Posted on: May 2, 2012 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 8

Lomba Blog Pendidikan wijayalabs.com. Berhadiah Total Rp. 3.000.000,- Plus Domain & Hosting Untuk Pemenang!

Wahai Teman-teman Guru, Ikutan Lomba Blog Yuk!
Wahai Teman-teman Guru, Ikutan Lomba Blog Yuk!h

Dalam rangka memperingati hari Pendidikan nasional dan kebangkitan nasional yang jatuh pada 2 Mei, dan 20 Mei 2012, Blog pendidikan wijayalabs.com kembali menyelenggarakan lomba menulis atau kompetisi blog kedua yang mengangkat tema “Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan Secara Nasional, dan bangkitnya para guru untuk mengkampanyekan gerakan guru menulis dan melek internet”.

Hal yang diharapkan dari lomba blog pendidikan ini adalah para guru yang telah memiliki blog pribadi di internet atau blog keroyokan di kompasiana dapat lebih menyadari perannya sebagai guru dan dapat ikut berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan. Para gurupun diharapkan dapat menularkan pengetahuannya kepada guru lainnya melalui blog yang dikelolanya dengan baik.

1335968257694013532
Peserta lomba diwajibkan memiliki buku menjadi guru tangguh berhati cahaya karya wijaya kusumah

 

1.      Persyaratan Peserta

    • Semua guru yang berdomisili di Indonesia. Baik guru PNS atau Non PNS
    • Memiliki blog pribadi atau blog keroyokan kompasiana di internet
    • Telah memiliki buku menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya karya Wijaya Kusumah (Omjay)
    • Blog yang diikutsertakan tidak dibatasi pagerank, lama aktif, atau jumlah postingan sebelumnya.
    • Peserta tidak dipungut biaya registrasi.

2.      Ketentuan Tulisan

    • Tulisan dapat dibuat dalam bentuk esei atau narasi.
    • Panjang tulisan minimal 750 kata dalam bahasa Indonesia. Gaya bahasa bebas-santai-informal, tidak harus yang baku-formal.
    • Tulisan tidak menyinggung SARA.
    • Lebih bagus bila ada foto dan gambar ilustrasi
    • Keyword atau kata kunci  “Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan Secara Nasional”, dan “bangkitnya para guru” untuk mengkampayekan gerakan “guru menulis” dan “melek internet”
    • Tulisan wajib menyertakan minimal 3 (tiga) backlinks ke url/situs/blog https://www.wijayalabs.com

Isi tulisan yang diikutsertakan minimal dapat menjelaskan:

  1. Bagaimana peran guru dalam mewujudkan keadilan pendidikan secara nasional?
  2. Menceritakan kebangkitan para guru dalam mengkampanyekan gerakan guru menulis dan melek internet
  3. Kenapa saya mau jadi guru di era globalisasi saat ini?
  4. Apa yang anda dapatkan dari buku menjadi guru tangguh berhati cahaya?
  5. Apa harapan dan opini guru mengenai peranan blog wijayalabs.com sebagai media blog pendidikan?

3.      Teknis Registrasi

  • Menulis dan memposting artikel kontes blogging dalam blog guru yang sesuai dengan ketentuan tulisan.
  • Pendaftaran artikel blog dimulai tanggal 2 Mei 2012 sampai 31 Mei 2012dengan mengirimkan tautan (link) artikel blog (bukan hanya url homepage blog) dan biodata peserta ke alamat email wijayalabs@wijayalabs.com
  • Biodata peserta minimal berisi nama lengkap, alamat email, dan no telpon/ponsel yang dapat dihubungi.
  • Tiap peserta diperbolehkan mengikutsertakan lebih dari satu blog pribadi miliknya.
  • Aktifkan fitur komentar pada blog/artikel anda. Promosikan seluas-luasnya artikel anda melalui facebook, twitter, atau media sosial lainnya.

4.      Penilaian Lomba Blog

  • Kompetisi menggunakan sistem kontes blogging semi SEO yang memadukan antara kualitas tulisan dengan tingkat popularitas di search engine atau mesin pencari.
  • Tautan artikel yang diambil untuk dinilai tim juri adalah artikel yang sesuai dengan ketentuan tulisan dan  muncul pada urutan 20 (dua puluh) teratas berdasarkan halaman hasil pencarian di google.co.id dengan kata kunci   “Peran Guru” dalam “Mewujudkan Keadilan Pendidikan” Secara Nasional”, dan “bangkitnya para guru” untuk mengkampayekan gerakan “guru menulis” dan “melek internet” pada tanggal 31 Mei 2012 pukul 23.00 WIB.
  • Isi artikel harus dapat menjelaskan dengan mudah dan santun tentang jawaban yang diharapkan dari Pertanyaan Umum di atas.
  • Originalitas tulisan.
  • Keterkaitan dengan tema.
  • Kualitas dan kuantitas komentar pembaca pada artikel yang dilombakan akan menjadi nilai tambah.
  • Ada waktu 5 hari untuk mengecek atau menyanggah apakah tulisan copy paste, setelah pengumuman pemenangnya. Jika diketahui dari hasil cross cek artikel pemenang adalah hasil copy paste maka pemenang akan diganti.
  • Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Nama pemenang akan diumumkan di  bulan Juli 2012, dan akan diumumkan di blog pendidikan https://wijayalabs.com

5.      Hadiah Kontes Blogging atau lomba blog Pendidikan Wijaya Kusumah

Tiga orang pemenang utama akan mendapatkan hadiah:

  1. Juara pertama mendapatkan uang Rp. 1.000.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo.
  2. Juara kedua mendapatkan uang Rp. 750.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo.
  3. Juara ketiga mendapatkan uang Rp. 500.000,- + buku yang disusun oleh wijaya kusumah + Sertifikat + domain+hosting untuk website berbayar dengan kapasitas 300 MB dari PT. Excellent Infotama Kreasindo.

