Posted on: November 26, 2012 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 59

Ikutan Teacher Writing Camp Yuk! Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012 di Wisma UNJ Rawamangun Jakarta Timur

IMG00694-20121123-1612Alhamdulillah setelah sukses menyelenggarakan pelatihan Guru menulis untuk para guru di hari ulang tahun guru (Minggu, 25 November 2012 di Wisma UNJ), Ikatan Guru Indonesia (IGI) akan kembali mengadakan kegiatan yang bernama Teacher Writing Camp (TWC). Dimana para guru diajak untuk membuat/menyusun buku ajar menghadapi kurikulum baru, dan menulis fiksi dengan para pakar di bidangnya. Selain itu para guru juga diajarkan praktik edmodo, dan teknik mengetik cepat, dan ngeblog di internet dari para juara acer award.

Acara ini diadakan untuk merespon antusiasme, animo, dan sambutan positif dari para guru, baik yang hadir maupun yang tidak hadir pada acara sebelumnnya. Tentu kami selaku panitia berkewajiban memberikan acara workshop yang membuat guru memiliki pengetahuan dan pengalaman baru. Dengan begitu, teman-teman guru menjadi lebih profesional di bidangnya masing-masing.

13539244461482946739

Kegiatan TWC akan dilaksanakan selama 2 hari yaitu dari hari Sabtu sampai Minggu, tanggal 8 dan 9 Desember 2012 di Wisma UNJ Kampus A Rawamangun Jakarta Timur (Menginap). Acara ini akan diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba blog pelatihan guru menulis, Minggu 25 Nopember 2012 yang disponsori Acer Indonesia. Dimana peserta yang beruntung akan mendapatkan sebuah Laptop baru dari Acer.

Adapun gambaran kegiatan ini adalah sebagai berikut:

Rancangan Susunan acara Teacher Writing Camp

Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012

No Waktu Acara Pembicara
1 13.00-14.00 Registrasi dan penempatan Kamar Peserta Sie Akomodasi
2 14.00-16.00 Praktik Edmodo dari Team Seamolec Team Seamolec
3 16.00-17.00 Ishoma Sie Konsumsi
4 17.00-18.30 Teknik Mengetik Cepat, dan Menulis Cepat di Blog Yulef Dian, ST
5 18.30-19.00 Makan Malam Sie Konsumsi
6 19.00-22.00
  • Pengajaran abad 21
  • Teknik Pembuatan buku dan prosesnya
  • Kiat Jitu Bikin Buku
Agus Sampurno/Ukim Komarudin/Rahmat Affandi/Omjay
7 08.00-10.00 Silent Reading dan Motivasi menulis buku ajar Satria Darma/Nusa Putra
8 10.00-12.00 Teknik membuat cerita fiksi Pipiet Senja
9. 12.00-12.30 Ishoma Sie Konsumsi
10. 12.30-14.00 Lanjutan Praktik teknik menulis cerita fiksi Pipiet Senja
11. 14.00-15.30 Motivasi Berprestasi Dedi Dwitagama

Para peserta teacher writing camp (TWC) akan masuk wisma UNJ pukul 12.00-14.00 wib, dan acara pertama akan dimulai dengan pelatihan praktik edmodo dari tim Seamolec. Kemudian setelah itu para peserta akan dilatih untuk teknik mengetik cepat, dan menulis cepat di blog. Tentu setiap peserta diharapkan membawa laptop, dan disarankan membawa modem untuk akses internetnya.

Biaya pelatihan ini sangat murah sekali. Untuk 10 pendaftar pertama hanya akan dikenakan biaya Rp. 230.000,- (dua ratus tiga puluh ribu), dan setelah tanggal 27 November 2012 panitia akan menaikkan harga sebesar Rp. 250.000,- (Dua ratus lima puluh ribu rupiah). Kenapa bisa murah? Karena panitia mendapatkan sponsor dari wisma UNJ, Penerbit Indeks, Indosat, Acer, dan juga donatur sponsor lainnya. Transfer rekening bisa dibayarkan Wijaya Kusumah, nomor rekening 0105035962 bank bukopin kantor kas UNJ/IKIP.

Para pembicara yang diharapkan hadir dalam kegiatan teacher Writing Camp ini adalah:

  1. Drs. Ukim Komarudin, M.Pd (Penulis Buku Ajar Bahasa Indonesia SMP)
  2. Wijaya Kusumah, M.Pd (Penulis Buku Ajar TIK SMP)
  3. Rahmat Affandi, S.Pd (Penulis buku Pendidikan)
  4. Pipiet Senja (Penulis Novel Best Seller, Orang Bilang Aku Teroris)
  5. Satria Dharma (Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia)
  6. DR. Nusa Putra (Dosen UNJ, Penulis Buku Penelitian Kualitatif)
  7. Agus Sampurno, S.Pd (Pemenang Guraru Acer Award 2011)
  8. Drs. Dedi Dwitagama, M.Si (Pemenang Guraru Acer Award 2012)
  9. Yulef Dian, ST (Komunitas Blogger Bekasi)
  10. Tim dari Seamolec

Semoga acara ini berjalan lancar dan peserta dibatasi hanya 60 orang saja. Panitia akan menutup pendaftaran TWC bila kuota telah terpenuhi. Info lengkapnya, dapat menghubungi omjay di 08159155515 atau blog https://wijayalabs.com. Terima kasih atas dukungannya.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

59 People reacted on this

  1. Daftar Peserta sementara Teacher Camping Camp
    1. Yulef Dian
    2. Dian kelana
    3. Yusuf Dwiyoo
    4. Siti Mugi Rahayu
    5. Dahlia halmahera
    6. Juli Dwiastuti
    7. Nunung Nuraida
    8. Susi Sukaesih
    9. Cesilia
    10. Steven
    11. Titin Sulistiawati
    12. Bhayu S

    1. Ass. Om Jay yang baik,
      Saya, Cisilia Dewi Pangalila dari SD al Muslim, Insya Allah ikut ya, acara “Teacher Writing Camp” tapi bayarnya baru bisa besok ya, Jumat sore, transfer…
      Mohon maaf hp saya sedang error, jadi cuma bisa kontak via fb.
      Trims atas pengertiannya….

  2. Ahad, 25 Nop 2012
    Rosida Evi Santihosi
    SMKN 1 Cilamaya

    # MKPD #
    Mimpi,
    Kreatif,
    Prestasi,
    Lalu…
    Diperjalankan!

    Begitu kesimpulan dari materi Pak Dedi Dwitagama di pelatihan menulis bagi guru sesi terakhir. Seru…banyak tawa….enjoy….full informasi… hasilnya, tidak akan terlupakan… dan yang menyenangkan, dapat hadiah buku…he…he..

    Berasal dari mimpi, ingin menjadi guru yang juga bisa menulis, pada saat ini melihat up-datean status omjay di facebook tentang pelatihan menulis tanpa pikir panjang segera SMS ke nomor omjay,dan tak lupa mengirim SMS ke teman-teman untuk segera mendaftar karena kuota terbatas. Bahkan sempet mendaftar kan teman via telp sendiri,….sangking semangat dan hebohnya mengajak teman-teman padahal persyaratannya harus mendaftar sendiri ke nomor omjay….(ketahuan deh… kalo gak baca blognya omjay… sorry omjay… )

    Dari tol Kopo-Cikampek, keluar tol rawamangun, lalu pasarminggu, langsung ke UNJ. Begitu petunjuk seorang teman di sekolah pada saat meminta petunjuk menuju UNJ. maklum saya dan teman-teman jarang sekali pergi keluar kota,mengajar di CILAMAYA, yang lumayan terpencil, membuat kami berdebar-debar menantikan perjalanan menuju UNJ Rawamangun.

    Awalnya lancar, keluar tol Rawamangun, ambil kekiri menuju UNJ, padahal sudah bertanya-tanya, namun UNJ kami tidak temukan…. yang ada UMJ (Univ Muhammadiyah Jakarta) di Ciputat_Tanggerang. Walaupun sedikit heran kami tetap percaya diri bahwa kami berada dijalur yang benar…. LANJUTKAN! Lewat UIN, kami masih belum menemukan UNJ…. akhirnya bertanya pada Pak Polisi, kali ini strateginya diganti…. bukan UNJ … tapi bertanya dimana IKIP-JKT! Ternyataaaa…. oala, kami salah jalan….sangat tersesat…waduh… lalu putar balik menuju arah UNJ here we come!!  Rempong bangetsss…

    Sesi pertama, pak Agung Sampurno, juara Guararu Award 2011, bahwa bl9og itu adalah tempat untuk menuliskan apa yang menjadi intisari kegiatan belajar. Siapa yang punya e-mail?… Siapa yang punya facebook?…pertanyaan itu jadi refleksi bagi guru, bahwa kita menulis tanpa disadari. Kesimpulannya: Blogging, siapa yang cinta profesi mengajar, mesti senang belajar.

    Buat bu Evi, Insya Allah 2013 ada karya terpublikasi. Begitu pak Ukim menulik=skan pesannya dibuku GURU JUGA MANUSIA milik saya…Aamiin, terimakasih Insya Allah. Dari beliau ada quote yang saya ingat: Siapa yang ingin mengetahui dunia perbanyaklah membaca. Siapa yang ingin dunia mengetahui dirinya, perbanyaklah MENULIS. Jadi… saya ingin mengetahui dunia , maka saya membaca, dan saya ingin dunia mengetahui diri saya, maka saya harus MENULIS. So… inilah tulisan saya diakhir sesi.

    EDMODO… pernah dengar, tapi belum praktek. Uraian dari pa Gatot, Seamolec, membangkitkan minat dan semangat untuk belajar EDMODO lebih lanjut,. Walaupun berbenturan dengan banyak tugas sebagai Ibu RT, dan lain-lain…harus tetap meluangkan waktu… me time… untuk peningkatan kualitas diri.

    Akhirnya, inilah prestasi saya hari ini, diahiri hari guru, HUT PGRI ke-67 mengikuti pelatihan menulis di wisma UNJ- Jakarta mudah-mudahan suatu saat diperjalankan menuju tempat-tempat yang semula hanya berada dalam impian. Aamiin.:p Semangat!!

    -Nabila Hilina

  3. Oom Jay,apa kabar? Sedang sibuk seminar di Surabaya ya? Maaaf sekali jika saya ganggu. Saya cuma ingin konfirmasi trentang pendaftaran saya untuk ikut “Teacher Writing Camp” karena saya sudah daftar lewat sms sejak hari Mingu sore (saya masih di UNJ) namun belum dapat tanggapan hingga sekarang. Saya khawatir tidak kebagian kursi karena saya ingin sekali mengikuti acara tersebut.
    Mohon dengan amat sangat saya tunggu tanggapan dan jawaban Oom Jay. Terima kasih.

    1. ok, sdh saya daftarkan mbak Cisilia Dewi Pangalila, nanti saya kirimkan no rekening saya untuk di transferkan

      salam
      Omjay

  4. Daftar Peserta sementara Teacher Camping Camp
    1. Yulef Dian
    2. Dian kelana
    3. Yusuf Dwiyoo
    4. Siti Mugi Rahayu
    5. Dahlia halmahera
    6. Juli Dwiastuti
    7. Nunung Nuraida
    8. Susi Sukaesih
    9. Cisilia dewi Pangalila
    10. Steven
    11. Titin Sulistiawati
    12. Bhayu S
    13. Yayuk kustiarsih (yayukkustiarsih @yahoo.co.id atau bkm_yayuk76@yahoo.co.id)
    14. Nani Roslinda (naniroslinda@gmail.com)
    15. Iis Sri Patmawati (amber_spyglass@yahoo.com atau amberspyglass@gmail.com)
    16. Herman, sman9 klender
    17. Muhammad Handar (muhamadhandar@rockemail.com)
    18. dessy nur setyorini (dessy.nursetyorini@ymail.com
    19. sitti rabiah, tk islam mutiara
    20. nur aliem
    21. Titin Sulistiawati (theeadomo@gmail.com atau slbaybun@yahoo.co.id)

    salam
    Omjay

    1. Daftar Peserta sementara Teacher Writing Camp, Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012 di Wisma UNJ Kampus A Rawamangun JakTim
      1. Yulef Dian
      2. Dian kelana
      3. Yusuf Dwiyoo
      4. Siti Mugi Rahayu
      5. Dahlia halmahera
      6. Juli Dwiastuti
      7. Nunung Nuraida
      8. Susi Sukaesih
      9. Cisilia dewi Pangalila
      10. Steven
      11. Titin Sulistiawati
      12. Bhayu S
      13. Yayuk kustiarsih (yayukkustiarsih @yahoo.co.id atau bkm_yayuk76@yahoo.co.id)
      14. Nani Roslinda (naniroslinda@gmail.com)
      15. Iis Sri Patmawati (amber_spyglass@yahoo.com atau amberspyglass@gmail.com)
      16. Herman, sman9 klender
      17. Muhammad Handar (muhamadhandar@rockemail.com)
      18. dessy nur setyorini (dessy.nursetyorini@ymail.com
      19. sitti rabiah, tk islam mutiara
      20. nur aliem
      21. Titin Sulistiawati (theeadomo@gmail.com atau slbaybun@yahoo.co.id)
      22. Dhewa edikresnha, sman21, dhewa.edikresnha@gmail.com
      23. Dyah kemala, diyah.kemala@gmail.com
      24. Herman, sman9 jkt
      25. Leah Moeed
      26. Aini lutfiyah
      27. Rosim
      28. Abdullah
      29. Jibril
      30. Rahmat Affandi
      31. Tri Bambang
      32. Deasy saragih, cici_hope2006@yahoo.co.id
      33. Walan Yudiani, wyudiani@yahoo.com
      34. Suhermi Widiastuti
      35. Tuti Alawiyah, tuyahaz@yahoo.co.id
      36. Evi Soraya, guru SD Al Madinah BSD
      37. Riyadul Zannah, SMK GAMA, Tangerang
      38. Perwakilan IGI Jakarta
      39. Perwakilan IGI Bekasi
      40. Perwakilan IGI Bogor
      41. Dyah Muslichdah, dyahmuslichdah@yahoo.com

      salam
      Omjay

  5. asslm… Pak Wijaya. Nama saya Riyadul Zanah dari SMK GAMA Kota Tangerang. saya ingin mendaftar “Teacher Writing Camp”.Apakah Biaya nya masih Rp. 250.000/ peserta? waslm..

