Menunggu Adalah Saat Tepat Untuk Menulis

Hari ini adalah hari dimana saya menjadi supir pribadi istri tercinta. Kemanapun istri mengajak pergi saya siap mendampingi. Itulah suami sejati yang sayang sama istri.

Menunggu adalah saat tepat untuk menulis

Menunggu adalah saat tepat untuk menulis

Di hari libur nyepi ini, sebenarnya saya ingin menyepi dan tak mau kemana-mana. Tapi istri tercinta dan putri bungsu saya mengajak saya untuk menemaninya berbelanja di pasar pondok gede, Bekasi.

Mendengar nama pasar pondok gede saja sudah kebayang kemacetan di depan mata. Namun demi membahagiakan anak dan istri, saya pun meluncur ke pasar pondok gede.

Untunglah macetnya tak seperti hari biasa. Bener-bener nyepi di pondok gede ini. Macet yang biasa saya temui tak begitu parah. Jalanan lancar dan kami tiba di pasar pondok gede Bekasi dengan senyuman manis di bibir.

Apalagi istriku, dia sangat bahagia sekali kelihatannya. Sebab sudah lama tak belanja di pasar pondok gede ini. Pasti sudah ada barang yang disukainya untuk dibeli.

Wanita memang makhluk Tuhan yang sulit dimengerti. Sudah hampir dua jam lebih saya menemani istri membeli sepatu. Sebenarnya sudah geregetan hati ini, tapi disimpan saja di dalam hati. Untunglah ada tempat duduk buat naruh pantat yang seksi ini. Mulailah saya menulis dengan ponsel jadul kesayanganku ini. Nulis apa ya?

Menunggu memang saat yang tepat untuk menulis. Apapun bisa dituliskan. Saya melihat bapak satpam toko matahari celingak celinguk mencari mangsa eh salah, mencari orang-orang yang dia curigai. Meleng sedikit, akan ada barang berpindah tangan dengan cara yang tidak benar. Sebel juga saya, sambil berkaca di cermin, saya tanya kepada diri sendiri. “Apakah aku ini bertampang maling?”

Akh untunglah wajah saya masih terlihat imut dan enak dipandang. Saya melihat banyak wanita yang sakit hati kepada saya begitu tahu saya sudah beranak istri. Hehehe, ge er banget sih omjay ini, hahaha.

Maklumlah, sewaktu muda dulu saya adalah seorang pria idaman para gadis. Sudah banyak wanita yang jatuh ke dalam pelukan saya. Tapi sayang, semua itu hanya terjadi dalam mimpi, wahahaha, wkwkwkwk.

Menulis di saat menunggu istri belanja memang mengasyikkan. Saya bisa senyum-senyum sendiri. Inilah kemajuan teknologi. Orang bete bisa menulis status di media sosial dan menulis di blog. Sampai nanti ya!

Salam blogger persahabatan
Omjay
https://wijayalabs.com

by

Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di http://kompasiana.com/wijayalabs. Omjay bersedia membantu para guru dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) online, dan beberapa Karya Tulis Ilmiah Omjay selalu masuk final di tingkat Nasional, dan berbagai prestasi telah diraihnya. Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat dan dibaca di blog http://wijayalabs.wordpress.com Hubungi via SMS : 0815 915 5515/081285134145 atau kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com atau klik hubungi omjay yg disediakan dalam blog ini, bila anda membutuhkan omjay sebagai pembicara atau Narasumber.

4 thoughts on “Menunggu Adalah Saat Tepat Untuk Menulis

  1. Diva Devina 8F/16

    Bener banget, Pak. Kita itu harus memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin. Lebih baik menulis, daripada ngelakuinn yang nggak-nggak. Kayaknya Omjay sangat pintar memanfaatkan waktu ya. Teruskan, Pak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.