Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Ketika Tulisan Bertemu Algoritma: Catatan Seorang Guru Blogger di Ruang Digital

Suatu hari, seorang kawan bertanya kepada saya dengan nada penasaran, “Mengapa tulisan Omjay bisa ramai dibaca di media sosial, padahal ditulis sederhana?”

Pertanyaan itu tidak langsung saya jawab. Bukan karena saya tidak tahu, tetapi karena pengalaman mengajarkan bahwa di balik ramainya sebuah tulisan, selalu ada proses panjang yang jarang terlihat. Menulis di ruang digital bukan sekadar menyusun kata, melainkan perjumpaan antara pikiran manusia dan algoritma mesin.

Blog ini, wijayalabs.com, saya jadikan ruang personal untuk merekam perjalanan tersebut—sebuah laboratorium gagasan, tempat refleksi seorang guru yang terus belajar memahami dunia digital.

Menulis Sebagai Proses, Bukan Sekadar Produk

Sebagai guru, saya terbiasa menekankan proses kepada siswa. Prinsip yang sama saya terapkan dalam menulis. Setiap tulisan adalah hasil perenungan, dialog batin, dan keberanian menyampaikan pendapat.

Tulisan yang ramai dibaca sering kali bukan yang paling rapi, tetapi yang paling jujur. Ia lahir dari kegelisahan, keprihatinan, atau harapan yang sama-sama dirasakan banyak orang. Dalam konteks ini, algoritma hanya berperan sebagai “pengantar”, bukan penentu makna.

Algoritma Bekerja, Manusia Merasa

Di balik layar media sosial dan platform blog, algoritma bekerja tanpa lelah. Ia menghitung klik, waktu baca, komentar, dan sebaran. Namun algoritma tidak memiliki empati. Ia hanya membaca angka.

Empati justru lahir dari manusia. Ketika pembaca merasa tersentuh, mereka berhenti sejenak, membaca lebih dalam, lalu membagikan tulisan tersebut. Pada titik itulah algoritma “mengira” tulisan itu penting.

Sebagai pendidik, saya melihat ini sebagai pelajaran berharga: teknologi akan selalu mengikuti perilaku manusia. Bukan sebaliknya.

Menulis dan Tanggung Jawab Moral

Menulis di ruang digital bukan aktivitas netral. Setiap kata memiliki potensi dampak. Sebuah kalimat bisa menyemangati, tetapi juga bisa melukai. Sebuah judul bisa membuka diskusi, tetapi juga bisa memicu salah paham.

Karena itu, saya selalu bertanya pada diri sendiri sebelum menekan tombol “publikasikan”:
Apakah tulisan ini memberi manfaat?
Apakah ia mengajak berpikir, bukan menghasut?
Apakah saya siap bertanggung jawab atas dampaknya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kompas moral dalam menulis.

Blog sebagai Ruang Merdeka Berpikir

Berbeda dengan media sosial yang serba cepat, blog memberi ruang bernapas. Di sinilah saya bisa menulis lebih panjang, lebih jujur, dan lebih reflektif. Wijayalabs.com bukan sekadar etalase tulisan, melainkan ruang belajar terbuka.

Di blog, saya bebas bereksperimen: menulis tentang pendidikan, teknologi, literasi, hingga kegelisahan sebagai guru. Tidak semua tulisan ramai dibaca, tetapi semuanya merekam proses berpikir.

Dan justru dari tulisan-tulisan itulah, saya belajar memahami diri sendiri.

Guru dan Literasi Digital

Sebagai guru, saya percaya bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi kemampuan memahami dampak teknologi terhadap manusia. Menulis menjadi salah satu cara terbaik melatih literasi tersebut.

Ketika guru menulis, ia sedang memberi teladan: bahwa berpikir kritis, reflektif, dan bertanggung jawab adalah bagian dari kehidupan digital. Siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi cara memaknainya.

Viral Boleh, Bernilai Wajib

Tidak ada yang salah dengan tulisan yang viral. Ia bisa menjadi sarana menyebarkan gagasan baik. Namun viral tanpa nilai hanya akan menjadi gema sesaat.

