Posted on: July 27, 2020 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Membangun Labschool sebagai Center of Excellence dalam menjawab Tantangan Global dalam Memasuki Era Disrupsi

Membangun Labschool sebagai Center of Excellence dalam menjawab Tantangan Global dalam Memasuki Era Disrupsi

Oleh: Wijaya Kusumah

  1. PENDAHULUAN

Labschool adalah sebuah sekolah yang didirikan pada tahun 1968. Saya membacanya di http://labschool-unj.sch.id/home/sejarahSingkat. Perjalanan sekolah Labschool sangat panjang dan alhamdulillah dapat diterima dengan baik di masyarakat akademik. Setiap pendaftaran siswa baru selalu banyak peminatnya dan terpilihlah siswa terbaik. Membaca sejarah Labschool yang cukup panjang membuat saya dan kawan kawan guru semakin tertarik untuk melakukan inovasi di dalamnya.

Inovasi dalam bidang pendidikan memang menjadi tantangan kita bersama untuk melakukannya. Kita harus bekerjasama melakukan perubahan ini. Membangun supertim yang solid harus dilakukan agar Labschool menjadi tempat berkumpulnya masyarakat berpengetahuan. Kerjasama dalam membangun tim harus terus meningkat.

Center of Excellence harus diterjemahkan menjadi sekolah ramah anak dan berprestasi. Juga mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan di Era Disrupsi. Labschool harus mampu menciptakan calon pemimpin masa depan yang berakhlaqul Karimah. Oleh karena itu semua guru harus dibekali dengan sifat kenabian yaitu sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah (STAF).

Tantangan global yang dihadapi harus dijawab dengan membina siswa melalui pendidikan karakter yang baik sehingga terbentuk school culture sekolah yang unggul di masyarakat. Labschool harus mampu mentransformasikan sistem pendidikan yang menjawab tantangan kecakapan hidup di abad 21. Pembelajaran abad 21 harus digiring ke dalam 4 hal yaitu critical thinking and problem solving, creativity and innovation, communication, dan collaboration.

Pada communication peserta didik dituntut untuk memahami,  mengelola,  dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Siswa diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya. Pada collaboration, siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama kelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab. Pada critical thinking and problem solving, siswa berusaha memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri. Pada creativity and innovation,  siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan gagasan baru kepada yang lain,  bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

Peranan sekolah Labschool dalam penerapan keempat hal di atas adalah:

  1. Meningkatkan kebijakan dan rencana sekolah untuk mengembangkan keterampilan baru
  2. Mengembangkan arahan baru kurikulum
  3. Melaksanakan strategi pembelajaran yang baru dan relevan atau kebaruan
  4. Membentuk kemitraan sekolah di tingkat regional,  nasional, dan internasional.

Labschool juga harus mampu menyiapkan dan menterjemahkan sistem pendidikan di era digital. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi dan berinteraksi walaupun jarak yang melewati batas wilayah negara. Era digital mewajibkan kita untuk mampu menciptakan informasi baru sehingga dalam hitungan detik dapat terhubung dan tersebar ke seluruh dunia. Semua serba online dan nyaris tanpa kertas atau paperless. Sekolah online tak bisa dihindari di saat wabah covid19 belum hilang. Layanan pendidikan yang bersifat online harus menjadi fokus kita dalam melayani orangtua, siswa dan guru labschool lainnya.

Kepala sekolah memiliki peranan paling utama tidak hanya mengisi fungsi managerial di sekolah yang merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi berbagai program sekolah, tetapi juga secara moral dan etik adalah sebagai motor utama dalam arah pengembangan sekolah. Dalam konteks itu, kepala sekolah dituntut untuk memiliki tidak hanya etos kerja profesional, kompetensi sosial, kompetensi manajerial dan kompetensi kewirausahaan, tetapi juga mumpuni dalam pengembangan pendidikan.

Pemahaman terhadap arah dan trend pendidikan global dan adaptif terhadap tren serta kebijakan di tingkat nasional, salah satunya adalah contoh kesiapan dalam pengembangan sekolah-sekolah Labschool. Begitulah kalimat pertama yang saya baca dalam acuan penulisan artikel ini. Labschool sudah seharusnya menjadi komunitas penggerak di negeri yang mayoritas penduduknya tinggal di pedesaan.

Kepala sekolah yang mampu merancang dan melaksanakan program dengan baik serta mampu mengevaluasi program kerjanya bersama tim yang solid, tentu sangat diperlukan dalam membangun labschool menjadi sekolah unggul di masyarakat. Kepala sekolah mampu memimpin gerbong pasukannya agar sampai kepada tujuan yang diharapkan.

