Posted on: April 7, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 15

Kurikulum 2013, Benar-benar Ditelanjangi di Kampus UNJ oleh Praktisi Pendidikan

Peserta Seminar Nasional di Kampus UNJ Rawamangun
Peserta Seminar Nasional di Kampus UNJ Rawamangun

Minggu, 7 April 2013 adalah tanggal yang tak pernah terlupakan oleh saya sebagai seorang guru. Sekitar 200 orag guru hadir di Aula perpustakaan unj Rawamangun Jaktim. Mungkin ini adalah sejarah baru, dimana para guru yang kritis berani berbicara kepada pemerintah dan mengkritisi kebijakannya.

Kami hadir untuk mendapatkan informasi seputar kurikulum baru, dan kesiapan guru dalam menghadapinya. Tema seminar nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ dan bekerjasama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI)adalah Kesiapan Guru Dalam Kurikulum Baru dan Problematika yang Dihadapinya.

Saya diminta memberikan sambutan mewakili ketua Umum IGI Pusat, Pak Satria Darma. Acara dibuka oleh Bapak Dr. Supriyanto, Pembantu Rektor 4 UNJ. Sebelumnya, ketua panitia dari BEM UNJ memberikan laporannya.

Nara sumber yang hadir sangat luar biasa. Bu dian dari kemdikbud, bu nara dosen unj dan pak jimmy dosen unj benar-benar menelanjangi kurikulum 2013. Saya akan berikan materi presentasi mereka segera. Foto kegitannya bisa dilihat di sini.

Bu dian mengatakan bahwa pelatihan guru akan dilaksanakan 2 tahap oleh kemdikbud. Hanya 10 % saja guru yang mendapatkan pelatihan guru di Indonesia. Kurikulum 2013 akan diterapkan 30 % di SD, 20 % di SMP, dan 100 % di SMA. Sekolah yang paling bagus akreditasinya akan diberi kesempatan untuk mengimplementasikan kurikulum 2013. Guru adalah kunci dalam suksesnya pelatihan ini, maka guru akan didampingi tim pendamping kurikulum yang terdiri dari para dosen di perguruan tinggi, lengkapnya di file ini.

Bu Nara dalam presentasinya mengatakan, permasalahan mendasar kurikulum 2013 adalah tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam, memberatkan siswa, ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak, tematik lebih cocok diterapkan di kelas dasar, tidak memperhatikan konteks sosiologis keindonesiaan. Jumlah jam yang terlalu banyak, kendala tematik di kelas lanjut, ciri khas ke Indoensiaan direduksi dalam mulok (hanya beberapa daerah), afektif dan psikomotor tidak dibarengi dengan fasilitas yang memadai, dan justru struktur kurikulum menimbulkan potensi masalah yang besar. terutama dengan dihapuskannya matpel TIK, dan pelajaran lainnya dalam kurikulum 2013. Bu nara menambahkan bahwa penyiapan guru membutuhkan waktu yang lama. Tidak hanya sekali atau dua kali pelatihan saja. Lengkapnya ada di file ini.

Lebih semangat lagi adalah materi dari pak Jimmy Phaat. Informasi kemendikbudnas tentang akan dilaksanakannya Kurikulum baru, yaitu yang dikenal dengan sebutan Kurikulum 2013, sejak akhir tahun lalu, telah menimbulkan perdebatan, baik ilmiah maupun non ilmiah (baca politis). Perdebatan tersebut tampak di berbagai tulisan yang mengeritik kurikulum tersebut, seperti yang terbaca di berbagai media tulis, seperti Kompas , Koran Tempo, untuk hanya menyebut beberapa di antaranya, dan terdengar dan terlihat di media elektronik, seperti Metro TV.

Diskusi-diskusi kusus baik yang formal maupun yang informal mengenai kurikulum tersebut pun berlangsung di beberapa perguruan tinggi. Saya sebutkan saja salah satu diskusi yang menjadi banyak perhatian masyarakat ilmiah adalah diskusi kurikulum yang dilaksanakan Musyawarah Guru Besar ITB pada 13 Maret 2013.