  6. Om Jay, saya daftar ya? Tuti alawiyah, SMA al Azhar Plus Bogor, cara pembayarannya gmn? klo hari selasa , tgl 4 Desember sekalian saya kuliah ke UNJ boleh tidak Om Jay ? terimakasih

  7. Daftar Peserta sementara Teacher Writing Camp, Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012 di Wisma UNJ Kampus A Rawamangun JakTim
    1. Yulef Dian,youldee@gmail.com
    2. Dian kelana,diankelana1@gmail.com
    3. Yusuf Dwiyono, yusuf.haekal@gmail.com
    4. Siti Mugi Rahayu, siti mugirahayu74@gmail.com
    5. Dahlia halmahera,
    6. Juli Dwiastuti, yarlie@ymail.com
    7. Nunung Nuraida,ms.nu2n9@gmail.com
    8. Susi Sukaesih,suzie_icus@yahoo.com
    9. Cisilia dewi Pangalila,
    10. Steven
    11. Titin Sulistiawati
    12. Bhayu Sulistiyawan, bhayusulis@gmail.com
    13. Yayuk kustiarsih (yayukkustiarsih @yahoo.co.id atau bkm_yayuk76@yahoo.co.id)
    14. Nani Roslinda (naniroslinda@gmail.com)
    15. Iis Sri Patmawati (amber_spyglass@yahoo.com atau amberspyglass@gmail.com)
    16. Herman, sman9 klender
    17. Muhammad Handar (muhamadhandar@rockemail.com)
    18. dessy nur setyorini (dessy.nursetyorini@ymail.com
    19. sitti rabiah, tk islam mutiara
    20. nur aliem
    21. Titin Sulistiawati (theeadomo@gmail.com atau slbaybun@yahoo.co.id)
    22. Dhewa edikresnha, sman21, dhewa.edikresnha@gmail.com
    23. Dyah kemala, diyah.kemala@gmail.com
    24. Herman, sman9 jkt
    25. Leah Moeed
    26. Aini lutfiyah
    27. Rosim
    28. Abdullah
    29. Jibril
    30. Rahmat Affandi
    31. Tri Bambang
    32. Deasy saragih, cici_hope2006@yahoo.co.id
    33. Walan Yudiani, wyudiani@yahoo.com
    34. Suhermi Widiastuti
    35. Tuti Alawiyah, tuyahaz@yahoo.co.id
    36. Evi Soraya, guru SD Al Madinah BSD
    37. Riyadul Zannah, SMK GAMA, Tangerang
    38. Perwakilan IGI Jakarta
    39. Perwakilan IGI Bekasi
    40. Perwakilan IGI Bogor
    41. Dyah Muslichdah, dyahmuslichdah@yahoo.com
    42. Denni Christina, lina_kristin@yahoo.com
    43. Inti FARHATI, MIN Ciputat,INTIFARHATI@YAHOO.COM
    44. Junita, junitajuntek@gmail.com
    45. Siti Aisyah Rangkuti
    46. Perwakilan Igi Tangerang
    47. Siti Aisyiah Rangkuti,
    48. Aini Lutfiyah,
    49. Rifni Hayati, SMAN97 Jkt,
    50. Sari Rahmawati, SMAN 97, Jkt
    51. Ade Siti Damroh, Pesantren attaqwa putri bekasi, adedhamroh@yahoo.com
    52. Hotben, igi Pusat,
    53. Satria Darma, IGI Pusat
    54. Asep Slamet Raharjo, SMPN 275, m.rizki.r@gmail.com
    55. Abdul Hadi, Perwakilan Jember

    salam
    Omjay
    sms 08159155515

  8. Daftar Peserta sementara Teacher Writing Camp, Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012 di Wisma UNJ Kampus A Rawamangun JakTim
    1. Yulef Dian,
    2. Dian kelana,
    3. Yusuf Dwiyono,
    4. Siti Mugi Rahayu,
    5. Dahlia halmahera,
    6. Juli Dwiastuti,
    7. Nunung Nuraida,
    8. Susi Sukaesih,
    9. Cisilia dewi Pangalila,
    10. Steven
    11. Titin Sulistiawati
    12. Bhayu Sulistiyawan,
    13. Yayuk kustiarsih
    14. Nani Roslinda
    15. Tugi Hartono
    16. Herman, sman9 klender
    17. Siwi Tuti Erwati
    18. dessy nur setyorini
    19. sitti rabiah, tk islam mutiara
    20. nur aliem
    21. Titin Sulistiawati
    22. Dhewa edikresnha, sman21,
    23. Dyah kemala,
    24. Perwakilan FSGI
    25. Perwakilan FSGI
    26. Aini lutfiyah
    27. Rosim
    28. Abdullah
    29. Jibril
    30. Rahmat Affandi
    31. Tri Bambang
    32. Deasy saragih,
    33. Walan Yudiani,
    34. Suhermi Widiastuti
    35. Tuti Alawiyah,
    36. Evi Soraya, guru SD Al Madinah BSD
    37. Riyadul Zannah, SMK GAMA, Tangerang
    38. Perwakilan IGI Jakarta
    39. Perwakilan IGI Bekasi
    40. Perwakilan IGI Bogor
    41. Dyah Muslichdah,
    42. Denni Christina,
    43. Inti FARHATI,
    44. Junita,
    45. Siti Aisyah Rangkuti
    46. Perwakilan Igi Tangerang
    47. Siti Aisyiah Rangkuti,
    48. Hasmiyati Hasyim
    49. Rifni Hayati, SMAN97 Jkt,
    50. Sari Rahmawati, SMAN 97, Jkt
    51. Ade Siti Damroh, Pesantren attaqwa putri bekasi,
    52. Guru Mentari Indonesia
    53. Guru Mentari Indonesia
    54. Asep Slamet Raharjo, SMPN 275,
    55. Bahar Sungkowo, Sukabumi
    56. Mokhamad taufiq,
    57. Neneng Tuti Yuniarti,
    58. Supriyati, S.Pd, SMPN 139 Jakarta
    59. Kayan Herdiana, SDIT Bekasi
    60. M.Ikhsan Nugraha, SDIT Bekasi

    salam
    Omjay
    sms 08159155515

  9. Bang, Jay kalau bisa buat jadwalnya jauh-jauh hari biar kami yg didaerah bisa ikut, pengen sih ikut.
    Cuma jadwalnya mepet dgn ulangan umum anak-anak, kalau bisa camp ke-2 di bulan januari atau februari 2013, saya pasti ikut

    Salam
    BambangW

    1. programnya memang dibuat secara mendadak, nanti kita evaluasi dulu hasilnya. Kalau responnya bagus, akan kita buka kembali di 3 kota besar

      salam
      Omjay

  10. Penempatan Kamar Peserta
    “Teacher Writing Camp”
    Sabtu-Minggu, 8-9 Desember 2012 di Wisma UNJ Rawamangun

    Lantai-1
    Pembicara:
    1. Pak Rahmat Affandi
    2. Pak Agus Sampurno

    Lantai- 2

    kamar 201
    1. Cisilia Dewi Pangalila
    2. Titin Sulistiawati

    Kamar 202
    1. Steven
    2. Tugi Hartono (minggu)

    Kamar 203
    1. Nani Roslinda
    2. Siwi Tuti Erwati

    Kamar 204
    1. Dhewa Edikresnha (suami)
    2. Dyah Kemala (istri)

    Kamar 206
    1. Aini Lutfiyah
    2. Deasy saragih
    3. Walan Yudiani
    4. Evi Soraya

    Kamar 207
    1. Rosim
    2. Abdullah
    3. Tri Bambang
    4. Asep Slamet Raharjo

    Kamar 208
    1. Betti Ruslaneti
    2. Tuti Alawiyah
    3. Siti Zahrah

    Lantai- 3

    Kamar 301
    1. Siti Rabiah (Istri)
    2. Nur Aliem (Suami)

    Kamar 302
    1. Dyah Muslichdah
    2. Supriyati

    Kamar 303
    1. Ade Siti Damroh
    2. Neneng Tuti Yuniarti

    Kamar 304
    1. Junita
    2. Perwakilan sekolah mentari

    Kamar 305
    1. Denni Christina
    2. Inti Farhati

    Kamar 306
    1. Siti Mugi Rahayu
    2. Dahlia halmahera
    3. Juli Dwisusanti
    4. Nunung Nuraida
    5. Susi Sukaesih
    6. Yayuk Kustiarsih
    7. Anjani Retrievia SPsi
    8. Siti Aisyah Rangkuti

    Kamar 307.
    1. Yulef Dian
    2. Dian Kelana
    3. Bhayu
    4. Jibril

    Kamar 308
    1. Herman
    2. Bahar Sungkowo
    3. Santorry Saad
    4. Mokhamad taufiq

    Kamar 309
    1. Kayan Herdiana
    2. M. Ikhsan Nugraha
    3. Yusuf Igi Bogor
    4. Slamet Marwanto

    Kamar 310
    1. Hasmiyati Hasyim
    2. Rifni Hayati
    3. Sari Rahmawati

    Kamar 311
    1. Ries Muhammad Efendi
    2. Devi IGI Bogor
    3. Riyadul Zannah

    Kamar 312
    1. Natalia Rumanti Hartono
    2. FH Senowati
    3. Judi Evastuti

    salam
    Omjay
    hp. 08159155515

    1. Pak jay. maaf koreksi. saya RIYADUL ZANAH,S.E seorang pria pak. masa 1 kamar sama perempuan pak. tolong di revisi ya pak. terima kasih

  11. Guru Belajar? Kenapa Tidak?
    Des8by dewipangalila

    Suatu anugerah bagiku saat diberi kesempatan Allah untuk menerima ilmu melalui acara pelatihan “Teacher Writing Camp” di Wisma Universitas Negri Jakarta (UNJ). Kuyakini bahwa semua kejadian sudah diatur dalam skenarioNya, termasuk menumbuhkan hasrat dan keinginan untuk belajar.Pelatihan yang tidak gratis tapi Allah mencukupi rizqiku untuk bisa mengikuti semua ini.Subhanallah…
    Berangkat dari sekolah di hari Sabtu pagi bersama Bu Mugi dan Bu Nunung.Mereka adalah guru-guru senior yang telah menghasilkan banyak tulisan dan menang penghargaan dari tulisan-tulisannya. Kami diantar oleh suami Bu Mugi, Pak Didi, sampai ke Bulak Kapal, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bis ke arah Senen, turun di jalan setelah keluar tol dan melanjutkan lagi dengan taxi ke UNJ. Di tengah jalan, aku sempat berkenalan dengan seorang calon peserta yang bernama Bu Nani, guru SMAN 1 Tambun Bekasi. Perjalanan cukup memakan waktu lama karena tol Cikampek ternyata cukup padat di akhir pekan.Aku sampai tertidur di tengah jalan dan dibangunkan oleh Bu Nunung saat hendak turun.
    Sampai di UNJ bertepatan dengan adzan dzuhur.Tadinya aku ingin shalat dulu, tapi Bu Nani memintaku untuk menemaninya makan siang karena perutnya yang sudah lapar sekali.Aku mengiyakan karena aku juga sadar bahwa sudah waktunya untuk perutku juga diisi. Kami menyimpan tas di kamar masing-masing. Kemudian aku dan Bu Nani yang kebetulan berada di lantai yang sama, berbeda dengan Bu Mugi dan Bu Nunung yang menjadi panitia, keluar mencari makan keluar wisma. Kami makan gado-gado yang rasanya lumayan enak dan bisa mengenyangkan perutku.Kami juga pesan es cendol sebagai minumannya.Awalnya kami ingin makanan dibawa ke wisma karena kuatir hujan. Tapi ternyata langit baru mendung saja, belum akan turun hujan. Akhirnya kami menikmati makan di pinggir jalan, seperti saat aku masih menjadi mahasiswi dulu.
    Aku mendapat kamar 201, ditemani seorang guru yang bernama Bu Titin.Bu Titin adalah seorang guru sekaligus pemilik Sekolah Luar Biasa di daerah kabupaten Bogor.Semua muridnya adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan, baik itu fisik maupun mental.Kata beliau, di sekolahnya 1 orang guru memegang paling banyak 5 murid. Subhanallah… guru dari Sekolah Luar Biasa tentunya harus lebih sabar menghadapi murid-muridnya. Terbayang olehku, betapa tidak mudah mereka saat menghadapi dan mengajari 5 murid yang saling berbeda keterbatasannya dalam sebuah kelas yang sama.
    Acara dimulai pukul 14.00 di dalam ruangan yang pernah kumasuki saat seminar dua minggu lalu.Diawali dengan sambutan singkat dari panitia. Om Jay, panggilan akrab dari Pak Wijaya Kusuma, sebagai ketua penyelenggara, belum hadir karena masih dalam perjalanan pulang dari Padang.
    Aku menikmati saat ada praktek Edmodo dari Team Seamolec.Sebelumnya, diawali oleh presentasi PesonaEdu yang menitikberatkan pada pelajaran Sains dan Math.Aku pernah mengetahui hal ini saat mengikuti seminar di Depdikbud bulan lalu. Waktu itu, aku sempat protes pada tim marketing PesonaEdu karena cuma menyediakan dua pelajaran itu saja, sedangkan untuk pelajaran Bahasa Inggris dan ilmu sosial lain, tidak ada! Tapi sekarang, aku “mencoba menerima” dengan membayangkan bahwa aku sedang mengajar muridku “di luar” kelas.Cuma kendalanya, aku harus memiliki modem gsm dari Indosat, sebagai partnernya. Modem yang aku miliki saat ini cdma. So, someday I’ll have it…
    Mencoba bergabung dengan Edmodo, ternyata sama seperti facebook. Bedanya, komunitasnya cuma guru dan murid. Aku belum bisa praktek dengan murid yang saat ini aku ajar, terutama mengingat aku saat ini mengajar “kelas bawah” tapi aku akan share pada murid-muridku yang di “kelas atas” Yang paling aku inginkan, share with teachers from different schools.
    Mengetik lewat twitter juga ternyata menyenangkan. Cuma memang tidak bisa menulis terlalu panjang dan dianjurkan memakai kode sebelum menulis. “Tweeps” … Teman-teman di sekolah jarang yang punya twitter, mereka lebih banyak punya facebook dan sebagian kecil saja yang punya blog. Sayang memang, tidak banyak teman guru yang suka menulis… (atau mungkin tidak ada waktu??)
    Acara terakhir menjelang tidur adalah Pengajaran Abad 21 oleh Pak Agus Sampurno.Beliau yang bekerja di sebuah sekolah internasional di Bintaro memang sangat pintar dalam hal high-teck.Beliau memutar film yang menceritakan tentang kondisi pembelajaran di sekolahnya. Hebat, murid-murid sekolah dasar di sana menggunakan laptop dan mampu presentasi saat ujian akhir dengan bantuan media internet. Sebagian guru di sana adalah orang asing dan pastilah bahasa yang digunakan di sana adalah Bahasa Inggris, kecuali untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Betul-betul sekolah “modern” yang mencerminkan abad 21.
    Pak Ukim Komarudin sempat mengisi acara untuk memberi motivasi dengan slogan wajibnya “Allahumma paksain…” Sayang beliau tidak membawa buku karyanya karena aku ingin sekali punya bukunya. Aku mulai mengantuk saat pembicara terakhir oleh Pak Rahmat Affandi. Jadi, terus terang… aku kurang konsentrasi. Yang aku ingat, beliau punya sifat yang sama denganku, lebih senang berada di kelas bersama murid-murid saat jam istirahat dan sering menerima curhat para muridnya. Beliau menulis buku tentang pendidikan tapi mengaku bukan seorang pakar pendidikan.Sempat mengisi acara talkshow di Radio Dakta.
    Pembawa acara mengakhiri pada 15 menit menjelang pukul 23.00 Saat aku keluar ruangan, ada peserta yang masih mengetik, karena mungkin sudah terbiasa jika harus bekerja hingga tengah malam. I’m already give up! I’m sleepy…
    Aku melanjutkan menulis setelah shalat subuh di dalam kamar. Tidak bisa lama karena waktu untuk kembali ke ruangan pada pukul 07.00 Tapi prakteknya, acara mulai pada pukul 07.30 karena kesalahan panitia yang mengumumkan acara sebelum bubar semalam. Bagiku tidak masalah… aku siap jam berapa saja!
    Acara pertama di hari kedua diisi oleh Pak Satria Darma, ketua umum IGI Pusat. Cukup menyegarkan… cukup inspiratif…. Beliau menekankan pentingnya guru mewajibkan murid untuk membaca setiap hari karena kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin memprihatinkan.Dari seluruh negara Asean, Indonesia mendapat peringkat ketiga dari bawah. Memalukan… Dilanjutkan oleh Pak Nusa Putra, yang berwajah mirip suami Kris Dayanti, Raul Lemos. Awalnya aku tidak ’ngeh‘ wajahnya mirip siapa, tapi beliau sendiri yang melontarkan joke bahwa tampang seperti dirinya pantas mendapatkan istri secantik Kris Dayanti. Wualah… Beliau membacakan sebagian dari hasil karyanya yang menurutku bahasanya sangat puitis dan bergaya bahasa bak pujangga sastra.Ada juga karyanya yang “serius” bertemakan pendidikan yang menurutnya banyak dibaca oleh dosen maupun mahasiswa.
    Acara puncak diisi oleh nara sumber yang bernama Pipiet Senja. Beliau seorang wanita luar biasa.Di balik fisiknya yang lemah karena harus bolak balik cuci darah, beliau menghasilkan banyak tulisan, yang berbentuk novel maupun cerpen.Beliau banyak menceritakan pengalamannya dalam hal mencari inspirasi maupun memberi motivasi untuk menulis, termasuk kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Berkat beliau, para TKI terutama TKW bisa menulis dan menghasilkan buku yang berjudul “Surat Berdarah Untuk Presiden” Sayangnya aku tidak bawa banyak uang, maka aku cuma membeli sebuah buku karya beliau yang berjudul “Orang Bilang Aku Teroris”
    Di akhir acara, kami semua disuruh beliau untuk menulis. Tulisan di kertas folio atau HVS menggunakan tangan. 10 yang terbaik akan diberi hadiah. Alhamdulillah… aku termasuk dalam 10 terbaik dari 60 peserta. Bukan hadiah yang menjadi motivasiku, tapi pembuktian diri bahwa aku memang bisa menulis dan akan menjadi penulis. Sosok seperti beliau betul-betul mendorong semangatku untuk bisa menulis dan menghasilkan buku.Beliau menjadi salah satu motivatorku.Perjuangannya dalam menjalani hidup dengan menulis patut diacungi jempol dan menjadi tauladan buatku.Aku bersyukur sekali diberi kesempatan bertemu dan berilmu pada beliau.
    Acara pelatihan berakhir pada pukul 14.30 dengan pengumuman lomba menulis cepat dalam twitter.Sayang, aku tidak menang karena pemenangnya mendapat modem gsm dari Indosat. Untuk hal ini, aku ingin hadiahnya tapi ternyata belum rejeki… 2 orang pemenangnya adalah para mahasiswa yang rupanya ikut menjadi peserta.
    Aku pulang bersama teman-temanku lagi seperti aku berangkat, tapi kali ini kami diberi kenyamanan dengan menumpang mobil seorang peserta lain yang baru datang di hari Minggu pagi. Terus terang, aku lupa namanya tapi tentunya aku sangat berterima kasih sekali sudah diberi tumpangan gratis ke Bekasi. Alhamdulillah… aku merasa cukup puas dengan perjalananku mencari ilmu di UNJ.

