Posted on: June 13, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 1

Pilih PKS atau PDIP ya?

Seorang teman bertanya kepada penulis. “Kamu mau pilih PKS atau PDIP dalam pemilu 2014 nanti?”.

Saya kaget mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Sebab kader PKS dan PDIP sama-sama militannya. Bedanya, PDIP ketua umumnya tak tersangkut kasus korupsi, sedangkan PKS?

Saya menghela nafas panjang-panjang. Sebab beberapa hari belakangan ini saya banyak menulis tentang PKS. Bahkan saya dituding sebagai kader PKS, karena keberpihakan saya. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Saya dibuat tersenyum-senyum sendiri di depan komputer atau ponsel yang saya gunakan. Beginilah gaya seorang blogger kompasiana yang tulisannya disoroti banyak orang, hehehe.

Saya teringat kembali ketika PDIP mengalami masa-masa sulit. Apalagi ketika terjadi perebutan markas PDi dimana PDI pecah menjadi PDI Suryadi dan Megawati. Kenyataan sejarah membuktikan, Megawati mampu mengalami masa-masa sulit itu. PDIP menjadi partai harapan wong cilik dan bukan wong licik. PDIP pun mengalami masa kejayaannya ketika Megawati menjadi presiden. Jauh bangTt ketika rezim Suharto berkuasa.

PKS dan PDIP jelas berbeda. PKS itu partai agamis sedangkan PDIP partai nasionalis. Begitulah kebanyakan orang memetakan. Saya tidak tahu banyak lagi selain itu. Semoga saja ada yang menuliskannya panjang lebar di kolom komentar.

Bagi saya secara pribadi, saya lebih memilih partai nasionalis. Mengapa? Sebab Indonesia itu plural (majemuk/heterogen) dan unik. Keunikannya itu terlihat dari banyaknya suku dan agama. Empat pilar yang ditawarkan almarhum Taufiq Kiemas jelas sangat cocok diterapkan di Indonesia yang berlandaskan Pancasila.

 

“Kalau PKS berubah menjadi nasionalis bisa gak ya?” Tanya saya dalam hati. Wah saya tidak tahu, sebab saya bukan kader PKS, dan bukan pula simpatisannya. Jadi silahkan saja memilih apa yang kamu ketahui dan kemudian sukai. Jadi, kalau saya ditanya pilih PKS atau PDIP, maka saya akan pilih PDIP. Kenapa? Sebab saya ingin ada banyak orang seperti Jokowi yang hidup sederhana dan disenangi banyak orang. Terkadang pikiran liar saya sering berkata, “seandainya saja Jokowi jadi kader PKS, apakah PKS akan menjadi semakin besar ya?”

Salam blogger persahabatan
Omjay
https://wijayalabs.com

Categories:

1 people reacted on this

  1. Mantep sekali tulisan bapak. Kalo saya sih pilih golput aja pak di 2014. sebab PKS ama PDIP tu ga beda jauh, bahkan semua partai pun ga ada beda jauh. Yang kiri sekarang ketengah, yang partai Kanan sekarang ketengah… nahh akhirnya ya sama saja…
    Kita sebenarnya sama selera pak, pilh partai yang Ideologis. Bedanya bapak pilih PDI yang nasionalis sekuler, sedangkan saya suka partai Islam yang pengen menerapkan Islam secara tuntas. Tapi di Indonesia blm ada partai yang seperti itu sih.. Analisa saya sih PDIP menang di 2014, karena rata2 masyarakat Indonesia itu sekuler. herannya kenapa bangsa ini ga kapok diterapkan sistem sekuler mulai tahun 1945-2014, dan indonesia semakin terpuruk. Sekarang solusinya menurut saya adalah Islam. Hanya dg sistem Islam lah Indonesia bisa jaya dan maju. Masalah perbedaan agama, suku dll itu sunatullah. tegantung komunikasi lah, toh Islam rahmatan lil alamin. Di negara mana pun dg sistem apapun pasti ada keanekaragaman sosial budaya dll. Masalahnya adalah kita pilih sistem buatan manusia atau pilih sistem buatan Tuhan?
    Salam kenal…

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.