Posted on: May 10, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Apa Sesungguhnya yang Ingin Anda Tulis?

APA SESUNGGUHNYA YANG INGIN ANDA TULIS?
Oleh: Hernowo Hasim

“Banyak orang berpikir, para sarjana otomatis bisa menulis. Faktanya banyak dosen yang mengambil program doktor kesulitan merajut pemikirannya menjadi tulisan yang baik. Hanya dengan mengajar saja tidak ada jaminan seorang pendidik bisa menulis. Menulis membutuhkan latihan dan, seperti seorang pemula, ia pasti memulai dengan karya yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung buruk. Namun, sepanjang itu original, patut dihargai.”
–RHENALD KASALI

Ketika selesai memberikan pelatihan menulis untuk para guru di sebuah ruang di kompleks Salman ITB, dan sebelum tertidur di siang hari untuk beristirahat, saya tiba-tiba disentakkan dengan pertanyaan sederhana tetapi tidak mudah saya jawab. Pertanyaan itu begini, “Ketika kita menulis, sesungguhnya yang kita tulis itu apa?” Hingga saya menulis tulisan ini, saya belum mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan baik. Saya seperti sudah tahu, tetapi sebenarnya saya ragu akan yang saya tahu itu.

Pelatihan menulis di Salman ITB itu diadakan oleh Klub Guru Indonesia (KGI) cabang Jawa Barat (kalau saya tak salah menyebut penyelenggaranya). Saya tertarik dan akhirnya ikut menjadi salah seorang narasumber karena penyelenggara menampilkan sebuah topik tentang kegiatan menulis yang tidak biasa. Setahu saya, jika ada pelatihan menulis, setiap peserta didorong untuk dapat menulis karya tulis ilmiah. Padahal, menulis kan tidak hanya menulis karya tulis ilmiah?

Tidak salah sih untuk dapat memiliki kemampuan menulis karya tulis ilmiah. Namun, apakah para guru sadar—dan juga disadarkan oleh para narasumber atau para ahli bahasa—bahwa menulis karya tulis ilmiah itu merupakan kegiatan menulis yang berada di tingkat paling tinggi (advance)? Saya tidak sedang meragukan para guru untuk mau belajar dan akhirnya menguasai kemampuan menulis karya tulis ilmiah. Saya hanya ingin memastikan bahwa para guru itu—dalam rangka mencapai tahapan tertinggi menulis—memang sudah melalui atau mengalami kegiatan menulis di tingkat yang ada di bawahnya.

Apa saja kegiatan menulis di tingkat menulis karya tulis ilmiah? Banyak sekali. Tetapi, dalam kesempatan ini, saya ingin menyebut dua macam tingkatan saja. Dua macam tingkatan ini ibarat jenjang dalam sebuah kursus. Jika menulis karya tulis ilmiah bisa disebut sebagai menulis di tingkat advance, maka tingkat di bawahnya adalah, tentu saja, tingkat elementary dan intermediate. Dalam menulis di tingkat dasar, bayangan saya adalah berupa kegiatan menulis yang merujuk ke pernyataan Pak Rhenald Kasali sebagaimana saya kutip di awal tulisan saya ini. Kutipan itu saya ambil dari artikel Pak Rhenald yang bagus yang dimuat di Kompas, edisi Selasa 20 April 2010, dengan judul ”Orang Pintar Plagiat”.

Merujuk ke pernyataan Pak Rhenald, menulis di tingkat dasar adalah menulis dalam bentuk yang original. Bagi saya, menulis adalah mengungkapkan atau mengutarakan pikiran dengan bantuan kata-kata agar pikiran tersebut dapat dibaca (dipahami) secara tepat. Nah, yang dimaksud original di sini adalah sejenis pikiran milik seseorang yang memang ingin dituliskan (dikeluarkan) dalam bentuk sebagaimana aslinya. Lho, jadi apa pikiran original itu? Saya tidak tahu. Yang jelas, seseorang yang ingin mengalami menulis di tingkat dasar perlu sekali memahami bahwa ketika dia menulis di tingkat ini, dia seakan-akan berada sendirian di muka bumi. Dan saya setuju dengan Pak Rhenald bahwa ada kemungkinan ketika seseorang itu menulis di tingkat dasar ini, hasil tulisannya masih buruk—masih berantakan dan tidak jelas. Tapi, sebagaimana kata Pak Rhenald, ”… sepanjang itu original, patut dihargai.”

