Posted on: December 3, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 8

Ketika Tulisanmu di Blog Sepi Pembaca

Ketika tulisanmu sepi pembaca, maka bersabarlah. Nikmati saja prosesnya dan suatu saat nanti tulisanmu akan dikerubungi pembaca. Perlu waktu yang tidak cepat, lama, dan bisa jadi sangat lama. Tergantung, apakah kamu sanggup bertahan dengan komitmen dan konsekwensi dalam menulis.

 1457691_10202566071301111_690073741_n

Lihatlah sebuah pohon. Dia tak bisa langsung tumbuh membesar. Pastilah dia melalui proses yang panjang. Mulai dari pohon kecil, lalu memiliki batang yang tebal dan daun yang rindang. Perlu pupuk untuk membesarkannya. Perlu air untuk membuatnya bertahan hidup dari kemarau panjang. Begitu juga dengan menulis.

Naning Pranoto mengatakan, “Perlu waktu sepuluh tahun untuk bisa menulis bagus”. Begitulah yang beliau katakan ketika saya mengikuti workshop menulis sekaligus launching buku “Seni Menulis Sastra Hijau” bersama Perhutani. Kegiatan ini dilaksanakan di Rimbawan 2 Gedung Manggala Wanabakti, pada Kamis, 21 November 2013 dari pukul 08.00 wib sampai 16.00 wib.

 1385720384782358618

Menulis memang pekerjaan semua orang. Namun menulis dengan penuh kepercayaan diri, dan disukai pembaca bukanlah pekerjaan semua orang. Perlu kerja cerdas untuk mewujudkannya. Perlu kerja ikhlas dalam implementasinya.Perlu kerja keras dalam menggapainya.

Bila tulisanmu sepi pembaca, boleh jadi bukan karena tulisanmu tak bagus.  Tulisanmu sebenarnya sudah bagus, hanya saja tak berada pada saat atau timing yang tepat. Kamu perlu juga memposting di saat yang tepat dan pas. Berpikir sebelum mempoting harus selalu dilakukan.

Ketika tulisanmu sepi pembaca, teruslah bersemangat. Teruslah menulis walaupun yang membacanya cuma dirimu sendiri. Jadilah editor terbaik untuk tulisanmu. Suatu saat nanti, kamu akan ada yang menemani. Satu per satu orang akan sedikit demi sedikit menyukai tulisanmu.

Menulis itu sebuah proses kematangan berpikir. Kalau kamu kalah dalam mengalahkan dirimu sendiri, maka proses kreativitas akan menjadi mandul. Lawanlah dirimu dari kemalasan. Sebab menulis itu haruslah dipaksakan. Meskipun kamu harus mengendapkannya sejenak sebelum dipublish ke publik yang lebih luas.

Ketika tulisanmu sepi pembaca, maka perbaiki terus kualitas tulisanmu. Berlatihlah terus setiap hari. Berlatihlah terus untuk bisa menulis yang berkualitas. Belajarlah terus kepada mereka yang sudah bertemu dengan kepakarannya dalam bidang tulis menulis. Ingatlah, “di atas langit pasti ada langit”. Teruslah belajar kepada orang yang memiliki kerendahan hati dan keluhuran budi. Dengan begitu kamu akan menanggalkan baju kesombonganmu.

Salam blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

8 People reacted on this

  1. dan itulah kiranya yang saya alami saat ini… keep spirit… menulis memang harus dipaksa.. dan ketika jari jemari telah mengukir kata.. tak terasa ribuan kata mengalir deras

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.