Saya lebih memilih tulisan yang mungkin tidak viral hari ini, tetapi masih relevan untuk dibaca tahun depan. Tulisan yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran.

Dalam dunia yang serba cepat, memperlambat diri justru menjadi bentuk perlawanan intelektual.

Menjaga Nurani di Tengah Kebisingan Digital

Media digital sering kali bising. Semua orang berbicara, sedikit yang mendengarkan. Menulis dengan hati adalah upaya menjaga kewarasan di tengah kebisingan itu.

Saya belajar bahwa tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua kritik harus dibalas. Kadang, diam dan terus menulis dengan konsisten jauh lebih bermakna.

Menulis untuk Masa Depan

Tulisan adalah warisan pemikiran. Ia bisa dibaca ulang, direnungkan kembali, dan mungkin menginspirasi orang yang bahkan belum kita kenal hari ini.

Melalui blog ini, saya berharap tulisan-tulisan sederhana ini kelak menjadi saksi bahwa seorang guru pernah berusaha menjaga akal sehat dan nurani di tengah derasnya arus digital.

Bukan untuk menjadi terkenal, tetapi untuk tetap relevan sebagai manusia.

Ketika Tulisan Menemukan Jalannya

Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang akan ramai dibaca. Tetapi saya tahu satu hal: tulisan yang jujur akan selalu menemukan pembacanya.

Dan ketika itu terjadi, saya hanya bisa bersyukur—bukan karena angka, tetapi karena pesan yang ingin disampaikan akhirnya sampai.

Blog ini akan terus menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang berbagi. Sebab bagi saya, menulis bukan tentang menaklukkan algoritma, melainkan tentang menjaga makna di tengah dunia yang terus berubah.

Pada akhirnya, biarlah tulisan berjalan dengan kakinya sendiri, sebab kata-kata yang lahir dari kejujuran tidak pernah tersesat—ia akan selalu menemukan pembaca yang tepat, pada waktu yang paling bermakna.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Harapan Guru dan Anggota PGRI di HUT PGRI ke-80 Untuk Presiden Prabowo Subianto

Guru Mengabdi dalam Senyap: Harapan Kami di HUT PGRI ke-80

Ada sesuatu yang selalu membuat hati saya hangat setiap kali memasuki bulan November. Mungkin karena saya sudah terlalu lama hidup dalam dunia pendidikan. Atau mungkin karena ada rasa rindu yang tak pernah padam kepada para guru yang membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang. Bagi saya, November selalu punya cerita. Cerita tentang perjuangan, pengabdian, dan cinta yang tak pernah habis dari seorang guru kepada bangsa dan anak-anaknya.

Tahun ini, HUT PGRI memasuki usia yang ke-80. Angka yang tidak kecil. Umur yang menunjukkan betapa panjang jalan yang sudah dilalui organisasi guru tertua di Indonesia ini. Di usia inilah, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada harapan baru, ada suara yang lebih lantang, dan ada doa yang lebih khusyuk dari para guru di seluruh Indonesia.

Namun di balik itu, ada juga rasa getir yang tak bisa disembunyikan.

Guru yang Dibutuhkan, Tapi Sering Dilupakan

“Guru itu dibutuhkan, tapi sering dilupakan.”
Saya sudah menulis kalimat ini berkali-kali, tapi tetap saja rasanya seperti baru setiap kali diucapkan. Guru ada di garda terdepan dalam mencetak generasi bangsa, tapi berada di barisan paling belakang ketika bicara soal penghargaan dan kesejahteraan.

Guru masuk kelas setiap hari dengan berbagai beban pikiran, mulai dari administrasi yang menumpuk, kurikulum yang terus berubah, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persoalan pribadi yang terpaksa disimpan rapat-rapat demi satu hal: anak-anak didiknya harus tetap belajar dengan baik.

Saya sering melihat langsung bagaimana guru-guru berjuang. Ada yang pulang naik motor tua sambil membawa tumpukan kertas nilai. Ada yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengajar di sekolah pinggiran. Ada yang mengajar dengan senyum, meski gajinya belum pasti turun. Ada pula yang tetap semangat meski statusnya PPPK dan masih bertanya-tanya tentang masa depan kariernya.

