Posted on: October 3, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Kopdar Bareng Penulis Buku Best Seller 99 Cahaya di Langit Eropa

Wow, senang banget bisa jumpa penulis buku best seller 99 Cahaya di langit Eropa. Tak sia-sia mengorbankan waktu demi jumpa sang idola. Selama ini, saya hanya tahu dan baca blognya saja di http://www.hanumrais.com/.

kopdar bareng mas Rangga dan mbak Hanum Rais
kopdar bareng mas Rangga dan mbak Hanum Rais

Kopdar bareng penulis buku best seller ini bertajuk:

EUROPEAN HIGHER EDUCATION FAIR 2013

BLOGGERS  GATHERING

Erasmus Huis-Jakarta, 3 October 2013

Guest Speakers: Hanum Rais and Rangga Almahendra

Author and Co-Author of 99 Cahaya di Langit Eropa

Mereka bercerita tentang pengalamannya selama berada di benua Eropa. Bagi mereka, awal menginjakkan kaki di eropa itu sebuah impian yang berwujud nyata. Niat Hanum Rais awalnya hanya untuk menemani suami (Rangga Almahendra) yang mendapatkan beasiswa S3 ke eropa.

Kuliah di Eropa mahal? Masa sih? ‘Luar negeri’ memang sangat lekat dengan kesan ‘keren’, ‘bergengsi’, dan tentunya biaya pendidikan dan biaya hidup yang mahal. Walaupun demikian, orang Indonesia tetap antusias belajar ke luar negeri, khususnya ke Eropa.

Ada banyak cara untuk menempuh pendidikan di Eropa, bisa melalui beasiswa maupun biaya sendiri. Tahun ini saja, ada 120 orang mahasiswa Indonesia yang berhasil berangkat ke benua biru itu berkat beasiswa Erasmus Mundus dari Uni Eropa. Mahasiswa yang kuliah di Eropa dengan biaya sendiri pun tidak kalah banyaknya. Hal itulah yang diceritakan oleh Hanum Rais dan Rangga Almahendra dalam kopdar bareng blogger.

buku best seller
buku best seller

Mereka tertarik tentang Erasmus mundus fair saat di transtv. Hanum Rais ikut suami ke eropa untuk mencari pengalaman di eropa. Kerja pada saat itu tak mungkin karena visanya untuk belajar dan bukan untuk bekerja pada awalnya.

Akhirnya, mbak Hanum Rais Kursus bahasa Jerman dan di Austria akhirnya menulis buku. Life changing experiences.  Nah buku itu bercerita tentang pengalaman hidupnya,  nilai-nilai karakter, dan peradaban Islam di eropa yang belum terekspos diceritakan dalam buku ini. Wow luar biasa!

 

Berbagi kisah selama kuliah di eropa
Berbagi kisah selama kuliah di eropa

Ada hal yang terucap langsung dari penulisnya tentang isi yang menarik dari buku best seller ini yaitu:

  1. Menemukna fakta bahwa eropa lebih dulu kenal Islam dibandingkan negara Indonesia
  2. Peradaban Islam dengan eropa itu sangat mengakar,  cuma sering dilupakan, dan akhirnya dirangkai ke dalam buku
  3. Hanum Rais bersahabat dengan komunitas muslim di eropa.

 

Resto All You can eat, pay as you like.

 

Dalam diskusi, Mas Rangga mengatakan, “Orang eropa itu selalu tepat waktu padahal itu ada di surat Al quran termasuk di eropa nilai kebersihan nilai ketertiban kental banget. Istrinya baru pakai jilbab setelah di eropa. Bahwa di eropa tidak ada muslim tapi ada eropa, sebaliknya di Indonesia –Karen Armstrong

 

Mas Rangga juga mengatakan, “ternyata biaya S2 di Indonesia lebih mahal daripada di Eropa. Di sana malahan gratis. Doktor lebih disiapkan untuk menjadi dosen di perguruan tinggi”.

 

Mas Rangga juga menambahkan, “Kuliah bukan karena fasilitas saja tapi harus ada budaya akademik yang kuat. Kedisiplinan dan sebagainya harus disiapkan. Orang Indonesia yang ada di eropa seperti Austria menjadi disiplin karena dipaksa harus disiplin.

