Posted on: August 2, 2015 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Apa yang Salah Dalam Kurikulum 2013

anies-kgtikApakah ada yang salah dalam kurtilas?

Selama 2 tahun ini sekolah kami di SMP-SMA Labschool Jakarta menjadi sekolah sasaran dalam menjalankan kurikulum 2013. Tentu banyak terjadi masalah dalam prosesnya dan kami saling bekerjasama untuk menyelesaikan masalahnya.

Masalah yang paling menonjol adalah masalah penilaian dan guru-guru yang mata pelajarannya hilang dalam kurikulum 2013. Penilaian terlalu membebani guru. Teman teman lebih senang menyebutnya kurtilas dan berharap segera diganti menjadi kurmalas atau kurikulum 2015. Info tentang hal itu saya dapatkan juga ketika diminta menjadi salah satu tim monitoring dan evaluasi (Monev) pusat kurikulum dan perbukuan di 2 kota, yaitu Banda Aceh, dan Palangkaraya.

Kalau saja kurikulum 2013 tidak dibuat dengan cara tergesa gesa, tentu implementasinya akan bagus di sekolah. Fakta dan data di lapangan ditambah berita dari berbagai media menunjukkan bahwa kurikulum 2013 yang dibanggakan oleh menteri sebelumnya ternyata bukan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Coba saja ketik dengan keyword “kurikulum 2013” di google.

Para pakar pendidikan sudah banyak yang bicara dan menuliskan di berbagai media. Para guru juga sudah bersuara dengan pelatihan kurikulumnya yang kurang dipahami mereka. Alhasil mereka tetap jalankan kurtilas rasa KTSP (kurikulum tingkat satuan Pendidikan). Kurikulum 2006 masih terasa begitu menggoda daripada kurikulum 2013. Akhirnya, kurikulum yang dibenahi oleh penguasa hanya diterjemahkan oleh guru di sekolah menjadi KBK, Kurikulum Bagaimana Kita.

Sebagai aktivis di bidang pendidikan, kami sangat khawatir bila kurtilas tetap dipaksakan. Kami sangat khawatir karena yang merevisi kurtilas juga bukan orang baru. Tak akan banyak perubahan yang dihasilkan. Apalagi akan ada perubahan struktur kurikulum. Kurikulum nasional yang diharapkan datang dengan format baru nampaknya hanya sebatas mimpi. Mendikbud yang baru, Anies Baswedan sudah “BOSAN” membahas masalah kurikulum. Hal itu disampaikannya saat tanya jawab dengan peserta dalam Seminar Pendidikan, Sekolah ramah anak di labschool UNJ Rawamangun Jakarta Timur, pada Jumat, 31 Juli 2015.

Mendikbud Anies baswedan di Labschool Jakarta
Mendikbud Anies baswedan di Labschool Jakarta

Forum Group Diskusi (FGD) yang diadakan para pakar pendidikan di sejumlah kota berusaha mencari solusi agar kurtilas tak melahirkan generasi cemas dan lemas. Kita ingin lahirkan generasi emas tapi tak boleh dengan cara memaksakan kehendak penguasa. Guru-guru tak boleh lagi jadi obyek penderita yang selalu disalahkan. Kasihanilah guru yang selalu jadi tersangka dengan nilai uji kompetensi gurunya yang rata-rata masih rendah di Indonesia.

Kurtilas lahir dengan sebuah harapan ada perbaikan kurikulum menjadi lebih baik. Namun kalau ternyata dalam pelaksanaannya sulit untuk diterapkan dan membuat guru-guru dan murid tidak nyaman, lebih baik jangan dilanjutkan. Meskipun kita harus ikhlas kehilangan uang rakyat yang begitu banyak.

Perlu lembaga penelitian independent yang ikut mengevaluasi kurtilas. Jangan hanya orang-orang puskurbuk yang membuat evaluasinya saja. Sehingga data puskurbuk dan lembaga penelitian independent dapat dilihat sama-sama hasilnya. Nanti akan terlihat mana data yang sesungguhnya, dan mana data yang dibuat asal bapak senang (ABS).

Sebuah pertanyaan akan terjawab bila kita sudah melakukan penelitian ilmiah yang mendalam dalam implementasi kurtilas. Sehingga kita tak bertanya lagi, Apakah ada yang salah dalam kurtilas?

Categories:

2 People reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.