Kalau ditanya siapa orang yang berani memegang kepala presiden, maka jawabnya si tukang cukur. Tukang cukur adalah profesi terhormat yang disegani semua orang. Tukang cukur adalah sebuah profesi yang bayak diminati saat ini. Tukang cukur inilah yang saya temui di pangkas rambut asgar. Asli garut.
Mari Berwirausaha Dari Sekarang
Mari Berwirausaha
http://www.bppnfi-reg4.net/index.php/component/content/article/5-informasi/39-mari-berwirausaha.html
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. R Edy Haryatno Fitriyanto (41) tak pernah mengira hidupnya bakal berubah drastis. Ketika PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran terhadap 6.551 karyawannya, Edy Haryatno Fitriyanto termasuk di dalamnya.
Guru Kreatif dan Produktif dengan Edupreneurship
Saat ini masih banyak guru yang belum kreatif dan produktif. Mereka hanya menjadi guru yang sebatas mengajar saja. Padahal banyak sekali yang bisa dikembangkan dari mata pelajaran yang diampunya. Bahkan guru bisa menjadi seorang entrepreneurship yang handal di bidang pendidikan. Mereka tak perlu berdagang, tetapi cukup menjadi guru yang kreatif dan produktif. Salah satu cirinya adalah mereka mampu merancang kegiatan pembelajaran yang efektif, dan berkualitas.
Guru Era Baru (Guraru)

Saya terharu membaca tulisan sahabat saya mas Johan Wahyudi. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia di Sragen, Jawa Tengah. Sudah setahun beliau ngeblog di kompasiana, dan merasakan betapa dahsyatnya ngeblog. Beliaupun telah merasakan bahwa blog memiliki keajaiban. Keajaiban yang dulu belum pernah dirasakannya. Ternyata berbagi ilmu dan pengalaman melalui sosial media membuat kita akan banyak memberi dan banyak menerima. Itulah sedikit kutipan yang saya baca dari tulisan mas johan wahyudi yang telah melakukan refleksi diri setahun ngeblog di kompasiana.
Blogger itu Harus Eksis Bukan Hanya Narsis
Dedi Dwitagama, Nara sumber Creative Writing
Saya sedih juga melihat satu persatu teman-teman yang dulu aktif ngeblog di kompasiana gugur satu demi satu. Bukan karena apa-apa, tapi karena mereka punya alasan tertentu yang saya tak tahu apa sebabnya. Mungkin mereka merasa tak bisa narsis di kompasiana ini. Atau mungkin juga mereka tak mampu eksis karena tantangan dari dalam dirinya begitu kuat menghambat. Kompasiana pun dihujat dengan alasan tak bisa mengakomodasi semua golongan.
