Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital
Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”
Wijaya Kusumah-Guru Blogger Indonesia
Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi

Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”
Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Menguatkan Pendidikan Berpusat pada Murid di SMPN 152 Jakarta
Di tengah derasnya arus teknologi digital, sekolah tidak lagi cukup hanya mengajar murid untuk “tahu”, tetapi harus membimbing mereka agar “paham” dan mampu memaknai pembelajaran dalam kehidupan nyata.

Mengapa Banyak Orang Hanya Mengucapkan Hari Guru Nasional, Tetapi Melupakan Hari Ulang Tahun PGRI?
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Tanggal 25 November selalu menjadi tanggal yang istimewa bagi dunia pendidikan Indonesia. Setiap tahun, foto-foto guru tersebar di media sosial, ucapan selamat mengalir deras dari pejabat, sekolah, orang tua, media, sampai perusahaan besar. Semua mengucapkan: Selamat Hari Guru Nasional (HGN).
Tetapi ada sesuatu yang terlupakan.
Ada sejarah besar yang seperti menghilang pelan-pelan.
Ada organisasi yang justru menjadi alasan mengapa tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional.
Organisasi itu adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).
Dan tanggal itu sejatinya adalah Hari Ulang Tahun PGRI.
Banyak orang hanya mengingat HGN.
Namun mengapa mereka melupakan HUT PGRI yang menjadi fondasi lahirnya HGN itu sendiri?
Sebagai seorang guru yang telah lama berada di rumah besar PGRI, saya merasa perlu menulis kegelisahan ini—bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang agung.
1. Popularitas Hari Guru Nasional Menelan Akar Sejarahnya
Hari Guru Nasional kini menjadi brand yang sangat kuat. Setiap tahun, konten digital tentang HGN membanjiri internet. Anak-anak sekolah membuat video ucapan, perusahaan membuat kampanye bertema guru, dan bahkan selebritas ikut meramaikan momen ini.
Sementara itu, HUT PGRI tidak mendapat tempat yang sama di hati publik. Padahal:
HGN lahir dari HUT PGRI.
Tidak dapat dipisahkan.
Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 secara jelas menyebutkan bahwa Hari Guru Nasional diperingati pada tanggal 25 November, bertepatan dengan Hari Lahir PGRI.
Namun publik tidak melihat keterhubungan itu.
Yang mereka lihat hanyalah “Hari Guru”.
Sedangkan “PGRI” tidak ikut disebut.
Lama-kelamaan, masyarakat merasa seolah-olah HGN dan HUT PGRI adalah dua hal yang berbeda.
Padahal keduanya satu tubuh, satu napas, satu sejarah.
2. Masyarakat Lebih Menyukai Perayaan daripada Sejarah
Ada perbedaan besar antara perayaan dan penghormatan.
HGN adalah perayaan.
HUT PGRI adalah sejarah.
Di Hari Guru Nasional, kita disuguhi rangkaian acara:
lomba menulis,
upacara istimewa,
siswa memberikan bunga untuk guru,
video-video penghargaan,
pemerintah memberikan sambutan nasional.
Momentum ini indah dan membanggakan.
Namun HUT PGRI membawa kita kepada hal yang lebih sunyi—lebih dalam—lebih berat:
sejarah persatuan guru Indonesia sejak 1945.
Sementara perayaan hanya butuh waktu sehari,
sejarah membutuhkan renungan, pemahaman, dan penghargaan.
Mungkin karena itulah HUT PGRI lebih sering terlupakan.
Orang lebih suka merayakan sesuatu yang ramai dibanding mengenang sesuatu yang dalam.
3. PGRI: Rumah Besar yang Seperti Tidak Disadari Kehadirannya
Banyak yang lupa bahwa PGRI adalah organisasi yang:
memperjuangkan status guru sebagai profesi yang bermartabat,
mengawal kebijakan pendidikan nasional,
membela guru ketika dikriminalisasi,
menyediakan pendidikan dan pelatihan,
menaungi sekolah dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi,
menjaga agar suara guru tetap didengar oleh pemerintah.
Namun karena kerja-kerja PGRI tidak selalu tampil di permukaan,
banyak orang menganggap keberadaannya biasa saja.
Padahal, selama 80 tahun, organisasi ini telah:
melewati masa revolusi fisik,
menghadapi pergolakan politik negeri ini,
bertahan di tengah perubahan regulasi pendidikan,
dan tetap setia memperjuangkan martabat guru.
