Puasa Ramadhan hari kesepuluh membuat saya merenung sejenak. Mencoba melakukan refleksi diri dan membuka baju kesombongan dalam diri ini. Semoga anda bisa mengambil pelajaran dari diri ini setelah membaca kisahnya.
Kamis, 22 April 2021 adalah puasa kesepuluh di bulan Ramadhan. Rasanya baru tadi pagi saya menulis dan malam hari ini saya coba menulis lagi. Dengan begitu kedua jempol ini terlatih dalam menulis. Dulu mana bisa menulis pakai jempol, sekarang pakai jempol malah asyik.
Barusan mang Ujang tukang sekoteng langganan lewat depan rumah. Kami hanya saling menyapa saja. Saya tak membeli sekoteng seperti biasanya. Saya sedang mengurangi makanan dan minuman manis. Makan kolak juga tidak saya makan.
Puasa Ramadhan hari kesembilan ini membuat saya merasakan haus dan lapar. Inilah yang dirasakan oleh si miskin. Hari ini benar benar saya rasakan. Derita si miskin yang kelaparan.
Saat berbuka saya juga tak ingin buru buru makan. Istri memberikan saya segelas air putih hangat. Enak sekali mengalir ke tenggorokan yang sedang terserang batuk ini.
Seharian ini banyak kesibukan yang saya lakukan di hari Kartini. Pagi pagi sudah memeriksa tugas anak anak di blog mereka. Kemudian mengajar 4 kelas seperti biasa. Kami menggunakan aplikasi zoom. Rasanya kangen ingin bertemu mereka secara langsung.
Usai mengajar saya sempatkan ke bank BNI dekat rumah. Istri meminta saya untuk segera mengaktifkan kembali mobile banking. Biar gampang kalau transfer ke sana kemari. Jadi tidak perlu lagi ke ATM yang jauh dari rumah.
Satpam bank BNI meminta saya untuk balik kembali besok. Masih banyak nasabah yang harus dilayani. Waktunya tidak cukup kalau saya menunggu. Sebab jadwal kerja mereka hanya sampai pukul 13.00 wib.
Dengan terpaksa saya kembali ke rumah. Kemudian saya mampir ke Alfamidi untuk menarik uang di ATM. Istri minta tambahan uang belanja yang sudah habis.
Ramadhan tahun ini kami lebih banyak di rumah saja. Istri minta didampingi membaca Al Qur’an. Bacaannya masih ada sedikit yang salah. Saya betulkan bacaannya.
Saya membuka email dan banyak kawan kawan guru belum sempat dibuatkan kata pengantar bukunya. Sementara itu saya harus membuat artikel untuk puslitjak Kemdikbud. Mereka meminta saya untuk berbagi pengalaman mengajar coding.
Untunglah saya sudah terbiasa menulis. Artikel sudah saya kirimkan dan besok Kamis pagi tinggal presentasi saja. Tinggal mikir bagaimana caranya agar tugas mengajar tidak ditinggalkan. Semoga bisa pakai 2 laptop. Satu untuk mengajar dan satunya lagi untuk acara Kemdikbud. Semuanya harus dijalani agar bisa berjalan dengan baik.
Siang tadi pak Thamrin memberi materi di hari Kartini. Bagus juga materinya. Buku adalah mahkota terindah seorang penulis. Pak haji Thamrin telah membantu ratusan guru yang ingin menerbitkan bukunya gratis. Semua buku ber ISBN dan bisa digunakan untuk menambah point’ kenaikan pangkat guru.
Sore hari saya membantu satpam memperbaiki lampu jalan yang mati. Saya juga membeli lampu untuk teras di depan rumah yang mati. Keponakan saya Alda saya minta naik ke kursi. Lampu baru sudah terpasang lagi.
Habis pasang lampu saya menyiram tanaman. Sudah banyak pohon di pot yang kekeringan. Hujan belum turun lagi. Segar rasanya melihat pohon tumbuh dan mulai berbuah. Harus sabar dan teladan mengurus kebun.
Air di kolam sudah berkurang airnya. Saya tambahkan isinya. Sambil memberi makan ikan di kolam. Senang sekali mereka diberi makan. Untunglah makanan ikan masih ada. Mereka sudah lapar belum dikasih makan.