Peserta akan mendapatkan buku lainnya karya Wijaya Kusumah

http://kutukutubuku.com/2008/open/25829/menulislah_setiap_hari_dan_buktikan_apa_yang_terjadi
6.      Dewan Juri Lomba

7.      Pendukung Kompetisi

  • Penerbit Indeks
  • Sponsor http://www.excellent.co.id/
  • Ikatan Guru Indonesia Wilayah Bekasi
  • Komunitas Blogger Bekasi
  • Prima Edutama
  • Donatur
  • Sponsor lainnya yang tertarik memberikan hadiah lomba blog

8.      Informasi Kompetisi blog

Info lengkap dapat mengunjungi blog pendidikan https://www.wijayalabs.com dan contact person sebagai berikut:

  • Wijaya Kusumah (hp. 0815-915-5515)
  • Dahli Ahmad (hp. 082117923273)
  • Yulef dian (hp. 02136046818
Facebook         : wijayalabs
Twitter             : @wijayalabs (follow me di twitter)
Email                :  wijayalabs@wijayalabs.com atau  wijayalabs@gmail.com 
Categories:

8 People reacted on this

  1. Guru Pelangi Pendidikan

    Di era Globalisasi ini, sudah ga jamannya Guru hanya punya semboyan “di gugu dan di tiru” saja, tapi harus jadi guru yang warna warni seperti pelangi di langit yang biru. Banyak guru yang setiap hari hanya sekedar menggugurkan kewajibannya sebagai guru. Setiap hari yang penting hadir tepat waktu, mengajar, murid pulang ikut pulang. Rutinitas itu setiap hari ia lakukan tanpa ada makna apa-apa dalam hidupnya di dunia pendidikan.”ya..pokoknya saya mah sudah mengajar anak-anak sesuai jadwal, pendidikan saya juga sudah S1, mau apa lagi ah..sudah ga bisa mikir apa-apa lagi sudah tua, males”. Kata-kata itu kerap sekali saya dengar dari segelintir orang yang berprofesi guru. Terkadang saya ikut menarik nafas dan geleng kepala kok ada ya..guru yang pasrah dan tak punya semangat untuk maju dan memajukan pendidikan di Negara Indonesia tercinta ini, alhasil generasi yang dilahirkan generasi yang pas-pasan, dan asal-asalan juga. Saya awalnya tidak tertarik dengan profesi guru, tapi setelah melihat keadaan jaman yang serba IT tapi banyak generasi yang salah gunakan jaman ini dengan kemelencengan dan saya tergerak hati saya ingin ikut serta membenahi generasi-generasi yang saya pikir harus di awali dari kwalitas pendidikan. Berangkat dari alasan itulah kenapa saya ingin jadi guru di era globalisasi ini.

    Ki Hajar Dewantara, sang pencetus pendidikan, Ibu Kartini yang memajukan kaum wanita dari gelap terbitlah terang, Nabi Muhammad,Saw yang memberi tauladan pentingnya memajukan pendidikan, serasa tidak di kenang dan di abadikan oleh para guru yang “nyasar”. Mungkin jika kita ajukan angket untuk para guru, yang menjawab satu pertanyaan “apa tujuan anda menjadi guru?” akan mendapatkan jawaban yang hampir sama sesuai tujuan utama Pendidikan Pemerintah “untuk memajukan pendidikan secara nasional”. Tapi konsekuensi perannya kurang terealisasikan.

    Kini saatnya untuk para guru “bangkit”, banyak hal yang bisa dilakukan seorang guru yang hidup di jaman serba canggih dan turut serta “melek internet”. Apapun kebutuhan seorang guru dapat di akses melalui IT, termasuk menulis. Menulis adalah dunia terdekat seorang guru yang dengan tidak disadarinya selama ini setiap hari ia selalu punya modal utama computer, laptop, netbook. Di sekolah tempat saya mengajar, kebetulan setiap tugas guru selalu di tulis dan di laporkan menggunakan computer, Silabus, Program semester, RPP, sampai Raport. Sekarang saya tahu ternyata dengan menulis saya bisa berbagi ilmu jarak jauh kepada banyak orang dengan memuat tulisan saya di Blogg. Alhamdulillah,dengan program gerakan menulis, kini 5 teman seprofesi saya tertular dengan virus menulis saya.

    Seorang guru yang ingin menjadi pelangi pendidikan tidak cukup puas dengan apa yang sudah di capainya, guru harus terus berusaha maju demi anak didik dan bangsanya seperti pelajaran yang saya dapatkan dari sebuah buku yang berjudul “Guru Tangguh Berhati cahaya” yang di tulis penulis eksis di Blogg dan sudah mencetak beberapa buku motivasi khususnya untuk para guru, Wijaya Kusumah .Om Jay panggilan akrabnya, memotivasi para guru untuk terus memperkaya inovasi untuk kemajuan pendidikan Bangsa ini Guru yang tangguh berhati cahaya terus semangat dan kehadirannya selalu di rindukan oleh siswanya .

    Saya merasa jika satu tulisan yang di upload di Blog Wijayalabs.com, saya merasa rugi karena itu berarti saya ketinggalan satu ilmu motivasi yang harus saya dapatkan terima kasih om Jay, semoga semangatnya tidak pernah surut dalam memotivasi pendidikan di Negri tercinta ini. Dan semoga banyak lagi orang-orang yang terus peduli dengan pendidikan demi kamajuan Bangsa ini Amin.

    IDENTITAS PENULIS

    Nama : Maemunah, S.Pd.I

    Alamat : Permata Regensi Blok i4, No.16 Wanasari Kec.Cibitung Bekasi 17520

    Alamat Kantor : SDIT Fitrah Hanniah Jl.Bossih Raya Kp.Selang tengah Rt.05/02 Wanasari Cibitung Bekasi17520

    No Hp : 021-85435791

    Email : maepurpple@gmail.com

  2. Terima kasih banyak….blog yang sangat menginspirasi dan memotivasi saya untuk terus menulis tentang pendidikan….karena memang pendidikan adalah akar dari segala permasalahan bangsa ini…

  3. Guru Sebagai Pejuang Keadilan Pendidikan, Berjuang dengan pena dan Cerdas berinternet
    8:02 PM Free Articles, guru, Guru Melek Internet, Guru menulis, MAKALAH, pendidikan, Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan, Publishing 2 comments

    (OLEH: ZAMZAMI)

    Kehulu memotong pagar
    Jangan terpotong batang durian
    Cari guru tempat belajar
    Jangan jadi sesal kemudian

    Sejak manusia dilahirkan sampai menjelang akhir hayatnya, hidup manusia tidak pernah terlepas dari peran berguru dan menggurui orang lain. Mustahil jika dalam hidup kita tidak pernah merasa berguru dan menggurui, bahkan secara tidak sadar, alam semesta pun adalah guru yang telah mengajarkan kita akan warna warni kehidupan. Sejak kecil, orang tua kita sudah menjadi guru pertama dalam hidup kita, dan rumah sebagai sekolah pertama. Kemudian kita bersekolah dan menemukan guru baru disana yang juga menjadi orang tua kita kedua.

