Posted on: February 10, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 6

Awas!!! Jangan Jadi Plagiator!

Awas!!! Jangan jadi Plagiat!!!
Awas!!! Jangan jadi Plagiat!!!

Saya meradang dan marah  ketika membaca posting teman-teman di kompasiana lalu kemudian di kompas.com dan detik.com. Dalam berita itu tertuliskan ada seorang profesor dari salah satu perguruan tinggi terkenal di Bandung diduga melakukan plagiat. Berita itu kemudian saya baca lagi di harian kompas cetak Rabu, 10 Februari 2010 dengan judul guru besar diduga menjiplak di SINI.

Sebagai seorang pendidik, saya pun terduduk diam. Sangat menyayangkan kejadian ini. Apalagi itu dilakukan oleh orang yang menurut saya cerdas, karena di usianya yang masih muda sudah bergelar profesor, guru besar di perguruan tinggi. Tapi apa mau dikata, nasi telah menjadi bubur. Kita pun harus mengolah bubur itu agar enak dimakan dengan menambahkan daging ayam, kacang kedelai, kecap, dan lain-lain sehingga siap dihidangkan di meja makan dan mengundang selera makan.

Kasus plagiat bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan kita. Terkadang banyak orang melakukan proses “instan” dan tak mau bersusah payah menuliskan pemikirannya sendiri. Bagi saya, menulis adalah merekam jejak pemikiran saya. Oleh karenanya saya akan tahu kalau tulisan saya itu dijiplak oleh orang lain. Sebab pemikiran saya sangat orisinil dan tidak saya biarkan orang lain itu mengambil jejak pemikiran saya.

Jiplak menjiplak dalam dunia pendidikan kita relatif tinggi, hanya saja banyak orang yang tak begitu peduli dengan keadaan ini. Padahal sudah jelas, kalau kita menjiplak hasil karya orang lain, maka hukumannya adalah MALU. Kita akan menjadi malu dengan kelakuan kita sendiri yang tak jujur dengan apa yang dituliskan. Menjiplak hasil pemikiran orang lain dan seolah-olah itu adalah pemikiran kita. Bila itu anda lakukan, maka anda adalah seorang plagiat.  Seorang yang tidak memiliki kreativitas dalam menulis.

Bagaimana caranya agar kita tak dituduh plagiat? Mudah saja! Cantumkan nama orang yang kita ambil tulisannya dengan meletakkannya ke dalam footnote atau bodynote dalam artikel serta melampirkannya dalam daftar pustaka bila anda membuatnya dalam karya tulis ilmiah.

Bila anda terlupa tak mencantumkan itu, maka anda bisa dikategorikan plagiat. Menjiplak hasil karya orang lain yang anda ambil tanpa menuliskan nama si penulis. Rasanya tidak mungkin bila itu unsur kesengajaan, sebab ada etika dalam menulis karya tulis, apalagi karya tulis ilmiah yang sudah berbentuk jurnal ilmiah.

Berdasarkan kejadian yang menimpa seorang guru besar di atas, maka ada hikmah atau pembelajaran yang harus kita ambil. Jadikan ini sebagai pembelajaran nyata bahwa kreativitas menulis harus terus digalakkan dari anak masih kecil hingga dewasa sehingga dia menjadi terbiasa menulis sendiri hasil karyanya. Ketika kreativitas menulis itu telah bersemayam dalam diri, maka pantang baginya untuk melakukan plagiarisme. Sebuah kegiatan jiplak menjiplak yang pada akhirnya tidak membuatnya menjadi orang yang pandai menulis.

Akhirnya, setelah membaca berita seorang guru besar diduga menjiplak, maka saya hanya ingin memperingatkan kepada anda semua, “Awas!! Jangan jadi plagiat!!

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Categories:

6 People reacted on this

  1. Prihatin deh dgn budaya kita yg lebih suka dgn yg instan. Mau cepat kaya? Korupsi solusinya. Guru mau Gol IV b? Beli karya tulis dari joki, jawabannya. Sekarang Professor???

  2. Benar banget om, saya juga rada gimana gitu baca beritanya. Masa seorang profersor, kadidat rektor lagi, masih saja plagiat. Kadang saya merasa lucu sendiri, mahasiswa indonesia (cuma sebagian kecil tapi) buat tugas akhir/skripsi mengambil skripsi dari temannya dari universitas lain, dan banyak pula kasusnya yang menyontek abis2an. Jadi saya ga bisa terlalu menyalahkan teman2 itu sementara seorang profesor saja melakukannya. Hmmm…

    Berita miris lagi ketika banyak oknum guru di salah satu provinsi di pulalu sumatera yang membuat karya ilmiah aspal (pake joki) untuk naik pangkat. Nah kalau udah gitu, kita masih mau menyalahkkan mahasiswa atau siswa, sedangkan pepatah lama mengatakan: “Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari….”

  3. Nah Om, kalo postingan saya. “Ada Apa Dengan Dunia Pendidikan Kita?” di http:seputarduniapendidikan.blogspot.com. Tergolong plagiat atau bukan tuh?

  4. Saya juga sering kecewa ketika hasil karya walaupun sederhana dan tdk bagus ternyata diakui orang lain. Sepertinya dewan juri lomba: guru teladan, KTI, festifal sains dsb. harus jeli. “Juara yang lancung” ingat bacaan SD tahun 80. smg tdk jadi budaya!
    Semoga saya tidak termasuk sbg plagiator!

  5. sangat memalukan atas apa yg telah dilakukan profesor muda itu.
    saya sangat setuju dengan peringatan OmJay agar rakyat Indonesia tidak menjadi plagiator. terus menulis dan menulis sesuai dengan perasaan & pikiran sendiri. jika nyontek dari karya orang lain, tuliskan sumbernya 😀

  6. Hal yang tentunya sangat memprihatinkan ini ternyata sudah membudaya di dunia pendidikan kita. Bagaimana tidak, hal ini sebenarnya telah dimulai secara tidak sadar dari jaman SD, SMP, SMA dan bangku kuliah melalui budaya mencontek dan meniru sehingga menjadi kebiasaan hingga dewasa.

    Diperlukan pendidik yang kreatif dalam memberikan tugas kepada anak didiknya sebagai bagian dari pemberangusan budaya mencontek dan meniru tadi melalui proses yang juga dibuat seolah-olah tanpa disadari anak didiknya. Salah satu contoh proses kreatif ditengah kemajuan zaman sekarang, pendidik memberikan tugas via email, lalu jawabannya di reply via email oleh anak didik, kemudian anak didik diinformasikan tentang hari untuk melakukan pembahasan langsung antara pendidik dan anak didik tersebut, setelah itu baru diberikan nilai. Sehingga nantinya, anak didik terbiasa untuk mempertanggungjawabkan hasilnya secara langsung di depan pendidik.

    Tidak mudah memang, berat diawal, tetapi ketika menjadi sebuah kebiasaan, tentu akan terasa ringan dijalankan. Dan Insya Allah, jika hal ini diterapkan sejak dini, maka bangsa ini akan memiliki SDM yang bertanggung jawab secara moral dan etika di hadapan publik tentunya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.