Posted on: March 5, 2016 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 7

TIK Tak Cukup Sekedar Bimbingan

Tak Cukup Sekadar Bimbingan

Guru Bersikukuh Teknologi Informasi dan Komunikasi Tetap Jadi Mata Pelajaran

JAKARTA, KOMPAS — Perubahan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA atau sederajat menjadi sekadar bimbingan teknologi informasi dan komunikasi tetap ditolak para guru. Pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi dinilai tetap harus menjadi mata pelajaran agar semua siswa menguasai TIK secara terstruktur.

Wakil Ketua Komunitas Guru TIK dan Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (Kogtik) Tri Budi Harjo, di Jakarta, Jumat (4/3), mengatakan, Kogtik yang beranggotakan lebih dari 1.500 guru TIK/KKPI di seluruh Indonesia meyakini kebijakan Kemdikbud yang menghapuskan mata pelajaran TIK di jenjang SMP dan SMA serta KKPI di jenjang SMK dalam Kurikulum 2013 keliru. Pemahaman para guru tersebut didukung sejumlah pakar TIK Indonesia.

Sejauh ini, pemerintah menganggap TIK hanya sekadar alat bantu pembelajaran yang bisa diajarkan semua guru dalam penyampaian materi pelajaran. Intinya, TIK hanya dipahami sebatas alat.

Dalam perkembangan sekarang ini, kata Tri, TIK itu merupakan ilmu yang terus berkembang. Jika anak-anak Indonesia sejak di bangku sekolah tidak mendapatkan materi TIK yang terstruktur seperti mata pelajaran lain, bangsa ini akan semakin tertinggal.

“Padahal, kemampuan menguasai TIK sebagai keterampilan atau ilmu akan membuat generasi emas bangsa bisa mendorong kemajuan bangsa,” ujar Tri yang sehari-harinya mengampu TIK di SMPN 22 Surakarta.

Menurut Tri, dengan menjadikan TIK sebagai bimbingan, dalam kenyataannya sulit bagi guru untuk bisa mendapatkan alokasi waktu menyampaikan materi TIK yang penting bagi siswa. Bimbingan lebih dipandang jika dibutuhkan saja. Padahal, dalam pendidikan abad ke-21, penguasaan TIK menjadi keharusan. Wijaya Kusumah, guru TIK di SMP Labschool Jakarta yang juga Koordinator Kogtik, mengatakan, para guru terus berjuang agar TIK dikembalikan sebagai mata pelajaran. Perjuangan juga sudah disuarakan melalui Dewan Pertimbangan Presiden.

“Kami diminta untuk menyiapkan naskah akademik mengapa TIK dibutuhkan sebagai mata pelajaran. Ini sudah kami siapkan untuk diserahkan kepada Dewan Pertimbangan Presiden serta Kemdikbud,” kata Wijaya.

Wijaya meyakini TIK adalah keniscayaan yang sangat dibutuhkan banyak orang. Generasi emas Indonesia harus terdidik TIK dengan baik melalui materi TIK terstruktur dan sistematik mulai dari jenjang SD hingga SMA. Perkembangan TIK mengubah kehidupan, termasuk dalam perdagangan dan pemerintahan.

“TIK bukan hanya alat bantu, melainkan ilmu baru yang terus berkembang yang dibutuhkan generasi saat ini. Indonesia belum optimal mendayagunakan potensi TIK secara baik sehingga Indonesia terancam kesenjangan digital dan semakin tertinggal dari negara-negara maju,” ujar Wijaya.

Dorong kompetensi guru

Onno W Purbo, pakar TIK Indonesia, mendukung dipertahankannya mata pelajaran TIK. Bahkan, Onno mendorong pengembangan kompetensi guru TIK, termasuk dalam mengusai e-learning. Para guru TIK berupaya meningkatkan kompetensi pengakaran TIK yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Program e-learning yang menghadirkan sejumlah pakar TIK dalam negeri dengan biaya yang terjangkau rutin dilaksanakan. Termasuk pula mengembangkan Komunitas Sejuta Guru Ngeblog yang mengadakan pelatihan guru menulis dan ngeblog.

