Harapan Guru dan Anggota PGRI di HUT PGRI ke-80 Untuk Presiden Prabowo Subianto

Guru Mengabdi dalam Senyap: Harapan Kami di HUT PGRI ke-80

Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya hangat setiap kali memasuki bulan November. Mungkin karena saya sudah terlalu lama hidup dalam dunia pendidikan. Atau mungkin karena ada rasa rindu yang tak pernah padam kepada para guru yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Bagi saya, November selalu punya cerita. Cerita tentang perjuangan, pengabdian, dan cinta yang tak pernah habis dari seorang guru kepada bangsa dan anak-anaknya.

Tahun ini, HUT PGRI memasuki usia yang ke-80. Angka yang tidak kecil. Umur yang menunjukkan betapa panjang jalan yang sudah dilalui organisasi guru tertua di Indonesia ini. Di usia inilah, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan baru, ada suara yang lebih lantang, dan ada doa yang lebih khusyuk dari para guru di seluruh Indonesia.

Namun di balik itu, ada juga rasa getir yang tak bisa disembunyikan.

Guru yang Dibutuhkan, Tapi Sering Dilupakan

“Guru itu dibutuhkan, tapi sering dilupakan.”
Saya sudah menulis kalimat ini berkali-kali, tapi tetap saja rasanya seperti baru setiap kali diucapkan. Guru ada di garda terdepan dalam mencetak generasi bangsa, tapi berada di barisan paling belakang ketika bicara soal penghargaan dan kesejahteraan.

Guru masuk kelas setiap hari dengan berbagai beban pikiran, mulai dari administrasi yang menumpuk, kurikulum yang terus berubah, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persoalan pribadi yang terpaksa disimpan rapat-rapat demi satu hal: anak-anak didiknya harus tetap belajar dengan baik.

Saya sering melihat langsung bagaimana guru-guru berjuang. Ada yang pulang naik motor tua sambil membawa tumpukan kertas nilai. Ada yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengajar di sekolah pinggiran. Ada yang mengajar dengan senyum, meski gajinya belum pasti turun. Ada pula yang tetap semangat meski statusnya PPPK dan masih bertanya-tanya tentang masa depan kariernya.

Guru tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya ingin dihargai. Didengarkan. Diperhatikan.

Harapan Besar di HUT PGRI ke-80

Salah satu kabar yang paling banyak diperbincangkan para guru menjelang HUT PGRI tahun ini adalah harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto hadir dalam puncak peringatan di Jakarta.

Saya menerima begitu banyak pesan dari teman-teman guru:
“Omjay, mudah-mudahan Pak Presiden hadir.”
“Ini momentumnya, Om.”
“Kalau beliau hadir, itu bentuk penghargaan pada kami.”

Harapan itu bukan tanpa alasan. Guru ingin merasa dekat dengan pemimpinnya. Ingin memastikan bahwa harapan mereka tidak hilang di tengah gemuruh politik dan birokrasi. Guru ingin pemimpin tertinggi negeri ini mendengar langsung suara mereka—bukan hanya lewat laporan, tapi lewat pertemuan nyata yang penuh makna.

Komentar Dr. Sumardiansyah: Panggilan Nurani bagi Pemimpin

Saya sempat berdiskusi dengan Dr. Sumardiansyah, Wakil Sekjen PB PGRI sekaligus Ketua Dewan Eksekutif APKS PGRI. Beliau menyampaikan pandangan yang sangat menyentuh:

“Kehadiran Presiden di HUT PGRI bukan soal seremoni. Ini tentang pengakuan negara kepada guru. Tentang menempatkan guru pada posisi yang seharusnya. Guru selama ini mengabdi tanpa pamrih, jadi saat ada momentum seperti ini, tentu para guru berharap Presiden hadir sebagai bentuk penghormatan.”

Saya membaca ulang kata-kata itu berkali-kali. Rasanya pas sekali dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan. Guru tidak meminta panggung. Guru hanya ingin pengabdian mereka dianggap berarti.

Komentar Omjay: Harapan Itu Tidak Pernah Padam

Sebagai seorang guru dan Ketua Umum KOGTIK, saya sendiri melihat betapa besarnya perjuangan guru di era digital saat ini. Ada guru yang berusaha belajar teknologi dari nol. Ada yang mencoba memahami AI, coding, dan berbagai aplikasi baru demi memberi pengalaman belajar terbaik bagi murid-muridnya.

