Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Jalan Pendidikan Indonesia yang Berpusat pada Murid
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Akses informasi yang semakin mudah, cepat, dan luas seolah menjanjikan kemajuan pembelajaran. Namun, di balik kemudahan itu, muncul persoalan serius: banyak murid yang cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu mampu memahami, mengolah, dan memaknai pengetahuan secara mendalam. Pendidikan kita menghadapi tantangan besar untuk tidak sekadar mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi memastikan proses belajar benar-benar bermakna. Di sinilah pembelajaran mendalam (deep learning) menemukan urgensinya.
Pembelajaran mendalam bukan sekadar istilah baru atau jargon kebijakan. Ia adalah pendekatan yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran, mengajak mereka berpikir kritis, reflektif, dan mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Di era digital, pembelajaran mendalam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi semua sekolah di Indonesia.
Tantangan Pendidikan di Era Digital
Digitalisasi telah mengubah cara murid belajar. Gawai, media sosial, kecerdasan buatan, dan platform digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Murid dapat menemukan jawaban dalam hitungan detik. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diiringi kedalaman berpikir. Budaya menyalin, menempel, dan menghafal masih mendominasi praktik pembelajaran.
Jika sekolah tidak berbenah, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas belajar. Murid menjadi kaya informasi, tetapi miskin pemahaman dan empati. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses memanusiakan manusia.
Dalam konteks inilah pembelajaran mendalam hadir sebagai jawaban. Pembelajaran mendalam mendorong murid untuk tidak hanya menjawab apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana. Murid diajak memahami proses, bukan sekadar hasil.
Arah Kebijakan Pendidikan Nasional
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya transformasi pembelajaran yang berpusat pada murid. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa pendidikan dasar harus membangun fondasi karakter, nalar kritis, dan kemandirian belajar sejak dini. Pembelajaran tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif, tetapi harus menyentuh esensi proses belajar murid.
Arah kebijakan ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam. Pendidikan dasar dan menengah diharapkan menjadi ruang aman bagi murid untuk bertanya, mencoba, salah, dan belajar dari proses. Sekolah tidak hanya dituntut menghasilkan nilai akademik, tetapi juga membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, berdaya pikir, dan berakhlak.
Dengan kata lain, pembelajaran mendalam bukan konsep yang berdiri di luar kebijakan, melainkan ruh yang seharusnya menghidupi seluruh praktik pembelajaran di kelas.
Hakikat Pembelajaran Mendalam
Menurut Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, Pakar Pembelajaran Mendalam dan Ketua KOGTIK PGRI, pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang memanusiakan murid. Ia menegaskan:
“Pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang membuat murid tidak hanya tahu, tetapi paham; tidak hanya mendengar, tetapi mengalami; dan tidak hanya menjawab soal, tetapi mampu memaknai apa yang dipelajarinya dalam kehidupan nyata.”
Pandangan ini menegaskan bahwa pembelajaran mendalam tidak berhenti pada penguasaan materi. Proses belajar harus menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sosial murid. Murid diberi ruang untuk berpikir, berdialog, berkolaborasi, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.
Di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendekatan ini sangat krusial. Masa sekolah adalah fase pembentukan cara berpikir dan karakter. Jika sejak dini murid dibiasakan belajar secara dangkal, maka kebiasaan itu akan terbawa hingga dewasa.
Perubahan Peran Guru
Pembelajaran mendalam menuntut perubahan paradigma peran guru. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, tetapi menjadi desainer pengalaman belajar. Guru merancang pembelajaran yang kontekstual, relevan, dan menantang nalar murid.
Dr. Wijaya Kusumah menegaskan:
“Guru pembelajar adalah kunci pembelajaran mendalam. Jika guru terus belajar dan berani berubah, murid akan tumbuh menjadi pembelajar sejati.”
Guru dituntut untuk memahami karakter murid, memfasilitasi diskusi, serta memberikan umpan balik yang membangun. Ini bukan tugas mudah, apalagi di tengah beban administrasi yang masih berat. Karena itu, dukungan kebijakan dan kepemimpinan sekolah menjadi sangat penting.
Kepemimpinan Sekolah dan Budaya Belajar
Pembelajaran mendalam tidak akan tumbuh di lingkungan sekolah yang kaku dan penuh ketakutan. Kepala sekolah memegang peran strategis dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Sekolah harus menjadi komunitas belajar, bukan sekadar institusi administratif.
Dr. Wijaya Kusumah mengingatkan:
“Pembelajaran mendalam hanya akan tumbuh subur jika kepala sekolah memberi ruang aman bagi guru untuk mencoba, salah, belajar, dan terus memperbaiki praktik pembelajarannya.”
Budaya saling belajar, refleksi, dan kolaborasi perlu ditumbuhkan. Guru tidak boleh takut gagal, karena dari kegagalan itulah pembelajaran bermakna lahir.
Teknologi sebagai Alat, Bukan Tujuan
Dalam pembelajaran mendalam, teknologi diposisikan sebagai alat untuk memperkaya proses belajar, bukan tujuan akhir. Platform digital, video pembelajaran, dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi.
Namun, tanpa pendekatan yang tepat, teknologi justru bisa menjauhkan murid dari makna belajar. Dr. Wijaya Kusumah menegaskan:
“Teknologi bukan musuh pendidikan, tetapi tanpa pembelajaran mendalam, teknologi bisa membuat murid dangkal berpikir dan miskin empati.”
Oleh karena itu, literasi digital harus disertai literasi berpikir dan literasi karakter.
Penilaian yang Memanusiakan
Salah satu ciri pembelajaran mendalam adalah perubahan paradigma penilaian. Penilaian tidak lagi berorientasi semata pada angka, tetapi pada proses belajar murid. Proyek, portofolio, refleksi diri, dan presentasi menjadi bagian penting dari penilaian autentik.
Dr. Wijaya Kusumah menyatakan:
“Penilaian dalam pembelajaran mendalam harus memanusiakan murid, bukan menakut-nakuti mereka dengan angka.”
Penilaian yang adil dan bermakna akan menumbuhkan motivasi intrinsik murid untuk belajar, bukan sekadar mengejar nilai.
Penutup: Jalan Panjang yang Harus Ditempuh
Pembelajaran mendalam di era digital adalah jalan panjang yang harus ditempuh bersama oleh pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat. Kebijakan yang berpihak pada murid, kepemimpinan sekolah yang visioner, serta guru yang reflektif menjadi fondasi utama perubahan.
Sebagaimana arah kebijakan Kemendikdasmen yang menekankan pembelajaran bermakna dan berpusat pada murid, pembelajaran mendalam seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar program. Di tengah derasnya arus teknologi, sekolah harus menjadi ruang yang menjaga kedalaman berpikir dan kemanusiaan.
Sebagaimana ditegaskan Dr. Wijaya Kusumah:
“Sekolah yang hebat bukan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang paling dalam memanusiakan muridnya.”
Di sanalah pendidikan menemukan kembali hakikatnya: membimbing manusia muda untuk berpikir dalam, bertindak bijak, dan belajar sepanjang hayat.

Pelajar Indonesia akan Terpuruk Bila Tidak Belajar TIK

3 thoughts on “Pembelajaran Mendalam di Era Digital: Jalan Pendidikan Indonesia yang Berpusat pada Murid”