Mengapa Banyak Orang Hanya Mengucapkan Hari Guru Nasional, Tetapi Melupakan Hari Ulang Tahun PGRI?

Mengapa Banyak Orang Hanya Mengucapkan Hari Guru Nasional, Tetapi Melupakan Hari Ulang Tahun PGRI?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Tanggal 25 November selalu menjadi tanggal yang istimewa bagi dunia pendidikan Indonesia. Setiap tahun, foto-foto guru tersebar di media sosial, ucapan selamat mengalir deras dari pejabat, sekolah, orang tua, media, sampai perusahaan besar. Semua mengucapkan: Selamat Hari Guru Nasional (HGN).

Tetapi ada sesuatu yang terlupakan.
Ada sejarah besar yang seperti menghilang pelan-pelan.
Ada organisasi yang justru menjadi alasan mengapa tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional.

Organisasi itu adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Dan tanggal itu sejatinya adalah Hari Ulang Tahun PGRI.

Banyak orang hanya mengingat HGN.
Namun mengapa mereka melupakan HUT PGRI yang menjadi fondasi lahirnya HGN itu sendiri?

Sebagai seorang guru yang telah lama berada di rumah besar PGRI, saya merasa perlu menulis kegelisahan ini—bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang agung.

1. Popularitas Hari Guru Nasional Menelan Akar Sejarahnya

Hari Guru Nasional kini menjadi brand yang sangat kuat. Setiap tahun, konten digital tentang HGN membanjiri internet. Anak-anak sekolah membuat video ucapan, perusahaan membuat kampanye bertema guru, dan bahkan selebritas ikut meramaikan momen ini.

Sementara itu, HUT PGRI tidak mendapat tempat yang sama di hati publik. Padahal:

HGN lahir dari HUT PGRI.

Tidak dapat dipisahkan.

Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 secara jelas menyebutkan bahwa Hari Guru Nasional diperingati pada tanggal 25 November, bertepatan dengan Hari Lahir PGRI.

Namun publik tidak melihat keterhubungan itu.
Yang mereka lihat hanyalah “Hari Guru”.
Sedangkan “PGRI” tidak ikut disebut.

Lama-kelamaan, masyarakat merasa seolah-olah HGN dan HUT PGRI adalah dua hal yang berbeda.
Padahal keduanya satu tubuh, satu napas, satu sejarah.

2. Masyarakat Lebih Menyukai Perayaan daripada Sejarah

Ada perbedaan besar antara perayaan dan penghormatan.

HGN adalah perayaan.
HUT PGRI adalah sejarah.

Di Hari Guru Nasional, kita disuguhi rangkaian acara:

lomba menulis,

upacara istimewa,

siswa memberikan bunga untuk guru,

video-video penghargaan,

pemerintah memberikan sambutan nasional.

Momentum ini indah dan membanggakan.

Namun HUT PGRI membawa kita kepada hal yang lebih sunyi—lebih dalam—lebih berat:
sejarah persatuan guru Indonesia sejak 1945.

Sementara perayaan hanya butuh waktu sehari,
sejarah membutuhkan renungan, pemahaman, dan penghargaan.

Mungkin karena itulah HUT PGRI lebih sering terlupakan.
Orang lebih suka merayakan sesuatu yang ramai dibanding mengenang sesuatu yang dalam.

3. PGRI: Rumah Besar yang Seperti Tidak Disadari Kehadirannya

Banyak yang lupa bahwa PGRI adalah organisasi yang:

memperjuangkan status guru sebagai profesi yang bermartabat,

mengawal kebijakan pendidikan nasional,

membela guru ketika dikriminalisasi,

menyediakan pendidikan dan pelatihan,

menaungi sekolah dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi,

menjaga agar suara guru tetap didengar oleh pemerintah.

Namun karena kerja-kerja PGRI tidak selalu tampil di permukaan,
banyak orang menganggap keberadaannya biasa saja.

