Posted on: November 3, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Resume Kuliah Olimpisme ke-11

Nama                   : Wanda Amelia Rahma

No.Reg       : 3315130916

Prodi           : Pendidikan Kimia Bilingual

Tugas                   : Resume ke-11

WORKSHOP KETERAMPILAN FASILITAS DALAM PENANAMAN OLIMPISME ( Untuk Persiapan Praktek Lapangan)

Assalamu’alaikum wr.wb

“Om Jay telah datang, Om Jay telah datang. Hore! Hore! Hore! Setelah minggu kemarin Om Jay berhalangan hadir, kini beliau telah kembali mengajar lebih tepatnya kembali memfasilitatori kami. PKB???????????? Oke

Hari ini kami diberi materi untuk persiapan praktek lapangan. Woww, subhanallah J. Kamu tau itu artinya apa???? Itu artinya kami akan mengajarkan nilai olimpisme di sekolah, dan praktek lapangan olimpisme ini sasarannya adalah anak sekolah dasar. ( Akhirnya praktek lapangan juga) hehe…

Kami akan praktek lapangan bersama kelompok kami masing-masing, dan praktek lapangan tersebut harus ada bukti berupa video dan data setelah praktek lapangan. Aduh…enggak sabar deh pengen cepet-cepet mengajar siswa sekolah dasar. Pasti seru dan lucu-lucu. Tapi kitapun harus punya bekal yang cukup matang. Mengajar siswa sekolah dasar tidak semudah membalikan telapak tangan. Justru tingkat kesulitan mengajar siswa sekolah dasar lebih sulit karena membutuhkan tingkat kesabaran yang cukup tinggi. Tapi bagi seorang Wanda Amelia Rahma itu adalah tantangan yang manis, dan ingin cepat ku lakukan. Tunggu kaka ya adek-adek ku yang manis J ( Aku suka anak kecil……)

Cara mengajar siswa sekolah dasar tentu berbeda dengan cara mengajar siswa sekolah menengah pertama atau siswa sekolah menengah atas. Siswa sekolah dasar lebih suka pelajaran yang didalamnya terdapat permainan-permainan dan lebih suka diberi contoh langsung daripada teori yang terus menerus. Perbedaan itulah yang membuat kita harus terus belajar mencari metode mengajar yang menyenangkan, seru, efektif, namun tepat sasaran dan tujuan tercapai.

Pengenalan menjadi awal semuanya. Kesan pertama akan mempengaruhi proses pembelajaran berikutnya. Jika saat perkenalan kita sangat monoton maka akan menimbulkan kejenuhan. Buatlah perkenalan itu semanis mungkin. Adapaun cara pemgenalan yang baik:

  1. Dengan cara menggambar foto diri.
  2. Berbasis dan berkelompok.

Saat praktek lapangan, pastilah kita melakukan kegiatan belajar mengajar. Pengertian belajar mengajar adalah proses untuk mengubah perilaku, melalui aktivitas/kegiatan yang dapat menambah dan mengembangkan:

  1. Pengetahuan (knowladge)
  2. Ketrampilam (Skill)
  3. Sikap ( Attitude)

Ada 2 konsep dasar dalam proses belajar mengajar, yaitu:

  1. Paedagogi = Ilmu dan seni dalam mengajar anak
  2. Andragogi = Ilmu dan Seni dalam membantu orang dewasa belajar

Prinsip konsep Paedagogi:

  1. Orang tua memberikan pengajarannya terhadap anak.
  2. Tujuan proses bersifat mentransmisikan  pengetahuan.
  3. Dititik beratkan pada pengetahuan/ konsep/ Teori (knowledge), bukan kepada ketrampilan (skill) atau sikap ( attitude).
  4. Hasil pendidikan sepenuhnya tanggung jawab orang tua/guru
  5. Bantuan guru terhadap murid sangat dominan, mengingat murid dianggap mempunyai ktrampilan yang sangat tergantung pada orang lain.