Guru tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya ingin dihargai. Didengarkan. Diperhatikan.

Harapan Besar di HUT PGRI ke-80

Salah satu kabar yang paling banyak diperbincangkan para guru menjelang HUT PGRI tahun ini adalah harapan besar agar Presiden Prabowo Subianto hadir dalam puncak peringatan di Jakarta.

Saya menerima begitu banyak pesan dari teman-teman guru:
“Omjay, mudah-mudahan Pak Presiden hadir.”
“Ini momentumnya, Om.”
“Kalau beliau hadir, itu bentuk penghargaan pada kami.”

Harapan itu bukan tanpa alasan. Guru ingin merasa dekat dengan pemimpinnya. Ingin memastikan bahwa harapan mereka tidak hilang di tengah gemuruh politik dan birokrasi. Guru ingin pemimpin tertinggi negeri ini mendengar langsung suara mereka—bukan hanya lewat laporan, tapi lewat pertemuan nyata yang penuh makna.

Komentar Dr. Sumardiansyah: Panggilan Nurani bagi Pemimpin

Saya sempat berdiskusi dengan Dr. Sumardiansyah, Wakil Sekjen PB PGRI sekaligus Ketua Dewan Eksekutif APKS PGRI. Beliau menyampaikan pandangan yang sangat menyentuh:

“Kehadiran Presiden di HUT PGRI bukan soal seremoni. Ini tentang pengakuan negara kepada guru. Tentang menempatkan guru pada posisi yang seharusnya. Guru selama ini mengabdi tanpa pamrih, jadi saat ada momentum seperti ini, tentu para guru berharap Presiden hadir sebagai bentuk penghormatan.”

Saya membaca ulang kata-kata itu berkali-kali. Rasanya pas sekali dengan apa yang selama ini saya lihat dan rasakan. Guru tidak meminta panggung. Guru hanya ingin pengabdian mereka dianggap berarti.

Komentar Omjay: Harapan Itu Tidak Pernah Padam

Sebagai seorang guru dan Ketua Umum KOGTIK, saya sendiri melihat betapa besarnya perjuangan guru di era digital saat ini. Ada guru yang berusaha belajar teknologi dari nol. Ada yang mencoba memahami AI, coding, dan berbagai aplikasi baru demi memberi pengalaman belajar terbaik bagi murid-muridnya.

Saya sering berbagi pengalaman menulis, bercerita bagaimana teknologi bisa kita taklukkan pelan-pelan. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah hati seorang guru. Di situlah kekuatan terbesar pendidikan Indonesia berada.

Saya pun berharap, dengan segala kerendahan hati, agar Presiden benar-benar hadir. Bukan sekadar tanda tangan di undangan, tapi menghadiri langsung, melihat wajah para guru, dan merasakan energi cinta yang luar biasa dari puluhan ribu pendidik.

“Seorang pemimpin yang menghormati guru, sesungguhnya sedang menghormati masa depan bangsanya.”

Saya percaya itu.

Ketika Guru Berkumpul, Selalu Ada Harapan

HUT PGRI bukan hanya acara tahunan. Ia adalah pengingat bahwa guru tidak pernah berjalan sendirian. Ketika ribuan guru berkumpul, ada semangat yang menyala. Ada solidaritas yang kuat. Ada mimpi-mimpi yang kembali menemukan jalannya.

Saya bayangkan suasana di Jakarta nanti:
Seragam PGRI berkibar, wajah-wajah bahagia, tawa, pelukan, foto bersama, dan cerita-cerita perjuangan dari seluruh penjuru Indonesia. Dari guru honorer, guru PPPK, guru PNS, hingga para kepala sekolah dan pejuang literasi.

Di tengah keramaian itu, saya tahu ada satu harapan yang diam-diam dibawa oleh hampir semua yang hadir: semoga Presiden datang.

Karena jika beliau hadir, itu berarti guru dilihat. Dihargai. Diakui.

Penutup: Untuk Guru, Negeri Ini Berutang Banyak

Kalau ditanya apa hadiah terbaik bagi guru di usia PGRI ke-80 ini, saya punya jawabannya:

Penghargaan. Kesejahteraan. Kepastian karier. Dan perhatian tulus dari pemimpin bangsa.