    Dalam tulisan ini, penulis akan membahas tentang guru yang kedua, yaitu guru disekolah. Berbicara masalah guru di sekolah, tidak pernah terlepas dari berbagai isu dan permasalahan yang melanda guru di negeri ini, mulai dari tertundanya gaji guru yang tidak dibayarkan rutin perbulan, gaji guru honorer, kesejehteraan guru, guru yang tidak layak mengajar, guru yang gaptek, sampai guru “jadi-jadian”.

    Saya selaku seorang guru yang selalu teringat dengan kata-kata guru saya ketika masih belajar di Pondok Pesantren, beliau berkata; “orang sukses dalam defenisi kita adalah mereka yang mengajar sebait kata di sebuah surau dibelakang sebuah bukit, meskipun kamu menjadi presiden sekalipun, jangan pernah lupa untuk menjadi guru dan mengajarkan muridmu meski satu kata”, hati saya pun bergetar mendengar kalimat tersebut, betapa hebat dan mulianya menjadi seorang guru, dan dari sinilah saya bercita-cita ingin menjadi seorang pendidik yang sangat mulia ini. Dan bagi saya, menjadi seorang guru tidak mesti harus menjadi PNS, mengajar di sekolah, dan punya kelas. Tetapi ketika kita mau mengajarkan orang-orang yang membutuhkan ilmu dari kita, maka kita sudah menjadi seorang guru.

    Guru memiliki andil yang sangat besar dalam membawa perubahan pada sebuah bangsa, karena guru memang ujung tombak sebuah negeri, penggerak perubahan bangsa. kemajuan dan kemunduran sebuah negara tidak pernah terlepas dari peran para guru dalam pendidikan. Guru juga memiliki peran yang sangat besar dalam mewujudkan keadilan pendidikan secara nasional. Berbicara tentang keadilan pendidikan secara nasional, masalah yang selalu muncul adalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, salah satunya adalah Ujian Nasional.

    Pengambilan kebijakan yang kadang terlihat sepihak dan tidak melibatkan guru sebagai patner pemerintah dalam memutuskan sebuah keputusan. Sehingga terkesan guru didikte oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakan tersebut. Semua terjadi karena pemerintah tidak menjadikan guru sebagai mitra mereka dalam membuat sebuah kebijakan. Seyogianya, bukan pemerintahlah yang mendikte dan mengintervensi guru sampai guru seakan seperti boneka, tetapi gurulah yang harus mampu mengintervensi kebijakan pemerintah dengan ide-ide cemerlang dan kreatifnya.

    Kerena yang selama ini mengetahui apa yang harus diberikan di lapangan kepada peserta didik adalah guru, bukanlah pemerintah yang hanya sekedar membuat konsep , namun tidak mengetahui jelas apa yang terjadi dilapangan. Pemerintah sebagai pengendali kebijakan pendidikan, seyogianya juga memberikan kesempatan pada guru dalam mengekspresikan pendapat. Dengan begini, secara tak langsung akan mendorong peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    Guru mesti ditempatkan sebagai mitra, bukan sebagai ancaman. Sebaik apapun konsep pendidikan, kalau tidak melibatkan guru, maka konsep itu tidak akan berhasil. Guru adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan kita. Karenanya, sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan pendidikan, semestinya guru dilibatkan. Hal terpenting di sini adalah komitmen pemerintah menempatkan guru sebagai profesi dalam arti sesunggunya, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD). (sumber: http://www.zamzamizainuddin.com/2012/04/ham-hantui-guru.html)

    Dalam kasus ujian Nasional misalnya, kita melihat dan mengetahui bersama tentang tugas seorang guru yang kadang berubah fungsi dari seorang pendidik menjadi tenaga administrasi yang hanya melatih murid mampu menjawab soal-soal Ujian Nasional. Bukan lagi mendidik siswanya, tetapi berubah fungsi menjadi pemberi informasi saja.

    Seyogiannya, guru yang sebagai pendidik dan aktivis gerakan harus mampu memberikan kritikan yang membangun terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan dunia pendidikan kita sekarang. Sebagai orang yang langsung terlibat di lapangan, harus mampu memberikan konsep yang professional kepada pemerintah dalam membuat sebuah kebijakan.

    Guru harus mampu membuat sebuah “perlawanan” yang bertujuan kearah terwujudnya pendidikan yang berkualitas dan demokrasi, pendidikan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat tanpa memandang kasta, serta mewujudkan pendidikan yang adil tanpa diskriminatif. Guru jangan hanya sekedar “kami mendengar dan kami melaksanakan” (sami’na wa ‘atha’na) dari setiap kebijakan yang kadang bertentangan dengan hati nuraninya.

    Selaku guru, mari kita galakkan sebuah “perlawanan” untuk membangun pendidikan negeri ini. Tentunya perlawanan disini adalah perlawanan yang positif. Yaitu melawan dari kegaptekan kita dalam dunia teknologi, kagagapan kita dalam dunia menulis. Jika kedua hal ini bisa di kuasai oleh para guru. Pasti, akan banyak melahirkan sejuta tulisan guru yang akan membangun pendidikan, tulisan luar biasa yang akan meluluhkan hati para pembuat kebijakan. Sehingga tidak perlu ada lagi perlawanan guru dengan berdemonstrasi. Karena seratus tulisan guru dengan ide yang brilian akan lebih hebat dari seribu guru berdomonstrasi di lapangan. Itulah kekuatan sebuah tulisan.

    Mari kita ganti senjata mulut kita dengan pena, senjata paling ampuh adalah qalam, guru harus mampu melakukan perlawanan perubahan dengan senjata ini. Mari kita menulis dan menjadikan internet sebagai alat untuk mecerahkan dunia pendidikan. Guru harus mampu menguasai internet, sehingga akan mampu melahirkan banyaknya tulisan tentang pendidikan di dunia maya. Penulis sebagai seorang guru, membuat blog dan menulis tulisan pendidikan karena terinspirasi dari sebuah blog pendidikan seorang guru kreatif, beliau adalah Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd (https://www.wijayalabs.com). Beliau juga aktif menulis di Kompasiana (http://kompasiana.com/wijayalabs) dan telah menerbitkan sejumlah buku tentang pendidikan, salah satu bukunya adalah: “Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya”.

    Buku yang mengajarkan bahwa guru yang berkualitas, akan melahirkan peserta didik yang berkualitas pula. Guru yang harus menanamkan nilai kejujuran kepada siswanya sebagai pangkal dari pendidikan karakter. Jika kejujuran sudah ditanamkan oleh para guru kepada muridnya di sekolah, maka guru telah mengajarkan generasi bangsa bersikap jujur dan takut menjadi koruptor. Jika pendidikan jujur telah menjadi budaya di sekolah, maka akan mengurangi jumlah koruptor di negeri ini. Buku yang juga menjelaskan bahwa guru yang harus mampu memperkaya diri dengan banyak membaca buku, mengikat ilmunnya dengan cara menuliskannya, hal ini mengingatkan saya akan perkataan Imam Syafi’e yang sangat terkenal.