Saya sering berbagi pengalaman menulis, bercerita bagaimana teknologi bisa kita taklukkan pelan-pelan. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah hati seorang guru. Di situlah kekuatan terbesar pendidikan Indonesia berada.

Saya pun berharap, dengan segala kerendahan hati, agar Presiden benar-benar hadir. Bukan sekadar tanda tangan di undangan, tapi menghadiri langsung, melihat wajah para guru, dan merasakan energi cinta yang luar biasa dari puluhan ribu pendidik.

“Seorang pemimpin yang menghormati guru, sesungguhnya sedang menghormati masa depan bangsanya.”

Saya percaya itu.

Ketika Guru Berkumpul, Selalu Ada Harapan

HUT PGRI bukan hanya acara tahunan. Ia adalah pengingat bahwa guru tidak pernah berjalan sendirian. Ketika ribuan guru berkumpul, ada semangat yang menyala. Ada solidaritas yang kuat. Ada mimpi-mimpi yang kembali menemukan jalannya.

Saya bayangkan suasana di Jakarta nanti:
Seragam PGRI berkibar, wajah-wajah bahagia, tawa, pelukan, foto bersama, dan cerita-cerita perjuangan dari seluruh penjuru Indonesia. Dari guru honorer, guru PPPK, guru PNS, hingga para kepala sekolah dan pejuang literasi.

Di tengah keramaian itu, saya tahu ada satu harapan yang diam-diam dibawa oleh hampir semua yang hadir: semoga Presiden datang.

Karena jika beliau hadir, itu berarti guru dilihat. Dihargai. Diakui.

Penutup: Untuk Guru, Negeri Ini Berutang Banyak

Kalau ditanya apa hadiah terbaik bagi guru di usia PGRI ke-80 ini, saya punya jawabannya:

Penghargaan. Kesejahteraan. Kepastian karier. Dan perhatian tulus dari pemimpin bangsa.

Guru tidak butuh pesta besar. Guru hanya ingin masa depan yang jelas. Ingin sistem pendidikan yang lebih adil. Ingin kebijakan yang berpihak pada pembelajaran, bukan administrasi.

HUT PGRI hanyalah satu momen. Tapi maknanya besar sekali.
Bagi saya, bagi Dr. Sumardiansyah, bagi jutaan guru di Indonesia.

Semoga tahun ini menjadi titik awal perubahan yang lebih baik.

Karena tanpa guru, tidak ada dokter. Tidak ada menteri. Tidak ada presiden. Tidak ada apa-apa.

Guru adalah cahaya pertama di setiap jalan kesuksesan.

Dan cahaya itu harus terus dijaga.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

public speaking

Ikutilah Kelas Bicara PGRI Setiap Hari Selasa Pukul 19.00 WIB Pertemuan Keempat Melalui Aplikasi Zoom

Info kelas bicara PGRI setiap hari selasa pukul 19.00 wib selama 16 kali pertemuan di gelombang 9. Ikuti pesan Omjay di bawah ini!

https://www.youtube.com/live/-z-5a3Sx0uw

Kelas Bicara PGRI: Public Speaking for Teacher Bersama Ibu HR Utami

Sahabat guru Indonesia yang hebat,

APKS PGRI kembali menghadirkan Kelas Bicara/Public Speaking for Teacher yang sudah memasuki pertemuan keempat. Program ini dirancang khusus untuk membantu para pendidik meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum, baik di kelas, forum ilmiah, maupun acara resmi.

Mengapa Public Speaking Penting untuk Guru?

Sebagai pendidik, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan cara yang menarik, jelas, dan penuh percaya diri. Dengan kemampuan public speaking yang baik, guru dapat:

A. Membangun komunikasi efektif dengan siswa.

B. Menyampaikan pesan dengan lebih berkesan.

C. Menjadi teladan dalam keterampilan berbicara.

D. Membuka peluang berkiprah lebih luas di masyarakat.

Pemateri: Ibu HR Utami mantan penyiar tvri dan dosen PGRI Semarang.

Seorang praktisi dan motivator yang berpengalaman di bidang komunikasi. Beliau akan berbagi tips, strategi, serta praktik langsung agar guru semakin percaya diri saat berbicara di depan publik.

