Posted on: June 11, 2012 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 3

Makalah Pendidikan Budaya dan Karakter Melalui TIK

PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER MELALUI TIK

Oleh Wijaya Kusumah

(Disampaikan dalam SEMINAR INTERNASIONAL BAHASA DAN BUDAYA MILAD KE – 25 FAKULTAS SASTRA UMI Makasar, 28-29Juni 2012)

Pendahuluan

Fenomena pendidikan karakter sedang mengumandangkan resonansinya di setiap alam ide praktisi pendidikan, mulai dari penatar konsep hingga penatar praktik. Penulis berharap, konsep pendidikan seperti ini dapat dinikmati oleh seluruh institusi pendidikan di Indonesia, sehingga jelas evaluasinya pada saat berbenturan dengan kelemahannya. Kita akan temukan generasi baru yang santun berbahasa dan berbudaya melalui TIK.

Pendidikan sangat diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pendidikan bangsa ini akan cerdas dalam berpikir, dan bijak dalam bertindak. Agar cerdas dalam berpikir, dan bertindak diperlukan pendidikan budaya dan karakter. Dengan begitu moral dan agama mereka akan terjaga dalam pohon pendidikan. Dalam pohon pendidikan itu, akan terlihat mereka berakar moral dan agama, berbatang ilmu pengetahuan, beranting amal perbuatan, berdaun tali silaturahmi, dan berbuah kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah hasil dari sebuah pendidikan yang berbudaya.

Budaya adalah hasil karsa, dan karya manusia yang dapat dinikmati dan dihargai. Dia tumbuh dalam kearifan lokal masyarakat kita. Sedangkan karakter adalah perangai atau tingkah laku yang menjadi watak manusia dalam berinteraksi kepada sesama. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter harus diberikan kepada para generasi muda yang telah melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Generasi muda yang bukan hanya cerdas OTAK, tetapi juga WATAK. Generasi ini biasa disebut C-Generation. Sebuah generasi yang benar-benar telah melek TIK, dan mampu memanfaatkannya. Kita pun bangga karena mereka telah mengharumkan nama bangsa melalui penemuan-penemuannya. Hal itu tentu saja telah mereka imbangi dengan kemampuan berbahasa, dan pengaplikasian budaya bangsa. Tak heran bila banyak aplikasi TIK saat ini sudah berbahasa Indonesia.

Aktivitas belajar  C-Generation terlahir dari dunia digital yang terus berkembang. Oleh karena itu para penduduknya disebut digital native. Dalam penduduk digital native, aktivitas belajar C-Generation tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional. Mereka sudah terbiasa dengan cara-cara modern yang mengikuti perkembangan teknologi web 3.0 yang sebentar lagi akan kita gunakan di negeri ini. Belajar tidak lagi di dalam kelas, dan bertatap muka secara langsung, tetapi bisa dimana saja, dan kapan saja. Di sinilah diperlukan pendidikan budaya dan karakter. Dengan begitu etika atau budi pekerti tetap terjaga. Mereka tetap mampu berbahasa dengan baik sebagai alat penyampaian pesan.

Pendidikan budaya dan karakter diberikan dengan cara-cara alamiah. Dia tumbuh dari generasi yang telah melek TIK. Diperlukan peran TIK yang begitu besar dalam proses pembelajarannya sehingga budaya, dan karakter itu berubah menjadi cara-cara ilmiah yang membuat para pendidik atau guru tak bisa lepas dari 5KKonvergensi, Kontekstual, Kolaborasi, Konektivitas, dan Konten kreatif jelas akan menguasai dunia di abad 21 ini. Suka atau tidak suka, sebagai bangsa yang berbudaya kita harus mengikutinya.

Arus deras 5K akan dihadapi oleh kita yang mendapat julukan “digital imigran”(pendatang baru dalam dunia digital). Kita harus belajar teknologi menuju masyarakat berpengetahuan. Dibutuhkan pendidikan budaya dan karakter unggul untuk menghadapinya. Kita pun harus belajar sepanjang hayat. Sayangnya, tak semua pengajar atau pendidik mau terus belajar, sehingga banyak pendidik yang belum melek TIK. Padahal dalam dunia TIK diperlukan banyak sekali pemandu agar generasi muda kita tak meninggalkan budaya dan karakter bangsa. Mereka tak bisa menulis seenaknya di media sosial, dan harus mampu berpikir sebelum memposting sebuah artikel ke internet.