    “Ilmu bagaikan binatang liar dan menulis adalah tali pengikatnya.
    Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat
    Adalah bodoh sekali jika anda memburu seekor kijang
    Kemudian anda lepaskan begitu saja tanpa tali pengikat.”(Imam Syafi’e)

    Ungkapan Imam Syafi’e yang bermakna jika ilmu yang kita miliki tidak dijaga dalam bentuk tulisan, maka akan mudah lari meninggalkan kita, ibarat binatang liar yang lari tanpa diikat. Selaku guru yang selalu bergelut dalam dunia ilmu dan selalu bergaul dengan yang namanya ilmu, akan sangat sia-sia jika banyaknya ilmu yang dimiliki guru tidak diikat dalam bentuk tulisan. Seandainya saja seluruh guru Indonesia “mengikat” ilmu dan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan, tentu saja negeri ini akan memiliki ilmu yang berlimpah ruah dan akan menjadikan Indonesia emas dan “andalusia” baru sebagai sentral ilmu pengetahuan dunia.

    Sebagai harapan, blog Wijaya Kusumah, harus menjadi pelopor dan penyemangat bagi seluruh guru di tanah air ini untuk bangkit berjuang melalui pena, mencurahkan seluruh ide dan pemikiran mereka terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Penulis yakin blog tersebut akan mampu mengisnspirasi para guru di seluruh Indonesia untuk meniru beliau dalam mencerahkan dunia pendidikan dengan tulisan-tulisannya. Bayangkan saja jika para guru di seluruh negeri ini memiliki blog guru, maka akan mampu kita galakkan sejuta blog pendidikan di Indonesia.

    Kita hilangkan pernyataan tentang guru yang melek internet. Kita jadikan internet sebagai alat untuk mengampanyekan pendidikan dengan segudang pemikiran yang kita tuangkan dalam tulisan. Berbagai ide kreatif dan informasi pendidikan yang selama ini tidak di ketahui oleh khalayak ramai akan terekspos di dunia maya.

    Masih sangat banyak sekolah-sekolah di pelosok negeri ini yang sangat tidak layak dikatakan sekolah karena bangunannya yang mirip dengan kandang kambing bahkan hampir roboh. Dunia pendidikan yang dimana para muridnya harus melintasi arus sungai yang kuat, mendaki gunung yang tinggi dan menempuh jarak puluhan kilometer, semua peristiwa ini harus ditulis dan di publikasikan di dunia maya agar semua kita tau dan membuka mata pemerintah bahwa masih banyak fasilitas pendidikan yang harus diperhatikan di negeri ini. Dari sinilah peran para guru sangatlah penting dalam memperjuangkan keadilan pendidikan secara nasional di negeri ini. Sehingga guru akan menjadi pembela keadilan bagi dunia pendidikan.

    Oleh karena itu, semua guru dari kota metropolitan sampai ke pelosok belantara hutan harus menguasai internet, agar masyarakat dan para penguasa mengetahui bagaimana perkembangan pendidikan di seluruh penjuru negeri ini. Para guru memiliki peran yang sangat signifikan dalam mewujudkan keadilan pendidikan secara nasional, dan bangkitnya para guru untuk mengkampenyekan gerakan guru menulis dan melek intenet.

    Semoga dengan terlahirnya para guru yang tangguh dan berhati cahaya, serta guru yang cerdas dalam berdakwah dengan kalam (pena), tentunya akan lahir generasi Indonesia yang cerdas pikiran dan cerdas nuraninya, juga akan mampu membuka mata pemerintah terhadap dunia pendidikan yang masih buram.

    http://www.zamzamizainuddin.com/2012/05/peran-guru-dalam-mewujudkan-keadilan.html

  4. Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan dan Menyukseskan Gerakan Guru Menulis dan Melek Internet

    Pendidikan merupakan isue paling hangat di dunia manapun karena menyangkut penyiapan sumber daya manusia setiap bangsa. Namun bagaimana jika pendidikan hanya bisa dinikmati segelintir orang ?
    Pendidikan menjadi sangat penting setiap saat karena berhubungan langsung dengan jaman dan perubahannya yang tiada henti. Itulah mengapa pendidikan dewasa ini sangat erat hubungannya dengan pesatnya perkembangan ICT. Bagaimana pula guru-guru di era globalisasi ini harus menyikapinya ?
    Peran Guru dalam Mewujudkan Keadilan Pendidikan secara Nasional