Guru tidak butuh pesta besar. Guru hanya ingin masa depan yang jelas. Ingin sistem pendidikan yang lebih adil. Ingin kebijakan yang berpihak pada pembelajaran, bukan administrasi.

HUT PGRI hanyalah satu momen. Tapi maknanya besar sekali.
Bagi saya, bagi Dr. Sumardiansyah, bagi jutaan guru di Indonesia.

Semoga tahun ini menjadi titik awal perubahan yang lebih baik.

Karena tanpa guru, tidak ada dokter. Tidak ada menteri. Tidak ada presiden. Tidak ada apa-apa.

Guru adalah cahaya pertama di setiap jalan kesuksesan.

Dan cahaya itu harus terus dijaga.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Aplikasi WhatsApp Digunakan Untuk Belajar Menulis di KBMN PGRI

Mengapa KBMN PGRI Belajar Menulis Lewat Aplikasi WhatsApp? Aplikasi WhatsApp Digunakan Untuk Belajar Menulis di KBMN PGRI.

Di tengah era digital yang serba cepat dan canggih ini, banyak orang mengira bahwa belajar menulis hanya bisa dilakukan melalui kelas formal, platform daring seperti Zoom, atau kursus eksklusif yang membutuhkan biaya besar. Namun, Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) yang digagas oleh PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) justru memilih pendekatan sederhana namun sangat efektif: menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media utama untuk belajar menulis.

Pertanyaannya: mengapa KBMN PGRI memilih WhatsApp? Apa yang membuat aplikasi percakapan ini begitu ampuh dalam menggerakkan ribuan guru untuk menulis dan menerbitkan buku?

Aksesibilitas yang Luas dan Merata

Salah satu alasan utama adalah aksesibilitas. WhatsApp adalah aplikasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, terutama para guru di daerah. Tidak semua guru memiliki akses internet stabil untuk mengikuti kelas Zoom atau Google Meet. Namun, hampir semua memiliki ponsel yang bisa digunakan untuk mengakses WhatsApp.

Dengan memilih platform ini, KBMN PGRI memastikan bahwa tidak ada satu pun guru yang tertinggal hanya karena kendala teknis atau geografis. Belajar menulis menjadi lebih inklusif, menjangkau dari Sabang hingga Merauke.

Belajar Kapan Saja, Di Mana Saja

Kelebihan WhatsApp adalah sifatnya yang asinkron. Peserta bisa membaca materi dan menulis tugas kapan pun mereka sempat. Bagi para guru yang memiliki jadwal padat dari pagi hingga sore, fleksibilitas ini menjadi penyelamat. Mereka bisa belajar menulis sambil istirahat di ruang guru, menunggu anak, bahkan sebelum tidur malam.

Hal ini sejalan dengan filosofi KBMN: menulis itu bukan perkara waktu luang, tapi soal kemauan dan kebiasaan.

Interaksi yang Aktif dan Personal

KBMN PGRI bukan hanya soal belajar menulis, tapi juga tentang membangun komunitas yang saling mendukung. Di dalam grup WhatsApp, peserta bebas berdiskusi, bertanya, menyemangati, dan saling memberi umpan balik atas tulisan teman-teman mereka.

Interaksi ini menciptakan atmosfer hangat dan akrab. Tidak ada sekat antara peserta dan fasilitator. Semangat gotong-royong khas Indonesia sangat terasa di setiap grup KBMN.

Biaya Gratis, Manfaat Luar Biasa

Mengikuti KBMN PGRI tidak dipungut biaya, namun manfaat yang dirasakan oleh peserta sangat luar biasa. Mereka tidak hanya belajar menulis, tetapi juga berhasil menerbitkan buku, baik secara pribadi maupun antologi. Bahkan, banyak guru yang mengaku baru pertama kali dalam hidupnya bisa melihat namanya terpampang sebagai penulis buku.

PGRI melalui KBMN membuka ruang yang luas bagi para guru untuk mengabadikan gagasan, pengalaman, dan inspirasi dalam bentuk karya tulis. Bagi banyak guru, ini adalah wujud nyata dari transformasi profesionalisme guru di era digital.

