Posted on: August 16, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 5

Ketika Saya Menyaksikan Detik-detik Proklamasi

Gladi Bersih paskibra Labschool

Hari masih pagi, pasukan pengibar bendera (paskibra) sudah siap di lapangan upacara. Mereka melakukan gladi bersih agar pelaksanaan detik-detik proklamasi hari ini lebih berarti.  Mereka tak ingin peserta upacara kecewa melihat penampilan mereka. Di tangan merekalah, pengibaran bendera sang saka merah putih sukses, dan berkibar di langit yang biru.

 

OSIS Baru SMP Labschool Jakarta

 

Para pengurus OSIS yang baru saja memegang kendali pemerintahan di sekolah, telah siap sedia mengikuti upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka mempersiapkan diri sendiri agar terlihat rapi pada saat upacara bendera nanti.

Para Siswa SMP Siap Berbaris

Para Siswa Berbaris Rapi
Para Siswa SMP Berbaris Rapi
Para Siswa SMA Berbaris Rapi
Para Siswa SMA Berbaris Rapi

Para siswapun berkumpul di lapangan, dan menyatu dalam satu barisan yang telah disiapkan oleh panitia hari kemerdekaan. Dengan penuh kesadaran, mereka berbaris rapi tanpa paksaan. Merekapun sadar, semakin cepat mereka berbaris rapi, maka semakin cepat pula upacara detik-detik proklamasi akan dimulai.

 

Pengurus OSIS/MPK SMA Labschool Jakarta
Pengurus OSIS/MPK SMA Labschool Jakarta

Para pengurus OSIS/MPK SMA Labschool Jakarta yang baru saja dilantik, telah siap sedia mengikuti upacara detik-detik proklamasi. Mereka berbaris rapi menunggu komando dari pemimpin upacara.

 

Para Guru Bersiap Diri
Para Guru Bersiap Diri

Tak ketinggalan pula para guru berbaris rapi dan mempersiapkan diri agar peringatan detik-detik proklamasi ini berjalan hikmat dan mengena di hati. Guru harus menjadi contoh bagi para peserta didiknya.

Keteladanan harus diperlihatkan kepada para peserta didik agar mereka mampu mengikuti perbuatan yang baik. Ketika guru mampu menjadi teladan para peserta didiknya, maka guru itu akan menjadi guru idola.

 

Selruh Siswa Merapihkan Pakaiannya Seluruh Siswa Merapihkan Pakaiannya
Semua bersiap diri untuk detik-detik Proklamasi Semua bersiap diri untuk detik-detik Proklamasi

Seluruh peserta upacara diminta kembali merapihkan seluruh pakaian yang dikenakannya, dan tiga petugas upacara telah siap  pula menjalankan tugas dalam upacara detik-detik proklamasi pagi ini. Semua orang di lapangan sekolah berkumpul, dan menyatu dalam barisan yang diarahkan panitia.

 

Berdiri Gagah di bawah Gedung UNJ yang Megah

 

Upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan RI sebentar lagi akan dimulai, para petugas upacara telah berdiri pada posisinya msing-masing. Saya pun terpana melihat kegagahan mereka di saat-saat berpuasa. Tak terlihat keletihan, dan Kelelahan. Mereka pun berdiri dengan gagahnya di bawah gedung Sertifikasi guru di UNJ yang megah.

 

Pembawa Acara Siap Beraksi

Kini saatnya tiba, pembina upacara dan petugas pembawa acara telah berdiri di tempatnya.  Petugas MC akan memulai upacara detik-detik kemerdekaan ini dengan hikmat. Tak ada satupun orang yang berani bersuara, karena semuanya bersiap diri merasakan detik-detik proklami yang bersejarah ini.

 

Saya pun merasakan detik-detik itu, dan merasakan detak jantung saya berhenti sejenak. Pada saat itulah saya hentikan kegiatan dokumentasi dan berhenti pula mencari muka orang. Saya pun hanyut dalam upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan yang selalu rutin kami laksanakan setiap tahun di sekolah. Tak terasa sudah tahun ke-16 saya mengikutinya.

 

Akhirnya, ketika detik-detik proklamasi kemerdekaan itu terjadi, saya merasakan benar perjuangan para pahlawan yang telah berjuang demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak akan saya biarkan republik ini terkoyak oleh meraka yang haus akan kekuasaan. Sekali Merdeka, tetap merdeka. Apakah anda juga merasakan detik-detik proklamasi kemerdekaan itu?

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

 

Categories:

5 People reacted on this

  1. SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

    Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

    Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamsi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.

    Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun.”Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi,” ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.

    Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.

    Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Semoga menjadi bahan masukan. Terimakasih (http://dasmandj.blogspot.com)

  2. Omjay, foto-fotonya boleh saya print buat mading kelas XG/X-Aksel SMA ga? Nanti di credit kok blognya ^-^ Makasih ya Pak 🙂

Leave a Reply to wijayalabs Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.