    Anak-anak adalah harapan bangsa, ayo berikan pendidikan yang terbaik
    Anak-anak adalah harapan bangsa, untuk itu mereka mempunyai hak memperoleh pendidikan, sebagaimana diatur dalam Pasal 31UUD 1945 (amandemen) ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
    Bahkan dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 49 menegaskan bahwaNegara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Dalam pasal ini malah tidak boleh ada satupun hal yang bisa menghambat anak untuk memperoleh pendidikan. Termasuk di dalamnya keluarga dan orang tua.
    Masalah ketidaksetaraan atau ketidakadilan dalam pendidikan di negara kita memang lebih mengerucut kepada masalah ketidakmampuan ekonomi keluarga. Banyak anak yang terpaksa tidak sekolah karena harus bertoleransi dengan keadaan ekonomi orang tua yang sangat minim, walaupun masalah berikutnya yang tercipta juga tidak kalah besar, misalnya : pemerintah mengadakan kelas RSBI dan SBI tapi justru menciptakan pengkastaan dalam pendidikan. Sekolah internasional ini membutuhkan biaya tinggi dalam pelaksanaannya, sehingga hanya keluarga kelas menengah ke atas saja yang berkesempatan meneguk indahnya pendidikan berkelas internasional. RSBI dan SBI sendiri banyak dianut dan dilaksanakan justru oleh sekolah negeri milik pemerintah yang seyogyanya memberikan kesempatan pada wong cilik.
    UU no. 20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 5, ayat (1) menjelaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk itu, jika memang guru bertekad memberikan keadilan bagi semua anak bangsa, maka guru wajib memberikan mutu terbaik untuk peserta didik. Mutu yang baik tidak harus dilaksanakan di sekolah mahal. Artinya, di manapun guru berada, ayo berikan keadilan dengan selalu memberikan dan memperbaiki cara mengajar dan mendidik yang bermutu di tempat kita mengabdi sekarang!
    Guru Menyiasati Abad Globalisasi
    Saya sadar betul bahwasanya saya adalah seorang guru yang ada di abad 21, di mana abad ini merupakan abad megapolis dan sudah terbukti mampu menggusur nilai-nilai tradisional dalam pendidikan ke arah yang lebih modernis. Hal kecil semisal kapur saja sudah belasan tahun tak lagi dipakai di kelas saya. Perkembangannya begitu cepat. Beberapa tahun yang lalu, saya masih memakai OHP di kelas, namun belakangan OHP sudah menjadi onggokan sampah tekhnologi dan digantikan oleh LCD. Saya sebenarnya sedang menanti-nanti kecanggihan model apa lagi yang akan menjadi pengganti mesin ini.
    Perubahan tekhnologi ternyata harus membuat proses pendidikan juga berubah. Mau tidak mau, suka tidak suka. Tentu saja, yang tidak suka akan tetap berdiam diri dengan pola pembelajaran tradisional dan mengedepankan berbagai halangan sebagai alasan untuk tidak berdamai dengan tekhnologi. Sebagai guru yang ada di era ini, tentu saya harus jadi bagian dari perubahan itu sendiri,
    Guru di abad ini minimal harus memiliki profil pelengkap sebagai berikut :
    Pertama, ramah tekhnologi. Artinya, guru di jaman globallisasi ini harus mau berdamai dan mau menggunakan tekhnologi dalam kegiatannya sehari-hari. Guru harus memahami bahwa siswa sekarang memang lahir di jaman serba canggih. Untuk itu, agar tetap diminati, maka guru harus kenal dan memakai tekhnologi.
    Yang kedua, guru harus menjadi motivator plus. Jangan sampai kecanggihan jaman membuat guru tak lagi dibutuhkan oleh siswa. Justru, kencangnya globalisasi ini harus membuat guru tetap ada dan menjadi motivator ulung agar siswa selalu berada pada rel yang benar dan tidak salah arah. Gurulah orang yang paling tepat menyisipkan pesan-pesan moral, etika, dan akhlak mulia.
    Saya teringat kata-kata motivasi Pak Rheinald Kasali bahwa : ”Sebelum perubahan menyentuh cara berpikir, maka manusia belum berubah … “. Artinya, sebagai guru kita harus sadar betul bahwa perubahan itu wajib dilakukan atau kita akan ketinggalan zaman. Mengutip apa yang dikatakan DR. Muslimin Nasution, APU : Change or die !
    Mengingat pentingnya guru memahami zaman, maka tentu saja saya mau menjadi guru yang ramah tekhnologi dan mampu menjadi motivator bagi siswa. Hal yang memang mengawali perkenalan saya dengan tekhnologi adalah kecintaan saya pada menulis. Menulis buat saya adalah proses belajar merefleksikan banyak hal dengan buah pikiran sendiri. Menulis adalah perwakilan kata hati yang mungkin tidak sempat saya ucapkan dengan lisan. Menulis adalah sebuah proses mengajak dan mengingatkan yang paling efektif buat siapa saja, termasuk untuk siswa. Menulis adalah jalan dakwah yang paling indah buat saya. Saya berharap banyak, anak-anak didik saya termotivasi dengan tulisan-tulisan yang sempat saya goreskan.
    Saya senang menulis sejak duduk di bangku SD, walaupun diary pertama saya miliki pada saat saya SMP. Saya yakin kesenangan saya ini dibarengi oleh kesenangan saya membaca buku dan majalah yang disiapkan orang tua saya pada saat itu. Namun, ternyata hobi ini terkubur amat lama. Tahun 2006 saya baru mengenal internet yang juga baru ada di lab komputer sekolah. Dua tahun berikutnya blog pertama saya buat. Itupun pasif karena pada saat itu blog masih disamakan dengan kegiatan chattingyang hanya dianggap membuang waktu saja.
    Tahun 2010 saya menapaki babak baru menyeriusi internet dan kegiatan menulis , terutama setelah mengikuti Pelatihan Menulis di Rumah Perubahan milik Pak Rheinald Kasali. Di sinilah mata saya terbuka akan indahnya dunia menulis. Saya bisa belajar banyak dari para jurnalis, terutama sekali saya bisa belajar langsung dari Ahmad Fuadi, sang novelis Negeri Lima Menara. Sejak saat itulah, saya “menghidupkan” kembali blog saya. Ternyata, berteman dengan para penulis membuat semangat menulis jadi tetap hidup.

    Belajar Menulis bersama A. Fuadi di Pelatihan Menulis Rumah Perubahan
    Dengan kata lain, menulis membawa saya mengenal dan memanfaatkan internet lebih jauh.
    Pada tahun yang sama saya mengenal IGI (Ikatan Guru Indonesia). Di IGIlah saya mengenal guru-guru hebat di seluruh Indonesia. Seminar IGI pertama yang sempat saya ikuti bertajuk Developing Creative Curriculum di Jakarta tahun 2011. Setelah itu, saya berusaha tidak ketinggalan mengikuti event-event IGI lainnya. Saya merasakan banyak sekali manfaat yang bisa dipetik dari perkumpulan profesi ini.

    Pelatihan pertama dengan IGI, Developing Creative Curriculum, Jakarta 2011
    Di IGI pulalah saya mengenal sosok Wijaya Kusumah. Omjay, nama panggilan Pak Wijaya begitu mengisnpirasi saya sebagai penulis pemula. Di blognya https://www.wijayalabs.com, Omjay tak segan-segan berbagi bagaimana caranya menulis dan jadi penulis. Menurut Omjay, cara menulis yang efektifjustru ketika kita dapat menulis apa adanya tentang apa yang kita lihat dan kita pikirkan. Tuliskan dengan tanpa beban dan tentu saja dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
    Gara-gara Omjay, semangat saya untuk tetap kreatif dan produktif terus terpacu. Saya juga bermimpi untuk menjadi seorang edupreuneur layaknya beliau. Makanya, berbagai kegiatan menulis saya usahakan ikut termasuk lomba blog. Lomba blog yang sempat saya ikuti dan menang adalah Lomba Intip Buku yang diadakan di Jakarta, 28 April 2012 dan Lomba Blog yang diadakan Asta Media.

    bersama Omjay di Pelatihan PTK Tambun Selatan 2012
    Omjay ternyata bukan hanya seorang penulis, diapun guru hebat yang lalu menggunakan blog sebagai media pembelajaran. Wow!! Kok bisa ya ? Omjay malah bisa menyabet juara karya ilmiah dengan blognya. Artinya, anggapan sebagian orang tentang blog yang hanya membuang-buang waktu bisa saya tepis dengan blog saya yang juga bisa saya manfaatkan untuk proses belajar mengajar saya. Di blog ini saya bisa simpan bahan pelajaran atau latihan soal yang bisa diakses siswa kapan saja dan di mana saja. Pendidikan era baru telah menyingkiran hambatan waktu dan jarak, Malah, dengan blog kegiatan mengajar saya lebih terasa “lama matinya” bahkan saya berharap ini lebih “abadi”. Di blog juga saya bisa menyisipkan banyak pesan dan inspirasi bagi siswa dan teman-teman guru yang lain.