Tanggapan-tanggapan politis pun tertangkap oleh kami, seperti yang terlihat di rapat dengar pendapat tentang Kurikulum 2013 di Komisi X DPR pada malam hari 25 Maret 2013. Para anggota komisi tersebut dengan pernyataan-pernyataan “politis”, seperti “saya belum mau menandatangani anggaran kurikulum ini sebelum ada penjelasan keuangan yang sebesar Rp 1 triliun lebih ini”, memberi gambaran kepada kami kurikulum 2013 masih dipersoalkan di gedung DPR.

Yang saya utarakan di atas adalah kritik terhadap kurikulum 2013.  Tentu kritik tersebut telah ditanggapi kemendikbudnas. Tanggapan yang paling menarik tentu yang dikemukakan Bapak menteri sendiri melalui koran Kompas, 7 Maret, 2013. Singkatnya Bapak Menteri, M. Nuh mengatakan para pengeritik tidak paham apa yang dikritik. Perhatikan pernyataannya : “ Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu  konstruksi kompetensi dalam kurikulum sesuai koridor yang telah digariskan UUD Sisdiknas sebelum mengeritik (kami yang menggarisbawahi). Apa yang terbaca di paragraf terakhir tulisan orang nomor satu di Jalan Jendral Sudirman Kav 4-5 menunjukkan para pengeritik tidak paham kurikulum 2013. Sedangkan pemaran dari pak Jimmy Paat saya buatkan dalam postingan tersendiri di sana dan di sini.

Moderator mas Muhammad Ihsan (Sekjen IGI Pusat) juga tak kalah luar biasanya di sesi satu seminar nasional ini. Tak lupa tim live streaming pak ruki, dkk menyiapkan live agar seminar bisa didengar secara langsung di dalam maupun luar negeri. Sayangnya, di tengah jalan listrik PLN mati. Acarapun sempat terhenti beberapa saat. Rupanya ada pemadaman bergilir dari PLN.

Tegang! Itulah yang terjadi. Saya langsung spontan bicara di depan peserta untuk tetap mendengarkan walaupun aliran listrik dari PLN mati. Sebagai guru kita sudah terbiasa dalam kondisi apapun. Acarapun dilanjutkan dan semua pembicara turun dari panggung dan mendekat ke peserta. Suasana menjadi lebih hidup kembali ketika panitia mahasiswa bem unj sudah siap dengan wireless batteray.

Acara pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara lansung. Audiens begitu bersemangat untuk bertanya kepada nara sumber. Saya sendiri sudah gatel ingin live tweet atau buka facebook saya. Namun apa daya batteray blckberry saya dengan pin 22328dd7 low battery. Terpaksalah saya hanya melihat dan mendengarkan dialog yang sangat langka itu.

Mbak dhita direktur program kegiatan igi pusat nampak serius mencatat semua paparan pembicara dan pertanyaan peserta. Kamera pun disiapkan utk bisa diupload di youtube oleh tim dari ibu Itje Chodijah.

Inilah seminar nasional yang sangat berisi daripada seminar nasional yang ada saat ini, meskipun listrik pln mati. Sealain itu, Mas ihsan sangat piawai sekali membawakan acara. Intinya, kurikulum 2013 belum siap diterapkan di Indonesia dan anggota DPR Komisi X harus menolak anggaran dananya yang membengkak menjadi 2,49 trilyun agar uang rakyat tak terbuang sia-sia. Saya pun menjadi semakin yakin kenapa kurikulum ini harus ditolak. Sebab kurikulum ini diterapkan dengan pendekatan kekuasaan tanpa kajian ilmiah yang benar. Terjadilah hukum rimba dalam dunia pendidikan kita.

