Posted on: September 27, 2011 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 4

Guru Tangguh Berhati Cahaya

13171419451685278748 Omjay dan mas mampu Onno 

Belakangan ini saya sedih membaca, dan mendapatkan informasi seorang guru dipecat oleh kepala sekolahnya tanpa alasan yang jelas. Padahal guru yang bersangkutan sudah mengajar cukup lama. Waktu 8 tahun saya kira sudah cukup lama guru itu mengabdikan diri di lingkungan sekolahnya yang berlabel sekolah negeri. Namun nasib, sudah 8 tahun mengabdikan diri, belum juga diangkat jadi guru PNS. Status sebagai guru honorer disandangnya hingga 8 tahun lamanya. Kini dia dipecat oleh bapak kepala sekolah, dan harus memulai hidup baru sebagai seorang guru di sekolah swasta.

 

Bila saya yang menjadi guru itu, maka saya akan tetap tegar menghadapinya. Guru itu harus menjadi manusia yang tangguh. Guru harus kebal dengan segala macam penderitaan. Seperti Mahatma Gandi dari India. Mampu berlapar diri, dan meninggalkan kenikmatan dunia. Tak salah bila beliau menjadi tokoh terkenal karena ajaran kasih sayangnya kepada sesama.

 

Bila kita tak mau hidup susah dan mengalami penderitaan  janganlah menjadi guru. Jadilah pejabat yang berjas safari berwana biru. Berpakaian rapi setiap hari. Memiliki ruangan yang ber-AC pendingin, dan pergi pulang diantar dengan supir yang selalu setia menemani. Itulah keseharian para pejabat negeri ini yang ingin dihormati.

 

Jangan mimpi mau hidup enak bila menjadi guru. Sebab guru bukanlah sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Tetapi bila engkau menjadi guru profesional, maka segala macam kemiskinan akan mingser dari hadapanmu. Itulah beberapa hal yang saya ingat dari pertemuan saya dengan Mas mampu Onno, seorang guru yang menginspirasi dari Jawa Tengah di kongres pertama Ikatan Guru Indonesia (IGi) yang dilaksanakan di gedung serbaguna kementrian pendidikan nasional beberapa waktu lalu.

 

Lalu Bagaimana caranya agar seorang guru menjadi guru Profesional?

 

Caranya, mulailah instrospeksi diri sebagai guru. Barangkali kita belum menjadi guru tangguh berhati cahaya. Lalu mulailah belajar ajaran agama dengan benar, dan lihatlah kisah Rasul Muhammad ketika menjadi guru. Bacalah sirah nabawiyah, dan ikuti jejak sang nabi. Rasulullah Tak pernah mengeluh meski cuma satu baju yang ada di tubuhnya. Bahkan, dia jahit sendiri pakaiannya ketika robek, dan dia cuci sendiri pakaiannya itu tanpa menyuruh orang lain. Bukan itu saja, Rasul Muhammad mampu menahan haus dan lapar dengan  rajin berpuasa di hari senin dan kamis.

 

Jadilah guru dengan mencontoh seorang Muhammad. Tegar di tengah badai, dan tak cepat putus asa. Baginya Allah pasti akan menolongnya. Sebab guru tangguh itu akan diberikan cahaya yang tak pernah padam. Guru tangguh berhati cahaya akan diberikan kepada mereka yang memiliki sifat kenabian. Sifat tabligh, sidiq, amanah, dan fathonah (STAF) akan masuk ke dalam tubuhnya dengan sempurna. Semua itu terjadi melalui proses tarbiyah islamiyah yang dilakukan terus menerus.

 

Jadilah guru yang jujur dan senantiasa berkata benar. Pantang berbohong, dan selalu menegakkan kebenaran. Satu kata antara perkataan dan perbuatan. Selalu jujur dalam keseharian. Tidak sombong dalam ucapan, dan senantiasa merendahkan hati.

 

Jujur harus menjadi panglima utama seorang guru. Bila seorang guru jujur, maka dia akan berhati cahaya. Dia akan menjadi guru tangguh berhati cahaya. Dia pun akan dengan mudah memberikan ilmu kejujurannya kepada para peserta didiknya. Kejujuran kunci keberhasilan, dan kesuksesan. Itulah yang harus ditanamkan pada pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah-sekolah kita di Indonesia.

 

Jadilah guru yang mampu menyampaikan ilmunya. Mampu mentransferkan ilmunya dengan baik kepada para peserta didiknya. Tidak melulu menggunakan metode ceramah, dan mampu mempelajari berbagai metode pembelajaran.

 

Seharusnya ada banyak metode baru dalam pembelajaran yang semestinya dikuasai oleh seorang guru profesional. Mampu membuat pembelajaran itu menjadi menyenangkan, dan ilmunya seperti mata air yang tak pernah habis diambil airnya.

 

Itulah sosok guru yang mampu menjalankan sifat tabligh dengan baik, dan benar. mampu meninggaalkan cara-cara lama, dan segera hijrah ke cara-cara baru yang lebih seru dalam mengajar dan mendidik anak. Calon pemimpin masa depan, dan menjadi harapan bangsa ini.