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, sering mengingatkan:
“PGRI bukan hanya organisasi profesi, tetapi gerakan moral guru Indonesia.”
Sayangnya, tidak banyak yang mencatat kalimat penting ini dalam memori pendidikan bangsa.
HGN dirayakan,
tetapi PGRI tidak diingat sebagai ruh dari peringatan tersebut.
4. Melupakan PGRI Berarti Melupakan Perjuangan Guru Itu Sendiri
Kita merayakan guru,
tetapi melupakan rumah yang mempersatukan guru selama 80 tahun.
Ini ibarat:
memuji pohon, tapi melupakan akarnya,
memuja bunga, tapi mengabaikan tanah yang menyuburkannya.
Tanggal 25 November 1945, ratusan guru dari berbagai organisasi zaman kolonial berkumpul di Surakarta. Mereka menyadari bahwa perpecahan hanya melemahkan perjuangan. Maka mereka bersumpah untuk:
**bersatu dalam PGRI,
menjadi organisasi perjuangan,
organisasi profesi, dan
organisasi ketenagakerjaan.**
Ini adalah sumpah yang sakral.
Ini adalah titik balik.
Ini adalah sejarah.
Tanpa peristiwa itu, tidak ada yang namanya Hari Guru Nasional.
Tetapi hari ini, sejarah itu seperti menguap dari kesadaran publik.
5. Banyaknya Organisasi Guru Mengaburkan Makna Persatuan
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul puluhan organisasi guru baru.
Kementerian bahkan mencatat ada 77 organisasi profesi guru yang diundang dalam dialog resmi.
Keberagaman organisasi tentu sah secara demokrasi.
Namun terlalu banyak wadah justru membuat perhatian publik terpecah.
Guru seperti kehilangan satu payung yang kokoh.
Publik menjadi bingung, bahkan sebagian guru sendiri tidak memahami sejarah PGRI dengan baik.
Padahal, dahulu guru-guru zaman awal kemerdekaan bersatu karena mereka tahu:
Perjuangan guru akan lemah jika terpecah-belah.
Hari ini, kita malah kembali kepada masa sebelum 1945, ketika organisasi guru beragam dan tidak satu suara.
Di sinilah pentingnya kembali mengingat HUT PGRI.
Setidaknya, sebagai pengingat bahwa kita pernah bersatu.
Bahwa kita pernah memilih jalan bersama.
Bahwa kita pernah sepakat berada di rumah yang sama.
6. HGN Harusnya Tidak Dipisahkan dari HUT PGRI
Jika Anda guru, atau murid, atau orang tua, atau siapa pun yang peduli pada pendidikan, maka ketika tanggal 25 November tiba, seharusnya ucapannya lengkap:
🌿 Selamat Hari Guru Nasional
dan
🌿 Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI
Karena keduanya adalah satu kesatuan.
HGN memuliakan guru.
HUT PGRI memuliakan perjuangan guru.
Melupakan salah satunya berarti memutus mata rantai sejarah.
7. Mengapa Kita Harus Kembali Menghidupkan Memorinya?
Sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun menulis tentang dunia pendidikan, saya—Omjay—merasa bahwa melupakan PGRI berarti melupakan perjalanan panjang bangsa dalam membangun karakter.
PGRI adalah saksi:
betapa beratnya perjuangan guru bertahan hidup di era awal kemerdekaan,
bagaimana guru tetap mengajar meski gaji tak dibayar,
bagaimana guru menjadi teladan moral masyarakat,
bagaimana guru menjaga pendidikan agar tetap berjalan di masa-masa sulit.
Ketika masyarakat hanya mengenal HGN, mereka hanya mengenal “guru”.
Tetapi ketika mereka mengenang HUT PGRI, mereka mengenal martabat guru.
Dan itu dua hal yang berbeda.
8. Penutup: Mari Mengingat Sejarah, Bukan Hanya Perayaan
PGRI adalah rumah besar.
Rumah para guru.
Rumah yang telah berdiri delapan dekade dengan segala getir dan manisnya.
Tidak adil jika setiap tahun kita hanya merayakan HGN tetapi melupakan organisasi yang memperjuangkannya.
Karena:
tanpa PGRI, tidak ada tanggal 25 November,
tanpa persatuan guru, tidak ada sejarah profesi ini,
tanpa perjuangan panjang, tidak ada martabat guru seperti hari ini.