Oleh karena itu, semua stake holder yang ada di dalamnya harus mampu bekerjasama sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Kepemimpinan kepala sekolah akan teruji dengan berbagai masalah yang dihadapinya. Seperti motto pegadaian, mengatasi masalah, tanpa masalah. Kepala sekolah yang cerdas pasti akan selalu mencari slusi terbaik dari permasalahan yang ada.

B. TUGAS PEMIMPIN DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Pada Abad ke-21 ini, labschool sebagai lembaga pendidikan harus berbenah diri. Perubahan dan adanya wabah corona telah mendisrupsi kita sebagai warga dunia yang saling terkoneksi satu dengan lainnya. Labschool sebagai lembaga pendidikan tentu terkena dampaknya. Kita sama-sama belajar dari pandemi Covid-19.

Begitu juga kegiatan di kelas nyata yang sekarang pindah ke kelas maya dengan menggunakan berbagai LMS dan aplikasi video conference. Itulah kecanggihan teknologi. Guru dipaksa mengenal berbagai aplikasi baru dan mampu menciptakan pola belajar efektif dari rumah. Kepala sekolah yang melek teknologi akan berusaha membuat sekolahnya mampu beradaptasi dengan teknologi yang ada.

Bagaimana pendidikan dan sekolah membuka peluang untuk menyiapkan generasi yang siap untuk bersaing dan berkolaborasi dalam lingkup global. Tantangan ini akan dapat dijawab oleh seorang kepala sekolah yang visioner. Labschool setiap tahun telah mengirimkan peserta didiknya untuk belajar dan mengenal budaya sekolah di setiap negara yang dikunjunginya.

Saya sendiri pernah menjadi pendamping anak-anak Labschool ke Jepang untuk belajar di sana. Sekitar 40 siswa kami dampingi untuk belajar di sekolah Jepang dan mengenal budayanya. Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner saya lihat sendiri dari negara yang kami kunjungi. Kepemimpinan memiliki peranan sangat penting dalam rangka memastikan pemanfaatan teknologi menjadi bagian permanen dari pengalaman pendidikan dalam pembelajaran. Dengan menciptakan tim yang kuat, membangun dukungan masyarakat, mengelola perubahan secara mumpuni, dan merencanakan keberlanjutan jangka panjang, para pemimpin yang terampil dapat memberdayakan sistem sekolah tidak hanya untuk menggunakan perangkat seluler.

Saling bersinergi dengan pimpinan badan pengelola sekolah (BPS) labschool di bawah yayasan pembina Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sebagai sekolah yang dikelola dan dikembangkan oleh UNJ, tentu kepala sekolah harus terus berkomunikasi dengan baik dan menjalin keharmonisan dalam menyiapkan dan menerjemahkan sistem pendidikan di Era Digital.

Sebagai pengingat, tujuan akhir dari sekolah tentu adalah kompetensi peserta didik. Adapun cakupan kompetensi yang dituntut Abad 21 mencakup: Pendidikan karakter (ciri dan atribut pribadi seperti tanggung jawab, ketekunan, dan empati);

  • Kewarganegaraan (pengetahuan tentang isu-isu global, rasa hormat terhadap budaya lain, keterlibatan dalam isu kemanusiaan dan lingkungan);
  • Komunikasi: kemampuan berkomunikasi secara efektif dan aktif mendengarkan pendidk;
  • Pemikiran kritis, pemecahan masalah dan membuat keputusan yang efektif;
  • Kolaborasi: bekerja dalam tim, belajar dari dan berkontribusi pada pembelajaran orang lain dan berkolaborasi dengan beragam individu; dan
  • Kreativitas dan imajinasi: mempertimbangkan dan mengejar ide-ide baru, dapat memimpin orang lain dan berwirausaha.

C. TANTANGAN LABSCHOOL DALAM MENYIAPKAN SISTEM  PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL.

Ada banyak tantangan yang akan dihadapi Labschool dalam membenahi sistem pendidikan di Indonesia. Walaupun sudah berpengalaman dari tahun 1968 dalam mengelola sekolah, Labschool diharapkan mampu melakukan inovasi baru di bidang pendidikan. Sekolah laboratorium yang dulu digagas oleh IKIP Jakarta dan bersama IKIP lainnya di seluruh Indonesia harus mulai berbenah diri dan mulai melakukan analisis SWOT. Apa yang dimaksud dengan analisis SWOT?

Pengertian Analisis SWOT adalah suatu metode perencanaan strategis untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam usaha mencapai tujuan, yaitu kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats), baik itu tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan begitu Labschool akan mampu mengukur dirinya dalam menterjemahkan sistem pendidikan di era digital.