    Terima kasih Om Jay… terima kasih kepada semua nara sumber… dan terima kasih tertinggi kepada Allah swt yang telah mentakdirkan semua ini terjadi. Insya Allah bermanfaat buatku dan akan aku amalkan ilmu ini, amiin…

    1. BELUM SELESAI, SPONGE BOB!

      Sponge Bob ingin menunjukkan perhatian pada semua yang ada di dekatnya. Tapi entah kenapa hari ini menjadi hari yang tak menyenangkan baginya. Ia memeluk peliharaannya Garry untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang, tapi Garry kesal karena Sponge Bob memeluknya terlalu kencang. Sponge Bob ingin menyapa dan mengucapkan selamat pada Patrick. Namun, Sponge Bob malah menabraknya sampai kue ulang tahun ibunya tumpahruah ke tubuh Patrick. Sandy, Squidward, dan tuan Krab juga sangat marah pada Sponge Bob. Sebabnya sama saja, ingin menunjukkan perhatian tapi berakhir dengan menabrak orang.

      Sponge Bob sangat sedih. Tak seorang pun yang baik padanya dan mau menerimanya. Dalam kesedihan mendalam, galau, kacau dan marah ia berlari sekencang-kencangnya. Tiba-tiba ia merasa melayang dalam kegelapan. Ia merasakan benturan sangat keras di kepala. Ia pingsan. Ketika sadar, ia mendapatkan benjolan di kepala. Ia tidak tahu sedang berada di mana, bahkan ia tidak tahu siapa namanya, siapa dirinya.

      Oh…..sungguh sangat sulit menjadi diri sendiri, mengenali secara mendalam siapakah aku, mengetahui tempatku dalam dunia, di antara sesama. Rasanya sulit menentukan, sekarang aku berada di mana, apakah dalam perjalanan mencari makna diri, dan adakah kata selesai dalam pencarian ini?

      Tidak mudah menjadi manusia, apalagi yang manusiawi. Itulah sebabnya sejumlah filsuf menyebut manusia adalah problem, sementara dilsuf lain menegaskan manusia merupakan misteri. Tidak mengherankan bila Socrates mengeritik para pendahulunya yaitu para filsuf praSocrates seperti Thalles, Phytagoras, dan Demokritos. Mereka ini mengembangkan wacana yang kurang bermakna, karena sibuk mencari hakikat alam semesta. Socrates dengan kritis bertanya, apakah membicarakan hakikat alam semesta dapat membuat manusia bahagia?

      Para pemikir seharusnya melakukan usaha maksimal untuk memahami manusia dan mengusahakan kebahagiaannya. Karena itulah Socrates terkenal dengan seruannya, KENALILAH DIRIMU!

      Memahami manusia seharusnya memang beranjak dari mengenali diri sendiri, melalui sejumlah pertanyaan: siapakah aku, dari mana aku berasal, apa makna keberadaanku, apa tujuan penciptaanku, apa tujuan hidupku, apa makna keberadaan ku bagi orang lain, apa makna orang lain bagi keberadaan ku, apakah manusia memiliki kebebasan, dan sejumlah pertanyaan lainnya. Namun, tetap saja selalu menggema pertanyaan mendasar, apakah manusia pernah selesai, selesai dengan dirinya, selesai dengan kemanusiannya?

      Tak seoran pun pernah selesai dengan dirinya. Sebab, manusia memang tak pernah selesai, tuntas, purna dan definitif. Bahkan, seorang purnawirawan pun, tak pernah purna sebagai manusia. Ia hanya purna dalam jabatan atau pekerjaan. Ini keniscayaan, keniscayaan manusia. Manusia adalah makhluk yang menjadi, terus menerus berproses, tak pernah brenti, tak kenal henti, pun setelah mati.

      Namun, keniscayaan ini tak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan orang lain, tenggelam ke dalam palung ego, terjerat dalam narsisme. Justru manusia harus selalu bersama orang lain, memaknakan diri bagi orang lain agar berada dalam orbit kemanusian menuju pencerahan, menyambangi peningkatan diri sebagai manusia. Meskipun pada akhirnya ia hanya akan sampai pada batas hampir tuntas, mendekati kesempurnaan, nyaris selesai…

      Kita pasti belum lupa saat bersekolah. Setiap kali ulangan, guru selalu berkata, selesai tidak selesai kumpulkan. Atau pada ketika upacara bendera, komandan upacara pasti melaporkan pada pimpinan upacara bahwa upacara telah selesai, saat upaca berakhir. Kata selesai tampaknya berlaku dan hanya cocok digunakan untuk aktivitas manusia yang memang memiliki titik awal dan akhir. Pada manusia yang merupakan makhluk multidimensi dan penuh misteri, kata selesai mestilah difahami dalam arti proses yang sedang berlangsung, dan tak mengenal titik akhir, sebab pada hakikatnya manusia tak pernah purna, tak pernah selesai……

      Karena itu, aneh rasanya jika ada persyaratan orang harus selesai dulu dengan dirinya, barulah dapat memimpin dan bekerja bagi orang lain. Justru bersama dan melalui kebersamaan dengan orang lain, membermaknakan diri dalam kebersamaan, manusia dapat menuju ke arah selesai. Sekedar menuju ke arah selesai, tapi pasti tak pernah selesai. Menuju ke arah selesai, bukan selesai.

      Bila manusia hanya asyik dengan diri sendiri, tenggelam dalam tujuan pencapaian ketuntasan dan kesempurnaan diri, pada hakikatnya ia sedang menggali kubur bagi diri sendiri, menjadi manusia yang mandek. Menjadi titik atau tanda seru. Padahal sejatinya manusia adalah koma dan tanda tanya.

      Manusia adalah pencari, petualang sejati, sang nomaden, sang bohemi yang tak pernah brenti mencari. Tak ada istilah brenti atau selesai bagi manusia. Jika belatung saja tak pernah brenti mencari, terus bergerak mencari, apalagi manusia. Bedanya, belatung mencari hanya bagi diri sendiri, sedangkan manusia mencari dalam kebersamaan, bersama-sama orang lain, tidak sekedar bagi dirinya sendiri. Manusia tak pernah menjadi tujuan bagi dirinya sendiri, manusia adalah halte, terminal, sebuah noktah dalam garis lurus tak terbatas, sebuah momen dalam kontinuuuum…..

      Tak ada salahnya bila manusia memulai pencarian itu dari dirinya sendiri, masuk kekedalaman ceruk, lubuk dan palung diri sendiri, hati sendiri. KENALILAH DIRIMU, kata Socrates. Namun, ini bukan perjalanan dan petualangan yang mudah. Sidarta Gautama membutuhkan waktu yang panjang dan cobaan yang sangat berat untuk sampai pada pencerahan, menjadi BUDHA.

      Pencerahan artinya masuk ke dalam kekosongan. Manusia sejati adalah manusia yang rela melepaslucuti egonya, sebab mereka yang masih terbelenggu, terikatjerat, tenggelam, terjerumus, terperosok ke dalam ego adalah serendah-rendahnya manusia. Ini perjalanan yang menarik. Berangkat dari diri sendiri untuk kemudian melampauinnya, mengatasinya, terbang tinggi, bertransendensi, dalam kesadaran melepas ego, kemudian bersatu, bersetubuh dengan alam semesta. Saat aku, kamu, kita, dan kami melebur campur, sirna ke dalam OM, kekosongan sejati, keheningan senyap sepi. Pada tataran ini bahagia dan sedih, anugrah dan bencana, untung dan buntung, atas dan bawah adalah satu dan sama.

      Sidharta Gautama sang Budha tidak menemukan kesadaran ini dalam tapasamadi di dalam gua gelapgulita. Tapi dalam rangkaian aktivitas yang berkelanjutan antara tapa dan perjalanan menemui banyak orang di banyak tempat untuk mengamati, berbincang, merenung, berjalan, menguji fikiran, berada bersama orang lain, solitaritas-solidaritas sekaligus.

      Budha menyebutnya jalan tengah. Mengapa jalan tengah? Saat Sidharta Gautama menempuh jalan ekstrim, bertapa dan memisahkan diri secara total dari kehidupan masyarakat, dan asyik dengan diri sendiri, yang ditemudapatkannya adalah jalan buntu, kegelapan, kesia-sian hampa. Namun, ketika ia mengawinkan tapasamadi dengan terus bersama dalam kebersamaan, dia sampai dan mengalami pencerahan, menjadi Budha.

      Pasca pencerahan Budha tidak terbuai dalam tidur tanpa mimpi, dalam kenyaman pribadi mendalam tapameditasi, dalam nikmat transendensi. Sang Budha keluar, nyampering keramaian, memaknai hidup dengan dan melalui membermaknakan orang lain. Ada berarti ada bersama orang lain. Budha menularkan pencerahan, mendorong orang lain untuk mengalami pencerahan, cerah bersama, bersama berbagi kebaikan, berbagi kebenaran.

      Budha meneladankan, beranjak dari diri sendiri menuju kebersamaan, menyatu dalam kemanusiaan dan kesemestaan. Hanya dalam kebersamaan, manusia dapat merasakan kepenuhannya sebagai manusia. Penuh tak berarti selesai.

      Pencarian menuju pencerahan bukanlah monopoli Sidharta Gautama.

      Muhammad merasa resah melihat perkembangan masyarakatnya. Keresahan itu belum tentu dirasakan setiap atau semua orang. Keluhuran hati Muhammad, sensitivitas moralnya, membuat ia tidak dapat menerima keadaan khaos yang terus merebak dan meluluhlantakkan masyarakatnya. Khaos ini yang kemudian dikenal sebagai kejahiliyahan. Bukan sekedar kejahilan. Kejahilan yang merusak, memporakporandakan masyarakat.

      Ia merasa, masalah yang berkecamuk dalam masyarakatnya adalah masalahnya juga. Karena, bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari masyarakat itu. Namun, tidak seperti orang lain, ia tidak tenggelam dalam masalah masyarakatnya itu. Ia tidak menjadi bagian dari masalah. Tapi ia menyadari masalahnya.

      Muhammnad tidak memilih untuk ikut arus. Ia juga taksudi hidup bersama arus. Sementara itu, ia juga merasa belum mampu menentang arus. Ia memutuskan dan memilih untuk menarik jarak dari arus. Kembali ke dalam palung hatinya. Ia merenung dalam keheningan sepi Gua Hira. Tapi, ia tidak memisahkan diri secara total dari masyarakatnya. Ia tetap berinteraksi dengan sesama, untuk merasakan dan menghayati denyut nadi masyarakat dan masalahnya.

      Dalam keheningan senyap Gua Hira, ia mendapat pencerahan, perintah agar membaca, membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia.

      Muhammad diberi kesadaran akan keberadaannya sebagai makhluk yang terbuka, yang harus terus menerus dibentuk dengan dan melalui membaca. Membaca diri sendiri, masyarakat dan alam semesta. Dan kesadaran bahwa manusia tak lebih hanya sekedar makhluk yang diciptakan.

      Apa maknanya?

      Sebagai ciptaan secara hakiki manusia bukanlah pemilik dan penguasa diri dan hidupnya, juga masa depannya. Terkait dengan diri, terutama tubuhnya, manusia mesti menjaga dan bertanggung jawab atas tubuhnya itu. Tapi tubuhnya bukanlah miliknya. Karena itu manusia dilarang menyakiti, merusak dan membunuh diri sendiri.

      Tentu saja manusia dapat menggunakan kebebasan dan inisiatif serta kreativitasnya untuk menentukan hidup dan masa depannya. Namun, Tuhanlah penentu terakhir, pemegang hak penuh atas dirinya.

