Posted on: August 24, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 6

Arief Rachman, Tokoh Pendidikan Idolaku

Sudah 16 tahun lamanya aku menjadi seorang guru. Dari tahun 1994 hingga saat ini. Sebuah waktu yang cukup panjang bagi perjalanan seorang guru. Tentu banyak kisah yang ingin disampaikan di bulan kemerdekaan ini. Dimana kita sudah merdeka 65 tahun lamanya. Tetapi, Benarkah kita sudah merdeka? Merdeka dari kemiskinan dan kebodohan?

Pertanyaan itulah yang pada akhirnya mengingatkanku pada seorang tokoh pendidikan yang menjadi idolaku. Siapakah dia?

 

Arief Rachman. Lengkapnya, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. Itulah namanya. Nama yang banyak menginspirasiku untuk menjadi seperti beliau. Memerangi kemiskinan dan kebodohan. Menjadi tokoh pendidikan yang disegani di Indonesia.  Seorang guru besar dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang kini menjadi penasehat Labschool, dimana aku mengabdikan diriku sebagai seorang guru.

Pertama kali mengenalnya, ketika aku menjadi seorang guru baru di sekolah yang bernama sekolah laboratorium kependidikan yang biasa orang menyebutnya LABSCHOOL. Waktu itu, sekolah itu berubah nama menjadi TK, SMP, SMA IKIP Jakarta. Sekolah yang pada awalnya berstatus sekolah negeri, dan kemudian menjadi sekolah swasta di bawah naungan yayasan pembina Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dulu bernama IKIP Jakarta. Dari 10 sekolah laboratorium yang dibentuk oleh 10 IKIP yang ada di Indonesia, hanya sekolah Labschool Jakartalah yang terus berkembang pesat hingga saat ini. Semua itu terjadi berkat ketokohan seorang Arief Rachman, yang lahir di kota Malang jawa Timur, 19 Juni 1942. Seorang guru bahasa Inggris yang kemudian menjadi kepala sekolah dan juga dosen teladan di IKIP Jakarta (sekarang UNJ).

Pada saat aku bertugas pertama kali di Labschool, Pak Arief, begitu kami memanggilnya menjadi kepala SMA Labschool Jakarta. Waktu itu aku mengajar di dua sekolah sekaligus. SMP dan SMA IKIP Jakarta yang kemudian berubah nama menjadi Labschool Jakarta. Aku mengajar mata pelajaran komputer.

 

 

Pak Arief, Ketika Menjadi Pembicara MOS 2010
Pak Arief, Ketika Menjadi Pembicara MOS 2010

Ketika aku menjadi bawahan beliau secara langsung, ada beberapa slide presentasi ceramah beliau yang aku buatkan. Senang sekali bisa membantu beliau, karena setiap kali membuatkan slide itu, ilmuku di bidang pendidikan, khususnya psikologi pendidikan menjadi bertambah. Ada saja hal baru yang beliau buat untuk bahan presentasinya. Aku serasa berguru langsung dengan beliau, dari slide yang aku buatkan itu.

Setiap kali mendengarkan beliau berbicara dalam forum-forum ilmiah, ada saja canda dan tawa yang membuat kami terhibur. Bahkan dalam suasana kantukpun, beliau pandai membuat joke-joke yang segar dan membuat kami para audience menjadi tak mengantuk. Berkat kepandaian beliau itulah, banyakya yang memintanya menjadi pembicara atau nara sumber di bidang pendidikan. Nama beliaupun semakin melambung tinggi, karena jarang ditemukan seorang tokoh pendidikan yang juga menjadi praktisi langsung di lapangan, menjadi kepala sekolah.

Kekagumanku kepada beliau adalah semangat belajarnya yang tinggi. Aku masih ingat bagaimana beliau bisa menyelesaikan S2 dan S3 nya dengan semangat tinggi. Padahal, kesibukanya sehari-hari sungguh sangat luar biasa. Dalam satu hari, terkadang ada berbagai kegiatan yang harus beliau ikuti. Mulai dari menyalami para peserta didik di pagi hari, berceramah tentang pendidikan, sampai rapat dengan menteri dilaluinya dengan sangat bersahaja. Bila mengikuti kegiatannya yang padat, aku sangat berdecak kagum, sebab staminanya sungguh luar biasa. Tak salah, bila kemudian UNJ mengangkatnya menjadi seorang guru besar di bidang bahasa. Sebuah prestasi di bidang pendidikan yang layak diacungi jempol.

Setiap pagi, beliau pasti berolahraga dengan berlari dari rumah beliau di Rawamangun sampai sekolah Labschool. Membuat kami yang masih muda ini terkadang malu dengan komitmen beliau yang selalu datang di pagi hari dengan berlari. Pak Arief adalah tokoh pendidikan yang patut mendapatkan penghargaan. Beliau banyak memberikan contoh keteladanan, sehingga kami banyak belajar dari kepribadiannya yang mempesona. Tak salah, bila presiden SBY, memanggilnya untuk bertemu langsung dengan presiden AS, George Walker Bush pada 20 November 2006 di istana Bogor untuk berdiskusi masalah pendidikan.

Saat ini, selain menjadi penasehat Labchool, beliau juga menjadi penasehat sekolah Dipenogoro. Beliau juga masih menjabat sebagai ketua harian UNESCO, yang berkantor di kota Paris, Perancis yang beranggotakan 191 negara di dunia.

Banyak hal istimewa yang ingin aku kemukakan dalam tulisan ini, tetapi karena aku sudah mulai mengantuk, maka kuakhiri saja. Bila Allah memberiku umur panjang esok hari, aku akan tambah lagi ceritaku ini, kenapa aku memilihnya menjadi tokoh pendidikan idolaku.

Aku yakin, pasti akan ada pembaca kompasiana yang mengenalnya lebih dekat dan bahkan mungkin pernah menjadi peserta didiknya. Biarkan saja mereka yang menambahkan. Aku yakin, seyakin-yakinnya merekapun akan beranggapan sama denganku, bahwa Arief Rachman, layak untuk menjadi tokoh pendidikan di Indonesia. Semoga.

Salam bloger Persahabatan

Omjay

Categories:

6 People reacted on this

  1. assalamualaikum, saya mau tanya dulu pak arief rachman aktif di PII kapan ya ? dan di daerah mana ? terus saya boleh minta nomor beliau ?

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.