung. Sebuah paket kecil bisa membawa harapan besar. Itulah yang Omjay rasakan.
Sebuah kiriman sederhana bisa menyampaikan mimpi yang selama ini disimpan dalam hati. Hal itulah yang sering dirasakan oleh Omjay, nama yang akrab bagi Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, seorang guru yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Peran 77 Organisasi Profesi Guru dalam Transformasi Pendidikan Indonesia
Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dan hari lahirnya PGRI yang ke-80 menjadi momentum bersejarah bagi dunia pendidikan Indonesia. Omjay menjadi teringat ketika menjadi finalis Inobel 2018, dimana peran organisasi profesi telah mengantarkan Omjay menjadi salah satu pemenangnya dan mendapatkan hadiah belajar ke negara China tahun 2019.
Untuk pertama kalinya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengundang 77 organisasi profesi guru dari berbagai latar belakang, disiplin ilmu, budaya, agama, hingga komunitas berbasis vokasi.
Kehadiran puluhan organisasi ini bukan hanya menunjukkan keragaman ekosistem pendidikan Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bahwa suara guru tidak bisa lagi diwakili oleh satu atau dua organisasi saja.
Keragaman Organisasi: Bukti Hidup Dinamika Profesi Guru
Daftar 77 organisasi tersebut mencakup berbagai kelompok yang selama ini mungkin tidak dikenal luas oleh masyarakat maupun guru sendiri. Mulai dari PGRI dan IGI yang sudah populer, hingga organisasi berbasis keilmuan seperti KOGTIK, organisasi guru vokasi, MGMP lintas mata pelajaran, komunitas guru berbasis agama, dan forum-forum guru yang bergerak secara independen.
Keragaman ini menunjukkan bahwa profesi guru berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Guru sudah tidak lagi berada dalam satu payung tunggal, tetapi tersebar dalam berbagai organisasi sesuai keahlian, kebutuhan, dan konteks masing-masing. Setiap organisasi membawa misi, pengalaman, tantangan, dan identitasnya sendiri.
Namun, keberagaman ini juga memunculkan satu pertanyaan penting: Apakah banyaknya organisasi profesi guru berdampak pada peningkatan standar kompetensi guru di Indonesia?
Tantangan: Banyak Organisasi, tetapi Apa Dampaknya?
Meskipun keberadaan organisasi sangat banyak, tidak semua memiliki dampak nyata terhadap kualitas pendidikan nasional. Sebagian besar organisasi fokus pada kegiatan seremonial, penguatan jaringan, atau advokasi isu tertentu, tetapi belum semuanya mampu:
Salah satu persoalan mendasar adalah kurangnya koordinasi antar organisasi. Banyak forum guru baru bergerak ketika ada kasus tertentu, bukan melalui advokasi berkelanjutan. Guru swasta, misalnya, masih menghadapi persoalan klasik terkait inpassing yang membuat mereka stagnan dalam golongan, misalnya tetap di golongan IIIA hingga pensiun.
Dalam konteks ini, organisasi yang terlegitimasi seperti KOGTIK (Komunitas guru TIK dan KKPI)—yang diakui Kemendikdasmen—menjadi contoh bahwa legalitas dan kredibilitas sangat penting untuk memperjuangkan aspirasi guru secara lebih sistematis.
Suara Guru: Antara Idealitas dan Realitas
Di lapangan, para guru masih berjuang menghadapi kenyataan:
PGRI sebagai organisasi guru terbesar sebenarnya memiliki mandat kuat untuk memperjuangkan guru honorer, antara lain melalui:
Namun, sebagian guru menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, khususnya dalam aspek transparansi dan representasi yang lebih luas.
Harapan Guru: Satu Komando, Satu Suara, tetapi Tetap Beragam
Beberapa guru melihat hadirnya 77 organisasi sebagai kekuatan. Semakin banyak suara, semakin luas representasi. Tetapi sebagian lain merasa bahwa terlalu banyak organisasi bisa membuat perjuangan tidak satu komando dan melemahkan daya tawar guru dalam kebijakan nasional.
Idealnya, keberagaman tidak perlu dihilangkan. Yang perlu dibangun adalah:
agar guru tetap memiliki warna berbeda tetapi satu tujuan besar: memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.
Momentum HGN 2025: Titik Awal Kolaborasi Nasional
Undangan pemerintah kepada 77 organisasi guru merupakan sinyal positif. Pemerintah menunjukkan kesediaan untuk mendengar berbagai suara, tidak lagi terpaku pada satu organisasi induk saja.