Jadwal Kegiatan

Hari: Setiap Selasa

Waktu: Pukul 19.00 WIB

Media: Zoom Meeting (Online)

Link Zoom Meeting:
Klik di sini untuk bergabung

Meeting ID: 883 3495 1692
Passcode: 078056

Catat jadwalnya dan ajak rekan guru lainnya untuk ikut bergabung. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk belajar public speaking secara gratis bersama PGRI.

Mari kita tingkatkan kompetensi guru Indonesia agar semakin profesional, kreatif, dan inspiratif!

Infornasi hubungi
Omjay 08159155515 atau pak Ahmadi yang ada nomor wa di poster promosi.

Berikut ini adalah informasi lengkapnya:

✨ WEBINAR GRATIS UNTUK GURU ✨
IGTIK PGRI mempersembahkan:

🎙 PUBLIC SPEAKING For Teacher
Bersama:
👨‍🏫 H.R. Hutami (Narasumber)
👩‍🏫 Theresia Martini (Moderator)

📅 Tanggal: 23 September 2025
🕖 Waktu: 19.00 – 21.00 WIB
💻 Via Online (Zoom)

📌 Dapatkan tips dan trik berbicara di depan umum agar pembelajaran lebih hidup, percaya diri, dan berkesan!

👉 Daftar segera melalui tautan: bit.ly/PSFTPGRI
📱 Info & Kontak: 085697606840 (Achmady Alfahrizi)

Topic: public speaking
Time: This is a recurring meeting Meet anytime
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/88334951692?pwd=iow6tzl9YVFCaNtybwyrrd3cV8rIza.1

Meeting ID: 883 3495 1692
Passcode: 078056

Jangan lewatkan kesempatan ini, kuota terbatas! 🚀

Suara Harapan Guru untuk Pendidikan Indonesia dan Kesejahteraan Pendidik

Suara Harapan Guru untuk Pendidikan Indonesia dan Kesejahteraan Pendidik

Guru adalah sosok yang sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Kalimat itu indah terdengar, namun seringkali justru menyimpan ironi yang mendalam. Betapa tidak, di saat bangsa ini membutuhkan guru untuk mendidik generasi penerus, perhatian terhadap nasib dan kesejahteraan mereka justru sering kali terabaikan.

Hari ini, ketika kita membicarakan masa depan pendidikan Indonesia, suara guru harus menjadi bagian penting yang didengar. Sebab, siapa lagi yang paling memahami kondisi nyata di ruang-ruang kelas, baik di kota besar maupun di pelosok desa, selain guru itu sendiri?

Pendidikan Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan

Indonesia memiliki cita-cita besar, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Namun, perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu mulus. Guru di lapangan merasakan langsung berbagai tantangan yang menghadang: mulai dari keterbatasan fasilitas, kebijakan pendidikan yang sering berubah-ubah, hingga rendahnya apresiasi masyarakat terhadap profesi guru.

Di kota-kota besar, sekolah mungkin terlihat megah dengan fasilitas lengkap, laboratorium modern, dan jaringan internet yang stabil. Namun, bagaimana dengan sekolah di daerah terpencil? Masih banyak sekolah berdinding papan, beratap bocor, dan berlantai tanah. Murid-murid datang dengan penuh semangat, tetapi buku dan sumber belajar terbatas. Guru tetap mengajar dengan hati, meski terkadang harus berjalan berkilo-kilometer atau menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah.

Inilah kenyataan yang membuat guru memiliki satu suara harapan: kesetaraan pendidikan. Mereka ingin setiap anak Indonesia, di manapun berada, mendapatkan hak yang sama untuk belajar dalam kondisi yang layak.

Kesejahteraan Pendidik yang Masih Tertinggal

Selain persoalan fasilitas, masalah lain yang tidak kalah penting adalah kesejahteraan guru. Tidak sedikit guru honorer yang masih menerima gaji jauh di bawah standar hidup layak. Ada yang hanya mendapat Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Kondisi ini sangat memprihatinkan. Guru yang seharusnya fokus mendidik, justru banyak yang harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan hidup. Ada guru yang menjadi ojek online, pedagang kecil, bahkan buruh harian lepas di luar jam mengajar. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi mereka dalam mengabdikan diri untuk pendidikan.