Secara terpisah, Santi Indra Astuti, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, mengatakan, literasi digital di kalangan remaja Indonesia belum terbentuk. Mereka belum mampu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk menjadi pembelajar. Padahal, secara akses, kini tidak ada lagi hambatan karena Wi-Fi juga tersedia di banyak tempat. “Perlu dioptimalkan pembelajaran soal memanfaatkan TIK, termasuk beretika di media sosial, kepada remaja,” kata Santi. (ELN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Maret 2016, di halaman 12 dengan judul “Tak Cukup Sekadar Bimbingan”.

koran kompas
koran kompas
Categories:

7 People reacted on this

  1. Saya sangat mengapresiasi perjuangan bapak Tri Budi Harjo. Perjuangan seorang GURU TIK dari SMP Negeri 22 Surakarta. Beliau adalah guru TIK yang tidak kenal MENYERAH. Beliau berani berteriak lantang. Kembalikan Mapel TIK kedalam KURIKULUM dan TOLAK adanya Bimbingan TIK. walaupun sudah ada permen 68/2014 dan permen 45/2015 tentang peran guru tik dalam kurikulum 2013, Permen tersebut masih terasa pahit. Tujuan UTAMA adalah ke SISWA dalam memperoleh pembelajaran TIK. TIK untuk semua, dan bukan untuk orang kaya saja. TIK bukan hanya untuk guru saja, tetapi juga untuk siswa Indonesia. Hal itu sudah kami bahas secara ilmiah di seminar nasional urgensi mata pelajaran TIK di aula kemdikbud beberapa waktu lalu.

    [caption caption="Seminar Nasional Urgensi Matpel TIK di Kemdikbud Jakarta"][/caption]

    Mata pelajaran TIK masih sangat dibutuhkan oleh anak Indonesia dan tidak boleh seenaknya diganti dengan bimbingan TIK. Solusi yang ditawarkan pemerintah jelas bukan solusi yang tepat. Wajar saja guru TIK terus berjuang untuk mengembalikan mata pelajarannya yang hilang dalam kurikulum 2013. TIK adalah mata pelajaran yang berdiri sendiri dan bukan bimbingan TIK. Dalam undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2015 tidak dikenal guru bimbingan TIK, yang ada adaah guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru BK.

    Kekecewaan jelas sekali dirasakan oleh semua guru TIK. Selain guru, banyak masyarakat yang kecewa. Termasuk juga penyanyi terkenal Iwan Fals. IWAN FALS pun kecewa dan tidak setuju dengan dihapuskannya Mata Pelajaran TIK di Kurikulum Pendidikan Indonesia, menurut beliau, era akan datang merupakan era teknologi, siapa yang tidak menguasai, maka akan selalu terbelakang dan hanya menjadi pengguna. Indonesia akan seamanya menjadi bangsa pengguna. Hal ini tidak dipahami oleh kawan-kawan pejabat kemdikbud, mareka beranggapan bahwa tik hanya sebagai alat bantu saja dalam pembelajaran. Sementara tik sebagai ilmu yg harus dipelajari dan dikembang tidak diberikan kepada siswa indonesia dalam bentuk mata pelajaran. Sungguh sebuah kebijakan yg tdk adil dan membuat guru tik terus berjuang mengembalikan hak peserta didik untuk belajar tik dgn baik.

    “Dari TIK dan KKPI saya mengenal komputer hingga pada akhirnya kini saya menjadi programmer. Sungguh saya tidak setuju bila pelajaran TIK dan KKPI dihapus dari kurikulum. Itu orang yg ngehapus kayanya ga mau maju kali yah atau kurang update alias kudet.” Seorang alumni sekolah sma negeri memberikan komentar di facebook group komunitas guru TIK dan KKPI.