Model pembelajaran Blended Learning nampaknya akan banyak dipakai labschool untuk pembelajaran secara online dan offline. Kepemimpinan kepala sekolah tentu sangat diperlukan dalam meramu strategi pembelajaran agar Labschool berprestasi dan mampu beradaptasi di era digital sekarang ini.

Perkembangan teknologi di era digital saat ini bukanlah hambatan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Kecanggihan teknologi justru menjadi media bagi lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan. Bagaimana pendidikan menjawab tantangan zaman sehingga bisa melahirkan anak-anak yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman (pengetahuan dan teknologi), sekaligus tetap menjaga nilai-nilai moral yang luhur di masyarakat. Budaya bangsa seharusnya dilestarikan dan bukan budaya dari luar negeri yang belum tentu cocok dengan negera kepulauan seperti Indonesia. Labschool harus menjadi pusat dalam mengembangkan budaya sekolah dan pendidikan karakter bangsa.

Pendidikan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring perkembangan zaman. Memasuki era digital seperti saat ini, perkembangan anak didik sangat berbeda dengan zaman dulu. Misalnya saja dari segi permainan. Jika anak-anak pada zaman dulu masih banyak yang memainkan permainan tradisional, anak-anak zaman sekarang sangat jarang yang pernah atau bisa memainkannya. Justru mereka lebih akrab dengan permainan dalam aplikasi sebuah gadget.

Tidak bisa dipungkiri bahwa internet sendiri bukan lagi barang langka bagi generasi masa kini. Bahkan internet menjadi makanan sehari-hari mereka. Perkembangan sekarang ke era digital, internet di gadget sudah gampang banget, jadi bukan suatu hal yang mewah lagi. Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi dan kemudahan melakukan berbagai aktivitas berisiko menjauhkan anak dari nilai-nilai luhur di masyarakat.

Banyak kasus yang terjadi pada anak-anak yang akrab melakukan aksi bullying (kekerasan kepada orang lain yang sebaya), menjadi individualis, dan kurang bisa bersosialisasi di masyarakat. Belum lagi mudahnya mengakses informasi membuat anak-anak lebih dini mengenal tentang seksualitas. Anak-anak di pedesaan maupun di perkotaan sama-sama terkepung perkembangan zaman. Jika tidak dibentengi ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan diri mereka. Kami meramunya dalam kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa yang disingkat LDKS.

Labschool sebagai lembaga pendidikan dituntut mampu menyelaraskan antara perubahan zaman yang ditandai dengan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai budi pekerti. Dengan begitu, maka sekolah bisa menjadi benteng moral bagi anak-anak sehingga mereka dapat tumbuh beriringan dengan teknologi dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif.

Tak heran jika pemerintah mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang harus dijalankan setiap institusi pendidikan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa/karsa, olah pikir, dan olah raga dengan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Penguatan Pendidikan Karakter bertujuan untuk membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi penerus guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Namun jauh sebelum Peraturan Presiden (perpres) dikeluarkan, banyak sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran budi pekerti untuk menunjang pendidikan karakter pada siswanya. Banyak instansi pendidikan yang hadir dengan membawa visi dan misi yang mengarah pada penguatan karakter, baik di sekolah umum, sekolah berbasis agama, maupun lainnya. Masing-masing sekolah pun memiliki gaya tersendiri dalam mewujudkan visi dan misi yang mengarah pada pengembangan karakter. Sekolah tentu ingin melahirkan anak-anak berkualitas yang berkarakter baik.

Pendidikan memang harus mampu menghadapi tantangan Zaman, karena itu peran sekolah dalam membina karakter anak-anak menjadi sangat penting. Pengetahuan, keterampilan, dan moralitas yang tinggi menjadi pondasi yang kuat bagi setiap anak dalam menjalani kehidupannya. Dengan pendampingan dan pendidikan yang tepat maka mereka akan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan zamannya.

Labschool harus memiliki kelas berbasis riset dimana guru terbiasa meneliti di kelasnya sendiri dengan fasilitas yang ada. Apalagi saat ini, guru harus mampu berinovasi dan kreatif di kelas maya saat virus corona semakin merajalela. Pembelajaran yang biasa dilakukan di kelas secara tatap muka, kini harus melalui kelas maya secara virtual dengan berbagai aplikasi.