TIK begitu cepat sekali perkembangannya, dan telah membuat sendi-sendi kehidupan masyarakat terpengaruh karenanya. Semua hal yang bersangkut paut dengan hajat hidup orang banyak akan menggunakan TIK untuk memudahkannya. TIK menjadi sebuah alat bantu manusia yang terus menerus melayani manusia dari mulai bangun tidur hingga mau tertidur lagi. Banyak orang menjadi tergantung karenanya. Orang akan merasa ada yang hilang dalam dirinya bila ponsel atau gadget yang dimilikinya tertinggal di rumah. Budaya dan karakter manusia lambat laun dipengaruhi oleh kemajuan TIK ini. Banyak orang yang tak bisa lepas dari smartphone kesayangannya.

Dari sini sebuah generasi baru jelas akan muncul. Generasi baru yang benar-benar melek TIK, dan dekat dengan 5K.  Mereka sudah terbiasa saling terkoneksi untuk berbagi. Berbagi pengetahuan, dan sharing pengalaman. Terjadi konvergensi antar mereka. Merekapun saling berkolaborasi dalam menemukan konten-konten kreatif yang pada akhirnya membuat mereka bersinggungan dengan dunia nyata atau kontekstual. Di situlah era web 3.0 berperan. Komunikasi dengan mudah dilakukan dalam jarak yang jauh, dan duniapun serasa berada dalam gengaman tangan. Tembok pemisah antar negara seolah tiada lagi. Budaya dan karakter bangsa seolah menyatu melalui dunia maya. Keterampilan menulis menjadi sebuah keterampilan yang harus terus diasah. Siapa yang cepat dalam menyampaikan informasi ke seluruh dunia, dialah yang akan menjadi pemenangnya.

Pembahasan

Pendidikan budaya, dan karakter tentu tak luput dari perhatian kita. Sebab budaya dan karakter harus diberikan kepada para C-Generation agar meraka tak salah arah. Peran TIK jelas sangatlah penting, dan para pendidik harus mampu menjadi guide atau pemandu dalam bidang TIK agar budaya dan karakter bangsa dapat terjaga. Para pendidik harus terus belajar dan mampu memanfaatkan TIK dalam pembelajarannya.

Menurut pakar internet Dr. Onno W. Purbo, Pemanfaatan TIK yang paling tepat filosofi-nya sederhana, yaitu:

  1. Harus jadi produsen, menghasilkan sesuatu

Para pendidik diharapkan mampu mendorong peserta didiknya untuk mampu menjadi penghasil pengetahuan baru atau informasi baru, dengan begitu bangsa ini tak melulu menjadi bangsa pemakai atau bangsa yang hanya mengekor informasi dari Negara lain yang sudah berkembang teknologinya. Oleh karenanya, kemmapuan menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa harus terus diajarkan di sekolah-sekolah kita. Pembelajaran bahasa tak hanya melulu soal teori, tetapi merupakan aplikasi nyata yang diharapkan dari hasil membaca. Mereka yang rajin membaca, biasanya akan mampu menulis dengan baik.

  1. Harus menghasilkan sesuatu yang cocok dengan kebutuhan pembaca/masyarakat

Para pendidik juga dituntut untuk menghasilkan sesuatu karya tulis ilmiah yang hasilnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya masyarakat berpengetahuan yang sangat haus akan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, untuk bisa mencapai 2 hal tersebut di atas, para pendidik dan peserta didik

  1. Harus menjadi konsumen yang baik, banyak membaca, kritis terhadap yang dibaca (wawasan luas), dan terus belajar dari orang lain yang berilmu pengetahuan. Jadilah pelopor dan bukan pengekor.
  2. Harus banyak berdiskusi (sensitif terhadap kebutuhan pembaca / masyarakat), sehingga hasilnya nyata dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Pada dasarnya, TIK cuma sebagai alat bantu saja, tidak lebih. Dia tidak beda dengan mesin tik, cangkul, kompor, dan lain-lain semua alat bantu saja. Dibutuhkan pendidikan budaya dan karakter agar pemanfaatan  alat tersebut menjadi optimal dan maksimal tanpa harus kehilangan kearifan lokal. Kearifan lokal harus dijaga, karena merupakan warisan leluhur yang sangat baik sekali. Oleh karenanya, pembentukan karakter peserta didik harus dimulai dari keluarga lalu kemudian sekolah.

