Mudik Unik di Kampung Naga (Kisah Perjalanan Mudik Omjay)

Setelah menikmati indahnya desa taraju Tasikmalaya selama dua hari, kami semua pulang menuju Garut. Di Garut kita akan bersilahturahim dengan saudara dari kakak ipar saya. Namun, di tengah perjalanan menuju Garut, ada sesuatu yang membuat kami tertarik untuk mengunjunginya. Di situlah terletak sebuah kampung yang bernama Kampung Naga. Di sinilah kisah perjalanan mudik Omjay dilanjutkan.

Saya tidak tahu kenapa kampung ini disebut kampung naga. Saya coba bertanya kepada beberapa orang yang ada di sana, termasuk orang sana asli. Tetapi tak satupun orang yang menjawab dengan pasti kenapa kampung ini disebut kampung naga. Ada yang bercerita kalau kampung ini disebut kampung naga karena jalan menuju kampung ini seperti naga, meliuk-liuk dan naik turun. Ada juga yang mengatakan karena kampung ini dekat jurang, dan ada juga yang mengatakan memang sudah dari sononya. Saya jadi senyum-senyum geli sendiri, sebab saya semakin menemukan jawabnya setelah saya memasuki kampung yang unik ini. Lebih unik dari desa taraju di Tasikmalaya yang dingin itu, Hiiiiiiii masih kebayang dinginnya!

Untuk Memasuki kampung naga, anda akan melewati anak tangga  yang cukup banyak. Jumlahnya saya lupa. tapi cukup lelah juga saya karena harus berjalan sekitar 500 meter ke bawah. Pemandangan kampung ini sangat menakjubkan. Saya berulangkali menyebut Subhanallah. Maha suci Allah. Bagus banget Euy!

Di kanan kiri jalan ada sawah yang tanaman padinya mulai menguning dan sebentar lagi panen. Ada sungai yang mengalir deras airnya di sebelah kanan. Kami terus berjalan menyusuri jalan menuju kampung naga, lalu kami melewati batu-batu kerikil yang sangat baik bila melepaskan alas kaki anda. Berjalan menyusuri jalan itu tanpa alas kaki. Enak sekali rasanya. Kaki seperti dipijit-pijit refleksi. Katanya bagus untuk pengobatan stroke dan jantung.

Setelah anda melewati sawah, anda akan menemukan kolam ikan tambak yang ikannya besar-besar. Siap menggoda kita untuk memberinya makanan. Setelah melewati itu, barulah kita sampai di kampung naga. Melihat keunikan rumah penduduk yang tidak boleh ada listriknya. Atap rumahpun dibuat dari genteng ijuk. Rata-rata rumahnya adalah rumah panggung dan lebih uniknya, di sini masjid tak ada pengeras suaranya. Tapi televisi ada di sini. Mereka menyalakannya dengan menggunakan Accu bekas mobil. Ketika saya tanyakan kenapa tak ada listrik di kampung naga dengan salah seorang penduduk di sana, dia menjawab itu perintah dari leluhur.  Tak boleh ada satupun rumah yang memasang listrik. Sebab mereka takut ada kebakaran akibat konsleting listrik. Sebab atap dan rumah mereka dibuat dari ijuk dan kayu yang mudah terbakar. Para leluhur takut, rumah yang mereka wariskan akan terbakar karena konsleting listrik.

Di kampung naga, kami membeli beberapa souvenir hasil kerajinan penduduk kampung naga. Istri saya membeli sandal dan tas unik di salah satu rumah yang menjual souvenir. Anak-anak pun tak ketinggalan membeli mainan anak-anak yang terbuat dari kayu, seperti kapal terbang, mobil, sepeda, motor, dll.

Hampir satu jam kami berada di kampung naga yang unik. Baru kali ini kami pergi ke kampung naga. sayang sekali, kamera yang saya bawa baterainya habis sehingga tak ada gambar dalam postingan ini.

Ketika pulang keluar dari kampung naga, kami harus menaiki tangga yang menanjak. Butuh perjuangan keras untuk orang gemuk seperti saya. Dengan perjuangan yang meletihkan akhirnya sampai juga ke atas. Kakak ipar saya membelikan beberapa buah kelapa muda. Saya langsung meminumnya. Seger banget Euy! Rasanya benar-benar butuh perjuangan untuk bisa pulang pergi ke kampung naga. Nafas saya masih tersengal-sengal  karena begitu sulitnya rintangan yang kami hadapi. Naik turun tangga yang jaraknya cukup jauh.