Bagi guru PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, guru madrasah, guru pendidikan agama, guru vokasi, guru khusus, dan seluruh jenjang pendidikan, momentum ini bisa menjadi awal lahirnya:
Sebagai Guru Penggerak, banyak di antara kita percaya bahwa transformasi pendidikan tidak hanya datang dari kebijakan, tetapi juga aksi nyata berupa penelitian, refleksi, dan inovasi di kelas. Pendidikan Indonesia perlu kembali berpijak pada realitas, bukan sekadar angka-angka atau indikator administratif.
Penutup: Suara Guru adalah Suara Bangsa
Guru adalah tiang utama peradaban. Dari tangan guru lahir generasi berilmu, berbudaya, dan mampu mengharumkan nama bangsa. Karena itu, para pengambil keputusan perlu memberikan perhatian khusus terhadap nasib guru, baik PNS maupun honorer, negeri maupun swasta.
Dengan hadirnya 77 organisasi profesi guru, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pendidikan yang lebih demokratis, berdaulat, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Keberagaman bukan ancaman, tetapi kekuatan jika dikelola dengan bijak.
Semoga organisasi-organisasi tersebut menjadi wadah dialog yang dekat dengan realitas kelas dan mampu memperjuangkan guru secara profesional dan bermartabat.
Selamat Hari Guru Nasional 2025. Selamat HUT PGRI ke-80 pada 25 November 2025. Jayalah Guru Indonesia, menuju bangsa yang hebat, berdaulat, dan penuh cinta pada ilmu.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Capres dan cawapres 01 menang di TPS 75 dan lainnya. Tapi kalah di perhitungkan quick count. Kenapa ya? Omjay coba jelaskan dari sudut pandang seorang anggota KPPS yang bertugas di TPS 75 RW 10 kompleks TNI AL Jatibening indah pondok gede Bekasi.
Salam dan bahagia sahabat kompasiana. Tahun ini Omjay bertugas menjadi ketua KPPS TPS 75 di RW 10 kompleks TNI AL Jatibening indah pondok gede Bekasi. Omjay sangat senang dapat membantu pelaksanaan pemilu dengan jujur dan adil.

Omjay didampingi 6 orang petugas KPPS lainnya dan 2 orang linmas atau petugas keamanan di TPS 75 RW 10 kompleks TNI AL Jatibening indah pondok gede Bekasi. Selain itu ada seorang petugas dari badan pengawas pemilu atau Bawaslu. Juga ada para saksi dari Paslon 01, dan 02, serta 03. Juga saksi dari para partai politik. Jadi sangat sulit terjadi kecurangan di setiap TPS. Sebab banyak mata yang ikut menyaksikannya .

Omjay sudah serahkan semua dokumennya ke koordinator KPPS di kelurahan Jatibening kota Bekasi Jawa Barat. Omjay juga sudah cek hasil perhitungan suara sampai hari ini di website KPU pusat.
Silahkan klik link di bawah ini!
https://pemilu2024.kpu.go.id/pilpres/hitung-suara/32/3275/327508/3275081002/3275081002075
Hasilnya masih dalam proses perhitungan suara KPU pusat secara manual. Omjay dan kawan-kawan masih harus sabar menunggu kotak suara diantar ke kecamatan. Semoga tepat pada waktunya.

Jadi kawan-kawan sekarang monitor hasilnya di website KPU. Kalau tidak sama dengan hasil perhitungan di setiap TPS, kawan-kawan wajib melaporkan ke Bawaslu atau tim pemenangan nasional atau TPN dari masing-masing Paslon. Jangan sampai kawan-kawan termakan berita bohong atau hoaks yang tidak jelas sumbernya. Hal ini penting supaya kita paham tentang literasi digital.
Di TPS 75 tempat Omjay bertugas, pasangan 01 Anies Baswedan unggul dibandingkan capres lainnya. Semua saksi dan Bawaslu juga ikut menyaksikannya. Kawan-kawan harus mengawal suara sah dari para pemilih.
Selagi upload foto hasil perhitungan suara ke aplikasi sirekap, belum semua data hasil perhitungan suara diupload ke internet. Sebab sinyal tiba-tiba hilang dan ada gangguan internet. Setiap TPS ada 2 orang operator yang bertugas. Namun belum bisa dilakukan karena ada gangguan internet.
Jadi kita tunggu hasil perhitungan suara secara manual. Hati-hati dengan berita bohong atau hoaks. Setiap hasil perhitungan suara itu wajib disaksikan Bawaslu dan para saksi dari parpol dan Paslon presiden dan wakil presiden.
