Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital
Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”
Wijaya Kusumah-Guru Blogger Indonesia
Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi

Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”

Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya hangat setiap kali memasuki bulan November. Mungkin karena saya sudah terlalu lama hidup dalam dunia pendidikan. Atau mungkin karena ada rasa rindu yang tak pernah padam kepada para guru yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Bagi saya, November selalu punya cerita. Cerita tentang perjuangan, pengabdian, dan cinta yang tak pernah habis dari seorang guru kepada bangsa dan anak-anaknya.
Tahun ini, HUT PGRI memasuki usia yang ke-80. Angka yang tidak kecil. Umur yang menunjukkan betapa panjang jalan yang sudah dilalui organisasi guru tertua di Indonesia ini. Di usia inilah, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan baru, ada suara yang lebih lantang, dan ada doa yang lebih khusyuk dari para guru di seluruh Indonesia.
Namun di balik itu, ada juga rasa getir yang tak bisa disembunyikan.

“Guru itu dibutuhkan, tapi sering dilupakan.”
Saya sudah menulis kalimat ini berkali-kali, tapi tetap saja rasanya seperti baru setiap kali diucapkan. Guru ada di garda terdepan dalam mencetak generasi bangsa, tapi berada di barisan paling belakang ketika bicara soal penghargaan dan kesejahteraan.
Guru masuk kelas setiap hari dengan berbagai beban pikiran, mulai dari administrasi yang menumpuk, kurikulum yang terus berubah, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persoalan pribadi yang terpaksa disimpan rapat-rapat demi satu hal: anak-anak didiknya harus tetap belajar dengan baik.
Saya sering melihat langsung bagaimana guru-guru berjuang. Ada yang pulang naik motor tua sambil membawa tumpukan kertas nilai. Ada yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengajar di sekolah pinggiran. Ada yang mengajar dengan senyum, meski gajinya belum pasti turun. Ada pula yang tetap semangat meski statusnya PPPK dan masih bertanya-tanya tentang masa depan kariernya.
Guru tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya ingin dihargai. Didengarkan. Diperhatikan.
Salah satu kabar yang paling banyak diperbincangkan para guru menjelang HUT PGRI tahun ini adalah harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto hadir dalam puncak peringatan di Jakarta.
Saya menerima begitu banyak pesan dari teman-teman guru:
“Omjay, mudah-mudahan Pak Presiden hadir.”
“Ini momentumnya, Om.”
“Kalau beliau hadir, itu bentuk penghargaan pada kami.”
Harapan itu bukan tanpa alasan. Guru ingin merasa dekat dengan pemimpinnya. Ingin memastikan bahwa harapan mereka tidak hilang di tengah gemuruh politik dan birokrasi. Guru ingin pemimpin tertinggi negeri ini mendengar langsung suara mereka—bukan hanya lewat laporan, tapi lewat pertemuan nyata yang penuh makna.
Saya sempat berdiskusi dengan Dr. Sumardiansyah, Wakil Sekjen PB PGRI sekaligus Ketua Dewan Eksekutif APKS PGRI. Beliau menyampaikan pandangan yang sangat menyentuh:
“Kehadiran Presiden di HUT PGRI bukan soal seremoni. Ini tentang pengakuan negara kepada guru. Tentang menempatkan guru pada posisi yang seharusnya. Guru selama ini mengabdi tanpa pamrih, jadi saat ada momentum seperti ini, tentu para guru berharap Presiden hadir sebagai bentuk penghormatan.”
Saya membaca ulang kata-kata itu berkali-kali. Rasanya pas sekali dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan. Guru tidak meminta panggung. Guru hanya ingin pengabdian mereka dianggap berarti.

Sebagai seorang guru dan Ketua Umum KOGTIK, saya sendiri melihat betapa besarnya perjuangan guru di era digital saat ini. Ada guru yang berusaha belajar teknologi dari nol. Ada yang mencoba memahami AI, coding, dan berbagai aplikasi baru demi memberi pengalaman belajar terbaik bagi murid-muridnya.
