Posted on: May 2, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Hari ini adalah hari pendidikan nasional. Namun tak banyak orang memeriahkannya. Mungkin, karena ini adalah hari minggu, dimana banyak orang pergi berlibur dan bersantai dengan keluarga. Tak terkecuali saya sendiri, hari ini cuma pergi kondangan pernikahan seorang teman, dan bersantai diri dengan anak dan istri di rumah sambil menonton televisi.

Ketika saya menonton televisi, saya sedikit meringis bahkan miris melihat nasib seorang pahlawan tanpa tanda jasa di hari tuanya.

Seorang guru yang menciptakan lagu “Hymne Guru” yang terkenal itu. Lagu yang dinyanyikan oleh para peserta didik untuk menghormati gurunya. Lagu yang membuat diri ini terharu dan akhirnya saya memilih profesi sebagai guru.

Terlihat sekali di televisi. Pak Sartono, pencipta lagu itu tampak tua, kucel, dan hidup sederhana di hari tuanya. Tak ada perhatian dari pemerintah di hari tuanya. Beliau sekarang ini tinggal di Madiun Jawa Timur. Sedangkan lagu Hymne Guru itu sendiri beliau ciptakan di tahun 1980.

Kini beliau telah pensiun. Tahun 2002 beliau pensiun sebagai guru honor dan bergaji Rp. 60.000,- per bulan. Jumlah gaji yang sangat minim dari dedikasinya sebagai seorang guru. Pahlawan tanpa tanda jasa yang liriknya kini telah berubah menjadi pahlawan insan cendekia.

Guru memang dilarang mengeluh. Bagi seorang guru, hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk memajukan pendidikan di negeri ini. Mencerdaskan kehidupan bangsa telah menjadi tujuan hidupnya.

Guru oh guru. Engkau dilarang mengeluh. Itu pesan dari sesepuh. Meski rumahmu lebih buruk dari kandang ayam milik pejabat. Meski istrimu tiap hari mengeluh karena tingginya harga kebutuhan pokok. Meski anak-anakmu menuntut susu agar sehat selalu dalam masa pertumbuhan. Memikirkan juga biaya sekolahnya yang katanya “gratis” dan membeli buku-buku pelajarannya. Walau terkadang harga buku, melebihi honor guru.

Jadi janganlah kaget, bila ada oknum guru berseteru dengan para penerbit buku yang merayu dan menyerbu sekolah-sekolah kita yang katanya “gratis”.

Di hari pendidikan nasional ini, saya ingin mengetuk hati para pejabat pemerintah. Hargailah jasa mereka yang telah memajukan dunia pendidikan. Jangan acuhkan mereka di hari tuanya. Perhatikan nasib mereka karena berkat merekalah banyak pejabat dan pengusaha tercipta. Berkat mereka pulalah banyak orang pintar terlahir di negeri ini.

Guru tak boleh mengeluh, karena mengeluh tak menimbulkan solusi. Bahkan hanya membuat nasi menjadi basi. Buang-buang waktu dan buang-buang energi yang tak perlu. Sebaiknya singsingkan lengan bajumu, dan terus berusaha sekuat tenaga dengan berbagai tindakan perbaikan. Ketika gagal lekas bangkit dan cari akal. Ketika engkau terjatuh, lekas berdiri dan jangan mengeluh.

Pesan Ki Hajar Dewantoro harus kau kibarkan, agar TUT WURI HANDAYANI menjadi cerminan.

Mengeluh hanya milik orang-orang lemah. Mengeluh hanya milik orang-orang pasrah. Guru pantang mengeluh. Lebih baik berpeluh keringat di medan laga pembelajaran, dari pada mengeluh di ruang AC yang dingin. Mengeluh dan terus mengeluh yang tak berujung dan bertepi. Hidupmu hanya seonggok daging yang dilumuri darah. Atau seperti tulang tengkorak manusia yang berada di laboratorim biologi yang hanya bisa mangap menakutkan para siswa.

Selamat hari pendidikan nasional, dan hargai jasa para pejuang pendidikan. Mungkin anda bisa membaca kisah seorang guru wanita yang mampu menghidupi 6 orang anaknya hingga saat ini. Saya terharu membacanya, dan saya salut dengan mbak Rahmi Hafizah yang menuliskan Ibuku, Guruku dan Inspirasiku.

Bacalah!. Agar engkau tahu perjuangan para guru yang berjuang untuk memajukan dunia pendidikan di negeri ini. Agar kau tahu mereka berjuang dengan darah dan air mata demi tegaknya ibu pertiwi, sehingga kau mengerti begitu berartinya seorang guru demi kemajuan negeri ini.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

https://wijayalabs.com

Categories:

2 People reacted on this

  1. Semoga orang-orang seperti Pak Sartono selalu tabah dan sabar.Salut dan doa selalu untuk mereka.Apa yang bisa kita(guru-guru yang masih aktif ini)lakukan untuk mereka?

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.