Posted on: September 20, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 6

Peran Guru Dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013

Jumat, 20 September 2013 guru-guru SMP-SMA di lingkungan Labschool Yayasan Pembina (YP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) diundang untuk mengikuti kegiatan seminar penerapan kurikulum 2013. Kegiatan itu dilaksanakan di Auditorium Labschool Jakarta Rawamangun Jakarta Timur dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00 wib.

Praktik mengajar di kurikulum 2013
Praktik mengajar di kurikulum 2013

Hadir sebagai nara sumbernya adalah Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd, dan Prof. Dr. Conny R. Semiawan. Para pakar atau pendekar pendidikan ini memberikan materi pembelajaran yang bermakna dalam kurikulum 2013 dan strategi implementasi kurikulum 2013.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Labschool serta sambutan dari Ketua Badan Pengelola Sekolah (BPS) YP_UNJ, Ibu Dra. Indira Sunito, M.Psi. Acara juga dibuka dengan doa yang dipimpin oleh bapak Drs. H. Asdi Wiharto, wakil kepala SMP Labschool Jakarta.

Drs. H. Asdi Wiharto membuaka acara dengan doa
Drs. H. Asdi Wiharto membuka acara dengan doa

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh kedua nara sumber. Pada prinsipnya pemerintah memiliki tujuan yang baik dalam rangka mempersiapkan generasi emas yang produktif dan kreatif. Sebagai pendidik kita diharapkan bersikap menerima atau positif thinking dengan ikut memperbaiki atau menyempurnakannya. Tentu saja peran guru di sini sangatlah penting.

Kurikulum yang dibuat memang harus relevan dengan kehidupan sehari-hari dan guru harus mengupdate pengetahuannya. Bila guru mengajar di SMP, maka guru tersebut harus mampu mengikuti jiwa anak SMP dan mengikuti perkembangan zaman dan karakter anak. Oleh karena itu, kurikulum 2013 harus mempunyai dasar-dasar teori yang kuat sehingga mampu melahirkan pemimpin masa depan.

Prof. Dr. H. Arief rachman, M.Pd
Prof. Dr. H. Arief rachman, M.Pd

Prof. H. Arief Rachman, M.Pd mengatakan ada 4 perbedaan penekanan pesan antara kurikulum 2013 dan kurikulum sebelumnya, yaitu:

  1. Pada kurikulum sebelumnya, pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan (fokus pada kognitif), sedangkan pada kurikulum 2013 semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan (fokus pada afektif/karakter)
  2. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran (parsial pada KTSP), sedangkan pada kurikulum 2013 matpel diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai (holistik antar mata pelajaran)
  3. Pada KTSP terjadi individual teacher, dan pada kurikulum 2013 terjadi team teaching
  4. Evaluasi bersifat kuantitatif pada KTSP, sedangkan pada kurikulum 2013 evaluasi (proses) bersifat kuantitatif dan kualitatif.

Pada akhirnya, kurikulum 2013 berujung kepada karakter peserta didik, dan bukan hanya sekedar kompetensi. Oleh karenanya, Prof Arief Rachman membaginya ke dalam 4 bagian, yaitu:

  1. Fokus pada karakter/sikap
  2. Bersifat Holistik
  3. Team Teaching
  4. Evaluasi yang tepat dari kualitatif dan kuantitatif

Menurut David Elkind dan Freddy sweet Ph.D (2004), Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan yang disengaja serta terprogram untuk menolong manusia agar mengerti, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar etika, dengan tujuan agar mereka mengetahui apa yang benar, baik, dan patut serta sangat peduli terhadap apa yang benar dan patut serta percaya dan yakin meskipun dalam keadaan yang tertekan dan dilematis.

Untuk membentuk karakter siswa yang kuat diperlukan guru yang kuat. Karakteristiknya adalah:

  • Akademis
  • Psikologis
  • Pedagogis
  • Sosial

Etika harus lebih diutamakan daripada logika. Keunggulan logika harus diungguli dengan etika, dan guru menjadi pemimpin di kelas yang memiliki karakter kuat untuk pembentukan karakter siswa atau peserta didik. Guru yang kuat adalah guru yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat.

Guru harus menjadi pemimpin atau leader dan memiliki 7 karakter yang terdiri dari:

  1. Leadership Character
  2. Leadership Responsibilities
  3. Leadership Strategy
  4. Leadership and execution
  5. Leadership and Change
  6. Leadership Influence
  7. Leadership and the team

Ketujuh karakter tersebut harus dapat dikuasai oleh guru agar menjadi guru yang kuat dan berkarakter berani, bermental yang tangguh, disiplin diri, mampu menghargai orang lain, percaya diri, memiliki gairah dan memiliki antusias yang tinggi untuk maju. Sehingga guru yang kuat memiliki motto, bekerja untuk hidup dan hidup untuk bekerja.

Guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar dimana dapat mengubah yang abstrak menjadi nyata. Tidak lupa mengelola waktu dengan baik dengan konsentrasi yang detail, memiliki gaya tersendiri, dan mau berubah. You Must anticipate the future and prepare your team to meet it. Managers concentrate on detail whilst leaders concentrate o change. The bst leaders know which style to employ to create the best team climate.

Guru harus menjadi tangguh dan banyak berlatih serta memiliki keberanian yang tinggi dalam perjuangannya sebagai seorang pendidik. Hidup itu selalu berubah. Pandangan hidup juga demikian. Momentum bisa membuat kita mengambil kesempatan yang baik. Guru harus menjadi leadership and change dengan menerima sesuatu hal yang tidak pasti. Termasuk juga kematian yang tidak tahu kapan datangnya.

Dalam pembelajaran holistik, guru harus mempunyai pengetahuan tentang filsafat ilmu yang terdiri dari:

  1. Ontologis
  2. Epistimologis
  3. Aksiologis

Dari ketiga hal di atas guru menjadi ingat mengapa, dan untuk apa guru mengajarkan materi tersebut? Siswa harus memahami untuk apa dia belajar dan memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Ingatlah selalu, guru bukanlah superman, tapi supertim. Dalam team teaching guru melakukan:

  1. Perencanaan program bersama
  2. Pembagian tugas yang jelas dan seimbang
  3. Memahami materi/kompetensi secara menyeluruh
  4. Bekerja dalam satu tim yang solid

Guru juga harus dapat menilai peserta didiknya dengan evaluasi yang tepat. Evaluasi pembelajaran harus mampu mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Untuk ketiga hal tersebut, Prof Arief memberikan tugas kepada guru untuk membuatnya.

Proses dan kesimpulan itu adalah suatu hal yang penting. Dalam proses itu harus ada kesimpulan. Contohnya dalam mengukur akhlak (menurut Prof Conny Semiawan), maka ada 3 hal yang harus dilakukan yaitu: View (pandangan), Value (nilai), dan Virtue (kebajikan).

Prof. Conny Semiawan lebih menyoroti kurikulum 2013 sebagai ajang guru untuk melakukan refleksi diri. Tanpa adanya refleksi, kurikulum 2013 tak akan berjalan dengan baik. Refeksi atau reflecting itu sangat penting dalam kurikulum 2013 sehingga melahirkan karakter atau watak peserta didik yang peduli, bertanggung jawab, mandiri, dan hal-hal baik lainnya.

Pendekatan keterampilan harus menggunakan Critical Thinking, Conditioning, Communication, dan Creativity. Peserta didik harus mampu menghubungkan antara pengetahuan satu dengan pengetahuan yang lain dalam pembelajaran yang mengundang. Siswa menjadi aktif dan bukan “Cah Bodo Siswa Akeh”.

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh kedua nara sumber dalam menerapkan kurikulum 2013. Apalagi ada contoh praktik mengajar yang dilakukan oleh ibu Iin beserta tim sukarelawan. Walaupun ada perdebatan antara yes dan no tentang proses pembelajarannya, saya sendiri memberikan apresiasi atas contoh praktik mengajar yang ditampilkan. Kemampuan TIK menjadi sangat penting, karena guru harus mampu melakukan presentasi dengan baik menggunakan komputer.

Jadi, peran guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangatlah penting. Guru harus mampu memberikan penekanan yang berbeda dari kurikulum sebelumnya. Fokus pada karakter atau sikap peserta didik dan menjadi guru yang kuat dengan mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat pula. Hal yang terpenting, guru harus mampu bekerjasama dengan guru lainnya sehingga mampu melahirkan pembelajaran yang mengundang siswa untuk aktif.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

6 People reacted on this

  1. apa kabar omjay? sehat selalu, semoga.
    Ya, apa pun kurikulumnya, Guru selalu menjadi faktor paling dominan bagi keberhasilannya. Sebagai sebuah konsep, kurikulum 2013 memang cukup menarik, meski ia bukanlah murni gagasan baru, hanya pengembangan dari kurikulum sebelumnya, dan beberapa mengadopsi CBSA. Semoga demikian dalam hal implementasinya.
    salam Guru Blogger Indonesia…

  2. mohon maaf sebelumnya mohon ijin untuk copas ya om jay. kelihatannya tidak terlalu sulit untuk mengimplementasikannnya. Tapi saya meragukan komitmen dan keseriusan guru guru untuk menerapkannya. bisa saja dengan alasan kekurangan fasilitas, kemampuan siswa yang rendah, atau terlalu banyak memakan waktu. semoga itu hanya alasan oknum guru.

  3. Peran guru sangat besar sekali terhadap keberhasilan kurikulum 2013,dalam hal ini guru harus lebih meningkatkan kompetensinya seperti yang diamanatkan oleh undang-undang tertama guru yang sudah bersertfikasi.

  4. kalau memang peran guru sangat penting dalam membentuk siswa yang aktif, kenapa banyak siswa yang protes karena merasa tidak “diajari” oleh gurunya ya? apakah mungkin implementasinya yang kurang tepat?

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.