Saya sering berbagi pengalaman menulis, bercerita bagaimana teknologi bisa kita taklukkan pelan-pelan. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah hati seorang guru. Di situlah kekuatan terbesar pendidikan Indonesia berada.
Saya pun berharap, dengan segala kerendahan hati, agar Presiden benar-benar hadir. Bukan sekadar tanda tangan di undangan, tapi menghadiri langsung, melihat wajah para guru, dan merasakan energi cinta yang luar biasa dari puluhan ribu pendidik.
“Seorang pemimpin yang menghormati guru, sesungguhnya sedang menghormati masa depan bangsanya.”
Saya percaya itu.
HUT PGRI bukan hanya acara tahunan. Ia adalah pengingat bahwa guru tidak pernah berjalan sendirian. Ketika ribuan guru berkumpul, ada semangat yang menyala. Ada solidaritas yang kuat. Ada mimpi-mimpi yang kembali menemukan jalannya.
Saya bayangkan suasana di Jakarta nanti:
Seragam PGRI berkibar, wajah-wajah bahagia, tawa, pelukan, foto bersama, dan cerita-cerita perjuangan dari seluruh penjuru Indonesia. Dari guru honorer, guru PPPK, guru PNS, hingga para kepala sekolah dan pejuang literasi.
Di tengah keramaian itu, saya tahu ada satu harapan yang diam-diam dibawa oleh hampir semua yang hadir: semoga Presiden datang.
Karena jika beliau hadir, itu berarti guru dilihat. Dihargai. Diakui.
Kalau ditanya apa hadiah terbaik bagi guru di usia PGRI ke-80 ini, saya punya jawabannya:
Penghargaan. Kesejahteraan. Kepastian karier. Dan perhatian tulus dari pemimpin bangsa.
Guru tidak butuh pesta besar. Guru hanya ingin masa depan yang jelas. Ingin sistem pendidikan yang lebih adil. Ingin kebijakan yang berpihak pada pembelajaran, bukan administrasi.
HUT PGRI hanyalah satu momen. Tapi maknanya besar sekali.
Bagi saya, bagi Dr. Sumardiansyah, bagi jutaan guru di Indonesia.
Semoga tahun ini menjadi titik awal perubahan yang lebih baik.
Karena tanpa guru, tidak ada dokter. Tidak ada menteri. Tidak ada presiden. Tidak ada apa-apa.
Guru adalah cahaya pertama di setiap jalan kesuksesan.
Dan cahaya itu harus terus dijaga.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia

*Tidak Ada Satu Masa Guru Terjajah Aplikasi (Curhatan Guru di Media Sosial)*
26 Januari 2024
Tidak ada satu masa, dimana guru tersandera dan bahkan terjajah aplikasi. Justru ini terjadi di era merdeka belajar. Kembalikan tugas guru sebagai pendidik dan pengajar di sekolah. Bukan sebagai pemakai aplikasi yang setiap saat berganti.
Guru harus lebih banyak berada di depan murid-muridnya, dan tidak diajak untuk berselancar di aplikasi PMM yang di dalamnya ada sasaran kerja guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Read More
Hari ini (Kamis, 11 Januari 2023) Facebook mengirimkan kembali kenangan foto Omjay 8 tahun lalu. Foto itu Omjay unggah kembali ke berbagai WA Group yang Omjay kelola. Pesannya sangat bagus sekali. Pesan itu Omjay ambil dari buku Ki Hadjar Dewantara. Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.

Mengapa setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah? Read More
DISKUSI ORGANISASI GURU DENGAN MENDIKBUD BARU
Senin, 4 November 2019 pukul 14.00 sampai 16.00 wib, kami diundang oleh sekjen kemdikbud untuk hadir dalam acara silahturahim mendikbud baru dengan organisasi profesi guru.
Acara diskusi dipimpin oleh bapak Supriano, dirjen GTK kemdikbud. Beliau membagi secara adil agar semua perwakilan organisasi profesi guru mendapatakan kesempatan bicara.