Hari ini, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasional”, tetapi juga:
“Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI.
Rumah kami, perjuangan kami, kebanggaan kami.”
Semoga tulisan sederhana ini mampu mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang mulai kabur.
Semoga guru-guru muda kembali memahami akar perjuangannya.
Semoga masyarakat kembali menghargai organisasi yang memperjuangkan pendidikan bangsa.
Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk merayakan hari besar,
tetapi bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah di baliknya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com


Peran 77 Organisasi Profesi Guru dalam Transformasi Pendidikan Indonesia
Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dan hari lahirnya PGRI yang ke-80 menjadi momentum bersejarah bagi dunia pendidikan Indonesia. Omjay menjadi teringat ketika menjadi finalis Inobel 2018, dimana peran organisasi profesi telah mengantarkan Omjay menjadi salah satu pemenangnya dan mendapatkan hadiah belajar ke negara China tahun 2019.
Untuk pertama kalinya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengundang 77 organisasi profesi guru dari berbagai latar belakang, disiplin ilmu, budaya, agama, hingga komunitas berbasis vokasi.
Kehadiran puluhan organisasi ini bukan hanya menunjukkan keragaman ekosistem pendidikan Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bahwa suara guru tidak bisa lagi diwakili oleh satu atau dua organisasi saja.
Keragaman Organisasi: Bukti Hidup Dinamika Profesi Guru
Daftar 77 organisasi tersebut mencakup berbagai kelompok yang selama ini mungkin tidak dikenal luas oleh masyarakat maupun guru sendiri. Mulai dari PGRI dan IGI yang sudah populer, hingga organisasi berbasis keilmuan seperti KOGTIK, organisasi guru vokasi, MGMP lintas mata pelajaran, komunitas guru berbasis agama, dan forum-forum guru yang bergerak secara independen.
Keragaman ini menunjukkan bahwa profesi guru berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Guru sudah tidak lagi berada dalam satu payung tunggal, tetapi tersebar dalam berbagai organisasi sesuai keahlian, kebutuhan, dan konteks masing-masing. Setiap organisasi membawa misi, pengalaman, tantangan, dan identitasnya sendiri.
Namun, keberagaman ini juga memunculkan satu pertanyaan penting: Apakah banyaknya organisasi profesi guru berdampak pada peningkatan standar kompetensi guru di Indonesia?
Tantangan: Banyak Organisasi, tetapi Apa Dampaknya?
Meskipun keberadaan organisasi sangat banyak, tidak semua memiliki dampak nyata terhadap kualitas pendidikan nasional. Sebagian besar organisasi fokus pada kegiatan seremonial, penguatan jaringan, atau advokasi isu tertentu, tetapi belum semuanya mampu:
Salah satu persoalan mendasar adalah kurangnya koordinasi antar organisasi. Banyak forum guru baru bergerak ketika ada kasus tertentu, bukan melalui advokasi berkelanjutan. Guru swasta, misalnya, masih menghadapi persoalan klasik terkait inpassing yang membuat mereka stagnan dalam golongan, misalnya tetap di golongan IIIA hingga pensiun.
Dalam konteks ini, organisasi yang terlegitimasi seperti KOGTIK (Komunitas guru TIK dan KKPI)—yang diakui Kemendikdasmen—menjadi contoh bahwa legalitas dan kredibilitas sangat penting untuk memperjuangkan aspirasi guru secara lebih sistematis.
Suara Guru: Antara Idealitas dan Realitas
Di lapangan, para guru masih berjuang menghadapi kenyataan:
PGRI sebagai organisasi guru terbesar sebenarnya memiliki mandat kuat untuk memperjuangkan guru honorer, antara lain melalui:
Namun, sebagian guru menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, khususnya dalam aspek transparansi dan representasi yang lebih luas.
Harapan Guru: Satu Komando, Satu Suara, tetapi Tetap Beragam
Beberapa guru melihat hadirnya 77 organisasi sebagai kekuatan. Semakin banyak suara, semakin luas representasi. Tetapi sebagian lain merasa bahwa terlalu banyak organisasi bisa membuat perjuangan tidak satu komando dan melemahkan daya tawar guru dalam kebijakan nasional.
Idealnya, keberagaman tidak perlu dihilangkan. Yang perlu dibangun adalah:
agar guru tetap memiliki warna berbeda tetapi satu tujuan besar: memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.