    Sedangkan seorang mahasiswa UNJ menuliskan, “Sangat setuju sekali, struktur keilmuan TIK sudah demikian jelas dan tertata, jika diserahkan pada semua guru yang latar belakangnya bukan TIK maka akan sangat jauh dari mencukupi pengetahuan dan keilmuan yang diperoleh peserta didik. Semoga perjuangan rekan-rekan guru TIK diridhoi Allah SWT dan mendapatkan keberhasilan… Aamiin.”

    Perubahan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di jenjang SMP dan SMA atau sederajat menjadi sekadar bimbingan teknologi informasi dan komunikasi tetap ditolak para guru. Pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi dinilai tetap harus menjadi mata pelajaran agar semua siswa menguasai TIK secara terstruktur. TIK untuk semua dan bukan untuk orang kaya saja. TIK harus bisa dinikmati oleh mereka yang tak berpunya. Kalau ada matpel TIK, mereka bisa belajara TIK di sekolah.

    Kenyataan di lapangan, bimbingan tik kagak laku di sekolah, lebih baik tetap sebagai matpel TIK Itulah solusi terbaik. Selain itu, bimbingan TIK telah memPHK guru swasta dan honorer. Kita tentu punya rasa empati. Kasihan sekali kawan-kawan guru honor dan guru di sekolah swasta, bagi yg pns sih aman. Malah ada yg makan gaji buta setelah TIK menjadi bimbingan TIK. Ternyata penghapusan TIK tidak saja berdampak pada peserta didik tapi berdampak pula terhadap guru swasta dan honorer ( PHK didepan mata ).

    Perlu disadari, guru dan siswa sama-sama jadi korbannya, tapi kurang dirasakan dampaknya oleh mereka yg tidak memahami pentingnya TIK. Wajar saja, sebagian besar pengambil kebijakan kurikulum bukan dari orang-orang IT sehingga untuk mereka Mapel TIK tidak terlalu utama dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Hal itu juga sudah kita bahasa dalam seminar nasional computer science di aula kemdikbud. Kami berharap pemerintah mengembalikan TIK sebagai mata pelajaran. Di luar negeri berkembang apa yang namanya mata pelajaran computer science atau ilmu komputer.

    [caption caption="semnas Computer Science di kemdikbud"][/caption]

    Hasil survey dan wawancara yang dilakukan komunitas guru TIK dan KKPI di berbagai sekolah di indonesia, ternyata menunjukkan bahwa belum semua guru menguasai tik. Jadi kesimpulannya matpel tik harus tetap diajarkan di sekolah karena belum bisa dititipkan ke semua guru mata pelajaran dalam kurikulum 2013. Fakta di lapangan menunjukkan hal itu. TIK untuk semua harus dikampanyekan dan bukan milik orang kaya saja. Dengan adanya mata pelajaran TIK di sekolah, maka siswa yang tak punya perlatan TIK dan internetnya bisa menggunakannya di sekolah. Mereka menjadi terdidik TIK dengan baik dan benar karena dipandu oleh guru TIK yang memahami TIK dan mendapatkan sertifikasi guru TIK yang sudah diakui perguruan tinggi.

    Berikut ini liputan harian kompas yang saya copy paste ke dalam blog saya,

    https://wijayalabs.com/2016/03/05/tik-tak-cukup-sekedar-bimbingan/

  2. Sebenarnya yg harus dilakukan adalh memperbarui materi TIK & melatih guru, agar kita tdk jd konsumen d bidang TIK, tetapi jg jd produsen. Bukan malah menggantinya menjadi bimbingan TIK.

    1. Saya sangat setuju untuk memperbaharui materi pelajaran TIK terutama di SMA, lebih diarahkan kepada kemampuan untuk menjadi ‘produsen’ mungkin sebagai programmer. Sehingga materi pelajarannya lebih mengarah ke komputer sains, coding yang mengasah logika berpikir.

  3. semoga usaha teman teman di Kogtif segera terwujud. ….permendikbud nomor 45 tahun 2015 perlu segera direvisi karena bertentangan dengan undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005,…apakah hendaknya perlu dicoba untuk usaha lewat mem-PTUN-kan Kemendikbud….atau bagamana bisa tidak jika usaha lewat judicial review material kepmen itu..

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.