Posted on: May 25, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

PKS dan ujian Nasional

Presentasi Petisi UN oleh Mas Khresna
Presentasi Petisi UN oleh Mas Khresna

Minggu ini kita diramaikan dengan kasus mantan presiden pks, luthfi hasan ishak (lhi) dan juga ujian nasional. Kedua berita itu menjadi santapan media belakangan ini.

Bad news is a good news. Berita yang tidak mengenakkan seringkali menjadi headline berita. Bila kita tak cerdas menangkap berita itu, maka kita akan menelannya bulat-bulat.

Kasus lhi misalnya, media nampaknya menayangkan berita melalui Darin yang baru saja lulus ujian nasional. Lulusan smk ini diberitakan memiliki kedekatan dengan lhi. Media rupanya hendak menggiring publik bahwa lhi suka perempuan dan duit korupsinya digunakan untuk melayani nafsu bejatnya yang suka perempuan. Itulah yang pada akhirnya ditangkap publik.

Saya merasakan betapa kejamnya media memberitakan kasus lhi ini. Pada akhirnya partai keadilan sejahtera atau pks dipertaruhkan pencitraannya. Publikpun akhirnya digiring untuk tidak memilih pks dalam pemilu 2014 nanti. Luar biasa!

Itulah kekuatan media, terutama televisi. Kita harus hati-hati dan bijaksana menyikapinya. Bagi saya kasus lhi ini biasa saja. Tak perlu dibesar-besarkan. Sebab kasusnya masih berjalan dan masih harus dibuktikan di persidangan.

Ada berita yang jauh lebih penting ketimbang kasus mantan presiden pks. Bagi saya yang seorang pendidik lebih tertarik dengan nasib ujian nasional yang disingkat un.

Kita melihat hampir seratus persen siswa kita lulus setiap tahunnya, tetapi setelah itu? Banyak dari mereka menjadi pengangguran dan tidak bisa melanjutkan pendidikan. Ini tentu menjadi pemikiran kita. Jangan sampai setelah lulus un sma atau sederajat dengannya mereka menjadi pengangguran intelektual. Jiwa interpreneurship harus mengalir dalam diri mereka. Bila tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan belum berhasil mendapatkan pekerjaan, maka wiraswasta menjadi alternatif lain yang sesungguhnya bisa diajarkan kepada mereka. Hanya sayangnya, sekolah kita masih melahirkan tipe pekerja dan bukan pengusaha.

Saya juga sedih melihat berita di televisi. Setelah lulus un, anak-anak itu ada yang tawuran, menabrak orang, dan kejadian yang tidak mengenakan. Tentu kita prihatin dengan keadaan ini. Seharusnya para guru mampu mengantisipasinya, dan bekerja sama dengan masyarakat setempat.

Di sekolah kami, pengumuman un dilaksanakan dengan penuh kegembiraan, tapi kegembiraan itu tak mengganggu aktivitas orang lain. Spanduk putih kami bentangkan di tiang gedung sekolah dan anak-anak yang bergembira lulus un itu langsung mencoret -coret pesannya plus tanda tangan kerennya. Baju seragam mereka dikumpulkan dan disumbangkan buat mereka yang membutuhkan. Daripada baju dicorat coret, lebih baik diberikan kepada orang lain yang membutuhkannya. Itu jauh lebih manfaat ketimbang mencoret coretnya dengan aneka warna lalu berkonvoi ramai-ramai dengan sepeda motornya. Sekolah harus tegas mengarahkan siswanya. Siswa yang melanggar aturan tata tertib sekolah harus terkena sanksi.

Akhirnya pks dan ujian nasional menjadi berita terhangat belakangan ini. Saya berharap pks mampu menghadapi ujian ini dengan baik. Kita pun berharap mereka yang lulus un dapat diterima di perguruan tinggi sesuai harapan mereka. Buat mereka yang belum lulus un, bersabarlah dan teruslah belajar karena un hanya sebagian kecil ujian kehidupan. Masih banyak ujian lainnya yang akan dihadapi dalam kehidupanmu.

Salam blogger persahabatan
Omjay
https://wijayalabs.com

Categories:

2 People reacted on this

  1. Baik, saya siapkan yang tearrbu. Secara program kami baru saja launch internet gratis 1 MB perhari untuk memperkaya 100 SMS perhari yang sudah jalan sebelumnya. Tetap ada syarat, tapi sangat ringan. ntar saya tulis deh.Terima kasih perhatiannya pak.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.