Beliau minta dari nomor terakhir dulu, baru kemudian nomor yang pertama. Semua kawan-kawan yang hadir sudah siap dengan saran dan masukannya kepada mendikbud baru, mas Nadhim Makarim.
Ada 22 isu yang telah disampaikan oleh organisasi profesi guru secara tertulis yang sdh dikirimkan sehari sebelumnya. Semuanya sdh ada dalam slide yang dibuat oleh staf GTK Kemdikbud.
Berikut ini adalah masukan secara lisan dari berbagai oragnisasi profesi yang sudah mendapatkan kesempatan bicara, yaitu:
A. Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia (Pak Wiji)
1. Penguasaan materi bagi guru
2. Metode penyampaian materi
3. Penilaian: masih dianggap rumit, UN perlu ditingkatkan jumlah dan kualitasnya
4. 18 karakter, 7 karakter, dan dikristalisasi menjadi
5 nilai karakter
B. PGRI (Prof Supardi)
Mendukung literasi dasar: Bahasa inggris, statistic, IT, dan psikologi, mulai usia TK
Visi SDM unggul ada pada guru: 1. guru eksisting : status guru honorer2. guru kedepan: Kebijakan profesi guru adalah menarik dan menjanjikan dalam rangka menarik minat menjadi guru
Pembaruan OTK Kemdikbud bukan berdasarkan per jenjang, tapi layanan, misal mengenai SDM menjadi satu, dampaknya terkait resource sharing
Perubahan regulasi adanya ekonomi di daerah, urusan guru ditarik ke pusat
Permasalahan: distribusi guru
Seluruh urusan Pendidikan ditangani oleh 1 Kementerian agar efektif dan berkualitas dan satu sistem
C. AISEI (Ibu Dewi)
Guru: beban administrasi di sekolah, tidak online. Guru perlu diberikan kebebasan dan sarana agar lebih mudah untuk mengakses melalui G-drive, dsb
Koordinasi antar instansi pendidikan harus lebih baik dan transparan: tidak mudah berganti kebijakan, kolaborasi unit-unit utama (Ditjen). Misalnya SPK tidak dapat mendaftar ke PDSS, perlu bertemu Kemendikbud dan Kemenristekdikti. Keselarasan kebijakan
Perubahan Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 beru
bah signifikan, ternyata guru mendapatkan kesulitan untuk berubah mulai dari sarana prasarana, mereka harus melaksanakan Bimtek selama 5 tahun dan fasilitatornya belum benar-benar memahami dengan baik.
Sekolah diberikan kebebasan menggunakan kurikulum (desentralisasi kurikulum) sehingga sekolah dapat memiliki keunikan masing-masing tanpa meninggalkan ciri khas Indonesia Kemendikbud harus lebih openminded terhadap kurikulum dan system pembelajaran yang proven di belahan dunia.
Terlalu banyak mata pelajaran, solusinya siswa dapat memilih sesuai minat, UN dapat direview kembali, ujian sekolah per regional bisa menjadi alternative solusi.
D. Kampus Guru Cikal (Bukik Setiawan)
Kemerdekaan mengajar guru: kewenangan guru terbatas, beban guru (hitungan jam mengajar guru),
Kompetisi yang melampaui dosis: hampir seluruh kegiatan indikatornya kompetisi, mulai dari perlombaan siswa, guru berprestasi, inobel merusak semangat gotong royong/kolaborasi
E. Komunitas Guru TIK (Wijaya Kusumah)
Komunitas Guru TIK berharap Mendikbud dapat hadir dan atau menerima siswa para juara olimpiade
Banyak guru belum kompeten, program guru belajar ke luar negeri perlu ditingkatkan, belajar STEM
Sekolah-sekolah perlu akses internet yang mendukung e-learning
Guru TIK: mata pelajaran TIK tidak ada, banyak guru kembali ke mapel asal, perlu mendorong etika berinternet.Komunitas Guru TIK berharap bersinergi dengan Mendikbud tentang pentingnya teknologi.
