Posted on: May 18, 2014 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Duit Tak Dibawa mati, Tak Punya Duit Bisa Mati

375758_733984406632529_586561427_n

DUIT TAK DIBAWA MATI, TAK PUNYA DUIT BISA MATI

 oleh: Nusa Putra

Malaikat dan iblis tak butuh duit. Sebab mereka tidak perlu beli beras, sayuran dan ikan, tidak butuh dana untuk pendidikan dan kesehatan, juga tidak bayar listrik dan air, apalagi pajak. Jadi malaikat bisa fokus berzikir dan menjalankan perintah Allah, sedangkan iblis bisa konsentrasi menggoda manusia secara terus menerus.

 

Manusia berbeda, ia selalu butuh duit untuk beli beras, minyak goreng, kangkung, ikan asin, dan tempe goreng. Bila masih lajang perlu duit untuk jajan, jajan apa saja lah. Jika sudah bekeluarga, duit dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Manusia, bahkan orang Baduy Dalam yang tinggal di hutan, butuh duit.

Dunia, khususnya dunia moderen memang menempatkan duit pada posisi penting sebagai alat tukar dalam transaksi jual beli dan jasa. Memang kini duit bisa digantikan dengan kartu kredit dan berbagai bentuk pengganti lainnya. Tetapi penggunaannya sangat tergantung pada berapa duit yang kita miliki. Tetap saja duit yang menjadi dasarnya.

Oleh karena itu bukan hal yang luar biasa kapan dan di mana pun, siapa saja bekerja dan berusaha untuk memperoleh duit. Petani, nelayan, pengasong, pedagang, pengusaha, karyawan, buruh, pegawai, guru, dosen, guru besar, polisi, politisi, tentara, menteri, dan presiden bekerja keras, ujung-ujungnya untuk mendapatkan duit. Meskipun omongnya demi tanah air, demi bangsa dan negara. Jika tak dapat duit, dengan apa mereka membeli makanan yang harus tersedia setiap hari?

Tidak sedikit orang, demi memenuhi kebutuhannya bekerja keras mendapatkan duit dan hanya mengusahakan duit yang halal. Halal bisa dalam arti hukum positif maupun agama. Mereka mengedepankan kejujuran dan profesionalisme. Bagi orang-orang kecil itu artinya bekerja keras sesuai kemampuan dan tidak mencuri, apapun keadaannya.

Orang-orang ini sepenuhnya sadar, meskipun duit itu penting dan sangat dibutuhkan, namun mereka tidak mau mendapatkan duit itu dengan cara-cara yang curang. Mereka mengerti betul duit bukanlah segalanya. Mereka dengan cermat dapat membedakan dan memisahkan keinginan dengan kebutuhan. Bagi mereka yang penting adalah bekerja keras dan berdoa. Menerima dengan ikhlas hasil kerja kerasnya, meski sering kali belum mencukupi kebutuhan. Mereka sungguh menghayati, duit hanyalah alat, bukan tujuan.

Tetapi inilah dunia manusia. Tidak semua orang memandang dan menghayati duit hanya alat yang memang dibutuhkan dalam kehidupan. Sangat banyak orang yang menganggap duit adalah segalanya. Mereka adalah orang yang menuhankan duit. Artinya, mudah sekali mereka melupakan Tuhan karena dan demi duit.

Masuk dalam kategori ini adalah copet, pencuri, maling, perampok, perompak, penipu, koruptor, dan sejumlah sebutan sejenis lainnya. Mereka ada di mana-mana. Di jalan raya, di angkutan umum, di mal, di perkantoran, di perkampungan, di pemukiman, bahkan di tempat suci seperti Masjidil Haram di Mekkah.

Mereka boleh jadi adalah gembel, gelandangan, pemulung, guru, dosen, profesor, jenderal,  ketua RT, ketua RW, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, menteri, anggota DPR, wakil presiden, dan presiden. Pangkat, jabatan, pendidikan, dan kedudukan tampaknya bukan jaminan yang membuat orang tidak jadi maling dan koruptor. Mengapa?

Karena hasrat, keinginan, dan kerakusan mereka pada duit memang sangat besar. Sehingga jabatan, kedudukan, pangkat, dan semua gelar itu justru digunakan untuk melakukan kejahatan demi duit.

Jangan dikira mereka tidak tahu bahwa duit tidak akan pernah dibawa mati. Tetapi kelekatan hati dan fikiran mereka pada duit acap kali membuat mereka alpa bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki keterbatasan untuk menikmati duit yang mereka kumpulkan dengan cara apapun, apalagi sampai menghalalkan segala cara.

Sangat jarang terjadi orang-orang yang menuhankan duit ini menggunakan duitnya untuk kebaikan. Bila digunakan untuk kebaikan biasanya jumlahnya tidak seberapa, itupun hanya untuk pencitraan yang mau tunjukkan bahwa mereka orang yang baik. Sejatinya mereka adalah orang jahat. Mereka seringkali membesar-besarkan kebaikannya yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan kejahatannya.

Mereka suka mengumumkan kepada publik berapa milayar duit yang mereka keluarkan untuk kepentingan publik. Padahal mereka merampok triluyan uang negara. Tentu saja bagian yang dirampok ini disembunyikan. Inilah contoh orang yang menuhankan duit.

Mereka bukan saja bisa hidup tenang dengan duit hasil rampokan itu. Bahkan seringkali  tanpa rasa malu memamerkannya pada publik. Mereka mau tunjukkan keberhasilan dalam hidup.

Biasanya orang-orang ini tidak bisa menghargai orang lain. Apalagi orang yang sungguh-sungguh baik dan jujur. Mereka hanya menghargai dan mau bergaul dengan orang sejenis, yang juga menuhankan duit, para penjilat yang memang sangat mengharapkan mendapatkan duit, meskipun duit receh.

Dalam konteks inilah kita jangan lupakan bahwa Nabi Muhammad SAW dengan tegas mengingatkan kita agar menghindari orang-orang kaya yang tidak beriman. Ya, mereka yang menuhankan duit itu. Karena jiwa mereka telah disandera dan diperbudak duit, sehingga semuanya dihitung berdasarkan untung rugi bagi diri sendiri. Jangan pernah berharap mereka akan gunakan nuraninya untuk menilai dan bertindak.

Tidak usah heran, orang-orang seperti ini biasanya memiliki banyak pengikut setia. Namun, bila  jatuh terjerembab karena kejahatannya terbongkar, pengikut setia itu bukan saja menjauhi, bahkan menghujatnya paling keras.

Fakta ini menegaskan bahwa sikap manusia terhadap duit memang sangat memengaruhi bagaimana ia menjalani hidup, dan membangun sosialita. Jangan pernah lupakan bahwa

DIMANA TEMPAT KITA DI AKHIRAT JUGA DITENTUKAN BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP DUIT.

Categories:

2 People reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.