Tentu saya akan mengupload semua file yang saya dapatkan hari ini dari para nara sumber. Namun apa daya internet speedy saya di rumah ada gangguang. Jadi saya hanya bisa menuliskannya secara bertahap di status facebook blackberry jadul saya ini. Semoga besok pagi bisa saya upload di sekolah dan teman-teman guru yang tidak hadir bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan selama acara berlangsung. Pak Ruki dengan timnya juga sudah siap dengan rekaman streamingnya dan siap diupload di internet. Anda bisa melihat alamat url linknya di status facebook saya terdahulu. Edu Radio (streaming) akan menyiarkan sejak pukul 07.00 secara Live dan dapat didengarkan melalui : web kami di http://tamansiswa-jakarta.org/ atau di URL : http://s9.myradiostream.com:16408 dengan media player (VLC; Winamp; Windows Media Player dll)

Seminar tetap berlangsung guyup meskipun listrik mati dari PLN. Para peserta semakin menggebu-gebu bertanya kepada nara sumber. Sekitar 200 orang guru menjadi tahu bahwa banyak yang tidak beres dalam kurikulum 2013. Kompetensi Inti yang harus diperbaiki, Kompetensi dasar yang harus dikembangkan, dan lain-lain. Kami pun menjadi tercengang dibuatnya ketika para nara sumber itu menyampaikannya dalam bahasa yang sangat sederhana. Kami semua tak beranjak dari tempat duduk kami.
Kini saatnya guru bersatu, dan bersuara untuk menolak kurikulum 2013 yang ternyata belum diterapkan ke semua sekolah di Indonesia. Jadi lebih tepatnya kurikulum ini belum bisa disebut sebagai kurikulum 2013 sebab sifatnya masih uji coba, tidak diterapkan di seluruh sekolah, dan belum tentu berhasil diterapkan implementasinya di sekolah.
Para hadirin yang hadir menjadi tercerahkan, dan lebih memahami kenapa kita harus menolak kurikulum 2013. Kita pun menjadi tahu bahwa ujung-ujungnya duit dan bukan lagi akademik. Penerapan kurikulum 2013 dengan pendekatan kekuasaan jelas bernuansa politik dan harus dikritik oleh para cendikiawan dan para guru sebagai praktisi di lapangan. Guru tidak lagi diam membisu dan menerima begitu saja kurikulum ini sementara para guru besar di perguruan tinggi belum sepakat akan hal ini. Gerakan penolakan kurikulum 2013 pun semakin membesar di seluruh indonesia.

Dalam tanya jawab yang semakin seru, para nara sumber seminar seperti ibu Dian (kemdikbud), ibu Hartini Nara (dosen fip unj), dan pak Jimmy Phaat (dosen fbs unj) menjawab semua pertanyaan peserta dengan sangat baik sekali. Mas ihsan  (Sekjen IGI Pusat) juga sangat pandai sekali membawakan acara meskipun listrik mati. Beberapa wartawan dan blogger saya lihat sangat cepat melakukan reportasenya. Pak Nur dari harian Terbit, dan mbak Ester Napitupulu dari Kompas telah siap meliput acara seminar di Perpustakaan kampus UNJ.

Sesi kedua acara seminar kesiapan guru menghadapi kurikulum baru lebih seru lagi. Bi itje (Dewan pakar IGI Pusat), bu Retno (Sekjend FSGI), dan pak Laode (Staf Ahli DPR) memberikan sejumlah data dan fakta bila kurikulum 2013 belum bisa diterapkan saat ini. Sangat berbahaya buat guru, peserta didik, dan orang tua murid. Presiden SBY harus menunda dulu kurikulum 2013 sampai siap dan disempurnakan. Bila pemerintah masih ngeyel, tak ada jalan lain kecuali tolak kurikulum 2013, dan para guru menolak mengajar dengan kurikulum baru yang belum dikaji secara ilmiah. Hal ini dilakukan demi menyelamatkan anak bangsa dan bukan menolak perubahan.(bersambung)

