Posted on: May 2, 2011 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Pesan dari Murid Untuk Guru

Pesan dari Murid untuk Guru


 

13043934621360592329

Senang sekali rasanya bisa mengikuti kegiatan diskusi buku Pesan Dari Murid Untuk Guru. Apalagi, diskusi ini dihadiri oleh penulisnya secara langsung. Tentu sebagai peserta diskusi saya salut dengan penulis buku ini. Di usianya yang masih muda kala itu (pelajar SMA) sudah mampu memberikan masukan kepada gurunya dalam bentuk tertulis.  

 

“Siapapun bisa melakukan kesalahan”, kata William, penulis buku ini. Jadi jangan pernah mengangap guru selalu benar, dan murid selalu salah. Kalau ada yang masih seperti itu, maka sekolah seperti neraka. Murid tidak perlu tunduk sepenuhnya pada sekolah karena murid tidak sama dengan kerbau. Begitu isi buku William yang saya kutip di bagian belakang cover bukunya.

Dengan difasilitasi yayasan obor yang bertempat di Jl. Plaju No. 10 Tanah Abang Jak-Pus, dan dibuka langsung oleh ibu Kartini, diskusi buku ini menjadi lebih semarak. Banyak buku terpajang rapi, dan membuat saya ingin sekali membaca buku-buku itu. Lebih meriah lagi karena pengupas buku ini adalah kang Sopyan yang merupakan wakil ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI). Sedangkan moderator acara ini adalah pak Hotben, mantan kepala sekolah SMK BPK Penabur yang sangat berpengalaman dalam memimpin sebuah sekolah.

Buku ini tercipta dari ketidakpuasan seorang anak SMA terhadap sekolahnya. Kurangnya dialog antara murid dan guru tidak menciptakan suasana sekolah yang adil dan demokratis. Sekolahpun menjadi tidak menyenangkan. Buku Pesan dari Murid untuk Guru memberikan masukan kepada para pendidik agar mampu menjadi fasilitator, dan motivator bagi siswanya, serta mampu mengedepankan dialog dalam aktivitas pembelajarannya. Itulah yang membuat peserta didik menjadi bintang dan bersinar. Oleh karenanya, saya merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh banyak guru di Indonesia.

Kekerasan sebaiknya dijauhi, dan mari kita mulai dengan cinta dan kasih sayang antara murid dengan gurunya sehingga menjadikan sekolah seperti DISNEYLAND, dan bukan menjadi “penjara” bagi peserta didiknya. Wiliiam menyindir sekolahnya dengan sebuah tulisan di cover depan bagian dalam bukunya, Indonesia sudah merdeka sejak lama, namun sekolahku belum mengetahui hal itu.

1304387332732143003

Menurut saya, judul buku ini sangat menggelitik dan dahsyat. Ada latar belakang yang membuat keluar ilmu jenius penulisnya. Walaupun saya membaca kilat, dan cepat buku ini, saya menangkap ada kegelisahan William saat itu. Dalam kegelisahan itu William mencoba mencari solusi tepat. Solusi tepat itu adalah menuliskan buah pemikirannya dalam bentuk buku dan menohok langsung pihak sekolah yang akhirnya melakukan instrospeksi diri untuk memperbaiki manajemen sekolahnya.

Pemikiran anak muda yang bernama William yang menuliskan buku ini sangatlah bagus, dan saya sangat memberikan apresiasi kepadanya. Tulisan dan pemikiran William memang luar biasa, seperti apa yang dia tuliskan di bawah ini.

Peran serta lembaga pendidikan dalam menumbuhkan paham nasionalisme sebelum kemerdekaan Indonesia harus diakui amatlah besar, tetapi pekerjaan rumah bagi lembaga pendidikan tidaklah usai seiring dengan kemerdekaan per 17 Agustus 1945. Lembaga pendidikan Indonesia, khususnya sekolah mengemban amanah dan tanggung jawab penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh sebagaimana diamatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sekolah dianggap sebagai sebuah institusi formal yang memuat segala bentuk  pengetahuan, nilai, dan keutamaan bagi anak didik dalam prosesnya menjadi manusia Indonesia yang bertanggung jawab, dan demokratis. Sampai di titik ini tidak ada yang salah.

Hal kemudian yang  menjadi salah adalah terstigmanya pandangan anak didik Indonesia yang menganggap sekolah sebagai sebuah lembaga anti kritik dan oleh karenannya segala sesuatu yang diberikan sekolah adalah yang terbaik dan anak didik tidak memiliki kesempatan untuk berpikir kritis di dalamnya.

Sebagai akibatnya, kekerasan menjadi tidak terhindarkan (data KPAI menunjukkan tingkat kekerasan di sekolah di sekolah menduduki peringkat 2 setelah kekerasan dalam rumah tangga) dengan dalih sekolah tahu cara terbaik dalam mendidik murid, termasuk dengan cara-cara kekerasan, dan guru pada khususnya memahami betul apa yang diperlukan anak didik untuk masa depannya.

Mengacu pada kenyataan di atas, dialog amatlah penting untuk menciptakan situasi egaliter dalam memaknai kembali hubungan murid dengan sekolah dan murid dengan guru. Dialog adalah cara yang sederhana namun berdaya dalam membangun dunia pendidikan yang bernafaskan Pancasila. Dialog jugalah sebuah jembatan komunikasi yang dapat ditempuh murid, dan guru dalam membangun kembali jiwa nasionalis murid-murid Indonesia yang suatu hari nanti akan memainkan peran penting dalam membangun negeri kita tercinta Indonesia.

1304387606835193962

Akhirnya, saya balajar banyak dari buku pesan dari Murid untuk Guru. Kekerasan  akan dikalahkan dengan ketegasan. Biasakan menulis untuk membuat orang memahami apa yang ingin disampaikan. Sebab menulis itu lebih tajam dari sebilah pedang, dan William telah menemukan alam bawah sadarnya untuk mengkritisi sekolahnya sendiri dan memberikan masukan kepada gurunya dengan cara-cara terhormat dan bijaksana. Terima kasih William, peserta didik seperti anda harus lebih banyak lagi di bumi Indonesia, agar para guru menyadari bahwa kekerasan tak menyelesaikan persoalan. Dialog dan komunikasi dua arah harus dikembangkan dan budaya keterbukaan harus senantiasa hadir dalam sekolah-sekolah kita. Peserta didikpun menjadi happy, karena mendapatkan cinta dan kasih sayang dari para gurunya yang luar biasa.

salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

 

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.