Menurut UU no 20 tahun 2003 pasal 3 menyebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. Ada 9 pilar pendidikan berkarakter, diantaranya adalah:

  1. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
  3. Kejujuran /amanah dan kearifan
  4. Hormat dan santun
  5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong/ kerjasama
  6. Percaya diri, kreatif dan bekerja keras
  7. Kepemimpinan dan keadilan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi kedamaian dan kesatuan

Pembentukan karakter  peserta didik dan budaya bangsa seperti apa yang diuraikan di atas memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu visi dan misi yang kuat dari sekolah dalam membangun karakter siswa. Mereka harus mampu mengembangkan nilai-nilai dasar karakter yaitu:

  1. Bertakwa (religius)

Peserta didik harus mampu menjalankan perintah agama sesuai dengan ajaran kitab sucinya. Mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Mereka yang mencapai derajat takwa adalah manusia paling mulia di sisi Allah. Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain adalah mereupakan contoh orang yang bertakwa.

  1. Tanggung jawab (responsible)

Peserta didik harus diajarkan agar mampu bertanggungjawab, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Orang yang memiliki tanggungjawab tinggi adalah manusia yang tahu apa yang harus dikerjakannya dan berusaha keras untuk menjalankan apa yang sudah diamanahkan kepadanya. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa disebut tanggungjawab.

  1. Disiplin ( dicipline)

Peserta didik harus diajarkan tentang pentingnya disiplin bagi kehidupan. Seallau tepat waktu dan berusaha keras untuk hadir tepat pada waktunya bila diundang dalam sebuah acara. Disiplin sangat penting dalam pendidikan karakter. Mereka yang sukses selalu mampu mendisiplinkan dirinya sendiri. Terutama disiplin soal waktu. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan disebut disiplin.

  1. Jujur (Honest)

Peserta didik harus diajarakan untuk berbicara apa adanya. Tidak berbohong dan mampu berkata dengan jujur sehingga antara perkataan dan perbuatan menjadi sejalan. Jujur menjadi sebuah karakter yang sangat mahal bagi bangsa ini, terutama buat mereka yang tersandung kasus korupsi. Sulit sekali dicari orang yang jujur, dan karenanya jujur harus tertanam dengan kuat dalam hati peserta didik kita. Mereka tidak akan mencontek di saat ujian dan mampu berlaku jujur selama ujian berlangsung. Karakter jujur sangat berpengaruh dalam kehiduapan kita. Siapa yang mampu menegakkan kejujuran, maka dia adalah orang yang bijaksana. Jujur adalah sebuah Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

  1. Sopan (polite)

Tata krama atau adat kesopanan harus diajarkan kepada peserta didik kita. Mereka harus tahu bagaimana berlaku sopan kepada mereka yang lebih tua dan mampu menjalankan tata karma dengan baik. Mereka yang berlaku sopan akan sangat disenangi oleh orang banyak. Tata krama atau adat sopan santun sangat penting diajarkan  terlebih dahulu dalam keluarga, agar mereka tahu bagaimana bergaul dalam keluarga dengan tata krama yang baik.

  1. Peduli (care)

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Memiliki rasa empati yang tinggi ketika orang lain mengalami musibah. Mereka yang peduli adalah mereka yang hidup bukan hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi juga kepentingan hidup orang lain.

  1. Kerja keras (hard work)

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Orang yang terbiasa bekerja keras dalam hidupnya biasanya akan menjadi orang yang sukses dalam meraih apa yang diimpikannya.

  1. Sikap yang baik (Good Attitude)

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Sikap yang baik sangat diperlukan untuk menghargai orang lain yang tak sepaham dengannya. Meskipun dia dibenci, dia akan tetap menunjukkan sikap yang baik sehingga membuat orang yang membencinya menjadi sungkan dan malu.

  1. Toleransi (tolerate)

Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

  1. Kreatif (Creative)

Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki.