 

Di tangan mereka estafet kepemimpinan ini akan dipegang. Kita sebagai guru harus mampu mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya.

 

Jadilah guru yang dapat dipercaya. Jadilah guru yang bertanggung jawab. Penuh amanah dalam menjalankan tugas keprofesionalannya. Mampu mengajar sekaligus mendidik. Hal yang paling penting, guru yang amanah adalah guru yang mampu memotivasi dirinya, dan peserta didik untuk mampu menjadi orang terpercaya. Orang terpercaya akan menjadi seorang pemimpin atau leader. Itulah contoh kepemimpinan yang telah dicontohkan nabi muhammad yang bergelar al amin.

 

Jadilah guru yang cerdas. Dengan menjadi guru yang cerdas, anda tak akan pernah kehabisan ilmu. Ilmu anda sebagai guru akan terus bertambah seiring dengan terusnya anda melakukan proses membaca, dan belajar sepanjang hayat. Jangan pernah untuk berhenti belajar dan sekolah.

 

Budaya baca, dan meneliti harus ada dalam diri seorang guru yang cerdas. Sebab kecerdasan itu akan diperoleh kalau kita rajin membaca, dan senang mengikat ilmu dengan cara menuliskannya. Jadilah guru yang fathonah. Guru yang cerdas, guru yang senantiasa rajin membaca buku, dan menambah ilmu baru. Guru yang kreatif, dan tidak puas dengan ilmunya saat ini. Belajar sepanjang hayat harus terus dilakukan bila anda ingin menjadi guru tangguh berhati cahaya.

 

Guru tangguh behati cahaya adalah guru yang memiliki sifat sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah. Memiliki sifat kenabian yang telah dicontohkan oleh nabi dan rasul Muhammad ketika menjadi seorang guru. Mampu menjadi seorang pemimpin, dan menjadi panutan dari orang yang dipimpinnya.

 

Guru tangguh berhati cahaya tak akan pernah mengeluh dalam hidupnya. Baginya berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman akan menjadi ladang amal yang tiada teputus. Oleh karenanya guru tangguh berhati cahaya akan selalu tersenyum, dan menantang hari esok dengan penuh optimisme yang tinggi.

 

Boleh jadi, teman saya seprofesi yang dipecat di atas sedang diuji untuk naik kelas menjadi guru tangguh berhati cahaya. Dipecat dari sekolah negeri, segeralah mengabdikan diri di sekolah swasta. Jangan takut bergaji kecil, karena guru tangguh berhati cahaya tak pernah melihat besar kecilnya gaji.

 

Pernah suatu ketika saya memberikan motivasi kepada guru-guru di Taman Pendikan Al-quran (TPA) Nurul Quran yang kami kelola. Gaji guru di TPA kami tidaklah terlalu besar. Mereka hanyalah bergaji Rp. 300.000 (tiga ratus ribu) saja sebulannya. Namun semangat mereka dalam mengajarkan ilmu al-quran luar biasa. Sebab menjadi guru ngaji adalah kontrak mati dia dengan Sang Maha Pemberi Rezeki. Allah SWT.

 

Walaupun bergaji kecil, mereka tetap semangat, karena Allah akan memberikan mereka rezeki dari pintu yang tak akan terduga datangnya manakala kita bertakwa kepadaNya. Orang bertakwa itu tak akan pernah miskin harta dalam hidupnya, sebab janji Allah itu pasti adanya. siapa banyak memberi, dia akan banyak menerima.

 

Alhamdulillah guru-guru TPA di tempat kami mampu menjadi guru tangguh berhati cahaya. Mereka yakin Allah mboten sare. Allah tidak tidur dan tahu dengan para hambaNya yang takwa. Rezeki dengan sendirinya akan mengalir manakala kita bertakwa kepadaNya.

 

Hal yang terpenting dilihat seorang guru tangguh berhati cahaya adalah sudahkah dia menjadi orang yang bermanfaat buat orang lain. Jadilah guru yang dirindukan peserta didiknya. Seorang guru yang mampu memberikan inspirasi bagi para peserta didiknya untuk maju, dan menjadi orang yang terampil dalam kepakarannya. Jadilah guru yang pakar di bidangnya masing-masing. Guru matematika misalnya, seharusnya mampu menjadi pakar dalam mata pelajaranya. mampu berbenah diri dari ilmu yang dikuasainya.

 

Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Baginya, hidup adalah memberi dan bukan menerima. Seharusnya, para guru-guru kita harus mampu untuk memberi dan bukan menerima. Bila kita memberi lebih banyak, maka kita akan menerima lebih banyak lagi. Itu sudah rahasia Allah yang tak bisa terbantahkan. Silahkan anda mencobanya. tak akan pernah orang yang hidupnya selalu memberi hidupnya miskin. Sebab guru yang sering memberi seperti sang surya yang menerangi dunia.

 

Guru tangguh berhati cahaya adalah guru yang kaya karena falsafah hidupnya. “Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah”. Oleh karena itu  jiwa entrepeneurship harus ada dalam diri seorang guru. Mampu mengembangkan kewirausahaan dalam dirinya, karena mampu menjadi seorang pengusaha yang tangguh dalam bidang pendidikan.

