Posted on: December 31, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Bermalam Tahun Baru di Taraju

Alhamdulillah, saya ucapkan selamat tahun baru 2014. Semoga di tahun baru ini kita memiliki semangat baru untuk memperbaiki diri. Ikut terus berkarya untuk bangsa. Giat belajar dan terus belajar sampai pintar. Ingatlah dengan belajar banyak hal yang tadinya kita tidak tahu menjadi tahu. Belajar dari tidak bisa menjadi bisa. Itulah ilmu yang harus terus dipelajari dan dikuasai sepanjang hayat. Tiada kata terlambat untuk belajar. Siapa yang giat belajar dan tekun menjalaninya pastilah akan berhasil menjadi orang yang berpengetahuan. orang yang akan lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang tidak berpengetahuan.

Omjay di Seminar Nasional PTK UBH Padang
Omjay di Seminar Nasional PTK UBH Padang

Kita tentu tahu, semalam banyak orang yang merayakan malam pergantian tahun. Banyak orang yang keluar dari rumahnya untuk merayakannya. Hmm, rasanya baru kemarin kita berada di tahun baru 2013. Kini kita berada di tahun 2014 yang kita belum tahu apa yang akan terjadi. Oleh karenanya persiapkan diri lebih baik agar hal-hal yang kurang bermanfaat dihindari. fokus kepada tujuan hidup yang lebih baik.

20131229_163225

Nyam-nyam, setelah menikmati sarapan bubur di desa Taraju Tasikmalaya, saya pandangi indahnya wajah desaku. Pohon pohon hijau di depan mata. Burung burung berkicauan dan hujan turun rintik-rintik. Seolah olah alam mengirimkan pesan. Selamat datang tahun baru 2014 dan menangislah dari duka nestapa di tahun 2013. Semoga keceriaan dan kebahagiaan terukir manis di tahun 2014 yang akan dilalui. Semoga tak ada aral melintang yang menghambat perjalanan sukses kita.

Subahanallah, di atas kebun teh pegunungan PT Sinar Sosro yang menjulang kupandangi indahnya pemandangan alam.  Alam seolah memberikan pelajaran di luar kelas yang memesona. Ingatlah alam bisa menjadi sahabat terbaikmu. Rawatlah alam agar dia menjadi teman setia perjalanan hidupmu. Belajarlah seperti pohon teh di perkebunan ini yang tak pernah habis diambil daunnya. Semakin diambil semakin banyak tumbuh daun-daun baru. Daun teh yang diambil menghasilkan aroma teh yang nikmat di minum oleh siapa saja. Kebermanfaatan teh tentu sudah kita ketahui bersama. Minuman teh mampu menjaga kesegaran dan kebugaran tubuh. Tak heran bila teh sangat dibutuhkan dalam kemasan makan sehat indonesia.

Sepanjang 2013, pendidikan nasional dipenuhi berbagai macam persoalan yang memprihatinkan, diantaranya, penerapan kurikulum baru yang tergesa-gesa, tertundanya pelaksanaan ujian nasional (UN) di 11 provinsi, rendahnya kualitas buku pelajaran di sekolah, tingginya perilaku kekerasan fisik dan merebaknya tindakan amoral di lingkungan sekolah dan kampus, Korupsi Pendidikan, maraknya pungutan liar dan tindakan sewenang-wenang penguasa/birokrat pendidikan di berbagai daerah, serta ancaman kebebasan guru dalam berorganisasi/berserikat melalui “pemaksaan” revisi PP No. 74 tahun 2008 tentang Guru.

Semua itu menjadi tanda nyata bahwa pendidikan nasional sarat dengan permasalahan yang krusial yang harus segera diatasi bersama. Mari menjadi guru yang merdeka di tahun 2014.

IMG_1559

Selamat Tahun Baru 2014.

 

Salam Blogger Persahabatan

omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

2 People reacted on this

  1. JAKARTA, KOMPAS.com — Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) telah membeberkan masalah krusial di dunia pendidikan nasional sepanjang 2013. Untuk itu, FSGI memberikan sejumlah rekomendasi dengan harapan dapat dijadikan pertimbangan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengambil kebijakan di waktu selanjutnya.

    FSGI beranggapan pemerintah tak semestinya memaksakan pelaksanaan Kurikulum 2013 sebelum mengadakan uji coba, dan hasilnya diungkap secara transparan. Langkah ini perlu dilakukan agar publik mengetahui keuntungan, keandalan, serta kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    “Kemendikbud juga perlu mengeluarkan kebijakan tegas dan jelas untuk mengurangi dan menghilangkan perilaku kekerasan di sekolah,” kata Sekretaris Jenderal FSGI, Retno Listyarti, di Kantor LBH Jakarta, Kamis (2/1/2014).