Udah mulai ngantuk ya?????  Hehe. Tenang Om Jay punya video-video menarik sekali. Itulah metode Om Jay yang patut kita tiru. Dalam menerapkan nilai-nilai olimpisme, video yang menerangkan cerita-cerita motivasi sangtalah diperlukan. Penayangan video tersebut bisa  diletakan di awal, di tengah, ataupun diakhir.

Prinsip konsep Adragogi:

  1. Belajar bila merasa perlu.
  2. Belajar sambil kerja.
  3. Materi realistis dan relevan dengan kebutuhan.
  4. Menguhubungkan materi dengan pengalamannya.
  5. Membutuhkan lingkungan yang informal dan kondusif ( pendekatan simulasi).
  6. Tertarik bila materi menarik (dituntut optimalisasi media belajar yang optimal).

Ada 2 konsep dasar dalam pendekatan belajar-mengajar berdasarkan prosesnya:

  1. Conceptual Learning = Lebih menitik beratkan pada pemahaman filosofis/ konsep/ nilai dan materi pelajaran yang diberikan.
  2. Experiental Learning. Ada 4 elemen dalam pelatihan berbasis experiental Learning, yaitu:

1)    Tindakan/pengalaman.

2)    Proses refleksi/ pendalaman tentang apa yang telah dilakukan.

3)    Adanya transfer dan refleksi pengalamannya selama pelatihan  ke dalam kehidupan nyata.

4)    Adanya kesinambungan perilaku dalam jangka panjang.

Point penting pada experiental learning:

  1. Seluruh proses penggalian “point belajar” bertujuan untuk membuat tiap peserta berkomitmen terhadap apa yang telah diucapkannya. ( 90% orang mengingat apa yang diucapkannya sendiri sebagai perwujudan komitmen).
  2. Fasilitator menggunakan seluruh kemampuan komunikasinya untuk membuat peserta menyelami proses psikologis dalam dirinya selama menjalani simulasi dan “mengatakannya”.

Dalam kegiatan belajar mengajar juga perlu sekali disisipkan hal-hal yang berbau humoris. Hal-hal yang berbau humoris tersebut bisa berupa video-video lucu, ataupun diri kita sendiri yang dijadikan objek bahan humoris. Humoris perlu agar tidak tercipta kegiatan belajar mengajar yang monoton dan jenuh. Dengan humoris , kita akan tersenyum. Dan senyuman modal yang bagus untuk menerima ilmu yang baru.

Bagaimana fasilitator mempromosikan dirinya???????????

  1. Menjadi bagian dari warga belajar ( audience)
  2. Menciptakan iklim belajar mengajar
  3. Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap proses.
  4. Menyadari kelebihan-kekurangan dirinya diantara warga belajar.
  5. Mampu melihat permasalahan dan memecahkannya.
  6. Mengerti perasaan orang lain lewat pengamatan.
  7. Mempunyai kemampuan untuk mempersuasi orang lain.
  8. Optimis dan punya itikad baik
  9. Terbuka “Open Mind”

Adapun metode yang sebaiknya dikuasai seorang fasilitator:

  1. Metode dan teknik Coaching
  2. Metode dan teknik Counseling
  3. Metode dan teknik presentasi

Tahapan proses fasilitasi:

Proses Tee-Up, yakni memberikan instruksi/ penjelasan/procedure secara rinci untuk melaksanakan simulasi. Tee-Up dilakukan dengan jelas, ringkas, sistematis.

Tugas seorang fasilitator salah satunya adalah 4 F. yaitu:

  1. Fact
  2. Feeling
  3. Finding
  4. Future

Debriefing di tengah simulasi.

Dalam situasi khusus, missal: kegagalan terus menerus dalam menyelesaikan simulasi, karena kebingungan, peserta tampak putus asa, kelompok tampak rebut dan terjadi.

Beberapa larangan

  1. Melakukan penilaian terhadap jawaban peserta atau perilaku peserta dan saat kegiatan.
  2. Menggunakan kalimat seperti ini. “ Sebaiknya Anda……;seharusnya Anda.
  3. Memberikan petunjuk sesuai keinginan fasilitatou
  4. Ikut mempermalukan peserta.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.