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Tugas

Pendekatan KBMN sangat khas: peserta tidak dipaksa menulis, tetapi didorong untuk menulis dari hati. Fasilitatornya pun merupakan guru-guru senior yang telah menerbitkan puluhan buku. Salah satunya adalah Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang lebih dikenal dengan nama Omjay.

Dalam banyak kesempatan, Omjay selalu berpesan, “Menulislah setiap hari, dan rasakan keajaibannya.” Ia percaya bahwa setiap guru punya kisah yang layak dituliskan dan dibagikan. WhatsApp menjadi media yang pas karena mengakomodasi proses ini dengan sederhana namun mendalam.

Komentar Omjay, Guru Blogger Indonesia

Omjay yang menjadi tokoh sentral dalam KBMN PGRI mengatakan:

> “WhatsApp itu sederhana tapi luar biasa. Lewat WhatsApp, kita bisa menjangkau ribuan guru dalam satu waktu, memberikan materi, mendampingi, dan menyemangati mereka untuk menulis. Bukan alatnya yang penting, tapi niat dan konsistensinya. Bagi kami, WhatsApp adalah jembatan menuju budaya literasi.”

Ia juga menambahkan bahwa banyak guru yang awalnya hanya pembaca pasif di grup WhatsApp, akhirnya berani menulis dan menerbitkan buku setelah mengikuti KBMN. Ini menunjukkan bahwa kekuatan komunitas dan motivasi bersama bisa mengubah seseorang dari “tidak bisa” menjadi “luar biasa”.

Hasil yang Terlihat Nyata

Sejak KBMN pertama kali diluncurkan, sudah ribuan guru dari seluruh Indonesia bergabung dan menghasilkan ratusan buku. Ada buku antologi, buku motivasi, bahkan buku pelajaran yang ditulis oleh para peserta KBMN.

Beberapa di antara mereka juga menjadi narasumber dalam pelatihan literasi, bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah daerah karena telah menginspirasi rekan-rekan sejawat untuk menulis.

WhatsApp: Teknologi Sederhana, Dampak Luar Biasa

Di tengah maraknya aplikasi pembelajaran daring, KBMN PGRI justru membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu ditentukan oleh teknologi yang canggih, melainkan oleh kebersamaan, semangat, dan kemauan untuk berbagi ilmu. WhatsApp, yang awalnya hanya digunakan untuk komunikasi biasa, disulap menjadi ruang belajar yang penuh makna.

Di sinilah letak keistimewaan KBMN: bukan platform yang menentukan kualitas pembelajaran, tetapi kualitas komunitas dan niat baik penggeraknya.

Penutup

Belajar menulis lewat WhatsApp mungkin terdengar sederhana. Tapi di tangan para guru pejuang literasi, aplikasi ini menjadi senjata perubahan. KBMN PGRI bukan hanya sekadar program menulis, melainkan gerakan moral dan kultural yang menghidupkan semangat literasi dari bawah. WhatsApp hanyalah alat. Namun dengan niat, semangat, dan pendampingan yang tulus, alat sederhana ini bisa melahirkan ribuan penulis hebat di negeri ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Guru Penggerak Seharusnya Mampu Menjadi Guru Pendobrak

Guru penggerak seharusnya mampu menjadi guru pendobrak. Bukan guru penurut yang mengikuti kebijakan penguasa yang kurang tepat. Guru harus mampu berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat yang benar.

Memang harus diakui. Tidak mudah menjadi guru pendobrak. Selalu saja ada rintangan, dan hambatan yang datang menghadang. Namun, keberanian dan kepekaan terhadap dinamika yang terjadi membuatnya terus bergerak, tergerak, dan akhirnya menggerakkan.

Hadirnya program pendidikan guru penggerak di era mendikbudristek Nadiem Makarim semestinya tidak membuat diskriminatif terhadap guru. Seolah guru terbagi menjadi dua yaitu guru penggerak dan bukan guru penggerak. Mereka yang tidak beruntung harus pasrah menerima kebijakan yang kurang tepat dari Kemdikbudristek.