Ketersediaan sarana dan prasarana di ruang kelas sangat dibutuhkan dalam pembelajaran di kelas nyata. Namun sekarang, kita juga harus menyiapkannya di kelas maya. Tentu saja pembelajaran di kelas modern akan sangat sedikit menggunakan kertas. Sebab semuanya serba digital. Guru harus mampu menyiapkan materi pelajarannya dalam bentuk digital. Sehingga mudah disebarluaskan kepada peserta didiknya. Mereka dengan mudah dapat menangkap materi pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Guru menjadi konten kreator, dan harus mampu membuat media pembelajarannya.

Kelas yang modern berbasis penelitian menjadi fokus utama dalam pembelajaran digital di era revolusi industri 4.0 dan di masa pandemi Covid-19. Guru harus mampu meneliti di kelasnya sendiri dengan fasilitas yang ada di sekolah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menjadi salah satu metodenya. Guru mampu merencanakan, melaksanakan, mengamati dan melakukan refleksi diri dari apa yang sudah dilakukannya di kelas. Baik di kelas nyata secara lngsung maupun di kelas maya secara virtual.

Kepala sekolah yang visioner sangat dibutuhkan perannya dalam mewujudkan itu. Sebagai kepala sekolah tentu harus mampu melaksanakan program sekolah yang sesuai dengan 8 standar nasional pendidikan. Mulai dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL), standar isi, standar proses, standar pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan sampai standar penilaian pendidikan. Juga standar kesehatan dan keamanan bagi guru-gurunya. Kepala sekolah yang baik akan mampu berbagi tugas dan melakukan kolaborasi antar matapelajaran sangat dibutuhkan dalam masa pandemi ini.

Sekarang ini guru harus berada selama 8 jam di sekolah. Saat covid-19 mewabah, guru di Labschool mengajar hanya sampai pukul 12.00 WIB. Semua guru harus merasakan kenyamanan dalam melakukan pembelajaran di kelasnya masing masing. Baik kelas nyata maupun kelas maya. Mulai dari bel pertama dibunyikan sampai bel jam terakhir selesai. Wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana harus mampu bekerjasama dengan wakil bidang akademik dan kesiswaan. Sebab semuanya saling terkait dan melengkapi. Mereka seperti tubuh yang satu, bila ada anggota tubuh yang sakit, maka yang lainnya ikut sakit.

D. TUGAS POKOK KEPALA SEKOLAH

Kegiatan akademik, non akademik, kesiswaan, dan sarana prasarana serba digital yang memadai harus dibuat dalam rancangan Anggaran Pengeluaran Belanja Sekolah (RAPBS) yang biasanya dibuat sebelum tahun ajaran baru berlangsung. Pimpinan sekolah sudah merencanakan apa saja yang harus dikerjakan. Sesuai dengan permendikbud no.6 tahun 2018.

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Kepala Sekolah berdasar-kan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018. Mengacu pada Pasal 15 Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah, dinyatakan bahwa Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Kepala Sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Beban kerja Kepala Sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada Guru dan tenaga kependidikan.
  2. Beban kerja Kepala Sekolah bertujuan untuk mengembangkan sekolah dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan 8 (delapan) standar nasional pendidikan.
  3. Dalam hal terjadi kekurangan guru pada satuan pendidikan, Kepala Sekolah dapat melaksanakan tugas pembelajaran atau pembimbingan agar proses pembelajaran atau pembimbingan tetap berlangsung pada satuan pendidikan yang bersangkutan.
  4. Kepala Sekolah yang melaksanakan tugas pembelajaran atau pembimbingan, tugas pembelajaran atau pembimbingan tersebut merupakan tugas tambahan di luar tu gas pokoknya.
  5. Beban kerja bagi kepala sekolah yang ditempatkan di SILN selain melaksanakan beban kerja juga melaksanakan promosi kebudayaan Indonesia.

E. KELAS MODERN BERBASIS RISET.

Kelas yang modern itu tidak melulu harus berbasis ICT. Sebab belum tentu setiap sekolah dapat mewujudkannya. Kecuali, di SMP Labschool Jakarta yang penulis sudah berada di dalamnya dari tahun 1994 hingga sekarang ini. Sekolah berbasis ICT dan Riset sudah seharusnya dilakukan agar SMP Labschool Jakarta unggul di mata masyarakat berpengetahuan. Begitu juga dengan sekolah Labschool lainnya.

Sudah seharusnya di meja guru ada komputer yang sudah siap terhubung ke slide proyektor dan terkoneksi ke internet. Guru tak perlu lagi membawa laptop ke kelas. Guru tinggal menayangkan materi ajarnya dari internet atau dari server yang terhubung dengan jaringan intranet sekolah. Pembelajaran elearning bisa langsung dilakukan tanpa harus terkoneksi dengan internet. Sebab semua materi ajar guru sudah ada di server sekolah.