      Dengan keyakinan ini Muhammad mengambil inisiatif untuk melakukan perubahan sosial secara mendasar. Merevolusi cara berfikir dan berperilaku. Dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk melakukan perubahan itu. Sementara bersibuk dengan kerja keras melakukan perubahan sosial, Muhammad mengalami peristiwa yang sangat pribadi, istri dan putranya berpulang. Ia sangat sedih. Ini manusiawi. Namun, ia tidak berhenti bekerja bagi perubahan sosial-masyarakat, bekerja bagi orang lain.

      Meski digayuti masalah pribadi, kesedihan yang mendalam, dan itu berarti belum selesai dengan diri sendiri, ia tidak mundur seingsut pun dari problem sosial yang hendak ia atasi. Ia tetap bersemangat dan fokus pada tugas mulianya, merubah manusia dan masyarakat.

      Muhammad, yang terpilih dan terkasih, manusia yang disucikan Tuhan, membutuhkan waktu puluhan tahun untuk melakukan perubahan sosial. Sementara itu, ia mesti mengatasi gayutan persoalan pribadi. Maknanya, orang bisa saja tidak selesai dengan dirinya, dirinya pun masih digayuti oleh masalah. Namun, ia tetap berbuat untuk orang lain, bagi sesama.

      Upaya untuk melakukan perubahan, terutama bila menyangkut manusia dan komunitas manusia, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sungguh sulit dan membutuhkan waktu yang panjang, perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan. Karena itu, aneh sekali dan sangat lucu, sekarang ini sedang menjadi mode beragam upaya untuk mengubah, meningkatkan, dan membermaknakan manusia dengan cara-cara yang instan. Melalui seminar, lokakarya, pelatihan yang berlangsung dalam waktu sangat sebentar, bahkan ada yang cuma beberapa jam. Dengan cara mendengarkan paparan dari orang yang diperkenalkan sebagai orang yang sangat hebat. Ada pula yang menggunakan musik serta gambar tiga dimensi.

      Aneh memang, manusia mau diubah secara instan. Padahal mau memproduksi kentut saja butuh proses yang kompleks dan waktu yang tidak singkat. Cara-cara instan ini mereduksi dan menghina, merendahkan dan melecehkan manusia dan kemanusiaan. Karena menganggap manusia sebagai tanah liat atau lilin yang seenaknya bisa dibentuk.

      Bagaimana bisa orang mengenal dan menghayati keberadaan dirinya, bila hanya disuruh mendengarkan petuah luhur tentang kehidupan, dan tak dibiarkan mengalami dan menghayati kehidupan dan kemanusiaannya secara otentik dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya.

      Percayalah, MANUSIA TAK PERNAH SELESAI DENGAN DIRINYA, TAPI BISA BERANJAK DARI DIRINYA UNTUK MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK, BAGI DIRI SENDIRI, BAGI SESAMA.

      (Email bang Nusa Putra)

  12. 3 JEJAK BARU
    Oleh Steven Sutantro
    steven.sutantro@gmail.com
    Melangkahkan kaki menuju Teacher Writing Camp di Wisma UNJ merupakan salah satu langkah terbesar dalam kehidupan saya. Terkadang saya tak mengerti, mengapa Tuhan memimpin saya untuk ikut dalam kegiatan ini. Sama halnya dengan pertanyaan yang harus anda ajukan kepada diri anda, mengapa anda perlu membaca tulisan saya ini. Namun, saya menyadari bahwa Tuhan tidak pernah salah menunjukkan jalanNya karena disinilah saya merasakan gejolak kehidupan yang menggoreskan jejak baru yang tidak mungkin akan terhapuskan dan mengubahkan saya untuk selamanya. Mungkin juga lewat membaca tulisan ini, ada juga jejak baru yang akan mengubahkan hidup anda selamanya.
    Jejak pertama yang menggores hati saya adalah jejak kesempatan menjadi yang termuda. Jejak ini telah menghapus jejak kaki yang sebelumnya mengatakan bahwa kelemahan menjadi yang termuda. Peserta termuda. Itulah kesan pertama saya menginjakan kaki di Teacher Writing Camp yang diadakan di Wisma UNJ. Nama saya, Steven. Saya memang baru tahun lalu lulus dari Universitas Pelita Harapan Jurusan Pendidikan dan menjadi guru SMA Dian Harapan di Daan Mogot. Entah untuk kesekian kalinya, saya merasa saya yang paling muda di antara rekan-rekan peserta bahkan dengan teman-teman yang pergi bersama saya dari sekolah. Kegusaran, kegelisahan, kekuatiran seringkali melanda hati saya untuk datang ke seminar-seminar pendidikan seperti ini. Alasannya, saya masih terlalu muda, kurang pengalaman, kurang wawasan, kurang pengetahuan dan pergaulan di ranah pendidikan. Apalagi, kali ini saya bertemu dengan rekan-rekan guru, dosen, bahkan pekerja sosial yang memiliki segudang pengalaman dan kisah-kisah menarik tentang karyanya dalam dunia pendidikan melalui media sosial. Namun, satu hal luar biasa yang saya temukan disini adalah kerendahanhati dan semangat belajar dari peserta Camp ini. Kemauan mereka untuk menyapa, mengajak berbicara, bahkan bertukar pikiran dengan pemuda seperti saya merupakan salah satu hal terbaik yang saya temukan disini. Bahkan, beberapa guru yang lebih senior dengan penuh semangat bertanya kepada saya tentang kehidupan dan pengalaman saya yang begitu terbatas. Tidak hanya peserta, tetapi juga pembicara, panitia yang ikut berbaur dalam melayani kami para peserta. Dengan selera humor dan suasana santai, Camp ini mengajak peserta untuk secara otomatis bergabung menjadi bagian dari keluarga yang punya satu tujuan: MAU BELAJAR. Pada titik inilah, saya merasa gap pembelajaran, pekerjaan, pengalaman yang terkesan memisahkan saya dengan peserta dan panitia lain runtuh seketika. Saya merasa disambut sebagai rekan belajar mereka. Hal inilah yang menghilangkan ketidakpercayaan diri saya sebagai guru termuda di Camp ini. Saya merasa usia bukanlah jurang pemisah untuk belajar dan berjejaring. Asal punya minat dan semangat yang sama, usia berapapun bukanlah penghalang. Kini, kelemahan menjadi pemuda telah sirna diganti dengan suatu kekuatan baru yang menginspirasi saya untuk melihat berbagai kesempatan yang ada di hadapan saya untuk berkarya bagi bangsa ini. Keterbukaan dan kehangatan yang diberikan kepada rekan peserta yang umurnya jauh di atas saya membukakan mata hati saya untuk tidak lagi segan dan malu terhadap keterbatasan usia, pengetahuan, dan pengalaman saya. Tetapi justru di usia mudalah kehidupan saya semakin bermakna bagi dunia. Disinilah saya mengawali mimpi dan langkah nyata untuk menulis.
    Jejak kedua yang mencelikkan mata saya adalah jejak “media jejaring sosial, bagian kehidupan saya.” Sebelum mengikuti seminar ini, saya memadang media jejaring sosial adalah sekedar bagian dari hiburan saya ketika jenuh. Saya sering hanya mengupdate informasi di twitter, facebook, dan juga menonton video di YouTube. Namun, jejak ini langsung dilunturkan oleh jejak baru yang mengubah total persepktif saya tentang media jejering sosial. Disinilah, saya merasakan bahwa sosial media merupakan senjata terkuat dalam kehidupan ini. Di sekolah saya, media sosial seringkali dianggap kurang relevan dalam pendidikan. Di Camp ini, untuk pertama kalinya, saya melihat bahwa media sosial justru menjadi kekuatan dalam dunia pendidikan. Ternyata, sudah banyak guru, dosen, bahkan pekerja sosial yang mau dengan rendah hati dan penuh semangat belajar menggunakannya untuk kehidupan mereka. Saya juga senang sekali dengan sambutan pembicara dan panitia yang tidak sungkan-sungkan berbagi twitter, kompasiana, dan media jejaring sosial yang mereka miliki. Tidak berhenti sampai disitu, baru kali ini saya mengikuti seminar dimana pembicara dan panitia justru mendorong kita menggunakan hp dan laptop untuk membagikan pengalaman kita secara live lewat twitter. Saya sempat berpikir, apakah mereka tidak terganggu nantinya, apakah peserta akan kehilangan konsentrasi. Namun, yang saya temukan justru terbalik. Disini semua peserta justru semakin antusias membagikan kicauan twitter yang inspiratif dan menarik tentang acara ini. Dengan mengaktifkan penggunaan media sosial, saya semakin mengenal siapa teman-teman peserta. Saya jadi semakin mengenal latar belakang, kisah, dan juga mimpi yang hebat dari peserta yang menginspirasi saya. Saya merasakan justru media jejaring sosial ini adalah nafas kehidupan dari acara ini. Disinilah, sebuah mimpi besar lahir untuk menghidupkan penggunaan jejaring sosial di kelas yang saya ajar. Jejak inilah yang « menendang » saya untuk membuat perubahan sosial di dunia maya yang juga akan berdampak pada dunia nyata. Jejak ini membuka mata saya untuk mulai membagikan pikiran saya melalui jemari saya yang akan menuliskan banyak hal yang inspiratif di Twitter, Facebook, dan blog. Jejak inilah yang mengawali perjalanan saya untuk mewariskan kehidupan saya melalui tulisan-tulisan inspiratif yang dapat berdampak bagi dunia ini kelak di masa yang akan datang. Saya pun berjanji mulai tahun depan, saya akan mewarnai dunia maya melalui tulisan saya dan murid saya melalui twitter, edmodo, facebook, pinterest, youtube, blog yang tentunya akan memberikan makna dan inspirasi bagi kehidupan banyak orang.
    Jejak ketiga yang mengubah hidup saya adalah jejak sejuta pengalaman, sejuta impian. Memang dalam camp yang padat ini, ada kurang lebih 5 sesi yang membagikan pengetahuan dan juga wawasan baru tentang menulis. Namun, menurut saya, setiap sesi tidak sekedar mentransfer ilmu baru tetapi juga sejuta pengalaman-pengalaman yang menarik baik dari pembicara, panitia, dan juga peserta. Jelas sekali, pembicara ini memang mungkin ada yang belum s1, s2, bahkan sampai s3 tetapi yang saya suka adalah mereka membagikan pengalaman dengan sikap hati yang menantang saya untuk merefleksikan diri akan apa yang telah mereka bagikan. Pengalaman-pengalaman yang relevan di dunia media sosial, pendidikan, dan karya tulis menjadikan saya tidak lagi melihat mereka karena gelar yang mereka miliki tetapi apa yang telah mereka lakukan bagi dunia ini. Namun, tidak hanya sejuta pengalaman yang saya pelajari, sejuta impian yang dibagikan pembicara juga telah membukakan mata saya bahwa impian menjadi seorang pembaca dan penulis itu bukanlah mustahil untuk diwujudkan. Sejuta impian peserta yang ingin mewujudkan Indonesia lebih baik inilah yang membuat mata, hati, pikiran saya tidak dapat berpaling sedikitpun di sesi-sesi ini. Saya akan membagikan sedikit dari sejuta pengalaman dan impian yang saya dapat di Camp ini. Pengalaman pertama adalah cerita dari seorang ahli TIK yang membagikan pengalamannya menggunakan twitter untuk meringkas materi, membagikan refleksi, dan juga memberikan saran dan masukan yang membangun. Ada juga pengalaman nyata seorang penulis yang memulai tulisannya dengan satu kata : TULIS SEKARANG ! Saya belajar bahwa menulis bukan cuma sekedar kegiatan selingan semata tetapi merekam jejak kehidupan. Ditambah, cita-cita pembicara yang ingin menjadikan tulisannya sebagai warisan ketika ia meninggal bukan hanya untuk anak cucunya saja, tetapi seluruh dunia. Pertanyaan reflektif pun seakan menampar saya, « Sudah berapa karya yang saya ciptakan selama anda mengajar? Setelah itu, ada juga pengalaman seorang guru SD yang memberikan pembelajaran abad 21 melalui contoh proyek nyata yang mengintegrasikan teknologi, berbagai mata pelajaran, dan juga keahlian yang menghasilkan pembelajaran aktif dan kreatif. Esok harinya, sebuah mimpi yang besar mengawali sesi hari itu. Mimpi itu simpel, mengubah tradisi kelisanan menjadi tradisi literasi untuk generasi muda. Namun ternyata impian sederhana itu bukanlah mudah. Di tengah generasi kita yang terus menerus tergerus oleh perkembangan pesat media, tentu bukan pekerjaan mudah untuk mengubah mereka menajdi suka membaca. Kemustahilahan itu pun hanya bisa wujudkan dengan langkah awal yang nyata dengan pengalaman nyata si pembicara yang menyediakan waktu membaca di sekolah selama 30 menit sebelum masuk pelajaran. Sungguh indahnya impian yang dimulai dengan langkah nyata. Belum selesai saya terpukau dengan pengalaman dan impian pembicara-pembicara sebelumnya, pembicara lain membuat saya terpukau dengan pengalaman nyatanya menulis setiap hari dan membagikannya secara gratis lewat email. Keluarga, usia, pekerjaan bukanlah rintangan untuknya menerbitkan buku berkualitas dan berdampak bagi orang-orang sekitarnya. Selagi tercengang-cengang dengan pembicara tersebut, saya pun dikejutkan dengan pengalaman seorang nenek yang di tengah keterbetasannya menjadi TERORIS yaitu Teror Penulis. ‘TEROR’ yang dilakukan sudah sampai menembus batas negara dengan mendorong dan menginspirasi para TKI dan TKW membagikan kehidupan mereka lewat tulisannya. Betapa mulianya impian nenek ini yang di tengah keterbatasan fisiknya, ia mampu menciptakan pengaruh yang menembus batas-batas negara untuk meneror setiap orang untuk menulis. Tidak hanya pembicara, tetapi lewat pertanyaan dan respon yang interaktif, saya belajar dari kegagalan, kejatuhan, kekurangan yang dialami baik peserta maupun pembicara. Lebih dari pada itu, saya belajar bahwa kekurangan, keterbatasan, kesalahan yang pernah dibuat adalah guru menulis yang paling efektif dalam menelurkan karya terbaiknya. DI sesi terakhir, saya merasakan hal itu. Saya mempraktekkan membuat tulisan fiksi yang saya yakin jauh dari sempurna. Namun, saya menyadari pengalaman menulis itu merupakan titik awal keberhasilan saya untuk memulai sebuah tulisan. Kini, berbekal sejuta pengalaman dan sejuta mimpi yang mungkin belum tertuang disini, saya optimis dapat memulai pengalaman menulis dan mimpi untuk berbagi dan ‘meneror’ banyak jiwa untuk memiliki pengalaman menulis dan mimpi yang sama.
    Teacher Writing Camp memang telah mentransformasi kehidupan saya dengan 3 jejak-jejak baru di atas. Momen ini telah membuat saya sadar bahwa menjadi muda bukanlah suatu kekurangan atau kelemahan, tetapi justru merupakan suatu kesempatan untuk berkarya, kemudian media jejaring sosial bukan sekedar hiburan semata, tetapi kekuatan untuk memulai jutaan pengalaman dan jutaan impian baru saya.. Kini hati saya telah digoreskan dengan 3 jejak yang tak akan terhapuskan. Pada akhirnya, apakah ada jejak baru yang mengubahkan kehidupan anda setelah membaca tulisan ini ?