Buat teman-teman kompasiana yang belum pernah ke kampung naga, pergilah ke sana dan rasakan keunikan kampung ini. Untuk bisa ke sana kita cukup membayar Rp. 15.000 per mobil. Mohon maaf saya belum menceritakan semuanya. Sebab saya termasuk orang yang pelupa. jadi banyak hal yang belum saya ceritakan di sini. Bila anda belum baca kisah perjalanan omjay di desa taraju, bacalah di sini.

Bersambung

Sertifikasi Guru antara Anugerah dan Musibah

Kemarin, saya mendapatkan telepon dari teman kuliah di pascasarjana UNJ. Namanya Diah Alfaningtyas. Saya biasa memanggilnya Mbak Poppy. Beliau adalah guru berprestasi tingkat nasional tahun 2007 yang pernah diundang oleh Presiden SBY ke istana. Ada kabar buruk tentang pengelolaan sertifikasi guru. Temannya mbak Popi sudah 2 bulan ini gelisah, karena berkas-berkas sertifikasi gurunya hilang entah kemana. Sementara teman-teman guru lainnya berkasnya sudah masuk. Temannya mbak Popi itu sudah ke sana kemari mencari berkasnya itu, tetapi tetap tidak ditemukan. Beliau sangat cemas karena berkas-berkas itu adalah berkas-berkas yang asli, sebab untuk sertifikasi guru sekarang ini, semua berkas harus asli. Termasuk semua ijasah yang pernah didapatinya di perguruan tinggi atau universitas.

Kabar buruk kedua, sebelum lebaran saya mendapatkan komentar dari ibu Sri Nurhayati, dengan No.peserta sertifikasi 08026108710410, No.sertifikat pendidik 090808702783. Dalam komentarnya beliau menuliskan, Hingga saat ini saya masih dibuai harapan menunggu pencairan TPP, di mana teman2 yg lulus th 2007 mereka sudah bersuka-cita menerima tunjangan yg sudah cair untuk kesekian kalinya, sementara saya dan teman2 seangkatan hingga detik ini tunjangan yg sangat kami harapkan masih dalam bayang2 mimpi. Kami sangat berharap kepada para pejabat terkait dg masalah ini sgr dapat merealisasikan apa yg sudah menjadi hak kami, karena saat ini uang tsb betul2 sangat kami butuhkan demi kelangsungan hidup kami baik secara profesi maupun secara individual. Demikian, semoga para pejabat terkait tergugah hatinya untuk segera mencairkan tunjangan tsb sebelum hari raya Idul Fitri 1430 H. Terimakasih.

Lalu beliau mengirimkan kabar buruk kembali kepada saya,

Yth Bpk Wijaya Kusumah. Kabar terakhir yang saya dengar, kesalahan terletak pada beberapa guru yg sudah dinyatakan lulus, namun masih memiliki kekurangan jam mengajarnya, yakni kurang dari 24 jam. Mengapa kesalahan tersebut baru terdeteksi ketika saya dan teman-teman berada pada puncak harapan akan cairnya tunjangan tsb, seperti yang sudah dinikmati oleh teman-teman saya yg lulus tahun sebelumnya. Apakah alasan ini sengaja dicari untuk menghambat pencairan tunjangan yg sudah menjadi hak kami? Seandainya betul kesalahan hanya terdapat pd beberapa orang guru, lalu di mana letak keadilan? Mengapa kami yg sudah nyata2 lulus dg baik disamaratakan dengan yg lulus dg catatan masih kurang jam mengajarnya? Begitukah karakteristik kaum birokrat di Indonesia? Oh iya, saya guru di sebuah SMP Negeri di Kota Bogor. Terima kasih atas responnya. Kota Bogor memang selalu beberapa langkah ketinggalan dari kota2 dan kabupaten2 mana pun dalam segala hal, lebih2 kalau sudah menyangkut urusan pencairan tunjangan, pembayaran rapel kenaikan gaji dan sejenisnya.