Tak lama kemudian bedug dan adzan Maghrib tiba. Senang rasanya melalui hari ini dengan kegiatan yang bermanfaat. Puasa hari kesembilan semoga membawa kita menjadi orang yang bertakwa. Jangan kasih kendor ketika kemalasan menghadang diri. Pergilah mengaji dan hidupkan malam Ramadhan dengan membaca kitab suci.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Selasa, 20 April 2021 adalah hari kedelapan kita berpuasa di bulan Ramadhan. Tak terasa sudah lebih dari seminggu kita berpuasa. Saya melewatinya dengan berbagai macam aktivitas di dunia maya. Sementara ini kita tetap belajar dan bekerja dari rumah. Saya mengajar online dari pukul 07.30 sampai pukul 11.30 wib.
Wabah Virus Corona yang merajalela di dunia membuat kita harus berada di rumah. Internet menjadi tempat kita saling terhubung. Kita bisa mati gaya bila internet mati. Sebab Komunikasi dan informasi saat ini lebih mudah dan cepat melalui internet. Akses internet cepat sangat dibutuhkan dalam masyarakat digital.
Bangun sahur sudah sibuk dengan informasi terkini. Berbagai pesan penting masuk lewat aplikasi WA. Sebuah aplikasi yang sering saya gunakan sudah penuh sekali. Ribuan pesan belum sempat dibaca. Istri menegur saya agar fokus dengan makan sahur dulu. Takutnya nanti keburu imsak. Kalau dituruti, pesan informasi di WA akan membuat saya lupa makan sahur.
Sekedar informasi saja. Pagi ini makan sahur dengan nasi, dadar telur, dan mie goreng. Heeemm tak ada sayur seperti biasanya. Makan tanpa kuah sayur membuat saya banyak minum air putih. Takut tenggorokan keselek. Hahaha tak lama kemudian waktu imsak datang dan adzan subuh mulai terdengar di televisi.
Acara paling favorit di saat santap sahur adalah sinetron Preman Pensiun 5 di RCTI. Entah kenapa anak dan istri suka dengan sinetron ini. Sayapun jadi ikutan suka karena ada unsur komedi di dalamnya. Terkadang kita dibuat tersenyum dengan kelakuan kocak para pemain sinetron. Pinter banget bermain aktingnya.
Habis makan sahur, saya langsung mandi dan sholat subuh. Setelah itu menemani istri membaca Al-Quran dan membaca sedikit demi sedikit informasi yang ada di HP. Saya sedang tidak ke masjid karena masih terserang flu. Takutnya menular ke jamaah lainnya.
Pesan di WA satu per satu saya baca dan kemudian memberikan komentar. Terkadang ada juga tidak saya baca bila infonya kurang menarik. Kalau menarik saya bagikan ke wa group lainnya. Minimal wa group keluarga besar kami.
Hari kedelapan puasa ini terasa cepat sekali. Saya banyak menonton siaran ulang webinar di youtube. Terus terang banyak ilmu baru saya dapatkan. Kemudin dilanjutkan dengan kegiatan kuliah online bersama bapak Julius Roma. seorang penulis buku best seller dan juga seorang narasumber nasional. Hebat sekali buku-bukunya banyak diterbitkan penerbit andi Yogyakarta. Salah satu penerbit terbesar Indonesia.
Pukul 13.00-15.00 WIB kuliah online berjalan lancar. Ada banyak pertanyaan dari peserta. Wah padahal belum semua materi diberikan oleh beliau. Masih sedikit ilmu yang diberikannya. Bumi berputar, waktu bergerak sangat cepat. Tahu-tahu sudah selesai acaranya. Terkesan juga dengan cara penyampaiannya walaupun hanya lewat aplikasi zoom. Beliau cukup lama menyampaikan materinya dan kami rekam lewat Youtube.
WEBINAR APKS PGRI LIVE ON YOUTUBE
Cara Mudah Membuat Outline Buku untuk Diterbitkan
Selasa, 20 April 2021 pukul 13.00 WIB
Saya sempat tertidur sebentar usai acara di kursi kayu depan teras rumah. Istri saya membangunkan untuk sholat ashar. Sesudah sholat saya baru ingat. Ada kegiatan rapat online untuk persiapan kegiatan PGRI menyambut hari Kartini. Waduh telat deh!
