Posted on: November 17, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 1

Sebuah Renungan di Malam Idul Adha 1431H

1289926212573086970

Pencacahan Daging Qurban di Labschool Jakarta

Malam ini saya merenung. Besok lebaran idul adha 1431H. Hampir sebagian besar umat Islam di Indonesia merayakannya besok hari, Rabu 17 November 2010.  Gema takbir telah berkumandang dimana-mana. Bahkan dari sejak pagi warga Muhammadiyah telah melaksanakan sholat Idul Adha dengan iringan takbir dan ucapan zikir kepadaNya. Gemetar rasanya hati ini bila mendengarnya. Ciut hati ini bila terdengar suara takbir menggema di mana-mana. Terbayang-bayang dosa-dosaku, dan kuberharap mendapatkan pengampunan dariMu.

Malu rasanya diri ini. Lebih banyak memikirkan diri sendiri. Kurang perhatian kepada nasib orang lain yang dirundung duka. Idul Adha telah mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama. Memberikan daging qurban dari hewan yang kita qurbankan.

1289926932954876224
Mereka Antri Mengambil daging Qurban

Tadi sore, alhamdulillah telah terpilih seekor kambing sehat dan sesuai syar’i yang akan kupotong esok hari. Kupandangi kambing itu. Lamaaaaa… sekali. Ada ikatan papan nama bertengger dikalungnya. Oleh panitia penyembelihan Qurban diberinya nama WIJAYA, dengan huruf besar sebagai pertanda itu adalah kambing yang akan kukorbankan esok hari.

Semoga ini bukti cintaku kepada Ilahi Robbi. Sebagaimana dulu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah melaksanakannya. Sebuah kisah yang sungguh mengharukan, dan dituliskan dalam kitab suci Al-Qur’an.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S. Ash-Shoffat (37):102)

Kisah nabi Ibrahim dan nabi ismail adalah pengambaran cinta kasih antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seorang ayah kepada anaknya dan seorang anak kepada ayahnya. Namun yang paling penting diketahui, bahwa di sana ada cinta seorang hamba kepada Tuhannya yang telah menciptakannya. Kecintaannya kepada Allah jauh melampaui cintanya kepada yang lainnya. Baginya, Allah adalah Tuhan yang harus dicintai dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa, meskipun dirinya harus mengorbankan anak kesayangannya.

Terkadang manusia itu sombong lagi membanggakan diri. Mereka lupa akan asalnya. Mereka lupa bahwa dirinya adalah seorang pengembara yang singgah sebentar, lalu pergi kembali. Dari mana mau kemana. Banyak manusia yang terlupa akan tujuan hidupnya. Bahkan banyak menumpuk-numpuk harta demi mengekalkan dirinya hidup di dunia. Sifat pelit dan kikir telah membawanya menjadi manusia yang rakus dan enggan untuk berkurban. Padahal hartanya cukup untuk berkurban.

Semoga saya dan anda tak seperti manusia yang sombong itu. Berusaha dengan sekuat tenaga untuk terus mencari ridho Ilahi. Berusaha dengan segenap tenaga mengatasi berbagai MASALAH dengan menjadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu.

Mas Zain dalam facebooknya menuliskan Khutbah Idul Adha yang berjudul : Belajar dari Nabi Ibrahim as. tentang IKHLAS MENERIMA MASALAH di sini.

Ketika Masalah Hadir, maka yang sebaiknya pertama kali Anda lakukan adalah melakukan “Penerimaan”. Artinya, ketika hadir masalah maka terimalah masalah itu sepenuhnya sebagai titipan yang indah untuk Anda. Walau secara kasat mata masalah itu tidaklah indah, namun secara tidak kasat mata masalah itulah yang sedang memperindah jiwa Anda. Terimalah masalah Anda tanpa diiringi dengan sikap mengeluh dan menyalahkan, baik itu menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, apalagi sampai menyalahkan Tuhan.

Ketika Anda menerima masalah Anda sepenuhnya berarti Anda menjaga jiwa Anda tetap disucikanNya, tetap harmonis dan selaras dalam ketaqwaan. Sebab Anda telah yakin sepenuhnya bahwa Allah tidak akan memberikan masalah kepada orang yang salah, sehingga Anda adalah orang yang paling tepat untuk diamanahi masalah Anda tersebut. Masalah Anda adalah PAS sekali untuk Anda, maka TERIMAlah dengan sepenuhnya.

Setelah Anda terima masalah itu, berikutnya adalah lakukanlah Introspeksi, untuk memahami apakah masalah ini hadir sebagai HUKUMAN ataukah hadir sebagai UJIAN. Ciri-ciri bahwa masalah tersebut hadir sebagai HUKUMAN adalah bahwa Anda mendapatkan masalah itu karena berbagai dosa yang telah Anda lakukan, Sedangkan ciri bahwa masalah itu hadir sebagai UJIAN, biasanya ia hadir ketika Anda hendak mencapai sebuah visi atau tujuan tertentu yang mulia.

Jika masalah itu berupa HUKUMAN maka berISTIGHFARlah, salah satunya dengan cara mendzikirkan “Astaghfirullaahal ‘azhiim, wa atuubu ilaiih, laa haula wa laa quwwata illaa billaah”. Dan jika masalah itu berupa UJIAN maka BESARkanlah ALLAH, salah satunya dengan cara mendzikirkan “Subhanallah, Alhamdulillah, walaa ilaaha illaallaahu, wallaahu Akbar”.

Rosulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang selalu beristighfar maka Allah akan memberinya kelapangan dalam setiap kesempitannya, dan Allah akan membukakan jalan dari kesusahannya serta Allah akan memberinya rezeki dari yang tidak di sangka-sangka. (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)”

Inilah sebuah PENGAKUAN sejati, jujur pada diri sendiri atas dosa yang pernah dilakukan, dan mengaku lemah di hadapan Allah SWT, sehingga dzikir istighfar, tasbih, hamdalah, tahlil, dan takbir menjadi penuh makna, bukan hanya sekedar ucapan yang dilafalkan dengan super cepat dengan maksud untuk memenuhi target dalam jumlah bilangan tertentu.

Ya, mulai hari ini terima saja setiap masalah yang dihadirkan di hadapan Anda. Insya Allah dengan meyakini dan mengamalkan “Kekuatan MENERIMA” maka Anda akan “Menerima KEKUATAN” dari Allah SWT. Insya Allah dengan meyakini dan mengamalkan “Kekuatan MENERIMA” maka Anda akan “Menerima KEKUATAN” dari Allah SWT.

Maka, benarlah firman Allah di Al-Quran, “…boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. 2: 216)”

Ya, boleh Jadi kamu membenci MASALAH, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai MENGELUH, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Semoga dan semoga, dimalam takbiran ini, kita semua merenungi diri dan menyadari bahwa kita cuma makhluknya yang lemah. Sangat lemah. Namun yang pasti saat ini kita harus bersujud untuk kembali padaNya.

Selamat Hari raya Idul Adha 1431H. Mari Belajar dari Nabi Ibrahim as. tentang IKHLAS MENERIMA MASALAH.

salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

1 people reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.