Posted on: March 30, 2013 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 11

Ketika Guru Tak Dianggap Pemain Inti Dalam Kurikulum

IMG_5821

Pak Nuh, Mendikbud RI sudah mengatakan bahwa mereka yang menolak kurikulum 2013 adalah bukan pemain inti. Jadi mendikbud menganggap guru bukanlah sebagai pemain inti dalam kurikulum baru. Hanya Muhhammadiyah, NU, dan BPK yang dianggap pemain inti, serta para pengelola sekolah. Beritanya ada di sini.

Tentu pernyataan ini sangat menyepelekan peran guru. Kita tahu bahwa kurikulum tidak akan pernah berjalan dengan baik tanpa peran guru di dalamnya. Jadi semakin terlihat bahwa guru hanya dianggap sebagai pemain cadangan dalam kurikulum. Guru hanya dianggap “kacung” yang harus mengerjakan apa yang diperintahkan penguasa dengan pendekatan kekuasaan.

Oleh karena itu, Yuk ramai-ramai kita tolak kurikulum 2013 dengan menanda tangani petisi dan mosi tidak percaya kepada pemerintah di sini, dan di sana.

Sebelum tanggal 10 April 2013, sudah harus ada gerakan yang kuat untuk menolak atau menunda pemberlakuan kurikulum 2013. Sebab bila kurikulum baru ini dipaksakan akan berdampak buruk kepada dunia pendidikan indonesia. Kondisi guru yang belum siap, dan pelatihan guru yang kurang terlayani dengan baik menjadi sebab kurikulum ini kurang dipahami oleh para guru.

Solusinya adalah tunda dulu selama setahun dan lakukan penelitian secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Penelitian haruslah dilakukan oleh lembaga yang memiliki kredibilitas tinggi.

Pendekatan kekuasaan dan pokoknya harus diterapkan tanpa mendengarkan masukan khalayak ramai akan membuat peserta didik kita menjadi korban. Selamatkan anak didik kita dan percayalah bahwa tujuan yang baik pasti akan berakhir baik ketika yang dilakukan adalah dengan cara-cara yang baik.

Mari kita duduk bersama dan tak ada lagi istilah menang kalah. Sebab hal yang kita ingin lakukan adalah demi kemajuan pendidikan di indonesia.

Wahai para anggota DPR, dengarkan jeritan rakyat dan dengarkanlah suara guru yang tak bisa tegas bersuara karena mereka takut dengan arogansi birokrasi di negeri ini.

Otak dari pendidikan memang kurikulum. Tapi ruh dari pendidikan adalah guru. Mendikbud dengan kurikulum 2013 jelas menginginkan guru hanya sebagai operator dan robot pembelajaran saja.

Harus diakui bahwa kebanyakan guru gagal berkreasi lewat KTSP. Namun, bagaimanapun KTSP telah menyadarkan guru akan hak-haknya dalam menentukan arah pendidikannya sendiri. Tiba-tiba kesadaran itu dirampas oleh kurikulum 2013. Kalau alasannya adalah ketidakmampuan guru dalam merumuskan kurikulum, harusnya guru diberdayakan.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

11 People reacted on this

  1. Kurikulum 2013 tidak menyelesaikan masalah dalam pendidikan tapi malahan menciptakan masalah baru bagi dunia pendidikan kita. Ayo Omjay kita perjuangkan terus…. kami siap mendukung….

    1. Aneh sekali,Presiden,Wapres,parpol semuanya ngotot memberlakukan kurikulum 2013 padahal mereka bukan pemain inti di sekolah.Kalau mau memberlakukan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan minta pertimbangan dulu ke guru,murid,dan orangtua murid dong.Periode akhir masa jabatan seharusnya mawas diri,bukan aji mumpung.Aji mumpung menguras sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber,semua dijadikan proyek,semua mau diangkut pergi.

  2. Kepada para pembaca,

    Sebagai orangtua murid eks-RSBI SD negeri di Jawa Tengah, izinkanlah kami memberikan masukan agar kurikulum 2013 dibatalkan karena:
    1.Ada kesenjangan yang sangat jauh antara kurikulum 2013 dengan kurikulum RSBI,dan ini sangat merugikan siswa eks-RSBI. Siswa RSBI sudah terbiasa mendapatkan pelajaran dengan materi yang jauh lebih tinggi dan sulit,KKM tinggi.Kalau kurikulum 2013 dipakai sama artinya dengan kemunduran mutu pendidikan. Benar kata Adik Galang,kurikulum 2013 ini sangat dangkal.Pemerintah harus memberikan kurikulum yang sesuai dengan tingkatan pelajaran yang telah didapat oleh anak eks-RSBI.Lebih baik lagi kalau sekolah eks-RSBI tetap diizinkan memakai kurikulum RSBI.
    2.Kurikulum 2013 dibuat tergesa-gesa tanpa riset yang cukup terhadap kurikulum sebelumnya,yaitu KTSP dan outputnya. Tirulah negara Eropa yang tidak mudah mengganti kurikulum. Mereka mengganti kurikulum setelah 50 tahun dan dengan pemikiran yang matang.
    3.Kurikulum bukan sekedar proyek pemerintah,jadi perlu dengar pendapat dalam ruang lingkup yang luas. Guru,murid,praktisi pendidikan,dan orangtua murid perlu dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
    4.Uji publik belum dilakukan tetapi Mendikbud sudah memanggil penerbit buku.Ada apa Pak?Rakyat curiga nih.
    5.Anggaran kurikulum 2013 yang makin membengkak, dikhawatirkan rawan mark up dan korupsi.2,49 trilyun itu jerih payah rakyat jadi jangan dihambur-hamburkan.
    6.Kurikulum 2013 belum jelas kelanjutannya karena Mendikbud tinggal menjabat setahun lagi dan pasti diganti.
    Demikianlah surat saya.Harap menjadikan perhatian dan pertimbangan dalam memutuskan sesuatu agar tidak merugikan rakyat.Sebagai pemimpin contohkanlah demokrasi dan bukan otoriter.Terimakasih.

  3. Kemendikbud tenang-tenang saja walaupun mendapat kritikan dari seluruh Indonesia,kelihatannya ini untuk meredam konflik.
    Menurut saya kurikulum 2013 sangat dangkal materinya,dan bukan merupakan penyempurnaan dari kurikulum terdahulu. Sebagai orangtua dari dua anak kembar yang masih duduk di tingkat SD, saya mohon saran kepada para pembaca tentang kemungkinan menyekolahkan anak di luar negeri.Di negara manakah yang ada sekolah dasar bermutu dengan kurikulum yang baik?Biaya berapapun tidak masalah demi kebaikan mereka, karena saya dan suami terlanjur tidak percaya dengan pejabat Indonesia,kebanyakan hanya tahu korupsi,makan anggaran proyek negara dan mengorbankan masa depan bangsanya.
    Mohon jawaban lewat blog ini.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.