Laptop masih dipakai nonton oleh istri sambil menyeterika pakaian. Kalau saya pakai untuk rapat online, pasti akan marah. Jadi saya rapat pakai ponsel dengan aplikasi zoom di teras rumah. Wow tak lama kemudian sayapun tersambung dengan panitia di PGRI. Sudah ramai perbincangannya, saya menyimaknya sambil senyam senyum. Inilah kecanggihan teknologi. Kita masih bisa rapat mempersiapkan acara dari rumah.
Usai rapat online saya sempatkan untuk menyiram tanaman. Senang melihat pohon menjadi segar. Bibit cabe sudah terlihat daunnya, ada juga pohon cabe yang sudah berbuah berwarna merah. Tapi saya diamkan saja dulu. Biar enak dipandang mata. Kangkung juga sudah mulai subur daunnya.
Saat menjelang berbuka puasa, istri minta dibelikan gorengan di depan indomaret. Saya minta anak-anak saja yang membelikannya. Segeralah Ada dan Berlian meluncur ke sana naik sepeda motor. Untunglah masih ada gorengannya. Biasanya sudah diborong habis oleh para pembeli yang mau buka puasa.
Di depan rumah ada tukang sayur sore lewat. Saya membeli buah pepaya. Harganya murah hanya Rp. 15.000 (lima belas Ribu Rupiah). Sudah matang pepayanya. Sangat enak dimakan bila nanti berbuka puasa. Sekain bijinya mau saya jadikan bibit buat ditanam di kebun Oma. Semoga saja bisa tumbuh subur seperti biji pepaya sebelumnya yang sekarang sudah mulai terlihat daunnya.
Alhamdulillah tak lama kemudian adzan maghrib tiba. Kami berbuka puasa di rumah. Segelas teh hangat buatan istri nikmat sekali. Sepotong lontong dan gorengan menjadi menu buka puasa kami. Alhamdulillah masih diberikan rezeki berupa makanan dan minuman. Di luar sana masih banyak orang yang belum bisa makan karena tak ada yang bisa dimakan.
Habis sholat maghrib dapat kabar dari pak Agus penerbit Andi Yogyakarta. Beliau sudah memilih 3 orang guru blogger yang tulisannya bagus dan menginspirasi pembaca. Wow katanya, tulisan kawan kawan guru bagus. Dia sempat bingung memilihnya. Ada tulisan seorang guru yang bagus sekali, tapi begitu dilihat nama orangnya, ternyata beliau salah satu narasumbernya. Jadi kami ganti supaya peserta dulu yang mendapatkan hadiah kejutannya.
Begitulah sedikit cerita saya hari kedelepan bulan puasa ini. Segala macam aktivitas pasti bisa anda ceritakan. Namun mengemasnya ke dalam cerita yang menarik bukanlah persoalan mudah. Saya sih mengalir saja. Sebab biasanya menulis kisah nyata jauh lebih mudah daripada menulis kisah fiksi atau karangan.
Sementera ini dulu informasinya. Lain kali saya sambung lagi. Waktu di Jatibening Bekasi sudah pukul 19.08 menit. Saatnya kita sholat Isya dan taraweh. Tak terasa sudah lebih dari 875 kata saya tuliskan. Wah ternyata menulis itu memang harus dipaksakan.
Puasa Ramadhan hari Ketujuh sudah kita lalui bersama. Semoga puasa kita diterima Allah. Aamiin.
Malam ini badan terasa letih sekali. Terutama bagian punggung. Tadi sore sudah dipijat sama anak bungsu saya Berlian. Alhamdulillah agak enakan. Jalanan Jakarta mulai macet kembali. Perjalanan yang biasa ditempuh hanya 25 menit lewat tol, kini menjadi lebih dari 50 menit. Ada kecelakaan di tol. Saya lihat bagian truk menabrak pembatas jalan. Mungkin supirnya mengantuk.
Baru saja selesai sholat taraweh, Saya memutar vido lama di youtube. Sambil mendengar ceramah almarhum KH Zainudin MZ, saya tuliskan cerita ini. Silahkan kalau anda ingin ikut mendengarkannya. Ini saya kirimkan url link video youtubenya di bawah ini.
Awalnya kita diminta untuk membaca. Belum ada perintah untuk menulis. Itulah yang saya pahami setelah membaca kalam ilahi. Sebuah renungan dalam diri setelah menjalankan sholat taraweh seorang diri.