Perlu kita sadari peran guru sangat penting. Oleh karena itu diperlukan guru-guru berkualitas. Namun yang bisa menikmati peningkatan kualitas pendidikan hanya guru-guru terpilih saja. Sedangkan guru lainnya hanya pasrah menerima keadaan dengan jenjang karier yang mentok sebagai seorang guru. Mereka dibungkam dengan kebijakan dan diminta menuruti kehendak penguasa.

Pengangkatan calon kepala sekolah dan pengawas sekolah di sekolah negeri seharusnya tak mutlak dari jalur guru penggerak. Sebab sejatinya semua guru memiliki kesempatan untuk peningkatan karier yang sama sesuai kompetensinya.

Pemerintah harus memberikan kesempatan kepada semua guru baik guru penggerak maupun non guru penggerak Kemdikbudristek untuk mengikuti seleksi calon kepala sekolah dan dan pengawas sekolah dengan penelusuran rekam jejak secara  komprehensif selama bertugas. Hal ini telah banyak dilakukan sekolah swasta sehingga mereka mampu melahirkan kepala sekolah inspiratif, dan membawa sekolahnya unggul di masyarakat.

Diskriminasi karier guru yang dituliskan oleh catur Nurochman Oktavian bendahara pengurus besar PGRI, wakil ketua dewan eksekutif APKS PGRI, dan kepala SMPN 3 Tenjo kabupaten Bogor di harian kompas edisi 27 Januari 2024 perlu menjadi catatan penting Kemdikbudristek.

Idealnya semua guru adalah guru penggerak tanpa dilabeli sebuah program pendidikan guru penggerak selama 6 bulan. Seharusnya semua guru mendapatkan kesempatan yang sama untuk peningkatan profesionalisme guru. Guru perlu seperti tentara yang jelas kenaikan pangkatnya dari kopral hingga jenderal.

Sampai saat ini belum kita dapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa lulusan program guru penggerak Kemdikbudristek lebih baik dari guru yang tidak mengikuti program pendidikan guru penggerak.

Jadi seharusnya semua guru diberikan kesempatan untuk peningkatan karier dirinya menjadi kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Bukan hanya guru yang mengikuti program pendidikan guru penggerak saja. Sejatinya semua guru adalah guru penggerak.

Omjay sendiri sudah mengikuti program pendidikan guru penggerak selama 6 bulan dan lulus di angkatan 7. Berdasarkan hasil pengamatan Omjay, tidak semua lulusan guru penggerak mampu menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah. Mungkin ini sifatnya masih subyektif dan perlu dilakukan penelitian tindak lanjut.

Kebanyakan lulusan guru penggerak menjadi guru penurut dan kurang mengkritisi kebijakan Kemdikbudristek yang kurang tepat. Bahkan cenderung menjadi corong yang mendukung kebijakan penguasa. Mereka juga sudah berubah dari seorang pendidik menjadi pemburu sertifikat demi kenaikan pangkat. Mereka bahkan bangga telah terjajah aplikasi PMM. Tirani aplikasi membuat guru asyik di depan komputer, dan justru menjauh dari siswanya.

Omjay bersyukur kepada Allah SWT telah diberikan kesempatan mengikuti program pendidikan guru penggerak. Masih banyak yang harus diperbaiki dari program pendidikan guru penggerak. Modul-modul di LMS Kemdikbudristek harus direvisi dan disempurnakan sehingga menghasilkan guru penggerak yang berani menjadi guru pendobrak. Guru mampu memimpin pembelajaran yang mengundang selera siswa untuk belajar secara mandiri dan kelompok.

Demikianlah kisah Omjay kali ini tentang guru penggerak yang seharusnya menjadi pendobrak dan berani mengkritisi kebijakan Kemdikbudristek yang kurang tepat. Guru harus berani menyampaikan secara lisan dan tulisan. Tentu saja dengan data dan fakta yang bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara akademik.

Salam blogger persahabatan

Omjay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

 

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Guru Penggerak Seharusnya Mampu Menjadi Guru Pendobrak”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/65fb41d3de948f4895240574/guru-penggerak-seharusnya-mampu-menjadi-guru-pendobrak

Kreator: Wijaya Kusumah

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com