  1. Mandiri (independent)

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

  1. Rasa ingin tahu (curiosity)

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

  1. Semangat kebangsaan ( Nationality Spirit)

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

  1. Menghargai (Respect)

Mampu saling menghargai orang lain yang tak sependirian dengannya. Berbeda pendapat tak membuatnya tidak menghargai orang lain.

  1. Bersahabat ( Friendly)

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

  1. Cinta damai (Peace Full)

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

Dari sisi akademik dan non akademik, kami di SMP Labschool Jakarta, menyisipkan pendidikan karakter kepada para peserta didik. Melalui olah pikir, olah hati, olah raga, olah rasa, dan karsa kami membangun karakter mereka selama tiga tahun di sekolah. Semua itu menyatu dalam budaya sekolah yang tetap eksis dan selalu disempurnakan.

Kami menyadari sebagai pendidik, bahwa sebagai manusia biasa tentunya banyak sekali kekurangan yang kami miliki. Kami para pendidik bukanlah bintang kejora yang bersinar di malam hari dan bukan pula sang mentari yang mampu menyinari seluruh makhluk di bumi. Tetapi kami punya keinginan, punya kemauan untuk memajukan, dan menghantarkan para peserta didik agar menjadi orang yang sukses, baik di di dunia maupun di akhirat.

Dengan model pendidikan karakter yang sederhana itulah, kami mencoba membangun karakter bangsa yang dimulai dari sekolah. Mampu mengolah pikiran mereka menjadi manusia yang cerdas, mampu mengolah hati mereka agar berbudi pekerti yang luhur, mampu mengolah raga mereka untuk kemajuan bangsa Indonesia yang sehat dan berwibawa, dan mampu mengolah rasa dan karsa mereka dengan menciptakan seni budaya khasanah bangsa yang beragam, dan mampu membuat mereka mempertahankan keberlangsungan hidup yang lebih baik.

Bangsa ini sudah hampir kehilangan karakaternya, oleh karenanya kami para guru membina para peserta didik di sekolah agar kelak menjadi manusia indonesia yang berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa dengan selalu mengintegrasikan keimanan dan ketakwaan (imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang selalu berjalan beriringan. Mari kita membangun karakter bangsa melalui olah pikir, olah hati, olah raga, olah rasa, dan karsa. Dengan mengolah semua itu, akan muncul manusia Indonesia yang berkualitas dan mampu bersaing di era global.

Dalam menerapkan pendidikan budaya dan karakter melalui TIK harus dipikirkan benar dampak positif, dan negatifnya. Sebab perkembangan TIK selalu bermata dua. Di satu sisi menguntungkan, dan sisi yang lain merugikan. Para guru harus mampu memberikan materinya dengan cara-cara interaktif, dan membuat para peserta didiknya menjadi kreatif. Pembelajaranpun menjadi menyenangkan. Mereka digiring bukan hanya sebatas mencari dan memperoleh informasi, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet.

Mereka harus diarahkan untuk mampu menjadi produsen pengetahuan, dan bukan hanya menjadi konsumen pengetahuan saja. Gurupun tak terlalu dominan di kelas karena pembelajaran berpusat pada siswa. Guru lebih sering sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran.

Perlu juga diingat! Budaya malu harus ada dalam karakter setiap peserta didik. Anak-anak C-generation itu tidak diperkenankan dan masuk dalam wilayah pornografi, dan berani menyalin hasil karya orang lain (plagat). Malu rasanya bila para C-generation itu  memanfaatkan TIK hanya untuk bersentuhan dengan pornografi, dan melakukan plagiasi. Mereka pun jangan dibiarkan untuk terus menerus mengkonsumsi games atau permainan online lainnya di internet yang mengasyikkan. Kalau kita biarkan, maka kita akan menghasilkan sebuah generasi para gamer, dan bukan programer. Sebuah generasi yang mampu menciptakan berbagai games atau permainan yang mengasyikkan.

