Posted on: April 19, 2011 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Blogger itu Harus Eksis Bukan Hanya Narsis

13031414911504017290Dedi Dwitagama, Nara sumber Creative Writing

Saya sedih juga melihat satu persatu teman-teman yang dulu aktif ngeblog di kompasiana gugur satu demi satu. Bukan karena apa-apa, tapi karena mereka punya alasan tertentu yang saya tak tahu apa sebabnya. Mungkin mereka merasa tak bisa narsis di kompasiana ini. Atau mungkin juga mereka tak mampu eksis karena tantangan dari dalam dirinya begitu kuat menghambat. Kompasiana pun dihujat dengan alasan tak bisa mengakomodasi semua golongan.

Namun bagi saya, ngeblog di kompasiana memiliki keasyikan tersendiri. Di blog keroyokan ini saya mendapatkan banyak teman-teman baru. Segudang ilmu dan pengalaman dari teman-teman yang mungkin sampai saat ini kita belum pernah bertemu muka satu kalipun. Itulah hebatnya dunia maya. Jarak yang jauh menjadi serasa dekat, dan kompasiana tanpa kita sadari telah menyatukan hati kita dalam ikatan yang erat dan kuat. Kita pun menjadi sahabat yang akrab, dan saling menyapa. Baik melalui komentar langsung di bawah postingan kita maupun melalui message yang dikirimkan melalui dashboard. Jadilah kita kompasianer yang merupakan blogger kompasiana. Masing-masing kita mendapatkan rumah kost di rumah sehat kompasiana.

Menjadi blogger itu harus eksis dan bukan hanya narsis. Dia harus terus mengupdate tulisannya agar banyak dibaca oleh orang banyak. Dia tak lagi menjadi konsumen media, tetapi telah mampu menjadi produsen. Oleh karenannya menulis setiap hari sebelum tidur nampaknya menjadi solusi bila kita ingin disebut eksis. Artinya, dalam sehari kita mampu menciptakan informasi yang berisi pesan sesuai dengan apa yang kita kuasai dan sukai. Menulispun bisa menjadi hobi manakala kita telah mampu menulis dengan hati.

Menulis dengan hati memang tak mudah. Apalagi bila kita tak mendapatkan apresiasi dari pembaca. Bila itu terjadi, janganlah berputus asa dan memutuskan hengkang dari kompasiana. Sebab sebagai penghuni baru tentu kita harus rajin menyapa para tetangga yang memiliki rumah kost di kompasiana. Dari sinilah kita naik kelas dari blogger narsis menjadi eksis. Tulisan-tulisan kita mengalir bagai air, dan sulit dibendung. Ibarat mata air yang tak akan pernah habis diambil airnya.

Menjadi blogger narsis itu mudah, tetapi menjadi blogger yang tetap eksis tidaklah mudah. Anda harus mampu kreatif dalam menulis, dan terus menulis setiap hari dengan niatan untuk berbagi. Ketika kita dibenci, terima saja itu sebagai pemicu untuk kita berbuat lebih baik lagi. Namun, ketika kita dipuji, berhati-hatilah karena itu jalan menuju kematian anda menjadi seorang blogger. Sebab blogger yang benar adalah blogger yang tak gila pujian, tapi matang oleh cacian. Ibarat anggota DPR yang terus menerus dikritik agar mereka menyadari bahwa dirinya adalah wakil rakyat yang mendapatkan amanah untuk mewakili suara ribuan orang. Lalu bagaimana dengan blogger?

Blogger saat ini harus eksis menyebarkan informasi yang dia lihat. Lahap membaca, dan dibagikannya kembali kepada para pembaca melalui tulisan-tulisannya. Meskipun terkadang seringkali kita mendapatkan kekecewaan karena respon pembaca hanya sedikit. Di situlah sebenarnya kita menjadi tertantang untuk menulis lebih baik lagi dan disukai oleh pembaca. Sebab kita tak bisa memaksakan kehendak kepada para pembaca.Biarkan mereka bebas memilih, dan berlabuh dalam sebuah tulisan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Kalau sudah begitu, janganlah berkecil hati. Sebab tugas kita adalah menciptakan konten. Konten is the king. Jadi teruslah menulis, suatu saat ada orang yang membutuhkan tulisanmu melalui mesin pencari seperti google.Suatu saat akan ada penerbit yang tertarik  dengan tulisanmu karena keunikan yang dimiliki.Oleh karenanya, galilah potensi unikmu dengan menjadi blogger yang mampu eksisdan mengembangkan kreativitas menulisnya.

Sadarilah, bahwa masyarakat di dunia maya atau netter di Indonesia masih berorientasi menjadi konsumen. Lahan-lahan emas untuk menjadi produsen informasi begitu luas sekali. Bila anda mampu menangkap peluang, maka anda akan seperti mas hazmi Srondol yang mampu melihat peluang bahwa novel komedi masih sedikit penulisnya.

Melalui peluncuran bukunya Srondol Gayus ke Italy membuat saya semakin sadar bahwa blogger itu harus eksis dan bukan hanya narsis. Dia harus eksis di bidang yang dikuasainya, dan tidak perlu seperti bajing loncat yang mudah sekali lompat ke sana kemari. Seperti orang yang tak memiliki pendirian, dan hanya mengekor saja. Seharusnya, blogger itu menjadi pelopor, dan bukan pengekor.

13031422541958315473

Selama saya menjadi blogger kompasiana saya menemukan bahwa blogger eksis akan terus diburu tulisannya. Tak peduli lagi apa yang dituliskan. Sebab bagi pembaca yang haus membaca, blogger yang eksis menulis akan memberikan minuman seger yang menghangatkan tenggorokan. Pembaca pun digiring untuk memahami pesan penulisnya yang gemuk menulis.

Akhirnya, saya harus menutup tulisan sebelum tidur ini dengan sebuah pesan, “Jadilah blogger Eksis, dan bukan Narsis”. Sebuah pesan yang sebenarnya bukan saya yang mengatakannya, tetapi guru ngeblog saya yang terus eksis membangun blognya sendiri, dan membuatnya menjadi blogger eksis. Tulisannya terus menerus ada dalam dunia maya yang tak pernah tidur. Pak Dedi Dwitagama, telah banyak menginspirasi saya untuk terus menerus menulis, agar tetap menjadi blogger eksis dan bukan hanya sekedar  narsis. Terima kasih pak Dedi, anda memang blogger yang luar biasa. Tak salah bila pustekkom menghadiahi anda sebagai pemenang e-learning award di tahun 2008.

salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.