Posted on: February 29, 2012 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Jadilah Guru Biasa yang Luar Biasa!

Membaca ulang buku Menjadi Guru Tangguh Berhati Cahaya, membuat saya kembali kepada sebuah kenangan ketika buku itu saya susun. Sebuah buku yang saya rajut dari tulisan-tulisan saya di  berbagai blog  yang saya kelola, dan menjadi lebih hidup bahasanya ketika sampai di tangan editor.

Guru tangguh berhati cahaya adalah guru yang tak pernah mengenal kata putus asa. Selalu optimis menghadapi tantangan kehidupan. Baginya pendidikan adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi, dan tak perlu lari untuk menghindarinya. Guru akan seperti cahaya yang menyinari sekitarnya.

Saya memulai tulisan di buku itu dari tulisan saya yang berjudul Guru luar biasa bergaji ikhlas, dan mengakhirinya dengan sebuah tulisan yang berjudul peran guru dalam memberantas korupsi, kemiskinan, dan kekerasan pelajar di Indonesia.

Ada 51 judul artikel yang saya masukkan ke dalam buku menjadi guru tangguh berhati cahaya. Semua itu saya pilih dari ribuan postingan saya di blog. Dari pemilihan itu, saya berharap pembaca buku itu menjadi tercerahkan setelah membacanya. Setidaknya mereka akan menjadi guru biasa yang luar biasa.

Guru biasa yang luar biasa harus selalu mempunyai semangat tinggi, motivasi kuat untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik, berinovasi mengembangkan kreativitas tanpa batas, dan memiliki keterampilan yang dapat menunjang profesinya. Salah satunya adalah melalui pengembangan media belajar melalui internet.

Guru biasa yang luar biasa adalah guru yang menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan sepenuh jiwa. Mendidik dan mengajari peserta didik dengan hati. Fokus dengan mata pelajaran yang diampunya, dan mengelola manajemen kelas dengan sebaik-baiknya.  Semua administrasi pembelajaran dituliskannya dengan baik. Mulai dari perencanaan pembelajaran sampai proses penilaian dan evaluasi. Itulah mengapa, guru biasa sudah siap dengan program sertifikasi guru.

Saya menjadi teringat ketika mengikuti proses sertifikasi guru. Sertifikasi guru, buat saya justru merugikan. Pada saat itu waktu saya habis hanya untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolio yang tidak biasa. Apalagi berkas-berkas portofolio saya sebagian ada yang terkena banjir,  jadi sulit buat saya mengumpulkan berkas dalam waktu dekat. Sampai akhirnya, selesai juga saya susun dengan kekuatan yang luar biasa. Waktu itu saya yakin jumlahnya telah mencapai 850 point sesuai dengan persyaratan.

Namun sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Betapa terkejutnya saya ketika dari sudin Jakarta Timur, bapak Sutrisno menghubungi saya dan mengatakan kalau berkas sertifikasi portofolio saya hilang dan saya diminta untuk menyerahkan 1 berkas copynya kembali. Bagaimana mungkin berkas -berkas yang begitu tebal bisa tercecer apalagi hilang?. Hal yang lebih terkejut lagi, beliau mengatakan bahwa kalau saya tidak mengumpulkan, maka saya dianggap gugur dari sertifikasi guru.

Sampai saat ini berkas sertifikasi saya belum diketemukan. Saya pun akhirnya mengikuti program PLPG. Di dalam program itu saya bersyukur bertemu dengan teman-teman baru yang hebat luar biasa. Saya mendapatkan penyegaran dari para tutor yang menginspirasi. Saya pun banyak mendapatkan pengetahuan baru dari program PLPG di kampus UNJ Rawamangun Jakarta Timur.

Dengan sistem seperti sekarang ini, sertifikasi guru menjadi lebih mudah. Guru diuji kompetensinya untuk menjawab soal-soal yang diberikan. Bagi mereka yang siap, tentu akan dengan mudah menjawab soal-soal itu. Tapi tidak bagi mereka yang tidak siap. Mereka akan kesulitan menjawab soal-soal itu. Hal itulah yang saya dapatkan informasinya dari teman sejawat yang mengikuti ujian sertifikasi guru.

Sertifikasi guru sebenarnya menguntungkan guru, karena bila lulus sertifikasi, guru akan mendapatkan tambahan penghasilan. Besarnya cukup lumayan untuk membeli  kebutuhan sembako yang nilainya mulai meninggi.Kebutuhan pokok memang terus meninggi, tetapi kenaikan gaji guru terkadang tak sebanding dengan kenaikan harga-harga. Guru pun harus bersabar diri menghadapinya, dan tak boleh bermental pengeluh.

Guru oh guru. Sertifikasi bukan membuatmu gembira tapi justru bersedih hati. Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Semoga ada perbaikan yang lebih baik dari pemerintah yang mengupayakan perbaikan kualits guru. Tetaplah menjadi guru biasa. Biasa terlatih menghadapi keprihatinan. Sebab kita bukan  oknum pegawai pajak kementrian keuangan  yang mendapat gaji tinggi tetapi tetap korupsi.

Jadilah guru biasa yang luar biasa.

salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.