    Sharing dengan guru-guru pada Pelatihan ICT Dasar di SD Insan Kamil, bersama guru-guru dari IGI Bekasi
    Senangnya saya, ketika juga saya berkesempatan mengajak siswa saya untuk blogging, hingga akhirnya sudah dua tahun saya mengajak siswa untuk memiliki blog sendiri. Di blog, mereka bisa berkreasi apa saja. Bahkan, sampai sekarang saya masih bisa curi-curi pandang tentang curhatan dan rasa galau yang mereka tumpahkan di sana. Biarkan mereka menuliskan semuanya. Menurut saya, inilah awal rasa cinta mereka pada kegiatan menulis dan menggunaan internet sehat.
    Kenapa harus internet sehat ? Sebagaimana kita tahu, dengan internet siapa saja bisa mengakses data apa saja. Siswa saya tentu menjadi bagiannya. Namun penyalahggunaan internet dewasa ini mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Lihat saja pengguna jejaring social facebook atau twitter. Hampir sebagian besarnya adalah anak-anak sekolah. Untuk itu, guru juga harus jeli menjadikan jejaring social ini sebagai bagian dari proses pembelajaran. Buat saja group khusus tentang kelas mata pelajaran yang diampu, dan jadikanlah ini media saling bertukar informasi dengan siswa.
    Dengan memanfaatkan internet dalam pembelajaran, guru sudah berusaha mengurangi porsi siswa mengakses hal-hal negative dan mulai mencoba menggeser kedudukan keyword berkonten negative untuk siswa. Alhamdulillah, sejak aktif menjadi blogger pribadi, tergabung dalam Blogger Bekasi, dan juga menulis di Kompasiana, guru-guru yang lainpun mulai mau ikut berpartisipasi. Beberapa di antaranya sudah pula tertulari virus menulis dan mulai menjadi aktifis blogger dan kompasianer. Mudah-mudahan kami tetap eksis dan bukan hanya narsis, sehingga tidak lantas menjadi penulis yang cepat gugur dan mengundurkan diri.

    Blog Novi, siswa saya, dalam tugas membuat mind map yang diposting di blognya

    Mahersya dalam tugas Ekonomi Mikro dan Makronya
    Ternyata, menjadi bagian dari perubahan itu sangat menyenangkan, dan sebagai guru saya menikmati proses ini. Karena itulah guru menjadi bagian mahapenting dalam rantai yang menjadikan masyarakat berpengetahuan. Hal yang bisa kita awali pada siswa. Bukankah siswa inipun beberapa tahun kemudian akan menjadi anggota masyarakat produktif ?
    Inilah salah satu alasan mengapa saya tetap mau menjadi guru di era globalisasi ini.Pekerjaan ini sudah menumbuhkan rasa cinta berbagi dan peduli saya pada anak-anak bangsa. Dengan menjadi guru pulalah saya tertantang untuk terus memikirkan hal-hal apalagi yang bisa saya perbuat untuk menemani mereka dewasa secara arif ?
    “Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya”

    Buku inspiratif : Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya
    Buku milik Omjay ini saya yakin telah memberikan motivasi bagi banyak guru untuk dapat mempersembahan “sesuatu” pada dunia pendidikan. Secara sederhana namun menarik, Omjay menuturkan banyak hal yang menjadi suka dukanya menjadi seorang pendidik dan juga harapan-harapannya pada dunia pendidikan.
    Di buku ini juga Omjay mengisahkan kegelisahannya pada Ujian Nasional yang justru menjadi ajang pertaruhan kejujuran para guru. Belum lagi ujian yang dilaksanakan secara nasional ini masih dibayang-bayangi perbedaan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Semisal di ibukota Jakarta dan kota-kota besar lainnya mendapatkan soal yang sama dengan di daerah-daerah terpencil seperti Papua atau daerah pasca bencana semisal Aceh pasca tsunami.
    Menurut Omjay, menjadi guru adalah sebuah keberanian. Berani capek, berani susah, dan yang paling penting adalah berani menantang zaman. Beban hidup dan kesulitan-kesulitan yang ditanggung oleh para guru harus membuat guru tangguh dan tetap memiliki hati bak cahaya yang terang benderang menyinari dunia.
    Buku ini sempat saya resensi di dalam blog saya dengan judul Guru Tangguh Berhati Cahaya.
    Blog Wijayalabs.com sebagai Blog Pendidikan : Sebuah Opini dan Harapan

    Blog milik Omjay ini merupakan catatan harian seorang pendidik yang mempunyai harapan dan pemikiran dalam memajukan dunia pendidikan. Disajikan dalam bentuk opini dan laporan kegiatan yang dilakukan Omjay dalam peranannya turut serta berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa.
    Dalam blognya, Omjay sudah memicu banyak guru untuk juga mau tidak lagi berkeluh kesah, namun harus mulai menjalankan semua mimpi. Saya mengutip salah satu motivasi Mario Teguh yang terpampang menantang di tulisan Omjay : Cara terbaik untuk mewujudkan impian kita adalah segera bangun dan bekerja keras.
    Memang, segala macam angan dan asa tidak akan terwujud dalam kemalasan kita untuk segera memulainya. Tidak lupa juga Omjay selalu memberikan trik dan tips kepada para guru untuk melakukan banyak hal. Semisal: cara menghindari kemalasan dalam menulis atau cara membuat PTK.
    Omjay memang luar biasa. Dengan diawali niat untuk berbagi, Omjay menjadian tulisan sebagai cara mengajak dan menyemangati para guru, sesuai mantranya : Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!
    Omjay saja bisa, mengapa saya tidak?
    (mudah-mudahan akan banyak guru yang termotivasi tulisan-tulisan omjay di https://www.wijayalabs.com)
    http://mugiekonomi.wordpress.com/2012/05/22/guru-dalam-mewujudkan-keadilan-pendidikan-dan-sukseskan-gerakan-guru-menulis-dan-melek-internet/#comment-652

  5. https://nunungnuraida.wordpress.com/2012/05/25/kampanye-guru-menulis-dan-melek-internet/

    Kampanye Guru Menulis dan Melek Internet
    https://nunungnuraida.wordpress.com/2012/05/25/kampanye-guru-menulis-dan-melek-internet/

    Napak tilas pertemananku dengan sahabat yang bernama “internet”.

