Posted on: April 25, 2020 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Puasa Ramadhan Hari Kedua

Puasa Hari Kedua di Bulan Ramadhan.

Pagi ini makan sahur dengan soto ayam dan peyek kacang. Minum teh hangat tanpa gula nikmat terasa. Istri tercinta sudah menyiapkannya di meja makan keluarga.

Sambil menonton acara “preman pensiun” di televisi melalui laptop. Di rumah sudah lama tidak ada pesawat televisi. Jadi kalau nonton acara televisi ya lewat internet.

Kocak juga sinetron “preman pensiun”. Entah sudah periode ke berapa saya tak mengikutinya. Kang mus, Kang Pipit, Kang Murad dan Ce Edoh adalah tokoh tokoh sinetron ini yang membuat kami tersenyum. Mereka pintar dalam bermain peran.

Salut sama sutradara yang buat filmnya. Juga penulis skenarionya. Setiap kata dan kalimat disusunnya begitu bermakna dengan cara menghibur. Tontonan berubah menjadi tuntunan yang membuat kita akhirnya pandai mentertawakan dirinya sendiri.

Soto ayam dan peyek kacang membuat selera makan sahur kami bertambah. Tak terasa sudah 2 piring. Biasanya makan sahur tak bisa makan banyak. Satu piring sudahlah cukup.

Hari kedua ini nafsu makan begitu tinggi. Kami bersyukur karenanya. Soto ayam yang dibeli kemarin malam masih bisa dihangatkan. Disimpan istri di kulkas bagian bawah. Peyek kacang buatan istri masih tersimpan rapat di toples. Istri bikin sendiri banyak sekali.

Di saat kami hampir kenyang, di tempat lain masih banyak yang kelaparan. Istri mengingatkn agar berhenti makan sebelum kenyang. Puasa mengajarkan kita untuk merasakan derita orang yang kelaparan. Sehingga sikap tepo seliro dan tenggang rasa serta empati selalu berada dalam diri orang yang beriman. Mampu menahan haus dan lapar. Menahan hawa nafsu itu intinya.

Waktu subuh tiba. Kami sholat berjamaah. Usai sholat, Istri membaca kitab suci al Quran. Saya membetulkan bacaan istri bila kurang pas di telinga. Setelah itu mencoba komitmen menulis setiap hari selama bulan ramadhan.

Puasa hari kedua ini semoga dapat dijalani dengan baik. Biasanya habis subuh sudah berangkat ke sekolah Labschool di Rawamangun Jakarta Timur. Pukul 05.30 wib sudah harus berangkat ke sekolah.

Kini sekolah diliburkan. Wabah covid19 membuat kami bekerja dan berkarya dari rumah. “Work From Home”. Saya manfaatkan kesempatan emas ini untuk menciptakan judul buku baru.

Belum tahu nama judul bukunya. Mungkin judulnya “kisah guru blogger di bulan ramadhan”. Sebuah kisah tidak penting menjadi penting. Tinggal dipasrahkan saja kepada para pembaca. Kalau isinya bagus pasti banyak yang beli. Seperti buku menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Hari kedua puasa membuat saya sangat bersyukur karena masih mendapatkan begitu banyak rezeki. Ada saja rezeki datang sesuai harapan. Ada yang kirim buku, kurma, pulsa, teh dan sembako untuk makan sahur dan berbuka puasa. Allah telah kabulkan doa-doa saya. Semoga doa yang lain segera dikabulkan. Aamiin.

Selama bekerja di rumah penghasilan memang menurun. Tak ada lagi pemasukan jadi pembicara nasional seperti biasanya. Tapi kebahagiaan bersama keluarga meningkat. Kita selalu berkumpul bersama di rumah. Dari pagi hingga malam hari. Dari bangun tidur sampai tertidur lagi. Kebersamaan dalam keluarga sangat terasa.

Hari biasa berangkat ke sekolah habis sholat subuh dan pulang dari sekolah habis sholat maghrib. Jarang sekali saya pulang sore. Sebab banyak pekerjaan yang dilakukan. Terutama tentang penelitian desertasi yang sebentar lagi akan selesai pengolahan datanya.

Di dalam rumah mulai sepi kembali. Anak dan istri mulai tertidur lagi setelah mereka mengaji. Saya sempatkan menulis cerita ini. Kisah seorang guru yang menulis setiap hari. Semoga apa yang saya alami membuat anda ikut menulis setiap hari.

Terkadang kita pandai sekali dalam berbicara. Lisan kita jauh lebih oke dari tulisan para juara. Sekarang anda tidak hanya pintar ngomong tapi juga pintar menulis dong. Oleh karenanya menulis setiap hari harus dilatih. Cara saya menulis kisah sehari hari. Menulis hal-hal biasa menjadi luar biasa.

Salut dengan istriku. Setiap hari komitmen membaca quran. Hasilnya sudah mulai terlihat. Bacaannya sudah semakin bagus dan enak didengar. Begitu juga dengan menulis. Semakin sering kita menulis, maka semakin lancar memainkan kata.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.