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

15 People reacted on this

  1. Kepada para pembaca,

    Sebagai orangtua murid eks-RSBI SD negeri di Jawa Tengah, izinkanlah kami memberikan masukan agar kurikulum 2013 dibatalkan karena:
    1.Ada kesenjangan yang sangat jauh antara kurikulum 2013 dengan kurikulum RSBI,dan ini sangat merugikan siswa eks-RSBI. Siswa RSBI sudah terbiasa mendapatkan pelajaran dengan materi yang jauh lebih tinggi dan sulit,KKM tinggi.Kalau kurikulum 2013 dipakai sama artinya dengan kemunduran mutu pendidikan. Benar kata Adik Galang,kurikulum 2013 ini sangat dangkal.Pemerintah harus memberikan kurikulum yang sesuai dengan tingkatan pelajaran yang telah didapat oleh anak eks-RSBI.Lebih baik lagi kalau sekolah eks-RSBI tetap diizinkan memakai kurikulum RSBI.
    2.Kurikulum 2013 dibuat tergesa-gesa tanpa riset yang cukup terhadap kurikulum sebelumnya,yaitu KTSP dan outputnya. Tirulah negara Eropa yang tidak mudah mengganti kurikulum. Mereka mengganti kurikulum setelah 50 tahun dan dengan pemikiran yang matang.
    3.Kurikulum bukan sekedar proyek pemerintah,jadi perlu dengar pendapat dalam ruang lingkup yang luas. Guru,murid,praktisi pendidikan,dan orangtua murid perlu dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
    4.Uji publik belum dilakukan tetapi Mendikbud sudah memanggil penerbit buku.Ada apa Pak?Rakyat curiga nih.
    5.Anggaran kurikulum 2013 yang makin membengkak, dikhawatirkan rawan mark up dan korupsi.2,49 trilyun itu jerih payah rakyat jadi jangan dihambur-hamburkan.
    6.Kurikulum 2013 belum jelas kelanjutannya karena Mendikbud tinggal menjabat setahun lagi dan pasti diganti.
    Demikianlah surat saya.Harap menjadikan perhatian dan pertimbangan dalam memutuskan sesuatu agar tidak merugikan rakyat.Sebagai pemimpin contohkanlah demokrasi dan bukan otoriter.Terimakasih.

    1. Saya kurang setuju dengan kurikulum 2013 karena:
      1.Kurikulum 2013 belum matang karena dibuat secara tergesa-gesa tanpa evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya. 2.Kurikulum 2013 terkesan hanya proyek Kemendikbud dengan anggaran yang terus menerus meroket.3.Kurikulum 2013 dibuat dengan menabarak dasar hukum UU Sisdiknas 4.Kurikulum 2013 tidak jelas kelanjutan dan pertanggungjawabannya karena masa jabatan Mendikbud tinggal setahun lagi dan tidak mungkin terpilih kembali.5.Kurikulum 2015 tidak sesuai dengan sekolah eks-RSBI karena materinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kurikulum RSBI. 6.Kurikulum 2013 adalah kekerasan dan hukum rimba dalam dunia pendidikan,bagi anak/pelajar,bagi guru/pengajar dan bagi masyarakat luas. 7.Kurikulum 2013 tidak memperhatikan kesinambungan pendidikan, tetapi hanya menciptakan pembodohan belaka. 8.Kurikulum 2013 adalah proyek yang rawan korupsi.
      TOLAK KURIKULUM 2013.

  2. Kemendikbud tenang-tenang saja walaupun mendapat kritikan dari seluruh Indonesia,kelihatannya ini untuk meredam konflik.
    Menurut saya kurikulum 2013 sangat dangkal materinya,dan bukan merupakan penyempurnaan dari kurikulum terdahulu. Sebagai orangtua dari dua anak kembar yang masih duduk di tingkat SD, saya mohon saran kepada para pembaca tentang kemungkinan menyekolahkan anak di luar negeri.Di negara manakah yang ada sekolah dasar bermutu dengan kurikulum yang baik?Biaya berapapun tidak masalah demi kebaikan mereka, karena saya dan suami terlanjur tidak percaya dengan pejabat Indonesia,kebanyakan hanya tahu korupsi,makan anggaran proyek negara dan mengorbankan masa depan bangsanya.
    Mohon jawaban lewat blog ini.

