Posted on: June 27, 2014 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Kurikulum

397346_4414899606267_1032812743_n

Coba Perhatikan! sudah berapa kali kurikulum berubah, dan cermati apa yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas. Ternyata kebanyakan guru keadaannya mirip sebuah syair lagu pop Indonesia Dian Pisesa yaitu aku masih seperti yang dulu…………..

Oleh karena itu para penganut mazhab guru edan percaya, bila hendak meningkatkan mutu pendidikan mulailah dari meningkatkan mutu guru, kutukulum eh kurikulum menyusul. Bukan sebaliknya, perbaiki kurikulum dulu baru urusi guru.


Mereka yakin usaha dengan model seperti ini insya Allah akan gagal. Lihat saja fakta empiris pendidikan kita, sudah berapa kali kita mengganti kurikulum, apakah pendidikan kita meningkat mutunya?
Batal SukaBatal Suka · · Bagikan
Anda, Willy Ediyanto, Iwan Ardhie Priyana, Sarwoko Koko, dan 15 orang lainnya menyukai ini.

Fadibah Setiawan bukan mutu pencetak gurunya ya pak?
seperti sebuah alur yang akan kembali ke sentralnya lagi
19 jam yang lalu · Batal Suka · 1

Suryaningsih dau duanya, yg sdh jd guru dikasih plthn berjenjang n berkesinambungan, utk calon guru harus diperhatikan lembaga pencetaknya
19 jam yang lalu · Batal Suka · 2

Dwiyanto Arema sebagus apapun kurikulum dibuat, jika guru tidak dilibatkan secara aktif, ya persis lagunya dian pishesa, hahahaha…. aku masih seperti yang dulu
19 jam yang lalu · Batal Suka · 2

Dwiyanto Arema Kurikulum = Mobil, dan guru adalah sopirnya, jika guru disuruh nyopir tanpa pendampingan dan pelatihan yang berjenjang, sama saja bohong
19 jam yang lalu · Batal Suka · 3

Fadibah Setiawan nyanyinya ebiet aja….yang lalu biarlah berlalu…..hahah
16 jam yang lalu · Batal Suka · 1

Much Abdulah Nurhidayat perbaiki dosen LPTK, guru tidak bermutu karena dosen LPTK juga tidak bermutu.
16 jam yang lalu · Batal Suka · 1

Iwan Ardhie Priyana setuju
14 jam yang lalu · Suka

Widy Harsono Instrukturnya juga “aku masih seperti yang dulu”
14 jam yang lalu · Batal Suka · 1

Hardiana Bandung Kurikulum tidal berubah hanya mengalami penyesuaian sesuai dengan zaman bagaimana mW mengajar dengan he bat jika masih mempunyai fenomena masa lalu tolong baca tentang persfektif pendidikan bacalah sebelum menyebut dian pisesa
12 jam yang lalu · Batal Suka · 2

Gami Sukarjo …perubahan kurikulum adalah sebuah keniscayaan, sebab ilmu pengetahuan dan tuntutan jaman terus berubah. Memang harus ada grand design yang dijadikan patron dalam pengembangan kurikulum. Adalah tugas guru untuk terus belajar dan berusaha untuk meningkatkan mutu pembelajaran/pendidikan. Sayangnya, profesi guru, dalam perkembangannya justru diorientasikan pada capaian material-finansial, sehingga nilai-nilai keguruannya tergerus oleh berbagai konflik kepentingan. Celakanya, ini juga berimbas pada motivasi kerja dan kinerja sebagian (besar?) guru-guru kita. LPTK yang diharapkan bisa mencetak tenaga guru profesional pun ikut terkontaminasi oleh kepentingan pragmatis, sehingga mereka seolah “tak mau tahu” apakah outcome yang dihasilkan benar-benar menyelami guru sebagai profesi ataukah sekedar guru sebagai salah satu cara untuk memperoleh penghasilan dan penghidupan yang ‘layak’…Salam
11 jam · Batal Suka · 1

Eme Effendi betul……saya sangat sering bilang di grup ini (sampai sampai pa Karnata Adiwiria, hafal persis) bahwa KURIKULUM YANG REAL ADALAH GURU itusendiri)
10 jam · Batal Suka · 2

Karnata Adiwiria sepokat kang Eme Effendi hehe
10 jam · Batal Suka · 1

Eme Effendi Sebenarnya, kalau saya teliti, kur 2006 dengan kur-13 itu sama berbasis kompetensi, perubahanya hanya pada penegasan mengenai sikap yang secara eksplisit tertuang pada KI dan penegasan adanya kesadaran dan kesengajaan merancang pembelajaran dengan mengintegrasikan KI-1 dan KI-2 pada KI-3 dan KI-4. dan di SD jadi tematik seluruhnya. Kegagalan (kalai dianggap gagal) kurikulum 2006 justru terletak pada tahah implemntasi, yakni ketidak pahaman dan kurang mampunya guru mengimplementasikan di kelas. Maka sejatinya anggaran yang besar itu pakai saja sebesar-sebasarnya untuk melatih guru secara intensif
9 jam · Batal Suka · 2

Yohan Denta setuju dengan atas saya..
9 jam · Batal Suka · 1

Slamet Sunoko k-13 penilaian 3 sikap bukan hal baru …….. kalau tdk salah waktu kur 75 pun demikian
9 jam · Batal Suka · 1

Nezlia Sari Harahap setuju bingits paakk…
8 jam · Batal Suka · 1

Nurwahyudi Agustiawan Saya sependapat dengan om Jay, Seburuk-buruknya kurikulum jika dibawakan oleh guru yang penuh semangat, hasilnya akan baik. Sebaik-baik kurikulum (menurut pembuatnya) tidak akan berhasil jika guru ‘tidak menerima’. Usul saya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cepat, perlu membumikan model, pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran. Bukan ‘mengobok-obok’ penilaian. Penilaian akan mengikuti jika semua sudah membumi
2 jam · Batal Suka · 1

Andri Ginanjar Berarti kita semua sepakat. Bukan gaji, bukan tunjangan, bukan kurikulum, bukan sarana prasarana yang menjadi dasar peningkatan mutu pendidikan, melainkan lebih kepada hasrat (passion) dibarengi profesioalisme (yang diatur dalam UU Guru dan Dosen)
42 menit · Batal Suka · 3

Willy Ediyanto Kalau kurikulumnya buruk, guru yang baik mesti berinovasi, berkreasi, agar pembelajaran di kelas menyenangkan dan bermanfaat.
30 menit · Batal Suka · 2

Nanang Hermana dan kurikulum adalah bagaikan rambu-rambu lalulintas di jalan yang akan membuat sopir sampai ke tempat tujuan yang telah direncanakan…..hati-hati di jalan; kecelakaan akan terjadi dampak kelalaian salah satu atau salah kedua pengguna jalan.
20 menit · Batal Suka · 1

Andri Ginanjar Dengan kurikulum latar belakang masalah, maksud dan tujuannya menjadi jelas dan termaktub
11 menit · Batal Suka · 2

Wijaya Kusumah apapun kurikulumnya, guru profesional jawabannya
Baru saja · Suka

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.