Momentum HGN 2025: Titik Awal Kolaborasi Nasional
Undangan pemerintah kepada 77 organisasi guru merupakan sinyal positif. Pemerintah menunjukkan kesediaan untuk mendengar berbagai suara, tidak lagi terpaku pada satu organisasi induk saja.
Bagi guru PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, guru madrasah, guru pendidikan agama, guru vokasi, guru khusus, dan seluruh jenjang pendidikan, momentum ini bisa menjadi awal lahirnya:
Sebagai Guru Penggerak, banyak di antara kita percaya bahwa transformasi pendidikan tidak hanya datang dari kebijakan, tetapi juga aksi nyata berupa penelitian, refleksi, dan inovasi di kelas. Pendidikan Indonesia perlu kembali berpijak pada realitas, bukan sekadar angka-angka atau indikator administratif.
Penutup: Suara Guru adalah Suara Bangsa
Guru adalah tiang utama peradaban. Dari tangan guru lahir generasi berilmu, berbudaya, dan mampu mengharumkan nama bangsa. Karena itu, para pengambil keputusan perlu memberikan perhatian khusus terhadap nasib guru, baik PNS maupun honorer, negeri maupun swasta.
Dengan hadirnya 77 organisasi profesi guru, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan model pendidikan yang lebih demokratis, berdaulat, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Keberagaman bukan ancaman, tetapi kekuatan jika dikelola dengan bijak.
Semoga organisasi-organisasi tersebut menjadi wadah dialog yang dekat dengan realitas kelas dan mampu memperjuangkan guru secara profesional dan bermartabat.
Selamat Hari Guru Nasional 2025. Selamat HUT PGRI ke-80 pada 25 November 2025. Jayalah Guru Indonesia, menuju bangsa yang hebat, berdaulat, dan penuh cinta pada ilmu.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia


Inilah 77 Organisasi Profesi Guru yang Diundang Kemdikdasmen: Wajah Keberagaman Pendidikan Indonesia
Pada 18 November 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) melalui **Surat Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Nomor: 1054/B.B1/GT.00.09/2025** resmi mengundang **77 organisasi profesi guru dan pendidikan** dari seluruh Indonesia. Daftar ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidik, karena mencerminkan betapa majemuknya rumah besar pendidikan Indonesia.
Undangan ini bukan hanya formalitas. Lebih dari itu, pemerintah ingin menghadirkan dialog yang lebih representatif, menyeluruh, dan inklusif dalam pengambilan kebijakan pendidikan. Dengan melibatkan berbagai organisasi profesi, suara para guru dari Sabang sampai Merauke diharapkan dapat hadir dan mewarnai arah pendidikan nasional.
—
## **Mengapa Daftar 77 Organisasi Ini Penting Diketahui Guru?**
Banyak guru di Indonesia hanya mengenal beberapa organisasi arus utama seperti PGRI, Persatuan Guru NU (PERGUNU), Forum Guru Muhammadiyah (FGM), atau Ikatan Guru Indonesia (IGI). Namun faktanya, dunia pendidikan kita jauh lebih kaya dari itu.
Ada organisasi mata pelajaran, organisasi sekolah swasta, komunitas guru belajar, asosiasi pendidik agama, forum MGMP, hingga perkumpulan sains dan vokasi. Setiap organisasi memainkan peran unik, mulai dari peningkatan kapasitas profesional, wadah advokasi, hingga pembinaan karakter dan budaya sekolah.
Mengetahui keberadaan seluruh organisasi ini penting agar guru:
* memahami banyaknya kanal komunikasi resmi dalam dunia pendidikan,
* bisa memilih organisasi yang paling relevan dengan minat dan profesinya,
* ikut serta memperkuat ekosistem pendidikan Indonesia,
* dan menyadari bahwa guru tidak berjalan sendiri—ada komunitas besar yang saling menguatkan.