    1. Saya kurang setuju dengan kurikulum 2013 karena:
      1.Kurikulum 2013 belum matang karena dibuat secara tergesa-gesa tanpa evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya. 2.Kurikulum 2013 terkesan hanya proyek Kemendikbud dengan anggaran yang terus menerus meroket.3.Kurikulum 2013 dibuat dengan menabarak dasar hukum UU Sisdiknas 4.Kurikulum 2013 tidak jelas kelanjutan dan pertanggungjawabannya karena masa jabatan Mendikbud tinggal setahun lagi dan tidak mungkin terpilih kembali.5.Kurikulum 2015 tidak sesuai dengan sekolah eks-RSBI karena materinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kurikulum RSBI. 6.Kurikulum 2013 adalah kekerasan dan hukum rimba dalam dunia pendidikan,bagi anak/pelajar,bagi guru/pengajar dan bagi masyarakat luas. 7.Kurikulum 2013 tidak memperhatikan kesinambungan pendidikan, tetapi hanya menciptakan pembodohan belaka. 8.Kurikulum 2013 adalah proyek yang rawan korupsi.
      TOLAK KURIKULUM 2013.

  3. jika berbicara tentang perubahan kurikulum ada baiknya perlu kita telaah kembali dan perlu sekali kita pertimbangkan dalam pengambilan sikap dan tindakan,sebab perubahan kurikulum yang terjadi pada masa masa sebelumnya toh saya pikir tidak terlalu ada perubahan yang menonjol, kurukulum bukanlah kancah politik yang ketika bertukar era kepemimpinan harus bertukar pula semuanya, jika membenahi dan memperbaiki adalah hal yang baik kenapa harus ditukar.

  4. Saat ini Indonesia tidak membutuhkan kurikulum baru. Yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini adalah peningkatan kualitas pendidikan dan terjangkaunya biaya pendidikan serta pemerataan kesempatan bersekolah.

    Berapa triliun biaya yang diperlukan untuk mengganti kurikulum (Depdikbud menggunakan istilah “Pengembangan Kur
    ikulum” mungkin agar tidak timbul gejolak. Tapi intinya tetap perubahan kurikulum)?

    Apakah ada jaminan keberlanjutan kurikulum ini kelak, mengingat semua kurikulum yang dibuat tidak dilaksanakan dengan tuntas (KBK, KTSP, misalnya)?

    Apakah sudah dilakukan penelitian yang mendalam terhadap hasil kurikulum sebelumnya yang menyatakan kita perlu mengubah kurikulum?

    Apakah sudah dipikirkan pengaruh (effects) dan dampak (impacts) diterapkannya kurikulum baru nanti?

    Saya berpendapat bahwa sekarang ini kita jangan membuang-buang energi (uang, waktu, peralatan, buku, dsb) dengan mengganti kurikulum!

    Kapan bangsa ini konsisten dengan apa yang ditetapkan oleh Pemerintah tentang Kurikulum jika kebijakan lama dianggap tidak baik dan selalu pejabat yang baru mengubah arah kebijakan sebelumnya.

    Kurikulum bagi dunia pendidikan ibarat “Undang Undang Dasar” bagi negara. Jika UUD nya diganti sebelum dilaksanakan dengan tuntas, kapan lagi kita punya peluang untuk meningkatkan kualitas?

    Kelemahan-kelamahan sistem pendidikan yang sekarang ada TIDAK HARUS dengan mengubah kurikulum, melainkan dengan cara memperbaiki praktik di sekolah-sekolah.

    Jangan menyianyiakan amanah rakyat hanya demi opini, argumen, atau pikiran sendiri bahwa kurikulum harus diubah. Alasan-alasan yang digunakan untuk mengubah kurikulum itu pada dasarnya sangat normatif dan tidak substantif padahal kurikulum yang sekarang dapat mengamodasi semua alasan itu untuk diperbaiki.