Menganalisis dua kasus di atas, nampaknya ada sesuatu yang harus diperbaiki dalam administrasi pengelolaan sertifikasi guru. Sebab kedua masalah diatas seringkali menimpa para guru. Mereka kebingungan hendak kemana mencari informasi. Ada yang sudah lulus tetapi belum dapat pencairan tunjangan dan ada yang belum dinyatakan lulus lalu berkasnya hilang.

Saya tak mau saling menyalahkan. Saya hanya ingin mencari solusi. Nampaknya memang ada hal-hal yang harus dibenahi. Ada informasi dan komunikasi yang belum nyambung antara pengelola dengan para guru yang mengikuti sertifikasi guru.

Buat mereka yang telah mendapatkan tunjangan profesi (TPP) tentu ini merupakan anugerah, tetapi buat guru yang belum mendapatkan tunjangan dan berkasnya hilang ini merupakan musibah.

Sertifikasi guru memang melelahkan. Saya pun pernah mengalaminya ketika berkas saya hilang tak jelas kemana. Masing-masing pengelola saling menyalahkan. Pihak Pemda menyalahkan UNJ, dan UNJ menyalahkan pihak Pemda. Karena tak menemukan solusi, saya langsung pergi ke dirjen PMPTK  depdiknas Senayan. Begitulah yang saya alami. Namun, berkat kerja keras dan pantang menyerah, akhirnya saya bisa juga dinyatakan lulus sertifikasi guru dan sudah menerima TPP. Setelah saya mengikuti PLPG di fakultas Teknik UNJ. Dari semua peserta PLPG itu, belum semua mendapatkan tunjangan sertifikasi guru. Mereka juga masih bingung kemana lagi harus mencari informasi.

Sertifikasi guru nampaknya harus dievaluasi dan dibenahi sistem administrasinya. jangan sampai ada terjadi ketidakadilan. Semoga saja mendiknas yang baru nanti, dapat membenahi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada sertifikasi guru. Sertifikasi guru harus menjadi anugerah bagi para guru untuk menjadi guru profesional dan bukan musibah.

Salam Blogger Kompasiana

Omjay

Menulis Masih Jadi Masalah Guru

Menulis Masih Jadi Masalah Guru Selasa, 15 April 2008 | 19:10 WIB

BANDUNG, SELASA – Menumbuhkan budaya menulis atau riset di kalangan guru bukanlah perkara mudah. Ini justru menjadi momok bagi kebanyakan guru dan staf pengajar. Padahal, sertifikasi guru yang kini dilaksanakan membutuhkan kebiasaan positif ini.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Chaedar Alwasilah, Selasa (15/4) mengatakan, menulis itu tidak selamanya bakat. Melainkan, juga ditentukan dari kerja keras. Padahal, jika diamati, banyak sekali materi di sekitar lingkungan guru yang dapat dijadikan bahan tulisan macam tindakan kelas, materi ajar, perilaku siswa, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk mengatasi hambatan dalam menulis, Wakil Rektor UPI ini menyarankan guru agar tidak alergi membaca resensi buku, jalan-jalan ke toko buku, hingga menghadiri seminar.

Menurut Penelitian Lembaga Penelitian UPI, banyak guru yang sulit naik pangkat dari golongan IV-A ke IV-B sebab mensyaratkan adanya penelitian.

Berita di atas saya dapatkan dari kompas.com. semoga menjadi renungan kita semua para guru.

salam

omjay

Belajar dan Berbagi Ilmu PTK di SMAN 1 Depok

Kepala SMAN-1 Depok Sedang memberikan sambutan pada Workshop PTK

Kepala SMAN-1 Depok Sedang memberikan sambutan pada Workshop PTK

Kamis 3 September 2009, saya diminta oleh MGMP MIPA SMA Kota Depok untuk memberikan materi Penelitian Tindakan kelas (PTK). Hari itu adalah pengalaman pertama saya berada di kota Depok, dan saya sangat senang mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan belajar ilmu PTK yang dibutuhkan oleh para guru. PTK ini sangat penting dikuasai oleh para guru agar kualitas pembelajaran di kelas meningkat. Guru pun akan dengan sendirinya menemukan potensi unik yang ada dalam diri siswa.
Read More