Progammer sangat kita perlukan dalam membuat konten-konten edukatif. Dengan begitu pendidikan ini akan maju dan sejajar dengan negara lainnya. Para C-Generation itu tidak hanya diarahkan untuk kelas operator saja tetapi menjadi programer aktif yang membuat mereka kreatif dalam membuat program-program inovatif yang dapat dibanggakan. Lihatlah Fahma, sosok penemu software termuda di dunia. Dia terlahir dari anak Indonesia yang bertempat tinggal di kota Bandung. Itulah salah satu contoh dimana pendidikan budaya, dan karakter terintegrasi dengan TIK dalam proses pembelajarannya.

Satu kali contoh keteladanan lebih baik daripada 1000 kali perkataan. Para guru harus mampu memberikan contoh yang baik dalam memanfaatkan ICT khususnya internet secara sehat. Dengan begitu mereka akan melihat keteladanan dari gurunya dalam pemanfatan TIK di sekolah. Para peserta didikpun pada akhirnya akan mengikuti pula dalam menjalan internet sehat dengan hati yang sehat pula. Hati yang sehat didapat dari pembinaan pendidikan budaya dan karakter yang terus dikembangkan oleh para guru.

Contoh yang paling mudah dalam pendidikan karakter adalah jujur. Para guru harus mampu menanamkan kejujuran dalam diri setiap peserta didik. Tak berkata bohong  (dusta) dan mampu berkata benar dalam segala sikap dan tingkah lakunya. Hal itu akan dengan mudah tertangkap jelas dari facebook para guru, bila para peserta didiknya telah berteman dengannya. Oleh karena itu jadikan mereka sahabat agar guru dan siswa menjadi dekat. Ajaklah dialog atau diskusi sehingga yerjalin komunikasi yang positif antara guru dan siswa.

Budaya baca yang mulai hilang dari dunia anak-anak kita harus sudah digiatkan kembali dengan konten-konten edukasi yang dibuat sendiri oleh para guru melalui blog atau website sekolah. Di sinilah para guru harus mampu menulis, dan membuat para peserta didiknya menjadi gemar membaca. Konten-konten atau materi pelajaran itu bisa dimasukkan dalam server aplikasi MOODLE atau Blog yang berbasis Content Management System (CMS). Di tempat itu, para guru dapat kreatif membuat sendiri media pembelajarannya. Para guru pun dapat membuat tes atau ujian secara online.

Kesimpulan

Para C-Generation itu harus diarahkan bukan hanya sebagai bangsa penikmat teknologi, tetapi harus mampu kita arahkan untuk menjadi produsen pengetahuan. Agar bisa menjadi produsen pengetahuan, maka budaya baca dan tulis menulis harus benar-benar dilatihkan melalui pemanfaatan TIK secara benar. Para guru pun harus belajar ngeblog agar mampu memberikan keteladanan kepada para peserta didiknya. Dengan ngeblog, para guru dan siswa menjadi terbiasa menulis.

TIK harus benar-benar dimanfaatkan agar para peserta didik itu mampu mendengarkan dengan baik, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan begitu mereka akan mampu menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai dan membuat diri  mereka menjadi orang hebat luar biasa  karena memiliki kemampuan berbahasa secara baik.

Semua hal di atas itu harus terintegrasikan dalam pendidikan budaya, dan karakter yang berbasis TIK. TIK harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk menerapkan nilai-nilai dasar pendidikan karakter, dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya agar para C-Generation itu mampu mengembangkan kreativitasnya.

Alangkah indahnya bila para C-Generation itu mampu berinternet secara sehat, menyebarkan berita dengan benar, dan mampu menceritakan pengalamannya yang mengesankan dalam blog-blog mereka. Dengan begitu kemampuan menulis mereka pun akan terasah dengan baik, karena sering menulis di blog. TIK bukan lagi kependekan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi, tetapi telah berubah menjadi Tampak Indah Karakternya. Mereka adalah generasi yang mampu berbahasa dan berbudaya Indonesia dengan baik dan benar.

Oleh karena itu, pembangunan karakter dan budaya hendaknya dijadikan prioritas utama pembangunan bangsa ini ke depannya. Pembangunan yang berorientasi kepada pembangunan manusianya. Inilah hakikat mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertera dalam UUD 1945. pembangunan yang berdasarkan pembangunan manusia seutuhnya, bukan hanya pembangunan ekonomi, politik, hukum, semata. Karena pembangunan manusia adalah investasi dan modal utama pembangunan sebuah bangsa.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Categories:

3 People reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.