Guru berharap pemerintah benar-benar menghadirkan solusi nyata. Mereka ingin ada kepastian status kepegawaian, gaji yang sesuai dengan UMR (Upah Minimum Regional), serta tunjangan yang merata. Sebab, profesi guru bukanlah pekerjaan sambilan, melainkan panggilan hidup yang membutuhkan totalitas.

Martabat Guru yang Perlu Dijaga

Selain soal finansial, martabat guru juga sering kali berada dalam posisi yang memprihatinkan. Zaman dulu, guru begitu dihormati, ucapannya didengar, dan tindakannya dijadikan teladan. Kini, tidak jarang guru harus menghadapi laporan hukum hanya karena mendisiplinkan murid.

Guru memberi teguran dianggap melakukan bullying. Guru memberikan hukuman mendidik dikatakan melanggar HAM. Bahkan ada kasus di mana orang tua murid melaporkan guru ke polisi hanya karena anaknya diminta mengerjakan tugas tambahan.

Fenomena ini menimbulkan kegelisahan di kalangan pendidik. Bagaimana mungkin guru bisa mendidik dengan tenang jika setiap langkahnya selalu diawasi dengan kecurigaan? Guru berharap masyarakat kembali menghormati profesi mereka. Orang tua, sekolah, dan pemerintah seharusnya bersinergi untuk mendidik anak-anak, bukan saling menyalahkan.

Harapan Guru untuk Masa Depan Pendidikan

Harapan guru terhadap pendidikan Indonesia bukan sekadar keinginan pribadi, melainkan cita-cita bersama untuk bangsa. Beberapa hal yang sering disuarakan antara lain:

1. Kurikulum yang Konsisten dan Relevan
Guru berharap kurikulum tidak berubah-ubah setiap pergantian menteri. Perubahan yang terlalu sering membuat guru bingung dan kehilangan arah. Kurikulum sebaiknya disusun dengan melibatkan guru di lapangan agar sesuai dengan kebutuhan nyata.

2. Pelatihan dan Pengembangan Profesional
Guru ingin terus belajar dan meningkatkan kompetensi. Namun, pelatihan yang diberikan pemerintah sering kali bersifat formalitas. Guru berharap ada pelatihan yang benar-benar praktis, aplikatif, dan menjawab tantangan zaman, seperti literasi digital, coding, hingga kecerdasan buatan.

3. Penghargaan terhadap Dedikasi Guru
Guru ingin kerja keras mereka diapresiasi, bukan hanya dengan ucapan terima kasih, tetapi juga penghargaan nyata dalam bentuk insentif, penghargaan publik, dan kesempatan berkembang.

4. Pemerataan Fasilitas Pendidikan
Guru ingin semua murid di Indonesia memiliki kesempatan belajar yang sama. Tidak ada lagi kesenjangan mencolok antara sekolah di kota besar dengan sekolah di pelosok.

Komentar Omjay: Guru Harus Diperhatikan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay, Guru Blogger Indonesia, sering menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan para pendidik. Menurutnya:
“Guru yang sejahtera akan mengajar dengan bahagia. Guru yang bahagia akan melahirkan murid-murid yang berprestasi. Maka, jika negara ingin pendidikannya maju, perhatikanlah kesejahteraan guru terlebih dahulu.”

Omjay juga menambahkan bahwa guru tidak hanya butuh kesejahteraan, tetapi juga butuh ruang untuk terus belajar. Dunia terus berubah, teknologi berkembang pesat, maka guru juga harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dengan begitu, guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga inspirator yang menggerakkan murid-muridnya.

Penutup: Dengarlah Suara Guru

Suara harapan guru adalah suara yang lahir dari hati nurani. Mereka tidak sekadar menuntut, tetapi juga memberikan solusi. Mereka bukan hanya ingin diperhatikan, tetapi juga siap berbenah untuk meningkatkan kualitas diri.

Jika pemerintah dan masyarakat benar-benar mendengarkan suara ini, maka masa depan pendidikan Indonesia akan lebih cerah. Sebab, guru adalah kunci. Di tangan guru yang sejahtera dan dihargai, lahirlah generasi bangsa yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.

Mari kita bersama-sama menjaga martabat guru, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas. Karena tanpa guru, tidak akan ada dokter, insinyur, presiden, atau bahkan generasi penerus yang mampu membawa Indonesia menuju kejayaan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Suara Harapan Guru untuk Pendidikan Indonesia dan Kesejahteraan Pendidik