    Retno menambahkan, Kemedikbud perlu membentuk sebuah lembaga mandiri untuk menyeleksi, mengawasi, dan mengontrol kualitas buku-buku pelajaran yang akan dipergunakan di sekolah dengan melibatkan peran serta akademisi dan masyarakat. Dengan begitu, peredaran buku ajar di sekolah dapat lebih terkontrol, dan diharapkan tak ada lagi muatan tak pantas dalam buku teks pelajaran di sekolah.

    Di tahun politik ini, Kemendikbud juga harus menjamin tak ada politisasi yang mengarah pada guru. Tuntutan serupa juga datang agar Kemendikbud memberikan ruang kemerdekaan dan kebebasan bagi para guru untuk mengikuti organisasi guru tertentu tanpa ada halangan dari birokrasi ataupun dari pemerintah melalui pembatasan dalam peraturan. Pasalnya, hak berserikat dan berkumpul dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.

    Mengenai evaluasi, FSGI juga mendesak pemerintah menghapuskan ujian nasional di tingkat sekolah dasar (SD), serta mengevaluasi kembali Kebijakan UN. Pasalnya, FSGI menilai kebijakan UN lebih banyak melahirkan dampak buruk bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    Kemendikbud juga dituntut meningkatkan pengembangan profesional guru serta memberikan persamaan kesempatan belajar. Tuntutan ini diutamakan bagi sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang jauh dari Standar Nasional Pendidikan.

    “Terakhir, harus ada tindakan tegas berupa pidana dalam menyelesaikan berbagai korupsi pendidikan. Kalau korupsi pendidikan tidak ditindak tegas maka upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di negeri ini tidak akan pernah tercapai,” pungkasnya.

    Sebelumnya, FSGI juga menyatakan banyaknya permasalahan krusial di dunia pendidikan nasional di tahun 2013. Selain kurikulum, masalah lainnya adalah korupsi dan pungutan liar, keterlambatan pelaksanaan ujian nasional, ancaman diberangusnya hak guru dalam berorganisasi, rendahnya kualitas buku ajar, sampai banyaknya kasus kekerasan di lingkungan sekolah dan kampus.

    http://edukasi.kompas.com/read/2014/01/02/1632584/Ini.Rekomendasi.Organisasi.Guru.untuk.Kemendikbud

  2. JAKARTA, KOMPAS.com — Penerapan Kurikulum 2013 dianggap hanya sekadar formalitas. Semuanya tampak dari minimnya persiapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menerapkan kurikulum tersebut di semua sekolah.

    Ketua Dewan Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Itje Chodijah menuturkan, Kurikulum 2013 telah menuai protes dan kritik. Proses penyusunan desainnya dinilai tidak transparan. Selain itu, proses uji publik juga dinilai asal-asalan serta minim sosialisasi.

    Hal ini berbeda dengan perubahan kurikulum pada era Orde Lama dan Orde Baru. Pada era tersebut, perubahan kurikulum dilakukan sangat hati-hati melalui proses dialog, analisis, dan uji coba.

    “Dari berbagai macam diskusi dan refleksi tentang mereka yang terlibat dalam desain Kurikulum 2013, tampak jelas tidak ada koordinasi yang baik antara desain awal dengan tim teknis, baik untuk buku cetak maupun sistem evaluasi. Persiapan yang tidak matang jelas merugikan pendidikan nasional,” kata Itje dalam acara catatan akhir tahun pendidikan 2013 di kantor LBH Jakarta, Kamis (2/1/2014).

    Selanjutnya, Itje juga membeberkan bobroknya sisi penerapan Kurikulum 2013 yang tecermin dari keterpaksaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menurunkan target implementasi, yang semula 30 persen dari total sekolah menjadi hanya 2 persen (6.213 sekolah).

    Selain itu, buku diktat dan buku teks juga terlambat dicetak dan didistribusikan ke sekolah-sekolah sehingga berdampak pada penundaan pelatihan guru. Pada tingkat implementasi, kata Itje, banyak guru bingung saat menerapkan Kurikulum 2013 di kelas. Guru pendamping yang dijanjikan hadir di kelas ternyata baru hadir pada November 2013, atau terlambat tiga bulan dari jadwal semula.

    Hal ini diperparah banyaknya sekolah yang ditunjuk mengimplementasikan kurikulum tersebut, tetapi tidak memiliki buku panduan penerapan Kurikulum 2013. “Ada juga masalah penilaian dan pengisian buku rapor. Hal itu terjadi karena adanya perubahan model penilaian, tapi perubahannya tidak diberikan pada saat pelatihan,” pungkas Itje.

    Sebelumnya, FSGI juga menyatakan banyaknya permasalahan pendidikan pada 2013. Selain kurikulum, masalah lainnya adalah korupsi dan pungutan liar, keterlambatan pelaksanaan ujian nasional, ancaman diberangusnya hak guru dalam berorganisasi, rendahnya kualitas buku ajar, sampai banyaknya kasus kekerasan di lingkungan sekolah dan kampus.

    http://edukasi.kompas.com/read/2014/01/02/1611598/Penerapan.Kurikulum.2013.Hanya.Sekadar.Formalitas

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.