Posted on: December 22, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Kompasiana Etalase Warga Biasa

Saat menunggu pesawat terbang adalah saat tepat menulis apa yang dirasakan dan apa yang dilihat. Pekerjaan menunggu menjadi pekerjaan yang mengasyikkan. Apalagi bila membawa buku yang belum seledai eh selesai dibaca lalu hasilnya dibagikan kepada khalayak ramai melalui media sosial. Pasti akan seru membacanya.

kompasiana

Sambil membaca buku kompasiana etalase warga biasa karya Pepih Nugraha, terdengar pengumuman pesawat lion JT0558 tujuan Yogyakarta akan segera diberangkatkan. Istri dan anak nampak sudah siap beranjak dari tempat duduknya. Lalu saya katakan pesawat kita masih lama. Kita akan naik pesawat Lion JT0558 tujuan Yogyakarta. Supaya yakin, saya baca kembali tiket yang ada di sempilan buku. Boarding time 12.25 sementara sekarang waktu sudah menunjukkkan pukul 11.48. Itu artinya kami masih harus sabar menunggu pesawat diberangkatkan.

Saya melanjutkan proses membaca. Dalam buku Pepih Nugraha terpampang jelas wajah- wajah blogger kompasiana. Di bagian muka itu ada sosok pak Prayitno Ramelan dan pak Yusuf Kalla. Juga ada kawan-kawan blogger kompasiana. Buku ini menceritakan pergulatan panjang Pepih Nugraha, dkk dalam membangun dan mengembangkan kompasiana sebagai media sosial khas Indonesia. Dalam blog keroyokan itu setiap orang bisa menulis apa yang disukai dan dikuasainya. Menulis cerita dan berita yang dulu cuma domain jurnalis kini bisa diikuti oleh siapa saja yang suka menulis.

Saya tahu benar bagaimana Pepih berusaha keras agar kompasiana berkembang pesat dan dapat dinikmati banyak orang. Kegigihan wartawan senior kompas ini kini membuahkan hasil. Padahal dulunya blog kompasiana sepi pengunjung dan penulis. Teman-temannya menjulukinya pepihsiana, karena yang menulis lebih banyak pepih ketimbang orang lain. Berbeda sekali dengan saat ini, ratusan tulisan mengalir deras dari pagi sampai malam hari 24 jam non stop tiada henti. Kompasiana sudah mulai dilirik oleh banyak orang yg berada di Indonesia maupun di luar negeri.

Tak ada media sosial yang lahir begitu saja lalu langsung mendapatkan ketenarannya. Pepih bercerita bahwa membangun kompasiana memerlukan kesabaran, ketekunan, ketahanan, kemampuan analisa organisasi, insting, intuisi, kalkulasi dan prediksi. Dengan tangan dinginnya Pepih membangun kompasiana dengan flatform tegas menulis dan tagline “sharing and connecting”. di dalamnya warga biasa bisa menjadi jurnalis warga atau citizen journalism. Anda bisa menulis apa saja di kompasiana asalkan sesuai dengan ketentuan yg sudah dituliskan admin kompasiana.

(Bersambung)

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.