Posted on: May 27, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Waisak dan Kebahagiaan #[Opini Pikiran Rakyat Edisi 27 Mei 2010]

Momentum Waisak 2554 BE merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Buddha Gautama berbasis keimanan yang kukuh.

Sejatinya, kehadiran Waisak 2554 BE pada 28 Mei 2010 esok diharapkan menjadi momentum awal dalam menjaga keharmonisan, keseimbangan, keselarasan antarmanusia sekaligus membangun kehidupan berbangsa yang damai, adil, rukun, makmur, dan bahagia di bumi pertiwi ini.

Umat Buddhis meyakini berkah terdalam dengan adanya peringatan Waisak adalah kebahagiaan sejati melalui jalan kedamaian.

Pemahaman ini terlahir dari cara pandang tujuan hidup Buddha. Pertama, silena bhogasampada (hidup bahagia) memperoleh kekayaan dunia dan dhamma. Kedua, silena sugatim yanti (mati masuk surga) terlahir di alam bahagia. Ketiga, silena nibbutim yanti (tercapainya nibbana).

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Namun, bagaimanakah ukuran hidup bahagia itu menurut Sang Buddha?

Sang Buddha mengatakan, “Bukannya dengan memiliki benda (materi) yang akan memberikan kebahagiaan, tetapi dengan terbebasnya kita dari kemelekatan dan ikatan nafsu keinginanlah yang sesungguhnya memberikan kebahagiaan yang lebih tinggi”.

Diceritakan dalam “Vyagghapajja Sutta”, seorang suku Koliya Dighajanu menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, ia berkata, “Bhante, kami adalah upasaka yang masih menyenangi kehidupan duniawi, hidup berkeluarga, mempunyai istri dan anak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante, ajarkanlah suatu ajaran (dhamma) yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dalam kehidupan sekarang dan juga kebahagiaan yang akan datang.”

Sang Buddha bersabda, ada empat hal berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi. Pertama, utthanasampada, rajin dan bersemangat dalam mengerjakan apa saja, harus terampil dan produktif; mengerti dengan baik dan benar terhadap pekerjaannya, dan mampu mengelola pekerjaannya secara tuntas. Kedua, arakkhasampada, harus pandai menjaga penghasilan yang diperoleh dengan cara halal sekaligus jerih payah sendiri. Ketiga, kalyanamitta, mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, terpelajar, bermoral, dapat membantunya ke jalan yang benar, dan menjauhkan dari perilaku jahat. Keempat, samajivikata, harus dapat hidup sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sederhana, seimbang dengan penghasilan, tidak boros, tetapi tidak pelit.

Asalkan semuanya berawal dari empat jalan menuju kebahagiaan. Pertama, saddhasampada, harus mempunyai keyakinan terhadap nilai-nilai luhur. Kedua, silasampada, harus melaksanakan latihan kemoralan dengan menghindari perbuatan membunuh, mencuri, asusila, ucapan yang tidak benar, dan menghindari makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran dan hilangnya pengendalian diri. Ketiga, cagasampada, murah hati, dermawan, kasih sayang, tolong-menolong, bersahabat, tidak bermusuhan, iri hati, hidup tenang, damai, dan bahagia. Keempat, panna, harus melatih mengembangkan kebijaksanaan yang akan membawa ke arah terhentinya dukkha/nibbana.

Bila kita kuat memegang prinsip ini niscaya hidup kita akan bahagia. Inilah yang diangkat aliran Sangha Theravada Indonesia dalam tema Waisak 2010 bertajuk “Dengan Kedamaian Membangun Kebahagiaan Sejati”.

Dengan demikian, tibanya Hari Raya Waisak tak hanya mengingatkan kita kepada tiga peristiwa luar biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta wafat Buddha atau Parinibbana tetapi harus menjadi acuan hidup untuk meraih kebahagiaan sejati.

Sumber kebahagiaan

Ingat, sumber kebahagiaan ada pada diri, ada pada relung-relung hati yang terdalam, dan pada cara pandang kita terhadap dunia. Ini diamini oleh Jalaluddin Rakhmat dalam buku “Meraih Kebahagiaan”. Ia menguraikan kebahagiaan dan penderitaan adalah sebuah pilihan. Ya sebuah pilihan. Orang bahagia karena ia memilih bahagia; sebaliknya orang menderita karena ia memilih untuk menderita. Kebahagiaan bukan sesuatu yang datang kepada kita di luar kemampuan kita, kebahagiaan berada dalam wilayah jangkauan kita. (2004;6)

Mari kita membaca sabda-sabda Guru Agung tentang kebahagiaan. Tidak ada api sepanas nafsu. Tidak ada kejahatan yang menyamai kebencian. Tidak ada penderitaan yang menyamai proses kelangsungan hidup. Tidak ada kebahagiaan melebihi kedamaian sejati. (Dhammapada, 202)

Berbahagialah orang yang tidak membalas suatu tindakan yang tak terpuji dengan perilaku tak baik. Inilah inti ajaran Buddha dalam memaknai Waisak. Selamat Hari Raya Waisak 2554/2010. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Semua mahkluk berbahagia. Sadha, sadha, sadha. Semoga.***

Penulis, alumnus Studi Agama-agama UIN SGD Bandung dan bergiat di Institute for Religion and Future Analysis (Irfani) Bandung.

Sumber Opini Pikiran Rakyat edisi Kamis 27 Mei 2010

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.