Padahal, selama 80 tahun, organisasi ini telah:

melewati masa revolusi fisik,

menghadapi pergolakan politik negeri ini,

bertahan di tengah perubahan regulasi pendidikan,

dan tetap setia memperjuangkan martabat guru.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, sering mengingatkan:

“PGRI bukan hanya organisasi profesi, tetapi gerakan moral guru Indonesia.”

Sayangnya, tidak banyak yang mencatat kalimat penting ini dalam memori pendidikan bangsa.

HGN dirayakan,
tetapi PGRI tidak diingat sebagai ruh dari peringatan tersebut.

4. Melupakan PGRI Berarti Melupakan Perjuangan Guru Itu Sendiri

Kita merayakan guru,
tetapi melupakan rumah yang mempersatukan guru selama 80 tahun.

Ini ibarat:

memuji pohon, tapi melupakan akarnya,

memuja bunga, tapi mengabaikan tanah yang menyuburkannya.

Tanggal 25 November 1945, ratusan guru dari berbagai organisasi zaman kolonial berkumpul di Surakarta. Mereka menyadari bahwa perpecahan hanya melemahkan perjuangan. Maka mereka bersumpah untuk:

**bersatu dalam PGRI,

menjadi organisasi perjuangan,
organisasi profesi, dan
organisasi ketenagakerjaan.**

Ini adalah sumpah yang sakral.
Ini adalah titik balik.
Ini adalah sejarah.

Tanpa peristiwa itu, tidak ada yang namanya Hari Guru Nasional.

Tetapi hari ini, sejarah itu seperti menguap dari kesadaran publik.

5. Banyaknya Organisasi Guru Mengaburkan Makna Persatuan

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul puluhan organisasi guru baru.
Kementerian bahkan mencatat ada 77 organisasi profesi guru yang diundang dalam dialog resmi.

Keberagaman organisasi tentu sah secara demokrasi.
Namun terlalu banyak wadah justru membuat perhatian publik terpecah.

Guru seperti kehilangan satu payung yang kokoh.
Publik menjadi bingung, bahkan sebagian guru sendiri tidak memahami sejarah PGRI dengan baik.

Padahal, dahulu guru-guru zaman awal kemerdekaan bersatu karena mereka tahu:

Perjuangan guru akan lemah jika terpecah-belah.

Hari ini, kita malah kembali kepada masa sebelum 1945, ketika organisasi guru beragam dan tidak satu suara.

Di sinilah pentingnya kembali mengingat HUT PGRI.
Setidaknya, sebagai pengingat bahwa kita pernah bersatu.
Bahwa kita pernah memilih jalan bersama.
Bahwa kita pernah sepakat berada di rumah yang sama.

6. HGN Harusnya Tidak Dipisahkan dari HUT PGRI

Jika Anda guru, atau murid, atau orang tua, atau siapa pun yang peduli pada pendidikan, maka ketika tanggal 25 November tiba, seharusnya ucapannya lengkap:

🌿 Selamat Hari Guru Nasional
dan
🌿 Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI

Karena keduanya adalah satu kesatuan.

HGN memuliakan guru.
HUT PGRI memuliakan perjuangan guru.

Melupakan salah satunya berarti memutus mata rantai sejarah.

7. Mengapa Kita Harus Kembali Menghidupkan Memorinya?

Sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun menulis tentang dunia pendidikan, saya—Omjay—merasa bahwa melupakan PGRI berarti melupakan perjalanan panjang bangsa dalam membangun karakter.

PGRI adalah saksi:

betapa beratnya perjuangan guru bertahan hidup di era awal kemerdekaan,

bagaimana guru tetap mengajar meski gaji tak dibayar,

bagaimana guru menjadi teladan moral masyarakat,

bagaimana guru menjaga pendidikan agar tetap berjalan di masa-masa sulit.

Ketika masyarakat hanya mengenal HGN, mereka hanya mengenal “guru”.
Tetapi ketika mereka mengenang HUT PGRI, mereka mengenal martabat guru.

Dan itu dua hal yang berbeda.

