Posted on: August 19, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 1

SBY Digoyang, SBY Nendang (Pandangan Politik Seorang Guru)

SBY Digoyang, SBY Nendang!

Berita-berita di berbagai media masa saat ini, nampaknya kurang berpihak kepada SBY. Mulai dari SBY terpilih kembali menjadi presiden sampai pidato kenegaraan kemarin, SBY terus digoyang. Banyak pihak yang nampaknya kecewa dengan kinerjanya saat ini. Banyak orang pun resah, karena pidato SBY biasa-bisa saja, dan tak menjawab inti persoalan. Seolah-olah tak terjadi apa-apa dalam kehidupan rakyat saat ini. Kita pun akhirnya hanya bisa berkata, “SBY Digoyang, SBY Nendang.

Geregetan juga melihat gaya kepemimpinan SBY. Ada yang pro dan kontra itu pasti. Tetapi kalau mau dilakukan voting, maka saya yakin banyak rakyat yang kecewa dengan kinerja beliau. Para politikus partai demokrat pun berkata, “rakyat yang Mana???”

Lucunya, ketika peringatan hari kemerdekaan di istana, ada banyak buku yang diberikan kepada tamu-tamunya. Mulai buku berisi tentang SBY, sampai Istri, dan anak-anaknya. Para jurnalispun akhirnya bertanya-tanya, politik pencitraan apa lagi ini? Apakah memang SBY akan mempersiapkan anaknya menjadi putra mahkota?

Gosip miring pun bertebaran di dunia maya. Ada yang bilang, kalau periode presiden akan menjadi 3 periode, dan ada juga yang menuliskan kalau SBY akan diangkat menjadi presiden seumur hidup.

Namanya saja gosip, ya jangan dipercaya. Kita berpikir waras saja melihat realita yang ada. Apakah SBY seperti itu?  Tentu tidaklah, kata yang pro SBY. Namun, bagi mereka yang sudah kontra alias benci mati sama SBY maka akan mengatakan,” SBY akan terus berkuasa, dan telah mempersiapkan putra mahkota”.

SBY digoyang, SBY nendang. Persis seperti liputan piala dunia di Afrika beberapa waktu lalu. Banyak orang menjadi belagu, seolah-olah pandai bermain bola di lapangan hijau itu. Padahal, baru berlari setengah keliling lapangan bola saja, nafasnya sudah ngos-ngosan. Para penonton, menjadi sok tahu. Dia merasa lebih pintar dari para pemain bola, dan mengutuk habis-habisan para pujaannya yang tidak bisa memasukkan gol. Itulah dunia sepakbola yang baru saja kita lalui melalui piala dunia.

Bahkan kita pun dibuat tertawa melihat aksi Dedy Cobuzer yang tidak berhasil memprediksi hasil piala dunia dengan tepat. kalah telak dengan Gurita. Walaupun katanya, hasil piala dunia sudah ada di youtube.com beberapa hari sebelumnya. Orang pun lantas berkata lantang, “BOONG!”

Bila kita samakan kejadian diatas dengan kepemimpinan SBY, maka kitapun akan melihat banyak pengamat politik yang seperti penonton bola itu. Bercuap-cuap ke sana kemari, seolah-olah dia lebih hebat daripada presiden SBY. Padahal, belum tentu juga dia bisa lebih bagus dari SBY kalau dia yang menjadi presidennya. Sebab tidak mudah menjadi presiden dari penduduk yang majemuk seperti Indonesia. Bila salah melangkah, maka nasibnya akan sama dengan para pendahulunya.

Terkadang, mengkritik orang itu mudah. Kita mudah menghina orang tanpa pernah berpikir panjang. Sudahkah kita pernah instrospeksi diri dengan diri sendiri? Segera menginstrospeksi diri akan kemampuan diri? Bila itu sudah anda lakukan, maka tanyakanlah pada orang dekat anda, apakah anda layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Bila jawabannya ya, itu tandanya anda sudah siap bertanding di lapangan sepakbola politik yang mengelincirkan. Banyak orang terjebak dengan kenikmatan kekuasaan, maka jangan salahkan bila korupsi sulit diberantas di negeri ini, karena banyak maling teriak maling. Banyak orang-orang bedebah yang sulit untuk terseret hukum, karena hukum rimba masih berlaku di negeri ajaib ini. Bisa jadi yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. kita bisa belajar dari kasus  2 pimpinan KPK yang banyak mendapat dukungan dari para facebooker di dunia maya.

Dalam dunia politik, hitam putih memang sulit dibedakan. Namun dalam dunia pendidikan, Ki hajar Dewantara telah mengajarkan kepada kami para pendidik, bahwa hitam dan putih itu jelas berbeda. Hitam adalah lambang keburukan atau kegelapan, dan putih adalah lambang kebaikan atau kesucian. Bila hatimu masih belum bersih, jangan harapkan dapat melihat hitam dan putih secara pasti.

Hal terpenting saat ini. Mari kita bergandengan tangan, dan tak perlu saling menyalahkan. Hilangkan pertikaian. Kritik dan saran jelas diperlukan agar para pemimpin tak seenaknya saja berkuasa. Sudah saatnya kita melakukan refleksi diri. Menunjuk diri kita masing-masing untuk melakukan kolaborasi dengan sesama anak negeri agar balada anak bangsa ini yang sudah 65 tahun merdeka segera berakhir.

Biarkanlah SBY digoyang, SBY nendang. Sebagai rakyat, kita tunggu saja bola itu ditendang. Bila bola itu sampai kepada kita, segeralah bermain cantik, dan lakukan kerjasama kanan dan kiri agar kita mampu menciptakan gol yang terindah bagi negeri tercinta dalam mengisi kemerdekaan. People power pasti terjadi, bila pemimpinnya tak mampu berlaku adil dan bijaksana.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Categories:

1 people reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.