  13. Pesan-pesan Pembicara “Teacher Writing Camp”
    Oleh : Nani Roslinda, M. Pd

    Pada tanggal 8-9 Desember 2012, Sabtu dan Minggu lalu, telah dilaksanakan kegiatan “Teacher Writing Camp” yang disingkat dengan TWC, sebuah kegiatan pelatihan menulis buku bagi guru yang dilaksanakan di Wisma UNJ. Kegiatan ini dimulai dari pukul 14.00 WIB tanggal 8 Desember sampai pukul 15.40 Desember 2012.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Kegiatan ini sebetulnya sangat bermanfaat buat saya pribadi khususnya dan buat teman-teman peserta dalam kegiatan ini umumnya. Bukan sekedar sertifikat yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan pelatihan atau seminar-seminar yang saya ikuti ini, melainkan pengalaman-pengalaman yang berharga dari para pembicara merupaka inspirasi dan pemotivasi diri untuk bisa sukses mengikuti langkah-langkah orang sukses.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Walaupun tulisan saya belum sempat terpilih sebagai tulisan yang bermutu dalam pelatihan menulis cerita fiksi menurut ibu Pipiet Senja, namun dalam kegiatan ini saya sempat mendapatkan hadiah sebuah plasdisk dari sponsor Indosat sebagai penulis tweet terbanyak tentang materi-materi yang diajarkan atau disampaikan oleh pembicara-pembicara dalam kegiatan “Teacher Writing Camp” ini.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Pada hari ini, saya baru bisa memanfaatkan penggunaan twitter walaupun beberapa hari lalu saya sudah membuat twitter. saya mendapatkan ilmu baru dari kegiatan TWC ini. Materi-materi yang saya terima antara lain tentang Teknik mengetik cepat, Workshop Menulis Buku Ajar, Workshop menulis Buku Fiksi dan Motivasi menulis dan berprestasi.

    Beberapa pembicara yang telah memberikan ilmu dalam kegiatan ini antara lain adalah Mas Yulef Dian, ST dan Om Jay (Wijaya Kusuma, M.Pd) pembicara dari panitia penyelenggara yang keduanya aktif dalam kegiatn IGI (Ikatan Guru Indonesia) , Mas Agus Sampurno, S.Pd salah seorang pemenenang Lomba menulis blog versi Guru Era Baru (Guraru) tahun 2011-2012, Bapak Drs Ukim Komarudin, M.Pd salah seorang penulis Buku Ajar, Bapak Drs. Rahmat Affandi, M.Pd, salah seorang guru di SDN di Bekasi, yang dikenal sebagai pakar psikologi pendidikan anak didik dalam sebuah wawancara radio swasta Bekasi, Bapak Satria Dharma (Ketua Umu IGI Pusat), Bapak Dr. Nusa Putra, M.Pd salah seorang dosen pendidikan Bahasa UNJ yang dikenal sebagai guru vokal terhadap kebijakan-kebijakan yang kurang tepat di UNJ dan sudah menulis 30 judul buku dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, satu tahun 6 buku, dan terakhir Ibu Pipiet Senja yang terkenal sebagai penulis novel dan penulis cerpen atau cerita-cerita fiksi lainnya di beberapa majalah terkenal sejak tahun 1975.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Beberapa pesan dan kesan serta hikmah yang diberikan oleh beberapa pembicara di atas meliputi antara lain bahwa membaca dan menulis itu adalah perintah Allah swt melalui nabi Muhammad Saw dalam ayat yang pertama kali turun di Gua Hiro lewat malaikat Jibril dengan kalimat pertamanya adalah “IQro” yang artinya bacalah, hal ini berarti manusia dituntut untuk membaca, belajar dan menyampaikan apa yang ia baca dan pelajari melalui tulisan dan karyanya sendiri.

    Lebih kurang 108 ayat dalam Alquran yang memerintahkan manusia untuk membaca dan ada 56 ayat yang memerintahkan umat Islam untuk menulis, perintah ini bukan saja untuk umat Islam tapi untuk seluruh umat manusia di dunia. Jadi, membaca dan menulis sebuah rangkaian perintah dari Alllah yang harus dilakukan manusia untuk mengabdikan dirinya sebagai hamba Allah yang sempurna dan selalu ingin menjalankan perintahNYa.

    Mas Yulef Dian, ST dan Omjay mengajari teknik mengetik cepat dan menulis cepat melalui Twitter dan Blog, momen ini merupakan momen yang baik untuk saya manfaatkan untuk menjadi pemenang lomba menulis di twitter terbanyak tentang materi-materi ajar dalam kegiatan TWC ini,

    Mas Agus Sampurno, salah seorang pemenang lomba nulis di Blog menurut versi Guraru tahun 2011-2012, beliau menyampaikan tentang materi pengajaran abad 21, di mana pada abad ini siswa tidak lagi menghormati guru yang hanya menggunakan satu metode yaitu metode ceramah guru dituntut harus terus belajar mengenai IT atau TIK dan mempraktekkan bersama tentang TIK nya bersama-sama siswa. Guru menjadi motivator dan menjadi contoh dan teladan bagi siswanya. Siswa abad ke 21 ini tidak mau divonis siswa bodoh, siswa nakal atau siswa yang tidak menghormati guru manakala guru tidak mau memahami apa yang mereka mau dan mereka suka.
    Bapak Ukim Komarudin dan Bapak Rahmat Affandi, menggaris bawahi bahwa teknik membuat buku pada dasarnya apa yang kita baca, kita lihat dan kita alami dapat memulai diri kita untuk dapat menuliskan semua yang kita lakukan di atas ke dalam sebuah tulisan menurut pandangan kita sendiri. Jangan takut salah dan jangan pernah takut malu bahwa tulisan kita akan dihina orang, kita harus optimis bahwa tulisan kita akan dibaca dan bermanfaat buat orang lain/

    Mengapa kita menulis? Bapak Satria Dharma, selain menulis merupakan perintah dari sang pencipta, kegiatan menulis di Indonesia sudah mulai langka di Indonesia, orang Indonesia lebih cendrung menonton TV, dan memanfaatkan sarana-sarana yang diciptakan manusia yang bernuansa hiburan misalnya main games, dsb. Orang berpidato dan orang yang pintar berbicara, suaranya atau pesannya paling hanya bisa bergema di ruangan atau aula tertentu saja, sedangkan orang yang menulis dan membuat sebuah buku, suaranya akan bergema berabad-abad dan menjadi kenangan baik bagi keluarganya.

    Dengan menulis orang bisa terkenal dan bisa menjadi miliarder dan bisa menjadi kebanggaan suatu negara atau daerah, misalnya salah satu buku Biografi “Si Anak Singkong, Chairul Tanjung”, dapat menjadi panutan masyarakat yang mencintai bisnis dan wirausaha, Buku “Harry Potter” terkenal dan dibeli oleh seluruh masyarakat dunia sehingga penulisnya menjadi miliarder dan Buku “Laskar Pelangi” yang ditulis oleh Andrea Hirata dapat menjadi kebanggaan daerah Belitung yang menjadi latar dalam cerita tersebut sehingga Belitung terkenal di seluruh masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.

    Rumah tempat pesantren dalam cerita Laskar Pelangi dibangun ulang atau di rehap ulang sebagai tempat bersejarah karena banyak yang menanyakan peristiwa tersebut.
    Bapak Satria Dharma juga berpesan bahwa lancarnya seorang menulis merangkai kata-kata dalam tulisannya dikarenakan banyaknya waktu dia untuk membaca, maka bacalah buku-buku bermutu tiap hari , pilih buku yang paling anda sukai apa saja, ajak teman-teman anda untuk kolaborasi untuk menulis buku, tulis dan terbitkan buku anda minimal satu tahun satu buku, kita harus buktikan nulis buku satu dalam satu tahun adalah target kita, hari ini kita belajar nulis, satu bulan kemudian kita menulis dan terbitkan.

    Pesan untuk guru dan pimpinan sekolah, promosikan dan budayakan gemar membaca dan menulis kepada para siswa setiap 20 menit sebelum belajar, tempelkan buku apa saja yang telah dibaca siswa dan dalam 3 bulan sekali mempresentasikan buku yang pernah dibacanya melalui pembacaan resume dari buku-buku tersebut melalui guru-guru mentor membaca di sekolah, jadi guru dan siswa terlibat membaca buku setiap hari dan berlatih menulis dengan membuat resumenya.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Banyak kesan dan pesan yang disampaikan oleh Bapak Dr. Nusa Putra, M.Pd salah seorang dosen UNJ jurusan Bahasa Indonesia, yang sudah menulis 30 buku dalam kurun waktu lebih kurang 5 tahun terakhir, dan setiap tahunnya ada 6 buku yang sudah diterbitkan.

    Buku beliau yang paling banyak digemari mahasiswa adalah buku “Penelitian Kualitatif” namun penulisannya gaya sastra, berbeda dengan buku “ilmiah” yang lainnya. Beliau salah seorang penulis buku yang sering menggunakan nama tokoh-tokoh ilmuwan dan tokoh kartun yang sering ditontonnya misalahnya dia pernah menulis Einstein Galau, Spongebob Kesepian, Spongebob berlibur, Spongebob beristirahat! Jarang penerbit mencetak skripsi seseorang kedalam sebuah buku, maka penerbit Gramedia menerbitkan tesis beliau dalam sebuah buku. Luar biasa!

    Pesan-pesan lain yang beliau lontarkan dalam kegiatan TWC ini antara lain, menulislah sesuatu yang sederhana saja tetapi bahan pikirannya kemana-mana, menulislah dengan judul yang unik dan menarik, jadikanlah menulis seperti pekerjaan rutin umat Islam yaitu sholat wajib lima waktu, kapan ada kesempatan untuk menulis, tulislah! Namun waktu yang paling tepat untuk sholat agar dapat wahyu dari ALllah adalah sholat malam, maka menulispun waktu yang tepatnya adalah di malam hari karena banyak ide dan banyak yang bisa kita tulis dimalam ini.

    Ada yang lebih penting lagi dari pesan beliau, menulis bukanlah persoalan otak melakinkan persoalan pantat, tahan ngak pantat kita duduk untuk menulis. Buku beliau dituliskan dibeberapa tempat. Menulis bisa saja datang dari pengalaman, dan jangan pernah takut tulisan kita dihina dan dicaci maki orang. Belum tentu orang yang menghina dan mencaci maki tersebut bisa menulis buku seperti yang penah beliau alami penghinaan dari seorang “guru besar” terhadap bukunya, Hal ini disebut pelacuran intelektual, menghina hasil karya orang lain sementara diri kita sendiri belum pernah punya karya sendiri.

    Pak Nusa juga menyampaikan pesan bahwa jangan menulis sambil membaca, tulislah dulu sebanyak- banyaknya setelah selesai baru baca ulang dan menilai tulisan kita, bangunlah silaturahim dengan tulisan sendiri, motivasi beliau menulis karena ada 3 perkara yang ditinggalkan anak adam yakni menjadikan anak soleh, amal jariah dan ilmu yang bermanfaat. Berilah buku yang kita cetak kepada teman yang suka membaca buku dan mintakan pendapat mereka tentang kekurangan dan perbaikan-perbaikan yang bisa kita respon. Abaikan pujian-pujian yang dia berikan kepada kita. Ketika kita tinggalkan kebiasaan menulis maka kita akan sulit memulainya lagi.

    Kelemahan orang menulis biasanya tak suka membaca ulang apa yang ditulisnya, menulis itu diawali dengan membaca, jangan menghakimi tulisan sendiri, tulis -baca-buang, belum tentu kalimat-kalimat yang kita buang siapa tahu akan menjadi kalimat berguna bagi tulisan kita berikutnya, tak ada pekerjaan yang bermutu jika dilakukan dengan instan dan emosi itu diperlukan dalam menulis, tak usah pikirkan kualitas dalam menulis. Teruslah meningkatkan kualitas menulis hari demi hari, jangan sakit hati jika tulisan kita disepelekan orang, maka untuk angkatan pertama TWC ini berusahalah membuat artikel dan jadikanlah sebuah buku yang wajib diterbitkan, itulah pesan akhir pembicaraan Pak Nusa.

    (sumberfoto: Koleksi pribadi)
    Belajar dari semangat ibu yang satu ini, penulis novel dan cerpen terkenal sejak tahun 1975 sampai sekarang masih sering aktif dalam menulis walaupun beberapa tahun lalu setiap sebulan sekali beliau harus cuci darah karena penyakit yang dideritanya, namun ditengah-tengah pelaksanaan transfusi darah beliau masih menyempatkan diri untuk menulis cerpen, novel dan buku-buku fiksi dan sudah pernah dan sering keliling dunia, Beliau sering ke luar negeri misalnya, Arab, Taiwan, Hongkong dsb.

    Beliau berpesan, menulis tanpa membaca Imposible, benda yang pertama diciptakan ALllah pertama adalah pulpen atau kalam, dan ayat yang diturunkan pertama adalah membaca, maka membaca dan menulis penting dan wajib bagi yang mengaku hamba ALllah yang taat.

    Mengapa menulis itu penting? Menurut Pipiet Senja, dengan menulis kita berkarya, merekam jejak sejarah dirinya dan lingkungannya, kita mengukir peradaban bangsa, beliau pernah menulis novel bersama putrinya Fahri Azizah dalam 3 hari saja, menulis pilihan yang tepat untuk kaum perempuan. Modal awal menulis adalah membaca, buka lebar-lebar , serap situasi sekitar, tunjukkan empati yang tinggi terhadap fenomena disekeliling anda, mulai menulis dengan menggunakan bahasa kita, mulailah dari yang mudah-mudah, ingatlah menulis adalah amanat Allah, itulah pesan Pipiet Senja mengakhiri ceritanya dalam pembicaraannya.