8. Penutup: Mari Mengingat Sejarah, Bukan Hanya Perayaan

PGRI adalah rumah besar.
Rumah para guru.
Rumah yang telah berdiri delapan dekade dengan segala getir dan manisnya.

Tidak adil jika setiap tahun kita hanya merayakan HGN tetapi melupakan organisasi yang memperjuangkannya.

Karena:

tanpa PGRI, tidak ada tanggal 25 November,

tanpa persatuan guru, tidak ada sejarah profesi ini,

tanpa perjuangan panjang, tidak ada martabat guru seperti hari ini.

Hari ini, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk tidak hanya mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasional”, tetapi juga:

“Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 PGRI.

Rumah kami, perjuangan kami, kebanggaan kami.”

Semoga tulisan sederhana ini mampu mengembalikan ingatan kita kepada sejarah yang mulai kabur.
Semoga guru-guru muda kembali memahami akar perjuangannya.
Semoga masyarakat kembali menghargai organisasi yang memperjuangkan pendidikan bangsa.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk merayakan hari besar,
tetapi bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah di baliknya.

Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Harapan Guru dan Anggota PGRI di HUT PGRI ke-80 Untuk Presiden Prabowo Subianto

Guru Mengabdi dalam Senyap: Harapan Kami di HUT PGRI ke-80

Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya hangat setiap kali memasuki bulan November. Mungkin karena saya sudah terlalu lama hidup dalam dunia pendidikan. Atau mungkin karena ada rasa rindu yang tak pernah padam kepada para guru yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Bagi saya, November selalu punya cerita. Cerita tentang perjuangan, pengabdian, dan cinta yang tak pernah habis dari seorang guru kepada bangsa dan anak-anaknya.

Tahun ini, HUT PGRI memasuki usia yang ke-80. Angka yang tidak kecil. Umur yang menunjukkan betapa panjang jalan yang sudah dilalui organisasi guru tertua di Indonesia ini. Di usia inilah, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan baru, ada suara yang lebih lantang, dan ada doa yang lebih khusyuk dari para guru di seluruh Indonesia.

Namun di balik itu, ada juga rasa getir yang tak bisa disembunyikan.

Guru yang Dibutuhkan, Tapi Sering Dilupakan

“Guru itu dibutuhkan, tapi sering dilupakan.”
Saya sudah menulis kalimat ini berkali-kali, tapi tetap saja rasanya seperti baru setiap kali diucapkan. Guru ada di garda terdepan dalam mencetak generasi bangsa, tapi berada di barisan paling belakang ketika bicara soal penghargaan dan kesejahteraan.

Guru masuk kelas setiap hari dengan berbagai beban pikiran, mulai dari administrasi yang menumpuk, kurikulum yang terus berubah, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persoalan pribadi yang terpaksa disimpan rapat-rapat demi satu hal: anak-anak didiknya harus tetap belajar dengan baik.

Saya sering melihat langsung bagaimana guru-guru berjuang. Ada yang pulang naik motor tua sambil membawa tumpukan kertas nilai. Ada yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengajar di sekolah pinggiran. Ada yang mengajar dengan senyum, meski gajinya belum pasti turun. Ada pula yang tetap semangat meski statusnya PPPK dan masih bertanya-tanya tentang masa depan kariernya.

Guru tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya ingin dihargai. Didengarkan. Diperhatikan.

Harapan Besar di HUT PGRI ke-80

Salah satu kabar yang paling banyak diperbincangkan para guru menjelang HUT PGRI tahun ini adalah harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto hadir dalam puncak peringatan di Jakarta.

Saya menerima begitu banyak pesan dari teman-teman guru:
“Omjay, mudah-mudahan Pak Presiden hadir.”
“Ini momentumnya, Om.”
“Kalau beliau hadir, itu bentuk penghargaan pada kami.”

Harapan itu bukan tanpa alasan. Guru ingin merasa dekat dengan pemimpinnya. Ingin memastikan bahwa harapan mereka tidak hilang di tengah gemuruh politik dan birokrasi. Guru ingin pemimpin tertinggi negeri ini mendengar langsung suara mereka—bukan hanya lewat laporan, tapi lewat pertemuan nyata yang penuh makna.