    Entah internet sudah ada sejak kapan, yang pasti yang saya ingat, saya kenalan dengan dia sekitar tahun 1998an, sewaktu masih jadi anak kuliahan yang kata banyak orang masa menonjolkan diri. Saat itu di perpustakaan kampus sastra baru saja dipasang komputer lengkap dengan jaringan internetnya. Karena barang baru, kebayang kan seberapa antri tuh komputer di perpus. Pertama kali yang saya lakukan adalah membuat alamat email. Namanya masih katro, rasanya bikin email itu setengah mati. Maklum, megang mouse nya aja masih kagok gitu. Alhasil, membuat email pun jadi ajang perdebatan seru dengan teman-teman seperjuangan.

    Karena tingkat penggunaan internet saat itu masih sangat jarang, saya pun ga kebayang apa saja yang ada di internet. Apalagi tentang hal-hal yang berbau pendidikan, zero pisan lah. Perkenalan saya yang kedua setelah email adalah mIRC, module Internet Relay Chat, yang saat itu lagi booming. Warnet-warnet di sepanjang jalan Margonda, yang belum terlalu menjamur seperti saat ini, selalu dipenuhi oleh mahkluk-makhluk manis penghuni kampus. Dengan sistem booth pribadi, saya pun asyik berchatting ria dengan orang-orang yang juga tidak ada kerjaan saat itu, alias gak sibuk! Kalau sibuk, gak mungkinlah bisa chattingan berjam-jam lamanya. Saat itu biaya ngenet masih sekitar 8000/jam. Bayangkan kalau kita bisa ngenet sampai 3 jam lamanya, habislah uang saku sebsar 24000 rupiah! Maklumlah anak kos, pasti perhitungan sama yang namanya uang. Karena memang chat via mIRC bisa lupa waktu dan lupa makan. Sampai saya lulus kuliah, internet baru sebatas media untuk bersenang-senang saja.

    Hingga saya lulus kuliah, dan memutuskan untuk menjadi guru, pemanfaatan internet masih sebatas email dan chatting. Perubahan diawali pada sekitar tahun 2007 ketika internet sudah sangat booming. Dan saya sudah kembali memanfaatkan internet sejak memiliki laptop pertama saya. Penggunaan internet pun tidak lagi sebatas untuk email dan chatting, tetapi sudah merambah ke social media, saat itu yang tenar adalah friendster dan diikuti dengan facebook. Saya sendiri baru mengenal facebook sekitar tahun 2009. Karena facebook inilah saya kemudian aktif berselancar di dunia maya.

    Tidak hanya facebook, saya pun mulai mencari berbagai bahan dan materi mengajar dari internet. Ternyata, materi yang saya cari sangat banyak ditemukan di internet. Berhubung saya mengampu mata pelajaran bahasa Inggris, maka tidak lah heran jika berbagaisumber belajar dan materi dapat kita temukan di internet yang nota bene berbahasa Inggris. Sejak itulah kemudian saya mulai terbuka, bahwa internet bukan hanya bisa dimanfaatkan sebagai ajang sosialisasi atau bersenang-senang saja. Tapi banyak sekali pembelajaran yang bisa kita ambil darinya. Esl-lab.com adalah salah satu site favorite saya untuk pembelajaran listening, khususnya.

    Salah satu link favorit saya

    Hampir dua tahun lamanya memanfaatkan internet untuk mencari sumber dan media belajar, saya merasa ada yang kurang. Saya mulai tertarik di dunia tulis menulis. Saya pun memanfaatkan fasilitas “write a note” yang ada di facebook. Saya lebih sering menulis catatan harian atau pun fiksi di sana. Senang rasanya ketika banyak orang yang mengapresiasikan hasil karya tulisan kita. Saya pun mulai menekuni kegiatan dan hobi baru saya ini.

    Hingga di tahun 2010 lalu, saya dikenalkan dengan yang namanya “Blog”. Pada awalnya gak ngerti sama sekali dengan blog, tapi setelah diotak-atik ternyata ga sesulit pada awalnya. Blog pertama saya adalah nouraloveray.blogspot.com. Isinya masih curahan hati dan fiksi, bahkan banyak juga note saya yang di facebook saya pindahkan ke blog dengan maksud agar mudah menyimpan datanya dalam satu wadah.

    Saya mulai beralih ke wordpress.com setelah mengikuti training menulis di rumah perubahan bulan Juni tahun 2011. Di sana kami dikenalkan dengan beberapa situs penyedia layanan blog gratisan. Maklum lah masih amatir, kalau pakai blog berbayar, masih belum siap dengan rutinitas menulisnya. Khawatir kalau sedang sibuk, aktivitas kita tertunda sehingga tidak bisa mengisi blog kita dengan postingan-postingan kita.

    WordPress adalah salah satu penyedia layanan blog gratisan itu. Dibandingkan blogspot, saya merasa wordpress lebih simpel dan sederhana, entah bagi orang lain. Akhirnya saya pun membuat account di wordpress.com dengan alamat nunungnuraida.wordpress.com. Tulisan-tulisan saya pun lebih kepada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai seorang guru, sudah sepantasnya kita aktif menulis, karena guru diwajibkan melakukan peneliltian tindakan kelas untuk meneliti dan mendeteksi kekurangan apa yang kita alami selama mengajar.

    Semakin sering dicanangkan oleh pemerintah bahwa pembuatan PTK merupakan syarat wajib bagi kenaikan pangkat dan golongan, maka semakin banyak guru yang tertarik untuk mengembangkan kesukaan dan atau keahlian mereka menulis.

    Menulis di blog bukan lagi barang mahal yang sulit dilakukan. Sebagai guru era baru, kita harus mampu memanfaatkan teknologi internet yang semakin canggih. Dengan melatih menulis, apapun tema dan gaya tulisan kita, kita sudah mulai membantu gerakan guru menulis dan melek internet. Dengan begitu, pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran akan terus berkembang. Kita bisa menuliskan rangkuman materi belajar kita di kelas, atau kita bisa meminta siswa untuk mengirimkan tugas mereka di blog, bahkan kita bisa mengupload berbagai jenis sumber belajar seperti video, musik, ataupun sekedar dokumen berbentuk word atau excel. Dengan begitu kita bisa memanfaatkan keberadaan internet secara maksimal.