    ——————————

  14. MERANGKAK JUGA BERANJAK
    Oleh: M. Rasyid Nur

    INILAH pengalaman saya mencoba menjadi penulis. Tidak pernah terasa mudah. Dari angka nol ketika memulai ke angka satu atau dua saja rasanya lama dan susah. Tapi saya tidak pernah pula mau menyerah. Saya coba terus melangkah, melangkah, terus melangkah. Kalau perlu merangkak… tapi itu saya pikir tetap berjalan. Apakah sekarang sudah berada di angka empat atau lima, saya tidak tahu juga.
    Jika suatu pekerjaan tidak mudah atau tidak terasa bisa bergerak ke arah kemajuan yang diharapkan, pasti akan membuat kecewa bahkan putus asa. Tapi dalam keinginan saya untuk belajar dan bisa menjadi penulis saya merasa saya cukup tegar dan berusaha terus sampai bisa. Bahkan di usia setengah abad lebih, saat ini saya rasanya baru memulai kembali untuk belajar menjadi penulis.
    Kekaguman saya kepada sosok yang bernama ‘penulis’ memang sudah ada sejak lama. Kekaguman itu pula yang melahirkan motivasi dan energi saya untuk mencoba menjadi penulis. Saya ingat, dari sejak Sekolah Dasar (SD) di sekitar tahun 1966-1971 saya sudah menyenangi pelajaran menulis. Waktu itu namanya pelajaran Mengarang. Di samping Pelajaran Berhitung, Mata Pelajaran Mengarang adalah kesukaan saya.
    Ketika saya melanjutkan pendidikan di PGA-P (1971-1975) saya masih menyenangi pelajaran mengarang. Begitu pula ketika meneruskannya ke PGA-A (1976-1977) di Pekanbaru bahkan mulai timbul kesukaan menulis yang lebih serius. Beberapa kali sayembara mengarang prosa saya menangkan. Tapi puncak saya benar-benar menyenangi aktivitas menulis adalah ketika saya menuntut ilmu di Universitas Riau (UR) antara 1978-1983. Kesenangan membaca ketika masih di desa tempo hari semakin terpupuk oleh banyaknya bahan bacaan di Ibu Kota Provinsi Riau itu. Saya tidak hanya menulis prosa berupa artikel sederhana tapi juga mulai menulis puisi dan cerpen.
    Di tahun-tahun inilah saya mulai dan mencoba mengirimkan tulisan ke beberapa harian daerah dan ibu kota (Jakarta). Di harian Haluan, Semangat dan Singgalang (Padang) beberapa tulisan saya naik cetak. Di harian Pelita dan Swadesi (Jakarta) juga pernah muncul tulisan saya. Tulisan-tulisan periode inilah (khusus cerpen) yang akhirnya saya kumpulkan kembali untuk dicetak menjadi buku. Kumpulan cerpen saya berjudul “Duka Cinta di Awal Cita” adalah kumpulan cerpen sebagai buku pertama saya terbit yang cetakan pertamanya September 2008. Buku yang berisi 16 (enam belas) judul cerpen ini diterbitkan oleh penerbit UR Pres, Pekanbaru dengan sponsor saya sendiri. Saya memang tak sabar untuk mengirimkannya ke penerbit sambil menunggu yang mungkin tak pasti. Buku ini dicetak ulang tahun 2010 dengan penambahan satu judul lagi dan perubahan ilustrasi kulitnya.
    Waktu berlalu, masa pun berganti. Setamat S1 Keguruan dari UR (1983) saya langsung meninggalkan Pekanbaru karena mendapat SK (Surat Keputusan) sebagai PNS di salah satu SMA Tanjungbatu Kundur. Bermulalah saya sebagai guru PNS yang bertempat tinggal nun jauh di pelosok kampung di sebuah pulau. Rupanya situasi ini sama sekali tidak menguntungkan keinginan saya untuk menjadi penulis. Komunikasi yang amat susah ke ibu kota di tahun 1985 hingga 1990-an membuat benih-benih kreativitas menulis saya mati suri. Dan barulah melewati tahun 2000-an ‘batang terendam yang lama tenggelam’ itu terasa timbul lagi.
    Ketika Koran-koran tidak lagi hanya terbit di Ibu Kota Negara, dan beberapa harian mulai terbit di daerah maka motivasi untuk menulis kembali lahir. Bacaan yang mulai ada ikut memupuk motivasi itu. Di harian Riau Pos (Pekanbaru) dan Batam Pos (Batam) beberapa artikel opini saya mampu juga naik. Diiringi era internet maka semakin luaslah kesempatan untuk berkiprah kembali di kreativitas tulis-menulis. Harus saya akui, sesungguhnya saya serasa memulai kembali untuk belajar menulis dalam lima tahun belakangan. Kalau di era lalu saya sangat terbantu oleh mesin tik ‘Royal’ saya sebagai sarana tulis-menulis, kini komputer pribadi (PC), laptop, HP dan banyak lagi telah memberi ruang yang begitu luas untuk berkreasi di arena tulis-menulis.
    Keinginan saya untuk terus menulis bertumbuh dan berkembang serta tertantang dengan mudahnya berinteraksi dengan teman-teman lain yang nun jauh entah di mana. Dengan hubungan dunia maya, saya merasa semakin banyak orang tempat belajar dan semakin banyak pula wadah tempat menyalurkan kreativitas kepenulisan. Harus saya tegaskan, selain kumpulan cerpen, saya juga sudah menerbitkan tiga buku lainnya dengan cara sponsor sendiri (self publisher). Dan itu adalah berkat fasilitas internet yang mendukungnya. Di beberapa blog sosial dan sebuah blog pribadi saya terus berusaha belajar menulis. Bahkan blog pribadi saya, saya beri judul ‘maribelajar’ dengan maksud bahwa blog itu memang tempat saya kembali belajar dan berpraktek menulis.
    Mimpi saya sesungguhnya belumlah terwujud. Jika angka perjalanan menulis ini direntang antara 0 hingga 10 maka saya merasa belum juga mampu menggapai angka enam apa lagi angka delapan yang saya targetkan. Keinginan saya untuk terbitnya hasil karya saya di penerbit-penerbit terkenal (tentu bukan dengan sponsor sendiri lagi) belum juga tercapai. Tapi saya bertekad untuk terus melangkah. Jika pun tidak mampu melangkah, merangkak pun saya akan mencoba. Saya percaya dengan merangkak, saya juga akan beranjak dari satu titik ke titik selanjutnya.***

  15. NULIS DI ARENA TWC
    Ketika aku membaca novel, artikel dikoran terbersit dalam anganku “kapan aku bisa menulis artikel, fiksi yang dimuat dikoran atau bahkan dibukukan”. Aku memulai membaca cara-cara menjadi menulis, bahkan pernah aku ikut latihan menulis di sekolah tanpa batas yang dibimbing oleh Mas Bambang Wisudo mantan wartawan Kompas. Namun aku merasa repot, susah untuk memulai menulis karena mesti mengikuti langkah-langkah yang rumit menurutku.
    Saat hari kamis malam tanggal 6 desember 2012 aku dihubungi Bu Retno yang menawari aku untuk mengikuti pelatihan menulis di UNJ, tanpa pikir panjang langsung aku sanggupi. Kebetulan kegiatan itu dilaksanakan di hari libur dan gratis lagi kusus 2 orang utusan FSGI karena kegiatan ini dipimpin oleh OM JAY dari IGI yang berteman dengan Bu Retno. Langsung malam itu rupanya Bu Retno kontak Om Jay dan memberikan no HP ku, terbukti malam itu juga Om Jay SMS aku memberitahukan perihal kegiatan TWC.
    Pada saat hari Sabtu tanggal 8 Desember 2012 tepat jam 12 siang aku bersiap berangkat menuju UNJ, di tengah perjalanan di Lenteng Agung hujan deras, beruntung di jok motorku selalu tersedia mantel jas hujan. Aku berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan dan langsung aku tancap gas kembali menuju UNJ. Tepat jam 13 aku sampai di Gapura UNJ, aku tanya satpam dimana adanya Wisma UNJ aku disuruhnya lewat dalam, ternyata nyasar-nyasar. Kuat pendirianku masa gak ketemu, lalu aku keluar kampus dan aku bertanya lagi kemana arah Wisma UNJ dan betul jam 13.15 sampailah aku di Wisma UNJ.
    Lega rasanya sampai di Wisma dan langsung melakukan registrasi. Di saat itu baru aku tahu kalau rupanya acara itu dipersiapkan menginap dan mestinya bawa Laptop dan Modem. Lalu aku bilang sama panitia kalo aku ngga nginep dan tak bawa laptop dan dibolehkan,dimaklumi panitia.
    Tepat jam 13. 30 acara dimulai dengan pembukaan acara itu diberi nama Teacher Writing Camp (TWC). Disaat sesi 1 dan 2 aku banyak bengong karena ga ada laptop, sesekali saja aku melihat penjelasa dan pekerjaan dilaptop teman sebelahku. Baru pada sesi berikutnya saat pemaparan pengalaman pak UKIM menulis aku konek termotivasi untuk menulis, terlebih pada sesi 2 di hari kedua minggu 9 Desember saat pak Nusa Putra menguraikan pengalaman menariknya yang menakjubkan, aku sangat termotivasi untuk menulis. Aku baru menemukan ini yang kuinginkan menulis ternyata tidak harus dimulai dari hal rumit, prosedural tapi dimulai dari hal yang sederhana tak perlu urutan teknis yang rumit. Inilah hasil resume apa yang dijelaskan Pak Nusa, yang mirip puisi:
    Nusa Putra
    Menulis
    Kunci sukses “semangat dan focus”
    Silaturrahmilah dengan tulisan kita
    Selalulah menulis dimana saja,
    Teruslah menulis hiraukan benar ato salah
    Hamba Allah game over meninggalkan flasdisk yang isinya amal saleh
    Berikanlah tulisan meski belum jadi kepada orang yang tepat
    Mintalah untuk jangan dipuji tapi tanggapan untuk peningkatan
    Bacalah ulang dan perbaiki
    Anak anak israellah yang sejak kecil dibiasakan membaca
    Belajar dan membacalah jangan hanya protes
    kerna alat/teknologi yang kita pakai adalah buatan israel
    kitalah makhluk emosional yang rasionalis

    Pada sesi berikutnya Ibu Pipiet Senja memaparkan pengalamannya menulis semakin memotivasi aku untuk bisa menulis. Aku kagum dengan kemampuan dan kemauan Ibu Pipiet, meski pendidikan sederhana, usia sudah senja, dan kesehatan yang tidak prima namun hebat dalam berkarya.
    Untuk sesi terakhir bersama Ibu Pipiet Senja adalah workshop menulis, aku coba tuangkan sekelumit pengalaman hidupku dengan teknik menulis yang aku punyai, terlebih aku praktekan pelajaran yang aku dapat selama dua hari di TWC.
    Sungguh diluar perkiraan saya, ternyata tulisanku yang lupa tidak aku beri nama namun aku beri judul “Perjuangan Guru Kritis” termasuk kedalam nominasi 10 besar, bahagia rasa hatiku. Hasil ini dapat kujadikan oleh- oleh buat anak dan istriku tercinta dirumah. Aku bertekad untuk bisa menulis, aku mulai dari hal yang kecil dan sederhana untuk menjadi besar seperti Ibu Pipiet Senja, sampai usia senja masih tetap bisa berkarya.

    slamet maryanto
    Peserta TWC

  16. 25 november 2012 pukul 8.00 – 17.00 diAula wisma atlet universitas negri Jakarta.

    ketika saya diminta oleh om jay (wijaya kusuma) menjadi salah satu panitia penyelenggara acara pelatihan guru menbulis,saat itu saya merasa sangat bersemangat karna saya yakin itu pasti pelatihan yang sangat luarbiasa dan ternyata “benar”.

    ini adalah pelatiha perdana saya semasa saya kuliah di universitas negri jakarta. om jay adalah salah satu figur yang sangat berperan penting dalam perjalanan hidup saya,karna beliaulah saya bisa mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa seperti acara pelatihan ini.

    Pelatihan guru menulis dan launching buku “guru juga manusia” adalah acara yang ternyata luar biasa berikut juga para narasumbernya seperti Bpk. ukim komarudin,bpk dede, bpk agus, dan yang pasti om wijaya kusuma. mereka adalah sosok sosok yang bisa dibilang langka, karna mereka memang luarbiasa dalam penyampaiannya serta implementasinya dan mereka masih mau mengenal lebih dekat kepada kami (orang yang masih belum jadi siapa – siapa) dan pada saat itu pula saya bisa mengenal banyak guru-guru indonesia yang sangat menginginkan gebrakkan perubahan dalam dunia pendidikan,guru-guru yang bersemangat menyambut perubahan demi kemajuan.

    pelatihan guru menulis adalah langkah awal dari perubahan semangat juang para guru indonesia. acara yang dihadiri oleh beberapa guru yang sangat luar biasa ini mengundang kecap jantung saya tercekang kagum, karna beberapa dari mereka berasal dari luar pulau jawa. seperti papua,ambon dan dari beberapa daerah lainnya. memang, terdengarnya sangat sederhadan (judul), tapi sangat luar biasa effectnya bagi kita (para guru dan calon guru) karna dalam pelatihan tersebut kita belajar tentang banyak hal. seperti membuat buku,pentingnya perubahan dan pentingnya pengetahuan serta mengajarkan kita bagaimana menjadi guru yang luar biasa dan bagaimana mudahnya menulis.

    saya berharap masih ada banyak pelatihan -pelatihan yang menjadi gebrakkan baru bagi bangsa ini dan bagi pendidikan.
    terima kasih atas semua panita dan omjay.
    terima kasih kepada para trainer.
    terima kasih atas para guru indonesia.
    salam sukses.
    Ahmad Jibril Ap.Pd

  17. Kabar gembira buat Peserta Teacher Writing Camp di Wisma UNJ, 8-9 Desember 2012. Berikut ini diumumkan pemenang lomba blog yg diadakan oleh Indosat @IndosatJakarta #IM3TWC, yaitu:
    Pemenang pertama Santorry Saad, pemenang kedua Bang Nur dan pemenang ketiga Siti Mugi Rahayu. Kami ucapkan selamat kepada para pemenag lomba blog, dan segera menghubungi Yulef Dian Bustanuddin untuk mengkorfirmasi hadiahnya. Selamat ya! Tulisannya bagus banget!