Komentar Dr. Sumardiansyah: Panggilan Nurani bagi Pemimpin

Saya sempat berdiskusi dengan Dr. Sumardiansyah, Wakil Sekjen PB PGRI sekaligus Ketua Dewan Eksekutif APKS PGRI. Beliau menyampaikan pandangan yang sangat menyentuh:

“Kehadiran Presiden di HUT PGRI bukan soal seremoni. Ini tentang pengakuan negara kepada guru. Tentang menempatkan guru pada posisi yang seharusnya. Guru selama ini mengabdi tanpa pamrih, jadi saat ada momentum seperti ini, tentu para guru berharap Presiden hadir sebagai bentuk penghormatan.”

Saya membaca ulang kata-kata itu berkali-kali. Rasanya pas sekali dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan. Guru tidak meminta panggung. Guru hanya ingin pengabdian mereka dianggap berarti.

Komentar Omjay: Harapan Itu Tidak Pernah Padam

Sebagai seorang guru dan Ketua Umum KOGTIK, saya sendiri melihat betapa besarnya perjuangan guru di era digital saat ini. Ada guru yang berusaha belajar teknologi dari nol. Ada yang mencoba memahami AI, coding, dan berbagai aplikasi baru demi memberi pengalaman belajar terbaik bagi murid-muridnya.

Saya sering berbagi pengalaman menulis, bercerita bagaimana teknologi bisa kita taklukkan pelan-pelan. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah hati seorang guru. Di situlah kekuatan terbesar pendidikan Indonesia berada.

Saya pun berharap, dengan segala kerendahan hati, agar Presiden benar-benar hadir. Bukan sekadar tanda tangan di undangan, tapi menghadiri langsung, melihat wajah para guru, dan merasakan energi cinta yang luar biasa dari puluhan ribu pendidik.

“Seorang pemimpin yang menghormati guru, sesungguhnya sedang menghormati masa depan bangsanya.”

Saya percaya itu.

Ketika Guru Berkumpul, Selalu Ada Harapan

HUT PGRI bukan hanya acara tahunan. Ia adalah pengingat bahwa guru tidak pernah berjalan sendirian. Ketika ribuan guru berkumpul, ada semangat yang menyala. Ada solidaritas yang kuat. Ada mimpi-mimpi yang kembali menemukan jalannya.

Saya bayangkan suasana di Jakarta nanti:
Seragam PGRI berkibar, wajah-wajah bahagia, tawa, pelukan, foto bersama, dan cerita-cerita perjuangan dari seluruh penjuru Indonesia. Dari guru honorer, guru PPPK, guru PNS, hingga para kepala sekolah dan pejuang literasi.

Di tengah keramaian itu, saya tahu ada satu harapan yang diam-diam dibawa oleh hampir semua yang hadir: semoga Presiden datang.

Karena jika beliau hadir, itu berarti guru dilihat. Dihargai. Diakui.

Penutup: Untuk Guru, Negeri Ini Berutang Banyak

Kalau ditanya apa hadiah terbaik bagi guru di usia PGRI ke-80 ini, saya punya jawabannya:

Penghargaan. Kesejahteraan. Kepastian karier. Dan perhatian tulus dari pemimpin bangsa.

Guru tidak butuh pesta besar. Guru hanya ingin masa depan yang jelas. Ingin sistem pendidikan yang lebih adil. Ingin kebijakan yang berpihak pada pembelajaran, bukan administrasi.

HUT PGRI hanyalah satu momen. Tapi maknanya besar sekali.
Bagi saya, bagi Dr. Sumardiansyah, bagi jutaan guru di Indonesia.

Semoga tahun ini menjadi titik awal perubahan yang lebih baik.

Karena tanpa guru, tidak ada dokter. Tidak ada menteri. Tidak ada presiden. Tidak ada apa-apa.

Guru adalah cahaya pertama di setiap jalan kesuksesan.

Dan cahaya itu harus terus dijaga.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com