 

Hanum bercerita. Dramatis dan emosional: 1. Scholar berangkat pagi pulang malam. Kursus Jerman ketemu temen orang Turki yang suka sejarah keliling-keliling di Vienna sampai kenal dengan kotanya. Si turki ini senang sejarah.

 

Paris ketemu dengan temen lagi yang cerita tentang Islamic Painting di Louvre. Kordoba dan Istanbul yang berkesan. Karena ada masjid jadi katedral di kordoba sdngkan di istanbil ada katedral jadi masjid.

 

Hanum Rais yang merupakan putri kedua Amin Rais ini mengatakan ada 3 buku yang dituliskannya dengan kecepatan berbeda. Menulis itu berkaitan dengan jam terbang atau pengalaman. Jadi semakin banyak menulis akan semakin baik tulisannya.

 

Dari sisi akademis, buku ini adalah banyak majemuk diversity bangsa-bangsa di dunia kita harus punya perpective global untuk mampu menyelesaikan masalah global. Global passport kita adalah skill/competency.

 

Berbagi Pengalaman Kuliah di Eropa bersama mas Rangga dan Mbak Hanum
Berbagi Pengalaman Kuliah di Eropa bersama mas Rangga dan Mbak Hanum

Syarat untuk studi di Eropa

  1. Jeli cari info krn nyelip2 dan sembunyi2
  2. S3 beasiswa lebih royal krn cover keluarga
  3. Lebih mudah S3 dengan S2 krn kompetitornya lebih banyak S2
  4. Bahasa Inggris

 

Mas Rangga menceritakan pengalamannya. Perbedaan sistem pendidikan; disana di eropa budaya learning bukan teaching. Siswa partisipasi aktif dalam pembelajaran. Di indonesia satu arah, disana itu 2 arah. Belajar antara guru dan siswa seperti teman yang penting adalah diskusi dan memberikan pengalaman. Di sana budaya belajar itu sangat kuat sekali.

Karena mereka mengamati kehidupan sehari-hari bukan ngapalin teori2 atau rumus. Mereka learning to do, by doing. Hidup bukan sekedar memilih jalan tapi juga meninggalkan jejak.

 

Menyiasati Living Cost di Eropa

 

Tinggal di Austria membuat Hanum rais jadi belajar masak. Beasiswa cukup untuk berdua ditambah additional income karena mengajar di univ belajar. Dipotong dengan apartemen, gas, listrik dan internet. Baru makan, komunikasi, transport dihitung. Terus jatah biaya traveling juga diperhitungkan.

 

Kalo masak bisa mengurangi cost makan. Paling murah mie Chinesee 2 Euro tapi gak enak. Kalo masak jatuhnya malah bisa hanya beberapa sen. Untuk memasak masakan Indonesia maka agak repot mencari bahan2nya. Kalau makanan eropa lebih simple asal ada garam merica jadilah.

 

Belanja di toko halal lebih baik beli untuk sebulan sekalian karena lebih murah.

Belanja busana, ada komunitas yang mau balik ke negara asal yang mau menghibahkan busana daripada dibawa balik ke kampung malah jadi berat.

 

Di Perancis ada bantuan untuk mahasiswa berupa bantuan tempat tinggal sebanyak 40% biaya. Lalu kantin universitas harganya murah 1-3 Euro sedangkan di luar bisa 10 euro. Siasat lagi utk irit adalah belanja daging seminggu 20 Euro itu lebih murah. Mahasiswa bisa kerja paruh waktu pula.

 

Bagaimana dengan krisis ekonomi, apakah berpengaruh kepada beasiswa. Sebenarnya beasiswa bukan barrier yang jadi tantangan adalah mendapatkan letter of acceptance dari universitas di LN.

 

Untuk melamar S2 yang berbeda dengan S1 nya maka harus dilihat pekerjaannya dulu. Kalau cocok maka jadi alasan yang kuat untuk diterima.

 

Informasi lengkap mengenai bagaimana kuliah di luar negeri dapat dihadiri di acara pameran pendidikan tinggi eropa Sabtu, 12 Oktober 2013 di Puri Agung Convention Hall, Grand Sahid Jaya Hotel, Jl. Jendral Sudirman 86, Jakarta, dari pukul 08.00 sampai 18.00 wib.

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

 

 

 

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.