Sebagai contoh sederhana, ketika saya berlatih menulis di tingkat dasar ini, saya sering memancing kegiatan menulis saya tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini: ”Apa keinginanku hari ini?”; ”Kegiatan apa yang mengesankanku kemarin?”; ”Adakah hal baru dalam pikiranku? Jika ada, apa itu?” Atau, saya kadang juga bertanya kepada diri saya secara dalam dan berat, ”Apa pendapatku tentang Tuhan?”; ”Apa yang harus kulakukan agar kehidupanku bermakna?”; dan seterusnya.

Faktor ”aku” atau subjektivitas memang sangat penting dalam menulis di tingkat dasar. Dan menulis di tingkat ini, jika sering dilakukan (dibiasakan), akan dapat melatih seseorang untuk menemukan dirinya—menemukan pikiran orisinalnya. Untuk membantu agar seseorang dapat terus memperbaiki kinerja menulisnya di tingkat dasar, saya menganjurkan agar menjadikan kegiatan membaca-dengan-bersuara-ke

ras sebagai pendamping setiap kali seseorang selesai menghasilkan sebuah tulisan. Bacalah tulisan Anda secara keras dan biarkanlah telinga lahir Anda mendengarkan iramanya—enak atau tidak. Dengan membaca secara keras, saya jamin bahwa kita akan dapat ”merasakan” apakah tulisan kita benar-benar tertata, mudah dipahami, atau malah sebaliknya.

Hal penting lain dalam menulis di tingkat dasar adalah bagaimana kegiatan menulis ini dapat melatih seseorang untuk jujur kepada diri sendiri dalam menulis. Kejujuran dalam menulis, bagi saya, sangat penting. Namun, kejujuran ini tidak bisa datang begitu saja. Ia harus dilatih. Seseorang menjadi penjiplak karena—salah satunya—dia tidak mau jujur kepada dirinya sendiri. Dan penjiplakan sebuah karya dalam menulis juga bisa terjadi karena orang yang menjiplak tersebut tidak terlatih dalam mengutarakan pikiran-pikiran orisinalnya dalam bahasa tulis yang baik.

Saya yakin sekali, jika seseorang rajin berlatih mengungkapan pikirannya sendiri secara kontinu dan konsisten, lama-lama pikiran aslinya (dan kemungkinan besar unik) akan mencuat dan terumuskan secara sangat bagus (tertata). Tetapi, perlu diperhatikan juga hal penting ini: Ketika mengawali menulis seperti ini, ada kemungkinan seseorang mengalami kebingungan karena kadang yang dipikirkan dan dituliskan itu berbeda: Yang dipikirkan A, eh yang ditulis ternyata (yang dikeluarkan) Z. Tetapi, jika dia sabar, dia akan berhasil merumuskannya secara tertata dalam bahasa-tulis yang bening. Banyak orang gagal menjadi penulis yang baik karena tidak sabar dalam melakukan kegiatan di tahap dasar ini.

Jika seseorang sudah berhasil melewati tahap dasar—saya tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan karena setiap orang berbeda-beda keinginannya—dia pun akan menuju ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat menengah. Saya akan mencoba menjelaskan menulis di tingkat menengah ini di lain kesempatan.

Sumber:
Categories:

2 People reacted on this

  1. hohoho…
    makasih buat infonya, saat ini saya juga sedang belajar menulis, berusaha agar tulisan saya bisa bermakna dan dapat dihapami oleh pembaca 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.