—
## **77 Organisasi yang Berkontribusi dalam Peta Pendidikan Nasional**
Berikut adalah **daftar lengkap 77 organisasi pendidikan** yang tercantum dalam lampiran surat resmi Kemdikdasmen tersebut:
1. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
2. Perguruan Tamansiswa
3. Persatuan Guru Nahdatul Ulama (PERGUNU)
4. Forum Guru Muhammadiyah (FGM)
5. LPP Ma’arif NU
6. Majelis Dikdasmen Muhammadiyah
7. Ikatan Guru Indonesia (IGI)
8. Majelis Pendidikan Kristen (MPK)
9. Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
10. Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS)
11. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI)
12. Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI)
13. Federasi Guru Independen Indonesia (FGII)
14. Federasi Guru TIK dan KPPI Nasional (FGTIKKNAS)
15. Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)
16. Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (FOGIPSI)
17. Forum Komunikasi Guru IPS Nasional
18. Forum Komunikasi Tutor Pendidikan Keaksaraan
19. Forum Olahraga Pendidikan Indonesia
20. Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional
21. Forum Nasional MGMP Matematika SMP
22. Forum Pengawas TK Indonesia
23. Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah
24. Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia
25. Ikatan Guru PAUD
26. Ikatan Guru Pendidikan Khusus
27. Ikatan Guru Pendidikan Khusus Indonesia
28. Ikatan Guru Vokasi Indonesia
29. Ikatan Pamong Belajar Indonesia
30. IGTKI-PGRI
31. Ikatan Guru Mata Pelajaran Matematika
32. Ikatan Penilik Indonesia
33. AGBSI
34. AGBJI
35. AGEI
36. Asosiasi Guru Matematika Indonesia
37. AGPPKnI
38. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia
39. Asosiasi Guru Seni Budaya Indonesia
40. AGTIFINDO
41. Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia
42. Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia
43. Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia
44. ABKIN
45. AGPAI
46. ATAS
47. AISEI
48. ANPS
49. HIPPER
50. HIMPAUDI
51. KGBN
52. Perkumpulan Matematika Nusantara
53. Perkumpulan Pegiat Pendidikan Sainstika
54. Perkumpulan Pencinta Fisika Indonesia
55. Perkumpulan Pendidik Bahasa Inggris Indonesia
56. Perkumpulan Pendidik Sains Indonesia
57. Perkumpulan Pendidik Sains Kimia Indonesia
58. Perkumpulan Pendidik Vokasi Indonesia – IGVIM
59. Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia
60. Perkumpulan Profesi Pendidik Bahasa Mandarin Indonesia
61. Perkumpulan Guru Muatan Lokal
62. Pendiks Geonusa
63. Indonesia Scientific Society
64. Perkumpulan Pendidik Biologi Indonesia Folia
65. Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia
66. Perkumpulan Sanggar Pembelajar Kreatif
67. Komunitas Guru TIK & KKPI (KOGTIK)
68. PPPSI
69. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)
70. Majelis Gugus Bimbingan dan Konseling Indonesia
71. Ikatan Guru Olahraga (IGORNAS)
72. Forum MGMP Bahasa Arab se-Indonesia
73. ATLAS Indonesia
74. Forum Guru Sertifikasi Nasional Indonesia (FGSNI)
75. Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal Muhammadiyah (IGABA)
76. Forum Guru Persatuan Islam (FG Persis)
77. Ikatan Guru Tunanetra (Inklusif)
—
## **Bukit Besar Bernama Pendidikan: Semua Harus Bersatu**
Keberagaman organisasi ini menggambarkan sebuah pesan penting: **pendidikan Indonesia tidak bisa diurus oleh satu pihak saja**. Guru dari berbagai latar belakang, kompetensi, dan kultur pendidikan ikut membentuk mozaik ekosistem yang saling melengkapi.
Bayangkan bagaimana:
* guru-guru vokasi dari IGVI berdiskusi dengan pendidik PAUD dari HIMPAUDI,
* organisasi sains seperti PPSI atau PPFI bertukar ide dengan komunitas literasi KGBN,
* pengawas sekolah dari APSI berdampingan dengan pengajar agama dari AGPAI,
* hingga pendidik inklusif dari Ikatan Guru Tunanetra menyuarakan perspektif kelompok difabel.
Setiap suara memiliki ruang dan nilai.
—
## **Harapan bagi Guru Indonesia**
Dengan hadirnya 77 organisasi ini, harapannya:
* dialog kebijakan pendidikan menjadi lebih demokratis,
* suara guru lebih terdengar,
* dan kebijakan yang lahir lebih membumi serta sesuai realitas lapangan.
Bagi guru, kini saatnya mengenal lebih banyak organisasi profesi, membuka diri pada jaringan yang luas, serta aktif terlibat dalam pembaruan pendidikan.
Karena masa depan pendidikan bukan hanya milik pemerintah—tetapi milik para guru sebagai pendidik bangsa.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com