Posted on: April 24, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Semua Bunga Hari Esok Adalah Benih-benih Hari ini

IMG01857-20130424-0657

Rabu, 24 April 2013 saya kembali bertugas mengawas UN di SMPN 232 Jakarta Timur. Hari ini adalah hari ketiga pelaksanaan UN dengan bidang Studi Matematika.

Pukul 05.00 wib saya sudah berangkat dari rumah di Jatibening Bekasi. Saya sengaja berangkat pagi sekali untuk menghindari macet di ibu kota Jakarta. Pengalaman kemarin berangkat siang, saya sangat khawatir sekali terlambat. Sebab kemacetan terjadi dimana-mana.

Sekitar pukul 06.00 wib saya sudah berada di tempat mengawas UN. Saya diminta oleh panitia untuk sarapan pagi nasi goreng gila terlebih dahulu. Enak bener rasa nasi gorengnya. Apalagi ditambah dengan telor ceplok dan kerupuk udang. Saya menjadi lahap memakannya. Sampai lupa dengan program diet yang sudah saya proklamirkan sendiri, hehehe.

IMG01856-20130424-0614

Setelah sarapan pagi, iseng-iseng saya berkeliling sekolah sambil ke kamar kecil atau toilet. Saya bertemu sekelompok peserta UN yang sedang asyik mengobrol di kantin sekolah. Saya mencoba menyapa dan menyalaminya. Ramah sekali mereka menyambut saya. Kamipun terlibat dialog UN yang tak terduga.

Kata mereka, soal UN bahasa Inggris kemarin lumayan susah, dan mereka sangat berharap UN tidak ada lagi tahun depan. Kata mereka, ujian sekolah jauh lebih sulit dari UN. Lebih baik UN ditiadakan saja. Saya tersenyum mendengarkan mereka bicara dan mengamininya dalam hati. Seandainya saja para pejabat kemdikbud sering berdialog seperti ini, mungkin mereka akan banyak mendapatkan masukan dari peserta didik secara langsung.

Dalam realitanya, UN hanya dipersiapkan untuk siswa mampu menjawab soal pilihan berganda. Sekolah biasanya menyiapkannya selama satu semester atau 6 bulan. Segala upaya dilakukan untuk mendongkrak nilai UN. Mulai dari pendalaman materi, bimbingan belajar, Try out, TUKPD, dan lain-lain. Pada akhirnya, sekolah hanya memikirkan pelajaran yang di ujian nasionalkan saja. Pelajaran lain menjadi terabaikan.

Usai blusukan (mengambil istilah Jokowi) di sekolah tempat mengawas, saya mengambil gambar sebuah kata-kata mutiara. Isinya sangat bagus sekali. “Semua Bunga Hari esok adalah benih-benih hari ini”. Kalimat itulah yang menjadi inspirasi saya dalam menuliskan pengalaman saya hari ini mengawas UN di SMPN 232 Jakarta Timur.

Setelah blusukan melihat-lihat kondisi sekolah yang bekas RSBI ini, saya kembali ke ruang pengawas UN. Ternyata sudah semakin banyak teman-teman pengawas UN yang hadir. Ada yang sedang asyik mengobrol, dan ada yang sedang menikmati sarapan paginya dengan nasi goreng gila. Sayapun larut dalam obrolan teman pengawas. Sampai tak lama kemudian panitia membuka acara pengarahan untuk pengawas UN.

Kami mendapatkan pengarahan dari wakil kepala sekolah SMPN 232 Jakarta, beliau menitipkan salam karena ibu kepala sekolah sedang ada kegiatan lain. Setelah memberikan beberapa informasi, kami pun langsung mengambil soal UN Matematika dan kelengkapan lainnya yang sudah disiapkan oleh panitia.

Pukul 07.10 wib semua pengawas UN masuk ke ruangannya masing-masing. Kali ini saya bertugas di ruang 9 bersama ibu Elisabeth dari SMPN 99 Jakarta. Ruangan ini ternyata adalah ruang multimedia SMPN 232 Jakarta yang disulap menjadi ruang ujian. Saya masih ingat ketika ruangan ini diresmikan tahun 2006 oleh kepala dinas pendidikan dasar ibu Hj. Dr. Sylviana Murni, M.Si.

Soal UN Matematika langsung saya bagikan setelah seluruh peserta saya minta untuk berdoa terlebih dahulu. Ada satu peserta UN yang tidak masuk. Menurut teman-temannya, siswa yang tak ikut UN itu adalah siswa anak berkebutuhan khusus (ABK). Ternyata, SMPN 232 Jakarta juga menerima anak berkebutuhan khusus. Mereka sudah menjadi tempat sekolah bertaraf Inklusi (SBI). Menurut informasi yang saya dapatkan dari panitia UN, ada sekitar 13 orang siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sini. Sebuah informasi yang ingin saya dalami lebih jauh.

Alhamdulilah, pelaksanaan UN matematika berjalan lancar. Waktu 2 jam berlalu begitu cepat. Saya mengisi waktu mengawas UN sambil menulis di kertas coret-coretan yang tersisa. Jadilah tulisan ini tersaji untuk anda. Ternyata menulis itu mengasyikkan.

Pelaksanaan UN hari ketiga alhamdulilah berjalan lancar dan tertib. Tak ada terlihat kecurangan di sekolah ini. Anak-anak mengerjakan soal UN dengan penuh kejujuran. Semoga begitu juga di sekolah lainnya. Saya menjadi teringat pesan kata-kata mutiara yang saya potret papannya. Semua bunga hari esok adalah benih-benih hari ini. Semoga para peserta UN hari ini adalah para pemimpin masa depan yang akan mencerahkan Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Salut juga buat prestasi siswa di SMPN 232 Jakarta.

IMG01858-20130424-0954

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

2 People reacted on this

  1. Bagus sekali ya pak, “Semua bunga hari esok adalah benih hari ini”. Saya setuju sekali itu. Sayang kemarin ga ikut ngawas UN pak, jadi saya ga bisa nyicipin berbagai suguhan sekolah lain yang bermacam-macam itu ya pak? haha! Terus menulis pak, mari kita sirami benih-benih bunga bangsa!

    (Ngomong2 saya satu almamater dengan anda ED – UNJ 2004)
    Kalo mau baca2 tulisan saya juga boleh lho pak heheheheh….
    Salam…

    http://hanungelisabeth.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.