    salam
    Omjay

  18. ‘’ Oleh – oleh TWC “
    By : Tuti Alawiyah

    Dilema itulah yang mugkin pantas Aku ungkapkan manakala mau ikut training Writing Camp (TWC) , karena pada hari yang sama aku mendapat undangan shooting sebagai penonton atau boleh lah dibilang peserta acara salah satu stasiun TV swasta yang acaranya super memotivasi setiap yang menontonnya. Rupanya magnit yang menarikku ke acara TWC lebih kuat tarikkannya dibanding acara tersebut, dengan tekad dan keinginan yang kuat ingin belajar untuk menulis aku lebih memilih acara TWC dengan harapan siapa tahu sepulang dari acara tersebut aku bisa langsung menjadi penulis walaupun yang diharapkan adalah penulis buku ajar sesuai dengan bidang yang aku geluti yaitu sebagai guru kimia, minimal aku bisa menuangkan rangkuman tulisanku selama aku menjadi guru. Ah, siapa tau acara yang di TV itu masih ada kesempatan di lain waktu walaupun harus menunda kesempatan ini, biarlah hitung-itung pengorbanan untuk meraih menjadi sang penulis, hemmm..harapanku waktu itu.
    Acara demi acara telah kulalui, tak ada kata yang pantas untuk mengungkapkan kekaguman pada acara ini, pembicara-pembicaranya wow keren, semua memotivasi peserta untuk banyak membaca, membaca, membaca, menulis , menulis dan menulis. Rasanya ingin cepat pulang waktu itu, ingin mengajak langsung anakku ke toko buku untuk membelikannya buku, setelah mendengar salah satu pembicara Pak Nusa Putra mengatakan ” jika ingin keliling dunia maka banyaklah membaca, jika ingin dikenang dunia banyaklah menulis” dan beliau selalu mengajak anaknya ke toko Buku dan membiarkannya anak nya memilih sendiri buku yang disukainya walaupun paling mahal sekalipun, jadilah anaknya senang membaca, sementara aku jarang sekali ngajak mereka ke toko buku apalagi memilih sendiri bukunya, akhirnya perasaan bersalah menyelimutiku, “tunggu ya Qonita ( anak pertamaku)”, gumamku. Apalagi Pak Satria Dharma mengatakan mulailah dengan iqro dan beliau dengan semangatnya mengajak peserta untuk banyak membaca, di keluarganya telah diterapkanya budaya membaca rutin setelah sholat shubuh. Juga ditambah dengan programnya “ Gerakan Literasi Bangsa” yang di laksanakan di SMAN 5 Surabaya, sangat bagus sekali dan menginspirasi untuk segera melaksanakan di sekolah dimana aku mengajar.
    Acara TWC yang dilaksanakan 2 hari pun tak terasa, karena pembicara-pembicara yang luar biasa hebat, sungguh acara hebat pikirku. Semangat menulis semakin menggelora jadi ingat apa yang disampaikan Pak Rahmat Afandi “ tanamkan dulu diri bahwa kita bisa menulis titik, jangan vonis diri sendiri tidak bisa, mari sugestikan “pasti bisa”. Duh kata-kata yang sangat memotivasi sekali untuk penulis pemula seperti aku yang baru belajar. Sambungnya lagi menulis tidak perlu “bakat yang diperlukan adalah kemauan, miliki hasrat, mimpi dan keyakinan”.
    Rupanya acara semakin semarak dengan kehadiran Bunda Pipit Senja seorang penulis ternama, tapi anehnya karena mungkin aku kurang membaca novel atau Cerpen aku malah baru kenal namanya, apalagi ketemu dengannya pastilah ini pertama kalinya. Orangnya sederhana tapi wow wawasannya luas sekali untuk urusan tulis menulis, semangat nya luar biasa apalagi ketika beliau bercerita saking ingin menulis padahal waktu itu beliau lagi transfusi darah kebayang ditangannya selang bagaimana menulisnya, sebagaimana pepatah tak ada rotan akar pun jadi, menulis tetap dijalankannya walaupun harus menggunakan rekaman. Tentu saja transfusi darah sudah biasa beliau alami semenjak dokter memvonisnya menderita talasemia, tapi tidak menghalanginya untuk terus berkarya menulis, menulis, menulis. Seharusnya justru aku yang sehat, dan masih muda jauh lebih harus berkarya, tapi biarlah tidak ada kata terlambat pikirku dalam hati. Beliau bilang mulailah dengan IQRO’, 3M ( menulis, menulis , membaca), TULIS ( Temukan ide, Ukir idenya, Libatkan otak kiri dan kanan, Ilmu dan teknik penulisan dikuasai, Sesuaikan tulisan dengan pembaca). Aduh semakin diawang-awang keinginan untuk mulai menulis, semoga pulang dari acara ini langsung di aplikasikan pikir ku. Akhirnya mulailah Bunda Pipit memberikan waktu setengah jam kepada peserta untuk latihan menulis apa saja dan tulisan yang bagus akan dikasih Reward untuk dibacakan.
    Akhirnya teringat akan kereta api yang selalu menemaniku untuk menimba ilmu dari Bogor ke Jakarta, dengan kata-kata yang lugas dan sederhana maklum baru belajar, kutuangkan dalam tulisan tersebut, dan kuberi judul “ kereta apiku sayang, kereta apiku malang”.wah tidak dinyana rupanya ketika Bunda Pipit mengumumkan 11 orang yang tulisannya layak dan bagus untuk dibacakan, ternyata aku urutan No pertama yang dipanggil dan diminta untuk membacakannya. Alangkah senangnya, tidak menyangka akan terpilih oleh Bunda Pipit yang namanya sudah terkenal seantero jagad raya. Ternyata sesuai dengan penjelasan Bunda Pipit bahwa judul itu harus memikat, rupanya judul tulisanku termasuk judul yang mungkin layak untuk ditulis. Wah permulaan yang bagus pikirku dalam hati, semakin besarlah akhirnya hasrat untuk menulis, langkah awal yang baik untuk menimbulkan kepercayaan diri, pikirku. Akhirnya semakin percaya diri untuk menulis ide-ide berikutnya. Dimulai dengan keinginan untuk menulis buku-buku bahan ajar, sesuai janjiku kepada bapak Rahmat Afandi, ketika beliau bertanya kepada peserta siapakah disini yang akan menerbitkan buku? Aku langsung mengangkat tangan padahal sebenarnya baru niat untuk menulis buku ajar, tapi aku pikir inilah saat untuk menantang diriku biar aku berbuat janji dan selanjutnya termotivasi untuk menyelesaikannya, untung nya beliau langsung menjawab, saya tunggu bukunya”. Waduh janji yang berat, tapi biarlah, “ tunggu ya Pak?” semoga kalimat janji ini adalah motivator buatku untuk melangkah menjadi penulis. Semoga….

  19. MENGUKIR PRASASTI DENGAN MENULIS
    Oleh : Rahmat Affandi

    Ketika saya memutuskan untuk memulai menulis, saya tidak mengira apa yang akan terjadi dan apa yang akan saya alami di kemudian hari. Ketika saya menegaskan pada diri sendiri bahwa saya harus menelurkan minimal sebuah karya tulisan dalam hidup saya, saya tidak membayangkan bahwa akan ada manfaat-manfaat lain yang mengikutinya dikemudian hari. Yang ada di dalam pikiran dan tekad saya waktu itu adalah bahwa saya harus segera menulis.

    Galau Tingkat Dewa ?

    Mudah ditebak, kesulitan dan permasalahan yang pertama kali di alami oleh sebagian besar penulis ketika memulai adalah dari mana memulainya ? dan bagaimana memulainya ?

    Itu pulalah yang saya alami ketika pertama kali hendak menulis. Saya harus memulainya dari mana ? dan bagaimana memulainya ? tentu pertanyaan-pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran semakin mempertebal keraguan dalam diri saya, bisakah saya menulis ? Jika boleh saya meminjam istilah anak muda zaman sekarang, kondisi yang saya alami pertama kali hendak menulis pada waktu itu ada pada level “Galau Tingkat Dewa”.

    Saya mencoba mencari beberapa buku tentang pedoman penulisan, saya baca dengan seksama, kemudian saya praktikkan, saya ikuti petunjuk-petunjuknya dan juga tips-tipsnya. Saya juga banyak bertanya kepada orang-orang yang sudah eksis dalam dunia penulisan. Dirasa belum cukup, sayapun mengikuti worksop-workshop atau seminar-seminar bertema penulisan. Dan tentu dengan motivasi yang semakin besar untuk menulis, serta sedikit “sentilan” dari istri dan anak saya “ Pokoknya ayah tulis aja yang ada di dalam kepala! ” maka tanpa ragu lagi sayapun memulai menulis. Ternyata setelah memulai menulis yang saya rasakan adalah flow, ngalir bagai air. Saya tidak memperdulikan apakah kata-kata yang saya ketik salah atau benar, kalimatnya pas atau tidak? Pokoknya hajar saja. Urusan salah benarnya nanti belakangan.

    Di sadari atau tidak, yang menciptakan mental blok penghalang untuk kita melakukan sesuatu (termasuk dalam menulis), ternyata bukan datang dari luar atau dari orang lain, malainkan datangnya dari dalam diri sendiri. Kitalah yang selama ini memberikan label pada diri sendiri dengan kalimat “tidak bisa”, kitalah yang menghalang-halanginya dengan keraguan dan “kegalauan tingkat dewa”.

    Apa yang saya bagikan ?

    Ketika saya mendapat ajakan dari Omjay untuk mengisi acara di Teacher Writing Camp, sungguh saya sangat antusias, sangat senang sekali. Terus terang selama ini saya selalu ingin mengajak teman-teman guru untuk menulis. Nah melalui ajang Teacher writing Camp yang refresentatif ini saya bisa berbagi pengalaman, dan tentunya mengajak teman-teman untuk menulis.

    Terhenyak, itulah yang saya rasakan ketika melihat peserta Teacher writing Camp, saya melihat semangat yang begitu tinggi, dan saya yakin teman-teman guru peserta Teacher writing Camp adalah orang-orang hebat dengan segudang potensi.

    Dulu saya pernah bermimpi naik pesawat mengunjungi beberapa daerah. Saya juga pernah memimpikkan suatu saat saya bisa “nongol” di TV menjadi nara sumber. Tidak itu saja, saya juga bermimpi suatu hari nanti suara saya bisa didengarkan oleh orang banyak lewat siaran radio. Seringkali ketika saya ke toko buku, saya bertanya pada diri sendiri dan membayangkan nama saya tercantum di sampul buku dan buku saya menjadi bagian dari deretan buku-buku lainnya. Alangkah indahnya jika saya juga bisa membubuhkan tanda tangan di buku itu, seperti para penulis-penulis lainnya.

    Bisakah mimpi-mimpi itu terwujud ? Seandainya saya tidak menulis, maka mimpi-mimpi itu hanya akan tinggal mimpi saja. Karena ternyata setelah saya menghasilkan tulisan, mimpi-mimpi itu menjadi terwujud dan satu demi satu menjadi kenyataan. Bahkan hal-hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya, turut menyertai dan mewarnai perjalanan hidup saya. Dan yang mengejutkan lagi efek samping lainnya dari menulis adalah saya harus menjadi seorang “konsultan” untuk membantu memecahkan berbagai macam persoalan para pembaca dan pendengar. Mulai dari cara mendidik anak, masalah rumah tangga, jodoh, karir, dan sebagainya. Semua terjadi setelah saya menghasilkan beberapa tulisan. Itulah sebagian pengalaman yang saya bagikan kepada teman-teman peserta Teacher Writing Camp di Wisma UNJ.

    Setelah membagikan pengalaman yang mudah-mudahan bisa memotivasi teman-teman peserta Teacher writing Camp, saya mengulas sedikit tentang kiat jitu bikin buku. Kiat yang saya sampaikan adalah cara-cara yang saya praktikkan dan metode yang saya baca dan saya praktikkan. Sengaja saya hanya mengulas sedikit saja, bukan saja karena keterbatasan waktu, tetapi karena saya berkeyakinan bahwa peserta Teacher Writing Camp ini adalah guru-guru yang hebat dengan segudang potensi untuk seorang menulis. Potensi untuk menjadi seorang penulis itu sudah ada pada setiap peserta. Dan dugaan saya benar, di akhir acara pada sesi tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat bagus. Ternyata ada yang sudah menjadi penulis dan merasakan royalti dari menjadi seorang penulis. Bahkan ada seorang peserta (saya lupa namanya) dengan latar belakang sebagai jurnalis, saya yakin beliau bisa menelurkan sebuah bahkan beberapa buah karya tulis yang bermutu. Sungguh suatu pengalaman yang membahagiakan bisa berada di tengah-tengah orang hebat.

    Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh teman saya seorang bestseller writer, writer coach, professional editor, publishing consultant, & trainer, bahwa dengan menulis kita bisa mem-branding diri. Artinya tulisan kita bisa menjadi personal branding yang sangat baik. Omjay contohnya. Siapa yang tidak kenal Omjay, beliau sudah wara-wiri keliling Indonesia karena menulis. Bahkan menurut cerita beliau, naskah bukunya yang ditolak oleh beberapa penerbit, justru yang membawanya berkeliling Indonesia. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa bagi seorang penulis, naskah ditolak oleh penerbit itu hal yang biasa. Saya pun pernah menalaminya. Naskah ditolak bukan akhir segalanya, justru itu adalah awal kita untuk menjadi seorang penulis sebenarnya.
    Saya ingin menegaskan kembali bahwa menulis itu tidak perlu bakat, yang diperlukan adalah kemauan. Titik ! Mulai saja menulis !

    Ukirlah sebuah prasasti

    Vox audita perit, littera scripta manet: “Suara yang terdengar akan hilang, kalimat yang tertulis akan tetap tinggal.”
    Saya yakin dari acara Teacher Writing Camp akan lahir penulis-penulis besar dan handal. Penulis-penulis bestseller yang dapat menginspirasi guru-guru lainnya untuk menulis. Mari kita torehkan dan ukir sebuah prasasti minimal satu buku dalam hidup kita.
    Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt, yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat pada acara Teacher Writing Camp di Wisma UNJ. Terimakasih kepada Omjay yang telah mengundang saya untuk gabung meramaikan acara Teacher Writing Camp serta jajaran kepanitiaan yang luar biasa. Salut !
    Hanya kepada Allah kita berharap dan hanya kepada-Nya kita bersyukur atas segala karunia-Nya.

    Bekasi, Januari 2013
    Rahmat Affandi

  20. Selalu Semangat Baru
    Oleh : Siti Mugi Rahayu

    Tulisan 1, Edisi Teacher Writing Camp
    Sabtu, 8 Desember 2012, Sabtu yang berbeda dengan Sabtu-Sabtu yang lain. Hari ini saya menjadi sangat antusias menanti siang karena pukul 13.00 nanti akan ikut dalam Pelatihan Menulis untuk Guru. Acara ini diberi nama Teacher Writing Camp. Seru kan ? Pelatihan menulis yang pake bermalam segala, tercium aroma semangat di dalamnya. Acara yang digelar memang terlihat padat, hingga malam, itulah mungkin satu alasan hingga peserta harus menginap.
    Seperti biasa, Sabtu pagi berangkat kerja sambil sebelumnya berjibaku dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Seharusnya hari ini saya terlibat dalam kesibukan acara lamaran adik ipar saya, namun apa boleh buat. Sebuah pesan singkat sempat saya layangkan sebagai permohonan maaf padanya, dengan sebuah janji saya akan berikan bantuan semaksimal mungkin, sebelum acara. Walhasil, walaupun tidak bisa hadir, namun saya sudah terjun langsung sebagai seksi repot belanja kue dan buah ke sana ke mari. Dan tahu tidak, tadi malam saya baru sampai kembali ke rumah pukul 21.30 setelah hunting kue-kue. Mana belum ngepak barang, menyiapkan apa yang mau dimasak esok pagi, menyiapkan baju-baju untuk acara lamaran…
    Pagi sebelum berangkat, saya masih harus mengecek kembali perabotan untuk camping dan memastikan baju untuk suami dan anak-anak saya siap untuk acara lamaran si om. Setelah itu.. ready to gooo ! Saya menggendong si kecil sambil mengunci pintu dan tetooot…. ada yang ketinggalan! apa ya? Ampun deh! Laptop! Akhirnya saya merasa sangat rempong membuka pintu gerbang dan pintu ruang tamu kembali demi menghadirkan laptop ke pangkuan, maklumlah pelajaran menulis tentu lebih mantap dengan laptop mini kesayangan. Apalagi di jadwal ada pelatihan Edmodo dan Blog segala!
    Fiuhh !! Akhirnya berangkat juga. Setiap pagi memang menegangkan. Jam menunjukkan setengah enam tepat kami harus sudah siap pergi untuk mengantisipasi macet di beberapa titik persimpangan jalan walaupun kalau lancar hanya memakan 8 menit saja.
    Setelah mengisi nilai-nilai siswa di sekolah, pukul 9.30 saya berangkat dengan dua orang teman ke UNJ. Memperbincangkan jadwal acara yang padat dan bakalan seru nanti malam membuat macet di tol agak tidak bermasalah, walaupun akhirnya menyadari bahwa sebentar lagi pukul dua belas, dan kami mulai panik!
    Tujuh puluh menit lagi pukul satu siang. Bis yang kami naiki baru keluar tol, dan akhirnya kami turun di Halte Pedati Jakarta Timur. Menanti bis 53 jadi terasa lama nian, dan mencoba mengakhiri kegelisahan ini dengan coba-coba nawar ojek. Tak mau turun dari angka 15 ribu, kami kembali pasrah pada taksi. Dan ajaibnya, ongkos taksi hanya 20 ribu sampai UNJ, nyaman pula dengan dinginnya AC.
    Setelah check in di Wisma UNJ, tempat pelatihan ini berlangsung, kami mencari makan siang di halte Labschool. Ada gado-gado dan soto, saya memilih gada-gado saja biar tidak terlalu berkeringat. Siang ini memang begitu terik. Hmm… ada kenangan yang kembali hadir ketika saya duduk di halte ini. Seperti dua belas tahunan yang lalu ketika kuliah dan menanti-nanti metromini nan seksi itu.
    Berbincang dengan Mas Yulef sebentar, sayapun langsung mempersiapkan diri untuk pembukaan. Siang ini saya kebagian tugas menjadi pembawa acara alias MC. Sendiri loh, soalnya Miss Juli tidak bisa hadir dikarenakan suaminya anfal. Duh.. sabar ya Miss. Safakallah untuk si abang. Dan acarapun dimulai pukul 14.00. Walaupun peserta belum hadir semua, namun aura semangat tetap memenuhi ruangan aula Wisma UNJ ini .
    Selamat Belajar, guru-guru keren…