Pimpinan sekolah tinggal memonitor keadaan setiap kelas melalui CCTV yang terpasang di setiap kelas. Bila ada guru yang tidak masuk akan dapat dengan mudah diketahui dan diganti oleh guru piket yang bertugas di jam itu. Sehingga tak ada kelas yang kosong tanpa guru. Begitu juga di kelas maya, bila ada guru yang tidak hadir, dapat digantikan dengan guru lainnya, karena terpantau oleh pimpinan sekolah.

PAPERLESS atau kelas tanpa kertas sudah bisa diterapkan sejak lama karena sangat mudah untuk diterapkan. Didalam kelas menggunakan smartphone (tab) masing-masing siswa. Jaringan WIFI didalam kelas = Intranet dan Internet. Jika hanya Intranet saja tidak ada masalah otomatis smartphone (tab) yang digunakan tanpa Internet jadi lebih FOKUS ke Isi konten yang ada. Isi konten yang mengisi dari pihak sekolah misalnya guru/administasi TU. Semua itu harus disesuaikan dengan kebijakan sekolah. Sudah saatnya ponsel pinter diizinkan masuk ke ruang kelas kita. Guru dan orang tua siswa harus sama sama ikut terlibat dalam proses pengawasannya dan menjadi pemandunya.

Dalam pembelajaran digital, semua siswa akan terlayani dengan baik dan merasakan pembelajaran yang menyenangkan dengan suasana ruangan yang sejuk dan bersih. Kebersihan kelas terjaga dengan baik dan tidak ada pemadaman listrik dari PLN. Bila ini terjadi harus ada solusi agar siswa tetap belajar dengan nyaman, walaupun AC mati dan listrik tidak menyala. Salah satu solusinya adalah menyediakan ruangan terbuka dengan penghijauan tanaman di lingkungan sekolah. Peran Karyawan pramubakti sangat penting dalam menjaga kondisi kelas dan ruangan lainnya tetap bersih dan nyaman.

F. PENUTUP

Labschool akan benar-benar menjadi rumah kedua. Mereka betah berada di kelas karena sarana dan prasarananya sangat menunjang. Semua siswa merasakan kenyamanan sehingga sekolah menjadi rumah kedua sebagai tempat untuk belajar, berprestasi dan mengembangkan potensi unik siswa. Bakat dan minat siswa terasah dengan baik. Siswa tergali potensinya dengan kegiatan ekstrakurikuler yang terjadwal.

Salah satu yang tidak kalah penting adalah tentang pengelolaan kelas di sekolah. Kelas yang terjaga kebersihannya, dan fasilitas lengkap akan membuat mereka betah selama 8 jam berada di sekolah. Kebersihan sebagian daripada iman. Guru harus mampu menanamkan penguatan pendidikan karakter kepada para siswanya. Mereka harus diajari pentingnya menjaga kebersihan di kelas. Dari pagi hingga sore hari.

Terus terang harus diakui, siswa SMP Labschool Jakarta belum mampu menjaga kebersihan kelasnya masing-masing. Hal ini membuat sekolah kita belum pernah mendapatkan penghargaan sebagai sekolah terbersih tingkat nasional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah terus menerus mengajak siswa agar membuang sampah pada tempatnya dan menjaga agar piket kebersihan kelas berjalan baik. Kemampuan mengelola kelas ini harus dipantau dari berjalannya kepengurusan kelas. Ketua kalas harus diberikan kesempatan untuk memimpin kelasnya dengan baik.

Sebagai salah satu sekolah rujukan dari kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, SMP Labschool Jakarta sering dikunjungi sekolah-sekolah dari Negara lain. Sarana dan prasarana yang memadai dan lengkap tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah kita. Semua itu terwujud kalau Labschool telah melengkapi standar sarana dan prasarana sesuai dengan 8 standar nasional pendidikan.

Visi dan misi sekolah SMP Labschool Jakarta harus dituliskan dengan jelas. Kita harus mampu menetapkan dulu visi dan misi bidang akademik, kesiswaan dan sarana prasarana sekolah yang tentu saja disetujui oleh kepala sekolah dan pimpinan sekolah lainnya. Jadi sekolah cerdas atau Smart School berbasis TIK dan Riset adalah salah satu contohnya. Dari hasil riset inilah kita bergerak bersama dosen UNJ yang akan memberikan masukan dan saran untuk pembelajaran di kelas modern.

Kelas modern berbasis riset dan pembelajaran digital di era revolusi industry 4.0 dan Covid-19 akan terjadi bila kepala sekolah memahami tupoksi, melakukan inovasi dan memahami misi dan visi sekolah dengan baik. 

Daftar Bacaan:

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.