F. IGI (M Mrr Muhammad Ramli Rahim)
Bahasa Indonesia, MTK, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi pembelajaran wajib di SD, di SMP dan SMA tidak perlu lagi.
Jumlah mata pelajaran di SMP 5 pembelajaran dan di SMA 6 mata pelajaran (beberapa mata pelajaran digabungkan), jumlah mata pelajaran terlalu banyak mengakibatkan kebutuhan guru lebih banyak, 24 jam mengajar, dsb.
SMK harus menggunakan sistem SKS, SMK tidak boleh kalah dengan BLK
LPTK harus menyediakan guru produktif
Jabatan pengawas sekolah dihapuskan untuk sementara, karena guru masih kurang, kecuali jika guru sudah cukup, maka pengawas sekolah diadakan lagi.
Seluruh beban administrasi guru dibuat dalam jaringan (online): beban RPP, PTK, KTI butuh disederhanakan
Pengangkatan guru berdasarkan kompetensi, dan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan
Jika kurikulum berubah, bimtek tidak perlu ditambah, cukup dengan video tutorial atau melalui organisasi profesi guru
Anggaran peningkatan profesi guru diserahkan kepada OPG
Penentuan sekolah daerah tertinggal, terpencil, terbelakang / 3T yang diberi bantuan oleh kemdikbud, butuh tinjauan berdasarkan aspek Pendidikan dan bukan berdasarkan data dari Kemendes
G. Taman Siswa (Ki Saur Panjaitan)
Faktor guru harus: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
Janganlah terlalu banyak administrasi, perbanyak UKG saja untuk meningkatkan kompetensi guru
Agar praktik di lapangan antara negeri dan swasta sama, perlu adanya UU sekolah swasta atau pengaturan mengenai sekolah swasta/guru swasta.
Misalkan tentang pendanaan, di swasta banyak menerima uang dari siswanya, sehingga guru tidak mendapatkan upah minimum, tapi standarnya masih belum memenuhi, 8 SNP penting dicapai.
Pemerintah perlu masuk ke sekolah swasta: di swasta ada papan atas, menengah, ada yang di bawah.
H. Ikatan Guru Taman-Kanak-Kanak Indonesia (Farida Yusuf)
Usia anak TK menurut PP 19/2017, usia di lapangan belum sesuai dengan aturan
Pembelajaran PAUD non formal perlu professional pengasuhan, pedagogi mulai dari TK: social emosianal, guru memberdayakan potensi anak, penumbuhan karakter penting dari usia dini
Peningkatan kualitas guru TK: kualitas akademik dan non akademik terutama berbasis teknologi. Perbanyak pelatihan diklat dasar berbasis teknologi.
Alokasi dana desa perlu ditinjau kembali, karena di lapangan dana desa hanya untuk PAUD Desa, TK kurang diperhatikan.Di daerah, TK dianggap tidak ada, yang ada hanya PAUD, perlu menjadi perhatian
Kecintaan menulis, membaca, ilmu perlu menjadi perhatian
I. Teti Sulastri (Federasi Guru Independen Indonesia)
Sisi kompetensi guru: professional, pedagogi, sosial, kepribadian guru professional
Kompetensi professional dan pedagogi dapat terukur, sedangkan kompetensi social dan kepribadian belum dapat terukur.
Berbagai program guru: UKG, Inobel, PLPG, PPG, dsb hasilnya belum dapat meningkatkan kompetensi guruPerlu sparing dengan guru lainnya
4 kompetensi guru: dibentuk tempat-tempat pelatihan di daerah misalnya kecamatan/ kabupaten, narasumbernya sesuai standar.
Lakukan 4 simultan kompetensi guru melalui portfolio, dan dinilai oleh guru.
Mendikbud:
Pertemuan ini baru sesi pertama, saya berterima kasih. Kedepan dimohon Bapak/Ibu menuliskan rekomendasi yang praktis, dan sistematis. Rekomendasi menggambarkan bagaimana dampak pembelajaran kepada murid.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia blog https://wijayalabs.com