  21. Serunya Teacher Writing Camp (TWC)
    By: Siti Mugi Rahayu

    Tulisan 2 Edisi Teacher Writing Camp
    Teacher Writing Camp, saya jadi teringat pelatihan menulis yang saya ikuti di Rumah Perubahannya Rheinald Kasali. Semua sesi diisi oleh para pemateri keren dari awal hingga akhir acara. Setiap sesinya selalu membangunkan diri ini untuk kembali menulis dan menulis, tak peduli seperti apa tulisan akan menjadi apa.
    Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untunglah ada pak Yusuf Dwiono yang mengiringi kekhidmatan kami dengan alunan keyboardnya. Pak Benn sebagai perwakilan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat menyempatkan hadir untuk memberikan sepatah dua patah kata. Menurut Pak Benn, guru mempunyai harapan banyak untuk bisa menulis dengan berbagai kegiatan yang memang dikawal secara intensif oleh IGI. Dalam hal ini IGI memang sangat concern membawakan pelatihan-pelatihan untuk guru agar terbiasa membaca, menulis, maupun melek internet. Semua programnya mengarah kepada pemberdayaan guru menghadapi pendidikan di masa depan.
    Mas Yulef, sekretaris acara Teacher Writing Camp (TWC), mewakili sang ketua, Pak Wijaya Kusumah atau kami biasa menyebutnya dengan Omjay, berkenan membuka acara ini karena Omjay masih di Padang. Menurut Mas Yulef, acara ini merupakan kelanjutan acara pelatihan menulis yang dilaksanakan pada tanggal 25 November 2012. Saking banyaknya peserta guru yang mendaftar dan tidak kebagian, maka WTC ini akhirnya lahir. Sebagai bayi merah, WTC ternyata cukup diminati. Jangan salah, untuk mengikutinya perlu perjuangan panjang dan berliku. Pertama, pelatihan ini bayar alias tidak gratis. Dua ratus tiga puluh ribu, bo! Suatu bilangan yang besar untuk sekedar main-main. Artinya, para peserta adalah orang-orang yang serius ingin belajar menulis. Kedua, acara yang sebelumnya sudah dilaunching sangat padat. Padahal dalam kenyataannya…sangat padat sekali. Saking antusiasnya peserta, setiap sesinya selalu menyita beberapa puluh menit waktu berikutnya. Saya tahu, karena saya yang menjadi moderator dari awal hingga akhir, kecuali sesi si Teroris !
    Sebelum acara dimulai, saya pribadi menyimpulkan duluan, bahwa hey.. ini acara serius ! semua peserta adalah orang-orang yang punya niat dan tekad membara, dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit, siap-siap acara hingga malam, dan meninggalkan orang-orang tercinta di rumah. Luar biasa kan ?
    Tapi sebenarnya, biaya dua ratus tiga puluh ribu itu murah loh ! Saya pernah melihat sebuah brosur pelatihan macam ini, dan harganya gila, hingga hampir dua juta rupiah itupun tidak dua hari. Jadi, uang yang diinvestasikan di WTC tentulah menjadi sangat kecil dibandingkan keuntungan yang akan diperoleh oleh para peserta.
    Setelah Mas Yulef menceritakan Latar Belakang Masalah (LBM) diselenggarakannya WTC, sekarang giliran Team Seamolec yang memperkenalkan aplikasi sosial media baru, Edmodo kepada peserta. Namun tiba-tiba, Edmodonya berubah menjadi Pesona Edu… Walalalahhh… ternyata mas-mas dari Indosat sudah tiba, dengan demikian Mas Jimmy dari Seamolec mundur kembali karena Indosat bagi-bagi voucher gratis. Wuih. Inilah hadiah-hadiah menarik pertama yang didapat peserta. Ada dua voucher, pertama voucher kartu perdana IM3 dan yang kedua voucher internet khusus untuk aplikasi Pesona Edu.
    Semua peserta lalu merasakan getaran-getaran penasaran karena situs ini sangat menarik dan bermanfaat untuk pembelajaran di kelas, apalagi jika kurikulum 2013 jadi diterapkan. Seperti biasa, waktupun terasa begitu cepat hingga terpaksa harus dihentikan dan beralih kembali pada Mas Jimmy dari Seamolec.
    Mas Jimmy memperkenalkan Edmodo kepada kami. Tahu tidak ? Semua orang terlibat bahagia mencoba Edmodo walaupun dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Waktunya sangat kurang, Mas Jimmy. Untungnya Mas Jimmy berbaik hati untuk siap meneruskan praktik Edmodo bersama peserta di sekolah tempat peserta mengajar. Edmodo memang sejenis sosmed yang dikreasi khusus untuk pendidikan. Kami agak takjub melihat Edmodo ini sedemikian rupa. Ternyata ada peran-peran berbeda di dalamnya. Ada untuk guru, siswa, maupun orang tua. Semuanya dengan penampilan berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Saya sendiri mencoba menjadi teacher, beberapa teman lain mencoba menjadi student.
    Di Edmodo, guru bisa membuat kelas-kelas sendiri dan mengkreasikan sesuai pembelajaran dan tujuannya masing-masing. Guru juga bisa memberikan soal-soal online kepada siswa dan bisa langsung melihat seberapa besar keberhasilan siswa dlaam menjawab. Wah, perlu latihan agak banyak nih untuk memahami Edmodo lebih lanjut. Semoga ada pelatihan Edmodo lanjutan. Apalagi ternyata setelah mengecek Email, Edmodo menyediakan tawaran untuk mengikuti Webinar atau semacam undangan untuk guru-guru melakukan seminar online.
    Setelah mengenal lebih jauh tentang Edmodo, acara berlanjut dengan materi menulis cepat di blog dengan Mas Yulef Dian sebagai pembicara. Saya salah duga, ternyata ini bukan pelatihan membuat blog, namun mas Yulef lebih mengenalkan bagaimana caranya melatih membuat tulisan dengan cepat dengan menggunakan Twitter. Di sini juga kami belajar banyak hal semisal TweetDeck dan Visible Tweet.
    Di sesi ini mas Yulef mengumumkan lomba live tweet yang bisa diikuti oleh para peserta. Hadiahnya bermanfaat, dua buah flasdisk dan dua buah modem. Dengan begitu, perang twitpun dimulai. Tweetwar begin ! Diam-diam peserta menuliskan materi-materi inti yang diberikan oleh para peserta dengan kode @IndosatJakarta #IM3TWC.
    Sebagian malam telah berlalu, peserta siap-siap dengan materi selanjutnya dengan semangat yang terus baru!

  22. Para Inspirator
    By : Siti Mugi Rahayu

    Ibarat oase, para motivator dalam kegiatan Teacher Writing Camp begitu menyejukkan. Mereka datang satu per satu, menyapa halus motivasi para guru peserta untuk terus terjaga dan tetap bersemangat menggoreskan pena dalam bentuk tulisan-tulisan.
    Kali ini saya ingin memperkenalkan terlebih dahulu satu per satu para pembicara TWC.

    bersama Pak Ukim Komarudin

    Yang pertama, Pak Ukim Komarudin. Saya mengenal pertama kalinya saat Pelatihan Menulis 25 November 2012 kemarin. Saat itu bertepatan dengan peluncuran buku beliau yang bertajuk “Guru juga Manusia”. Saya agak tersipu dengan judul yang diambil Pak Ukim tersebut, karena kebetulan saya pernah menulis sebuah artikel dalam rangka menyambut hari Buruh 1 Mei 2012 dengan judul yang sangat mirip, Buruh juga Manusia. Kalau disilogismekan, jangan-jangan akan ada tulisan baru dengan judul Guru juga Buruh. Walah… Bukan bermaksud merendahkan buruh, namun kok bagaimana gitu ya menyamakan guru dengan buruh, kendati pada berbagai kasus, guru kadang lebih terkesan bernasib lebih jelek dari buruh. Bayangkan, buruh tidak ada buruh honorer, namun guru honorer bejibun jumlahnya, dengan bayaran gaji per jam saja. Kadang buruh jadi terlihat lebih manusiawi, karena memiliki upah minimum. Tapi guru.. hiks.
    Kita tinggalkan Guru dan Buruh, dan kembali ke Pak Ukim.
    Sebelum si Bapak yang satu ini naik panggung, saya sempat berkenalan terlebih dahulu. Ternyata beliau keturunan Tiong Hoa. Sebuah nama Cina beliau sebutkan, namun jangan minta saya untuk menuliskannya ya… Jadi, kalau dilihat-lihat agak serius, Pak Ukim lebih terlihat sebagai engkoh-engkoh di Mangga Dua ketimbang sebagai guru Bahasa Indonesia di Labschool.
    Sebagai guru seperti kebanyakan guru, Pak Ukim terlihat bersahaja. Ucapan-ucapan yang kerap beliau bagikan kepada peserta juga merupakan keseharian beliau sebagai seorang guru. Saya melihat , Pak Ukim merupakan sosok motivator yang membangun kekuatan dari pengalamannya sehari-hari. Pak Ukim senang membagikan cerita tentang profesi guru yang digelutinya. Juga bagaimana guru-guru sebagai pribadi terpelajar, sangat penting untuk menulis.

    bersama Pak Agus Sampurno

    Pembicara kedua adalah Pak Agus Sampurno, pemenang Guraru Award tahun 2011 ini gencar mengampanyekan pembelajaran abad 21. Di sekolahnya sendiri, SD Global International School, Pak Agus merupakan sosok kreatif dan aktif melaksanakan kurikulum yang humanis. Saya lebih senang menyebutnya begitu karena beliau sangat concern terhadap sisi humanistis peserta didik. Pak Agus adalah sosok kreatif yang mampu mengajak siswa terlibat aktif dalam setiap pembelajaran yang berlangsung. Tidak hanya itu, Pak Agus rajin pula mengajak pada guru di seluruh Indonesia terlibat aktif dalam diskusi pendidikan seputar pembelajaran maupun metode pembelajaran, termasuk juga tentang siswa.

    Pak Rahmat Affandi

    Pembicara ketiga adalah Pak Rahmat Affandi. Guru SDN Bekasi Jaya 1 ini ternyata merupakan penulis aktif yang telah menelurkan beberapa buku. Semisal Inspriring Mom & Dad, hentikan Kebiasaan Berbahaya bagi Anak, dan Huruf-Huruf Cinta. Pak Rahmat lebih terlihat familiar dengan pendidikan anak-anak, mungkin karena beliau merupakan guru SD yang memang setiap hari berkecimpung di dunia anak-anak.

    bersama Pak Satria Dharma

    Pembicara berikutnya adalah Pak Satria Dharma. Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini sangat concern dengan minat literacy bagi guru-guru di Indonesia. Mengutip dari blog Pak Satria: Pak Satria yang punya hobi membaca ini menyimpan beberapa obsesi di bidang pendidikan. Di antaranya adalah menjadikan masyarakat memiliki budaya membaca dengan programnya ”A Reading Nation”. Dia juga ingin memiliki lembaga pelatihan guru yang benar-benar berkualitas. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah membesarkan ”Indonesian Teachers Club” yang dibentuknya di Jakarta beberapa waktu lalu, di bawah bendera CBE. Satria adalah salah satu pemrakarsa ”Konferensi Guru Indonesia 2006” yang diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation dan Provisi Education pada bulan November 2006 lalu. Mendiknas Dr. Bambang Sudibyo yang membuka dan sekaligus menjadi Keynote Speaker pada acara tersebut sangat terkesan dengan KGI 2006 ini, dan berharap agar kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan.

    Pak Nusa Putra

    Pembicara berikutnya adalah Dr. Nusa Putra, S.Fil., M.Pd., seorang dosen UNJ sekaligus penulis puluhan buku. Buku yang ditulis ternyata tidak hanya buku seserius penelitian namun juga beberapa tulisannya terlihat romantis. Saya melongo membaca idenya dalam Einstein dan Spongebob. Pak Nusa menggabungkan kisah-kisah film Spongebob yang jenaka dengan pesan-pesan anonim yang muncul baik langsung maupun tidak langsung dalam kisah-kisah tersebut.

    Bersama Pipiet Senja
    Satu lagi, sang teroris, Pipiet Senja. Awalnya, saya kaget juga dengan sebutan sang Teroris tersebut. Ternyata artinya Teror Menulis. Rupanya, si teteh yang satu ini sangat giat membimbing banyak orang untuk menulis. Salah satu targetnya adalah para TKI. Karena TKI tersebar di berbagai negara, maka Pipiet Senja beredar ke banyak negara juga. Hebat kan ?
    Yang luar biasanya, Pipiet Senja benar-benar seorang penulis yang sudah senja. Semula saya mengira seorang Pipiet Senja adalah penulis muda, namun ternyata seorang nenek yang benar-benar sudah punya cucu. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa namanya “Senja”. Apakah Anda tahu, Pipiet Senja ternyata seorang penderita Thalassemia yang harus melakukan kegiatan transfusi darah secara rutin dalam hitungan minggu dengan biaya puluhan juta dalam setahun. Dan menulis menjadi salah satu andalan membiayai kebutuhan ini. Hingga saat ini Pipiet Senja sudah menelurkan 110 buah buku. Luar Biasa.
    Dan tokoh-tokoh inilah yang menginspirasi peserta TWC dalam 2 hari. Selamat meledakkan ide !!

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.