    Dalam perjalanan saya mengikuti berbagai seminar, sampailah saya pada pelatihan guru ngeblog. Just like what I am looking for! Persis seperti apa yang saya idamkan. Akhirnya saya bisa mengikuti satu training yang sangat mengesankan dan menambah mata semakin melek internet. Bertempat di gedung walikota bekasi, pelatihan itu menghadirkan pembicara yang sangat ahli di bidangnya. Sebut saja ada Yudistira Massardi, Amril Gobel, Dedi Dwitagama, hingga Wijaya Kusumah yang lebih dikenal dengan Om Jay.

    Om Jay ternyata adalah seorang guru biasa yang berprestasi luar biasa. Beliau adalah guru Lab School. Kehebatannya terletak pada kejeniusannya mengelola blog pribadinya yaitu wijayalabs.com hingga menjadi blog terbaik. Beliau pun pernah menjuarai lomba Guru Era Baru yang penilaiannya dilihat dari blog pribadi yang populer dan bermanfaat. Selain itu, Om Jay ini adalah penulis yang handal. Beliau telah menerbitkan beberapa judul buku hasil dari kumpulan tuisannya yang dia posting di kompasiana.com, salah satu blog keroyokan warga, atau yang lebih dikenal dengan citizen journalism. Diantara judul-judul bukunya yang sudah saya miliki dan baca adalah “Guru Tangguh Berhati Cahaya“, “Menulislah Setipa Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi“, dan buku tentang Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan kerja sama dengan Pak Dedi Dwitagama.

    Salah satu bukunya yang berjudul “Guru Tangguh Berhati Cahaya” menjadi inspirasi bagi saya. Bagaimana kita sebagai guru harus bisa mendidik dengan hati, tidak saja mengajar. Tunjukan kita peduli pada anak didik kita, cukup dengan senyuman, maka kita akan mendapatkan respon berupa senyuman terindah dari mereka. Bukankah ada pepatah mengatakan “apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”. Jika kita menanamkan rasa sayang dan peduli pada anak didik kita, maka sayang dan peduli lah yang dikembalikan ke kita oleh mereka. Banyak yang bisa kita gali dari pengalaman-pengalaman Om Jay sebagai pendidik yang tentu bisa kita jadikan satu contoh dan referensi bagaimana sebaiknya seorang pendidik itu bersikap dan bekerja berdasarkan hati.

    Berikutnya, hari-hari saya dipenuhi dengan jadual seminar dan training menulis. Dengan tekad dan niat untuk menulis demi pendidikan, saya pun dengan antusias mengikuti berbagai pelatihan. Tidak ada istilah rugi ketika kita menghadiri seminar atau pelatihan dengan materi yang mirip atau sama. Minimal kita akan selalu mengupdate pengetahuan kita sendiri.

    Percaya atau tidak, ternyata masih banyak guru yang belum melek teknologi dan internet. Hal itu saya dapatkan dari keikutsertaan saya bersama IGI Bekasi mengadakan pelatihan menulis sebagai pemandu peserta. Banyak ditemukan guru-guru yang baru pertama kali memegang laptop, apalagi browsing di internet. Bahkan membuat email saja butuh waktu yang cukup lama. Selama ini, email yang mereka miliki memang dibuatkan oleh murid-murid atau keluarga terdekat yang bisa komputer.

    memandu pelatihan ICT dasar

    Tentu kita harus bisa menjangkau guru-guru konvensional ini sehingga mereka tidak ketinggalan teknologi dan buta sama sekali dengan internet. Karena kita tahu, pendidikan bukan lagi monopoli guru dan buku-buku referensi saja. Dengan adanya internet, dunia menjadi tak terbatas. Siswa kita bahkan bisa jauh lebih hebat dari kita jika menyoal tentang melek teknologi dan internet. Jika kita tidak mau belajar, bagaimana kita bisa menyeimbangkan pengetahuan kita dengan apa yang didapat anak didik kita dari internet.

    Untuk itu, pendidikan saat ini tidak lagi bersifat dua arah, tapi lebih kepada diskusi panjang, dan guru hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Sementara untuk masalah materi belajar, anak didik tinggal mencarinya di internet. Nah, dengan blog yang kita miliki, kita bisa menjadi pelopor dan penyemangat bagi anak-anak untuk lebih percaya diri berselancar di internet.

    Kesuksesan Om Jay dalam hal tulis-menulis dan mengelola blog pribadinya, wijayalabs.com, bisa menjadikan satu contoh dan panutan bagi para guru di tanah air, bahwa seorang guru pun bisa menjadia hebat dan populer dikarenakan hasil karya nya yang mampu memberikan energi positif bagi para pembacanya. Dengan keberadaan blog pendidikan asuhan om Jay ini, diharapkan guru, khususnya mungkin guru TIK, bisa belajar banyak dan tentunya blog ini menjadi oase tersendiri di antara berjamurnya blog-blog yang ada di internet, karena blog pendidikan masih sangat jarang ditemukan, apalgai yang dibuat oleh guru.

    Belajar menulis memang tidak gampang, namun jika dikerjakan setiap hari, maka kemampuan menulis dan bekerjanya otak kita akan semakin terasah, seperti apa yang dituliskan di bukunya Om Jay yang bertajuk “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi!”

    Gerakan menulis ini sangat dibutuhkan bagi para guru sehinga mereka bisa lebih mengembangkan diri dalam proses KBM nya. Dengan menulis, guru diharapkan mampu mengungkapkan ide dan pengalaman belajarnya untuk kemudian diteliti dan dicari tahu metode dan strategi terbaik lainnya yang bisa kita terapkan di kelas. Pemanfaatan internet pun saat ini sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, guru melek internet menjadi satu awal perubahan menjadi guru era baru yang mampu memanfaatkan segala proses kreatif dan belajarnya dengan menciptakan kegiatan-kegiatan belajar yang menyenangkan namun tetap berterima secara prosesnya.

    Saya sudah mulai mengikuti trik dan tips Om Jay yang ada di blog pribadinya terhadap tulisan-tulisan saya. Dengan begitu saya berharap bahwa apapun hasil atau ide tulisan kita menjadi satu oase bagi para pembaca setia saya. Semakin banyaknya seminar dan pelatihan yang diselenggarkan untuk mengakomodir kebangkitan guru dalam mengkampanyekan “guru menulis” dan “melek internet” menjadi satu bukti bahwa guru siap berubah ke arah yang lebih baik. Semoga saja semakin banyak guru-guru dengan ide-ide hebat mereka yang mampu menuliskannya dalam sebuah buku seperti guru besar kita, Om Jay.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.