 

Dia yang membuka usaha, dia yang mengajar, dan dia pula yang menggaji dirinya sendirinya. Lihatlah contoh ketika KH. Ahmad Dahlan membuka sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta. Hartanya terkuras untuk membeli fasilitas kelas yang membuat pembelajarannya menjadi menyenangkan. Berbeda dari kelas pada umumnya saat itu. KH. Ahmad Dahlan berani tampil berbeda dengan para guru lainnya. Berani melakukan inovasi baru yang tidak berani dilakukan oleh guru lainnya.

 

Belajarlah dari sosok KH. Ahmad Dahlan yang memiliki sifat kenabian. Seorang guru yang berhasil membuat organisasi Muhammadiyah membesar hingga saat ini. Beliau adalah salah satu contoh guru tangguh berhati cahaya. Kita bisa mencontoh hal-hal yang telah dilakukannya, dan mari meniti jejak sang guru. Sudahkah anda menonton filmnya? Sebuah film karya mas Anung Bramantyo tentang perjuangan seorang murobbi  atau guru KH Ahmad Dahlan, dalam membangun sebuah sekolah yang berkarakter.

 

 

Guru Tangguh Berhati Cahaya Masihkah ada?

 

Guru tangguh berhati cahaya harus semakin banyak dalam kelas-kelas kita. Bukan sekumpulan para guru pengeluh yang hanya meributkan masalah gaji, tapi miskin inovasi. Hidupnya terjebak dalam rutinitas kerja, dan tak pernah ada inovasi baru dalam pembelajarannya. Padahal dia telah hidup dalam era digital dengan peserta didik yang melek teknologi dan internet. Sebuah generasi baru yang harus didampingi dengan guru tangguh berhati cahaya. Dia harus mampu menjadi pemandu dalam berselancar di dunia maya.

 

Guru tangguh berhati cahaya harus semakin banyak di sekolah kita. Mereka harus ada dalam sekolah-sekolah kita bila bangsa ini ingin maju. Guru yang mampu membawa perubahan negeri, dan bukan melulu meributkan soal gaji. Mereka berlomba soal prestasi dengan semangat yang tinggi.

 

Sertifikasi guru seharusnya mampu melahirkan guru tangguh berhati cahaya. Namun karena sistem yang dibangun bukan lagi sistem yang amanah, maka kita dapatkan guru-guru kognitif yang selalu menghitung-hitung portofolionya agar lulus sertifikasi guru. Bukan guru-guru kreatif yang penuh dedikasi tinggi dalam mengajarnya. Baginya, pembelajaran bukan hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas.

 

Begitu tunjangan profesi diperoleh guru kognitif, bukan buku yang dibelinya. Bukan pula digunakan untuk mengembangkan kemampuan diri. Tapi justru digunakan hanya untuk urusan seputaran hawa nafsu, dan kekayaan materi seperti membeli mobil dengan cicilan dari hasil sertifikasi guru.

 

Guru tangguh berhati cahaya tidaklah seperti itu. Tunjangan profesi yang didapatnya digunakan untuk mengembangkan dirinya menjadi guru profesional. Belajar dan terus belajar agar dirinya menjadi seperti mata air yang tak pernah habis diambil airnya. Mampu menjadi tauladan dan memiliki sifat kenabian.

 

Semoga kita salah satu guru yang telah mampu menjadi guru tangguh berhati cahaya, seorang guru yang mampu menjadi seorang motivator dan membuat dirinya tak pernah sepi dari rasa kasih sayang peserta didiknya yang haus akan ilmu dan kedamaian hakiki.

 

Guru tangguh berhati cahaya sudah dicontohkan oleh sosok KH. Akhmad Dahlan. Tinggal kini kita mengambil ibroh atau pelajaran penting agar mampu untuk menjadi sosok seperti itu. Setidaknya kita telah menjadi sosok guru ideal seperti Ki hajar Dewantoro dengan “tut wuri handayani” yang terkenal itu. Pastilah kita bersetuju kalau Ki Hajar Dewantoro adalah contoh dari guru tangguh berhati cahaya. Mari kita meniti jejak sang guru dengan cara membaca kisahnya, dan mengmbil manfaat dari kisah mereka yang dituliskan oleh mereka sendiri sebelum mati.

 

Guru tangguh berhati cahaya tak akan pernah mati. Sebab dia mengikat ilmunya dengan cara menuliskannya. lihatlah contoh Buya Hamka. Seorang ulama terkenal negeri ini. Jasadnya memang sudah lama mati. Tetapi ajarannya akan terus abadi, karena beliau telah menuliskannya sebelum mati. Kita pun dibuat terharu bila membaca hasil karya mereka yang luar biasa. Mari kita menjadi guru tangguh berhati cahaya.

 

 

Salam blogger persahabatan

 

Omjay

 

https://wijayalabs.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories:

4 People reacted on this

  1. Subhanallah, terimakasih Om Jay refleksinya begitu mengena sampai berlinang, terutama untuk diri saya pribadi yang berprofesi sebagai seorang guru..
    Salam kenal dari saya seorang blogger amatiran. 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.