  5. setelah UN, sekarang kurikulum 2013, nanti apalagi…?
    jika semua ini berkaitan dengan mega proyek…
    jika tetap dipaksakan, betul tidak ada kata lain selain para pengajar menolak mengajar dengan kurikulum baru…

  6. Ditemukan, 8 Kejanggalan pada Kurikulum 2013
    Penulis : Riana Afifah | Jumat, 15 Februari 2013 | 15:39 WIB

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Pemilihan Sekolah Ditentukan Daerah
    • Kurikulum 2013 Diberlakukan secara Bertahap
    • Kurikulum 2013 Mulai Diterapkan di Lebih 100.000 Sekolah
    • Ditetapkan, Kriteria Guru yang Dilatih untuk Kurikulum Baru
    • Wapres RI: Kurikulum 2013 Jangan Molor
    JAKARTA, KOMPAS.com – Koalisi Pendidikan bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang dijadikan pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melihat delapan kejanggalan ini, menunjukkan pemerintah tidak memiliki mekanisme pasti dalam mengubah kurikulum.

    Peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi terkait proses perubahan kurikulum pendidikan ini. Dari investigasi terhadap berbagai narasumber ini, ditemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang menimbulkan berbagai pertanyaan.

    “Perubahan kurikulum ini aneh. Selain tergesa-gesa, ada juga kejanggalan dari penyusunannya, guru, buku bahkan anggaran,” kata Tari saat jumpa pers Kejanggalan Kurikulum 2013 di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Jumat (15/2/2013).

    Kejanggalan pertama adalah pemerintah menggunakan logika terbalik dalam perubahan kurikulum pendidikan. Pemerintah justru mengubah kurikulum terlebih dahulu baru diikuti dengan revisi Peraturan Menteri dan Peraturan Pemerintah.

    “Harusnya kan pemerintah merevisi PP tentang standar nasional pendidikan dulu baru menyusun kurikulum baru. Ini sekarang standar nasional pendidikan justru mengikuti kurikulum 2013,” jelas Tari.

    Kejanggalan kedua adalah pemerintah tidak konsisten dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Proses perubahan kurikulum ini justru terlihat tidak terencana dan tidak terstruktur. Akibat perubahan kurikulum di luar RPJMN adalah anggaran yang ikut tidak pasti.

    Masalah anggaran ini menjadi kejanggalan ketiga dalam kurikulum 2013 ini. Sudah pernah disebut bahwa anggaran perubahan kurikulum ini tidak pernah sama. Pada paparan pertama kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah menyebutkan anggaran kurikulum sebesar Rp 684 miliar. Namun kemudian berubah menjadi Rp 1,4 triliun dan naik kembali menjadi Rp 2,49 triliun.

    Kemudian kejanggalan keempat adalah tidak ada evaluasi komprehensif terhadap KTSP yang dapat menjadi landasan adanya perubahan kurikulum ini. Selanjutnya kejanggalan kelima adalah panduan kurikulum yang malah membelenggu kreativitas dan inovasi guru serta penyeragaman konteks lokal.

    “Semuanya disediakan pusat. Guru jadi terbatas dalam mengembangkan kreativitas dan konteks lokal kan berbeda tidak bisa diseragamkan,” jelas Tari.

    Kejanggalan keenam adalan target training master teacher yang terlalu ambisius. Hal ini mengacu pada durasi pelatihan dan jumlah guru yang akan dilatih cukup besar. Kejanggalan ketujuh adalah bahan perubahan kurikulum yang disampaikan pemerintah berbeda-beda.

    “Tidak ada dokumen pasti. Pemerintah hanya memperlihatkan powerpoint saja yang terus bisa ditambah jika ada kekurangan. Jadinya dokumen berubah terus tidak pasti,” ujar Tari.

    Kejanggalan terakhir adalah persiapan buku yang jauh dari selesai. Buku yang disiapkan untuk siswa dan guru baru selesai 50 persen. Bahkan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) buku yang siap baru buku Sejarah dan Matematika saja.

    Editor :
    Caroline Damanik

  7. Pembaca yang budiman, memang pada kenyataannya kurikulum baru 2013 ini mengundang banyak tanggapan dari semua praktisi pendidikan di bumi pertiwi ini. perubahan atau penyempurnaan sebuah kurikulum itu memerlukan kajian impiris dan evaluasi kurikulum secara komprehensif, kemudian diujicoba setelah itu jika layak barulah diimplementasikan kepada semua jenjang pendidikan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.