Kalau di dalam TPS tidak mungkin ada kecurangan. Sebab banyak saksi yang melihatnya secara terbuka. Setelah perhitungan suara, maka semua dokumen diserahkan ke kelurahan dan kemudian dibawa ke kecamatan. Para saksi diminta untuk memotret hasil suara dan membawa dokumen dalam bentuk salinan PDF.
Proses politik ini memang harus diawasi oleh kita semua. Kawal semua hasil perhitungan dari mulai kecamatan sampai ke kota dan kabupaten hingga provinsi. Kita cek hasil perhitungan suara pemilihan presiden. Juga perhitungan suara untuk DPD dan DPR serta DPRD provinsi dan kota. Kalau tidak salah ingat semuanya ada 5 lembar suara pemilih.
Aplikasi sirekap KPU belum bisa dijadikan bukti utama untuk perhitungan suara, sebab aplikasi tersebut tidak bisa bekerja secara maksimal di saat upload data karena pengaruh sinyal. Jadi Omjay lihat di media sosial belum bisa jadi dokumen resmi.
Omjay berharap semua orang yang ikut pemilihan umum untuk sabar menunggu dan terus mengawasi sampai perhitungan KPU pusat. Kalau ada kecurangan pasti akan ada orang baik yang akan melaporkan bila terjadi kesalahan pemasukan data.
Kita warga negara Indonesia harus bekerja keras, dan bekerja cerdas serta bergotong royong agar tidak terjadi kecurangan ketika data manual dimasukan ke dalam data digital. Ini yang rawan dan harus terus dikawal. Sebab operator data juga manusia biasa. Bisa jadi ada kesalahan pemasukan data. Misalnya data angka 086 bisa dimasukkan menjadi 886.
Hasil perhitungan suara di setiap TPS sudah disimpan oleh para saksi dan petugas Bawaslu di setiap TPS. Oleh karena itu kawan-kawan harus bantu mereka dalam proses perhitungan secara manual. Terus dikawal sampai proses input secara digital.
Server KPU sementara ini masih aman dan belum ada orang jahat yang mencoba membobolnya. Petugas KPU di bidang TIK pasti akan menjaga server dengan baik. Mereka bekerja secara profesional.
Perhitungan suara memang dilakukan secara manual. Kemudian dimasukkan ke komputer untuk dijadikan data digital. Namun prosesnya tetap menggunakan komputer untuk memudahkan pekerjaan manusia. Kita perlu operator yang bekerja dengan hati dan jujur sesuai dengan sumpah ketika dilantik.
Kalau bapak ibu saudara saudari menemukan kecurangan dari perhitungan suara di setiap TPS, maka segera laporkan ke petugas Bawaslu dan tim pemenangan nasional masing-masing calon presiden dan wakil presiden. Juga para saksi dari parpol masing-masing.
Omjay sendiri masih belum percaya dengan hasil quick count atau hitung cepat. Penduduk Indonesia juga sangat beragam. Sebab Indonesia ini sangat luas dan perlu waktu selama sebulan untuk mendapatkan hasil perhitungan suara secara resmi dari KPU pusat yang ada di Jakarta.
Sekarang ini eranya sangat terbuka. Perhitungan suara di mulai dari setiap TPS. Kalau banyak saksi yang mengawal suara sampai ke provinsi, maka akan ketahuan siapa yang jujur dan curang. Kita Tidak boleh menuduh tanpa ada bukti. Kalau ada bukti secara laporkan dan jangan menjadi pahlawan kesiangan.
Demikianlah kisah Omjay kali ini tentang pengalaman Omjay menjadi ketua KPPS di TPS 75 RW 10 kompleks TNI AL Jatibening indah, Pondok Gede, kota Bekasi Jawa Barat. Ayo kita kawal terus hasil perhitungan suara dari mulai TPS sampai ke website KPU. Semoga pemilihan umum tahun 2024 ini dapat dilaksanakan secara jujur dan adil. Pemilu damai benar-benar terjadi. Indonesia semakin menjadi negara yang rukun serta gemah lipah loh jinawi.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Capres-cawapres 01 Menang di TPS 75 tapi Kalah di Quick Count Kenapa Ya?”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/65cf049ade948f2376620c32/capres-cawapres-01-menang-di-tps-75-tapi-kalah-di-quick-count-kenapa-ya
Kreator: Wijaya Kusumah
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com